2011, Mudik Yuk!

Musim mudik mulai menjelang. Ibukota belum juga sepi. Kebanyakan masih sibuk dengan aktifitasnya. Bekerja siang dan malam di Bulan Ramadhan.

Apa mudik tak lagi menjadi antusias kebanyakan warga pendatang di Ibukota? Mungkin kampung halaman bukan lagi menjadi tempat yang dinanti.

Ada banyak alasan mengapa mereka memilih mudik, atau menunda mudik yang judulnya berarti jadi sekedar pulang kampung.

Di tahun ini, saya tak lagi melihat antusias mudik seperti tahun tahun sebelumnya, meski, tak bisa pula kita katakan mudik sepenuhnya telah hilang.

Jalanan masih ramai, Jumat dan Malam Minggu masih dipadati kendaraan.

Anyway, saya mungkin salah satu warga pendatang di Jakarta yang hampir tak pernah mengalami serunya mudik. Meski besar di Pulau Sumatera, sejak saya hijrah ke Jakarta, bisa dibilang saya, tak pernah mudik. dan jadilah saya tak pernah mengalami rasanya desak-desakan di jalanan atau stasiun yang muncul karena antrian kendaraan atau tumpukan penumpang jelang Lebaran. Tak pernah pula saya merasakan lonjakan harga tiket yang bisa naik hingga 200 persen saat musim mudik tiba.

Bekerja saat lebaran, mungkin saya lah salah satunya. Really, ini sama sekali bukan masalah. Saya harus liputan mudik Ke Merak, Banten. Dan, inilah pertama kalinya saya merasakan moment mudik. Walaupun bukan ke kampung sendiri. Hari ke 4 menjelang lebaran saat itu. Tim liputan sudah disebar ke titik titik rawan kemacetan.

Perjalanan menuju Merak melalu tol Jagorawi itu tak terasa berbeda dari biasanya. Benar benar tak ada lonjakan kendaraan. Ternyata memang, hari ke 4 dianggap masih kejauhan untuk berangkat mudik. Karena di hari ke 3 atau ke 2 sebelum lebaran Pelabuhan merak, mulai dipadati kendaraan sepeda motor, mobil dan bis kota. Juga pemudik yang akan menyeberang. Malam itu, pelabuhan Merak menjadi lautan manusia se jadi jadinyaa. Padat. Sangat padat. Dan saya tak dapat lagi menampikkan. Ya, ini karena memang musim mudik telah tiba.

Dan postingan ini bukan laporan mudik tentunya. Lebih afdol menyaksikan laporan mudik di TV, kan?

Tapi jelas, saya tahu kenapa, banyak orang lebih memilih tidak mudik. Ah, berdesak-desakan, di jalan mau pun di pelabuhan? Apa itu menyenangkan? Di tambah lagi, udara pinggir laut yang bikin panas kepala, hati dan pikiran. Ah, terima kasih saya tidak perlu menjadi bagian dari itu.

Lalu, sudah tau begitu mengapa masih ada yang memilih untuk tetap berangkat? Kata nenek moyang, kampung halaman adalah tempat penantian sejuta rindu bukan? Desak dan tumpuk puk itu tak ada artinya dibandingkan nantinya akan berkumpul di kampung halaman atau menikmati suasana kampung yang bersahaja.

Susahnya makan enak di Merak. Ah, bukan maksud saya begitu. Sebagai penikmat segala jenis makanan, rasanya kudu, jika berkunjung ke suatu daerah, mencicipi makanan andalan di sana. Dan saya tak menemukannya di Merak. Kita hanya makan seadanya di warung warung yang tersedia dekat pelabuhan. Ah, kenapa di sini kurang kece sihh, tempat makan-makannya.

Sudahlah, bukan itu. Di Pelabuhan ini, saya menyaksikan ribuan bahkan puluhan ribu pemudik yang mengeluhkan kenyamanan pelabuhan. Antrian gila-gilaan gak habis habis. Tapi seriusli, Pelabuhan Merak tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak kumuh, meski padat dengan orang-orang. Cukup tertata, untuk ukuran pelabuhan di Indonesia.

Karena ini liputan, perjalanan saya tentu hanya seputar Pelabuhan saja. 5 hari di sana, saya mengamati beragam jenis pemudik. Banyak di antara mereka hanya mudik sampai Lampung saja. Begitu hasil tanya tanya saya di sana.

Di sini pula, saya mengakhiri keputusan saya. Tentang sesuatu, yang tidak ada hubungannya dengan liputan atau pekerjaan. Mungkin masa depan. Percintaan? Ah, kok jadi melebar ke mana-mana.

Untuk tim liputan, baik yang di dalam kantor atau yang ikut ke sana. Hoho, ini kesempatan menyenangkan. Makasi, ya. Rasanya belum lengkap dong, jadi wartawan tapi belum ikutan liburan arus mudik. Mudah-mudahan tahun depan TV yang masih identik dengan image dangdutnya ini, ga kapok mengirim saya. Untuk live report, gimana? hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s