Undangan dan Kado dari dan untuk Ayah

Buat apa kaget, jika ini adalah hal yang sangat wajar. Setiap kita mudah-mudahan mengalaminya.

Sudah lama rasanya kita tidak berbicara tentang pernikahan. Dan fase ini sedang booming di antara kawan-kawan sebayaku. Satu per satu aku menerima undangan pernikahan, yang sayang sekali tidak semuanya bisa kupenuhi. Kala itu, doa dan harapan yang bisa kusampaikan. Bukannya undangan para sahabat itu tidak penting, tapi kewajiban-kewajiban lain yang membuatku bersedih dan menjadi tidak bisa menyaksikan bagaimana muka-muka sumringah kala sahabat-sahabat ku melangsungkan pernikahannya. Tentu, ini adalah peristiwa yang sangat mereka nantikan. Seharusnya aku turut berbahagia hadir dalam hajatan yang mereka rancang sejak lama itu.

Entah harus tersenyum, atau menghela nafas. Teman-temanku, mengirimkan undangan tanpa ada angin-angin sebelumnya. Dan kala ini, aku menyadari bahwa jodoh mereka telah datang. Mereka punya cerita cinta sendiri yang kemudian akhirnya memutuskan untuk mensakralkannya dalam ikatan pernikahan.

Rasanya, ini penting bagiku untuk berbagi dalam diary umum yang mereka sebut blog ini. Saat ini, aku ingin sekali menulis rangkaian huruf yang tidak tau ujungnya kemana. Mungkin aku perlu sumpel kuping ku dengan earphone, agar tulisan ini menemukan ujungnya. Meski saat ini, aku dikejar deadline naskah untuk sebuah tayangan atas kewajiban yang sedang aku geluti, rasanya ga afdol jika aku tidak mampir sebentar, untuk meluapkan kekagetan ku yang seharusnya biasa.

Kita kembali kepada topik sebelumnya, bagaimana aku tidak bisa menahan kaget ku, ketika aku menerima undangan dari seorang teman. Jika, aku tidak boleh menyebut nama sebenarnya, aku akan gunakan istilah AYAH, untuk cerita malam ini. Tidak ada alasan khusus kenapa aku memilih istilah ini. Mungkin, karena aku sedang kangen ayahku, atau sebenarnya teman ku ini sempat menjadi sosok ayah dalam hari-hariku. Ah, tidak juga. Aku hanya ingin menggunakan istilah AYAH tidak dengan alasan apa pun.

Dan jadilah, seminggu sebelum 17 Juli 2011, hari di mana dia akan melangsungkan pernikahannya, aku menerima undangan pernikahan dari si Ayah ini. Dia, sahabatku, yang sempat menjadi teman cerita ku. Tapi, baru aku sadari, tidak pernah aku peduli kisah cintanya. Aku terlalu sibuk membicarakan diriku sendiri, sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa Ayah ini, punya kisah cinta juga. Buktinya, undangan pernikahan itu sudah ada di inbox ku sekarang.

Ah, dia sosok lelaki biasa saja, yang penuh pura-pura dulu. Hanya saja menyenangkan untuk dijadikan teman bicara. Dan cukup siaga, meski kita terpisah pulau. Ini, hanya perkara teknologi messenger yang memudahkan tentu saja. Sesekali kita bertemu, jika ada kesempatan, saat dia sedang dinas di Ibu kota. Dan pertemuan itu tidak lebih karena intinya, kita memanglah sepasang, sepasang sahabat kebetulan. Sehingga, saat ini sang calon istri beruntung tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan ku.

Aku, tak bisa menafikkan saat-saat kaget menerima undangan itu. Tak ada perasaan patahati, karena aku memang tidak jatuh cinta padanya. Tapi, berkurang lah satu sahabat available, yang bisa menjadi teman cerita ku kapan saja. Jelas iya, dong. Dia segera di hak i, oleh seorang wanita yang bisa saja merasa terganggu dengan keberadaanku, meski itungannya, kita hanya sahabat. Well, teman, jika tak ingin menyebutnya terlalu dekat.

Dia tak akan punya waktu lagi untuk sekedar simpati terhadap celotehan-celotehan tak penting dariku. Dia akan punya hidup baru. Aku, akan menjadi angin masa lalu, yang tentu saja sudah dilupakannya.

Lalu apalagi selain doa penuh haru yang bisa aku sampaikan. Setelah semalaman aku mengenang rentetan sms sms seru, atau perang inbox bersamanya. Aku heboh browsing, siapa wanita yang menjadi calon ibu dari kaka dede nya. Saat aku bertanya, sama siapakah? Dia hanya bilang, calon ibu dari anak-anaknya. Tak banyak yang bisa aku temukan. Dan akhirnya sampailah aku pada rangkaian kata yang bahkan tak bisa terungkap dalam blog ini.

Dan jadilah sebuah cerita untuk malam ini. Si ayah, akan melangsungkan pernikahannya, tak kurang dari hitungan hari pada jari. Dia tak akan lagi menjadi milik semua wanita, termasuk aku. Dan fase ini, akan dihadapi siapa saja. Termasuk ayah, atau pun mungkin aku –walaupun masi dengan nanti–

Dan aku menjadi mengenang segala langkah dan pengalaman yang menjadi cerita dalam kehidupan. Entah berujung, apa. Anggap saja celotehan tak bermakna ini, menjadi hadiah untuk pernikahannya. Sanggup apalah aku, tak mampu aku menghadiahinya bahkan hanya sekedar kompor gas.

Selamat menempuh hidup baru, yah. Mudah-mudahan selalu menjadi langkah yang tepat. Anytime, rasa-rasanya aku ingin mendengar setiap detik rasa cinta yang sekarang tentu sangat menggebu-gebu dalam hati si Ayah.

Aku menghela nafas panjang. Saatnya kembali ke naskah, yang masi tak akrab dengan ide cemerlang.

Dan titik air mata ini, semata hanya untuk sebuah haru.

Posted in Uncategorized

One thought on “Undangan dan Kado dari dan untuk Ayah

  1. salam pertamax gan,

    wow…panjang ya ternyata kadonya…dan kadonya di”selesai”kan pada saat dikejar deadline pula, as expected from experienced-writer (if i may said🙂, especially when there’s emotion attached hehehehe

    Not much i can say, karena mendadak dipenuhin flashback ke beberapa tahun yg lalu, masa seru itu…hehehe
    Thanks for the gift Bun, a big thanks & it means a lot…🙂
    InsyaAllah semua akan indah pada waktunya

    FYI, tidak menerima kompor gas, siapa sih yg mau rumah tangganya dihiasi bom melon itu (gas elpiji 3kilo,yup yg ijo gonjreng itu)

    sok dilanjut lgi bikin naskah nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s