Melayu Seleraku

Maafkan selera ku, yang melayu itu, yaa.

Ah, agak malu-malu rasanya aku ingin mengakui, setelah hampir 5 tahun belakangan lagu dari seniman Indonesia yang mendayu-dayu itu meledak di pasaran musik kelas nasional dan kelas negeri tetangga, aku masih belum bisa merubah selera ku yang satu itu. Di saat teman-teman sejawat ngomongin artis keren semacam Beyonce, Rihanna, Adele atau Tompi, atau siapa lagi si, kurang tau jugaa, aku tetap pada jalur selow macam ini (ga harus browsing, kan, biar tau artis-artis itu?) Lagu-lagu mendayu macam ST12, Kangen Band, atau yang kerenan dikit Melly Goeslaw dan Kahitna tetap menjadi pilihanku. Bingung, kenapa ada yang ngomong kalau mereka norak atau selera kelas F. (Jiah, terus kenapa kalau kelas F?)

Lirik-liriknya jelas lebih akrab di kuping dan bersahabat dengan kisah cinta ku yang melankolis. Entah, karena lagu-lagu kelas dunia itu yang aku ga ngerti arti liriknya. Yang pasti, lagu melayu begitu masih menjadi seleraku.

Sesekali harus menahan malu, kalau ada yang pinjem iPod ku. Seketika, setelah melihat list lagunya, ada yang dengan terang-terangan ngebalikin, atau ada yang sedikit lebih halus dengan gimmick ‘eh, thanks, din, gw cabut dulu, yaa’ sambil pura-pura sibuk mau ngapain. Dan dengan sederhana, aku menyimpulkan mereka gak selera campur eneg.

Dan, pagi ini, lepas jaga malam dengan liputan tanpa berita, aku masih menikmati sinar matahari ditemani hangatnya teh hijau kesukaan. Kuping disumpel, dengan sederet lagu-lagu melayu Indonesia. Oh, lagu-lagu begini masih tetap nyaman untuk menghibur pagi. Seperti kebanyakan kita, saat mendengarkan lagu, paling enak kalo kita ikut berdendang (haduh! Ini melayu yaa, bukan dangdut, bahasanya TOLONG). Tapi, jujur aku masih malu-malu mau nyanyi-nyanyi kecil. Tempat nge teh kesukaan ku ini, dipenuhi kaum borjuis, yang hampir dapat dipastikan, ga suka lagu-lagu begini.

Dulu, ada radio dengan lagu-lagu Indonesia ditambah iklannya yang sedikit. Sekarang, selain aku udah jarang dengar radio – maklum udah lama ga naek mobil kalo berangkat kerja – tapi kayanya ga ada lagi radio macam begitu. Lagu-lagunya pun sudah mengikuti selera masyarakat sosialita jaman sekarang. Plus iklan dan celotehan penyiarnya yang ga abis-abis. Argh, ya sudah, aku kembali mengandalkan alat pemutar musik kuning bening kesayangan ini. Walaupun lagu-lagunya juga udah lama ga update.

Postingan selewatan begini, ingin sedikit menyampaikan keinginan sebenarnya, boleh ga aku berdendang kecil di sini? Seriusan, aku sedang sangat menikmati masa-masa sendiri di pagi hari dengan lagu-lagu budak cinta ini. Boleh, ga? Boleh yaaa.

Oke, terima kasih kalau boleh. Suka, deh. Dan mendadak pagi ini, gw pengen tau apakah band bernama GOLIATH akan ngadain konser dalam waktu dekat ini. Pengen nonton mega konsernya dong. Plis, tempatnya nya jangan gerah. #eh.

*gubrak*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s