Selingkuh itu indAH, atau gundAH, AH!

Selingkuh itu gundah (atau indah)?

Sebagai seorang perempuan, jika terlalu bagus disebut sebagai wanita, aku adalah satu diantara seribu yang akan memaki perselingkuhan. Tapi, mungkin pada kenyataannya hanya ada satu pula diantara seribu makhluk ibu kota ini yang tidak melakukan perselingkuhan.

Perselingkuhan kian menjadi topik marak dalam hari-hari kita. Pada akhirnya, kita pun menjadi terbiasa melihat kekejaman yang dilakukan hati seorang anak manusia.

Dan ini Jakarta, semua orang kejam. Tak ada lagi mungkin, hati nurani atau sekedar rasa menghargai. Perselingkuhan membuat kita gila, atau lupa diri.

Mereka menjadi khilaf, atau kalap, dimana posisi mereka. Dimanakah seharusnya tempat sebuah komitmen antara pasangan. Rasa-rasanya biar lah aku meletakkan para peselingkuh itu di tempat sampah, bergabung bersama sisa-sisa barang keren yang kini busuk tak berguna, well, ini jika ingin mengungkapkan sebuah rasa sakit hati.

Lalu, mengapa sampah-sampah hina itu tetap punya gaung di muka bumi ini? Cobalah kita bergabung bersama mereka, meski harus sedikit menahan nafas karna bau sampah di sekitarnya yang pastinya bikin pengen muntah.

Mereka pun ternyata manusia (walau tetap hina), punya rasa. Rasa tak tau diri, tentu saja. Oh, aku masih marah rupanya. Belum dapat aku membaur dengan baik, dengan hati peselingkuh.

Dan gejolak napsu atau jatuh cinta pada orang yang salah, sedang menghantui kita. Tidaklah, semua ‘orang simpanan’ itu tak baik. Dan lagi, aku masih merasa terlalu keji untuk membela mereka. Apa maksud? Segala-segala yang salah macam selingkuh, hanya akan berbuah sakit.

Di satu malam, aku menutup telpon dari sebuah perbincangan. Terlalu sakit untuk mendengarnya, apa aku harus mati-matian meringankan hati para peselingkuh itu. Tidur, adalah jalan keluar yang menyenangkan mungkin. Dan jadilah, aku berbagi di sini.

Bebaskan diri dari rasa jenuh, mungkin adalah awal mengapa kita harus melenceng. Dan permainan ini akan tetap menjadi aman. Hubungan dengan pasangan tetap menjadi yang utama. Selingkuhan hanya menjadi bunga-bunga, atau kerikil, deh.

Terlalu sepele, jika aku berbicara perselingkuhan di antara sepasang kekasih. Aku berbicara tentang bunga-bunga di sakralnya hubungan pernikahan. Jika diantara kita, akan menangis meraung-raung saat mengetahui pacar selingkuh, cobalah tarik nafas sedikit. Itu terlalu lumrah. Baik-baik, kita menyeka air mata saja. Lanjutkan saja apa yang akan membuat kita bahagia.

Pernahkah kita berada di posisi seorang ibu, atau seorang ayah. Yang selingkuh atau diselingkuh. Di saat kita tak mampu berbuat apa-apa, karena punya putra putri kecil yang tak mengerti apa-apa di rumah. Dan sakit hati itu sudah sangat mengais hati, bukan lagi luka, tapi cacat.

Itulah awal dari main-main hati yang berjudul selingkuh. Bukan tak mungkin, sakit itu menjadi cacat. Seumur hidup. Dan yang menangis seharusnya bukan saja mereka yang diselingkuhi. Menangislah, yang menjadi selingkuhan. Biar tau bagaimana rasanya sakit. Biar punya hati sedikit.

Apalah lagi yang harus diperjuangkan. Toh, cepat atau lambat, hubungan itu tak akan kemana-mana. Perjalanan nya akan dihadapi sendiri. Rasa marah, hanya bisa ditahan dalam hati, atau mentoknya di dalam kamar. Dukungan apa yang diharapkan? Segala yang salah akan sulit mendapat keringanan. Dan mengawali sesuatu dengan yang buruk itu tak akan ada manis-manisnya.

Aku berdebat, dengan pikiran ku sendiri. Tak mau aku memandangi deretan ‘koleksi’ telepon selularku. Aku tak mau tau, tak mau peduli. Yang mencinta, menggebu-gebu. Tak mau pergi. Tak mau hilang. Apa harus kita menobatkan mereka dengan julukan kasar semacam pec*n? Atau mur*han? Mereka hanyalah bagian dari orang-orang salah, dan semua kita pun dapat begitu. Plis lah, siapa pun bisa.

Rasa cinta, rindu, dan tulus apa yang dipunya. Semuanya akan tetap berputar menjadi hina. Pergi baik-baik, dengan harga diri yang sudah kemurahan. Jangan terlalu banyak berujar, pembelaan apa pun, tak lagi bisa bersuara.

Marah? Apa pantas? Untunglah, nafas panjang itu masih ada. Lupakan saja euphoria jatuh cinta sampah itu. Wangi bahagia yang tak bercelah itu hanya akan busuk menjadi dosa.

Menangis sesunggrukan sekarang, tak bisa lagi air mata itu hanya menitik. Banjir sudah. Rindu, menunggu. Selingkuh itu gundah, bukan? Mana yang indah? Itu hanya nama sementara. Dan seharusnya sudah ‘ngeh’ janji itu semata bukti brengseknya kita-kita ini lahh. Kata-kata maaf, atau menyesal? Brisik, ah!

Ada apa pula, jika kemudian kesalahan itu menjadi pertemanan? Itu juga menyakitkan. Permusuhan juga ga bisa direlakan. Krik. Krik. Mati kata-kata.

Kamu. Kamu. Laki-laki. Atau perempuan. Oh, ribet. Ribet. Hush, hush. Sini, sini. Haduhh, ini tulisan buat mba-mu, eh, mba-ku. Atau dua buah hati di rumah.

Jika ini dianggap tidak berarti, mengerti sudah dari awal, kok. Karena pagi ini, aku berbicara tentang garis di bawah garis. Garis kedua. Sama lurusnya. Matahari sudah terang benderang, tidur akan membuat kamu menang. Menang – isss.

Sumpel kuping lagi ah, pake earphone keren.😉

Happy working, everyone. 813. :*

6 thoughts on “Selingkuh itu indAH, atau gundAH, AH!

  1. Selingkuh itu indah? Atau gundah? Sebagai mantan peselingkuh atau mantan selingkuhan, ntah kalo boleh disebut mantan, karena sebenarnya saya setuju, jika selingkuh itu bukan lagi meninggalkan sakit, tp cacat, jd istilah mantan mungkin kurang tepat. Tapi anggaplah begitu, saya pernah berselingkuh, (pengakuan ini, mungkin juga untuk, menolong rasa bersalah saya, karena sebanyak apapun alasan untuk membenarkan perselingkuhan, selingkuh tetap tidak akan benar). Berbagi pengalaman sedikit disini, tidak ada yg indah saat berselingkuh, yg ada hanya mimpi buruk setiap malam, bahkan mungkin setiapsaat, membayangkan seseorang (mungkin lebih) yg sakit hati, karena kita. Tidak ada yg lebih buruk daripada membayangkan menjadi orang kejam, karena sudah pasti kita akan dianggap begitu, saat berselingkuh, atau saat “mau-maunya” jadi selingkuhan.

    Jadi, saat ini, saat mimpi buruk itu sudah menguras begitu banyak pikiran dan tenaga saya, saya memutuskan untuk menghentikan mimpi buruk itu, menggantinya dengan sebuah mimpi indah. Doain ya🙂

    Enjoy your love life anyone, you deserve the best, and my self also :p

    • Bagaimana jika posisi nya kita benar2 tidak tau bahwa kita hanyalah selingkuhan.
      Ia slalu meyakinkan dgn sangat bahwa ia sudah tak ada hubungan apa2 dengan sang mantan eh sang pacar eh apalah dan siapalah. Ia pun slalu menuntut keSETIAan dr kita.
      Tentu dgn penuh kepercayaan, kita menjalani hubungan diatas keyakinan bahwa “dia benar2 tak memiliki hubungan lebih dgn siapapun, kecuali kita”.. Lalu dgn segala ketidak tahuan kita akan kenyataan yg sebenarnya, apakah berhak pula menyandang julukan sebagai “selingkuhan” ?
      Ah, rasanya, tolonglah, siapapun tak ingin diselingkuhi atau menjadi selingkuhan. Utk yg merasa diselingkuhi, pasti sakit, tp bisa dibayangkan juga sakit nya hati manusia saat ia tak tau menau ttg apapun, lalu diteriaki “selingkuhan”.

      Hehe dijawab yaa😀

      Utk mba dinna, izin meng-kutip sedikit banyak kata2nya ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s