Tertarik, Batik Cantik

20110929-125929.jpg

Rupa-rupa nya, saya tergolong orang yang mudah jatuh cinta ya. Hari ini saya mulai jatuh cinta pada batik. Kalau biasa nya saya menganggap batik adalah seragam SMA yang dipakai setiap hari Jumat atau seragam Pegawai Negeri, pandangan itu seketika berubah. Mungkin hal yang sama juga akan Anda rasakan jika berkunjung ke World Batik Summit 2011 yang diselenggarakan selama 5 hari hingga tanggal 2 Oktober 2011, bertepatan dengan hari Batik Sedunia.

Mungkin ini yang mereka sebut, warisan budaya nusantara untuk dunia. Tak terpungkiri lah bahwa kain batik memang pantas menjadi kebanggaan negeri.

Tidak melulu bernuansa tradisional, batik justru bergeser dengan gayanya yang tidak hanya modern, tetapi benar-benar keren.

20110929-011125.jpg

Ah. Tak henti berdecak kagum dengan beragam karya corak batik yang dipamerkan. Segalanya bisa dibatikkan. Dari mulai furniture rumah, mobil dan sepeda motor, sampai aksesoris seperti gelang, kalung, dan cincin. Pengen, pengen punya semua. Hehe.

20110929-010522.jpg

Selayaknya wanita, aku naksir berat pada koleksi tas dengan corak batik alami berwarna lembut. Bahan untuk melukisnya seratus persen alami. Terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Dipadukan dengan kulit binatang asli. Gimana ga makin naksir??

20110929-010856.jpg

Dan naksir tinggal naksir, benar juga filosofi kita tentang belanja. Ada barang, ada uang. Layaknya pria lajang patah arang. Saya harus urungkan niatan untuk naksir pada koleksi batik cantik itu. Tak tegalah saya melirik pundi pundi di dompet, yang berteriak minta dipertahankan hingga gajian selanjutnya tiba. Fyi, gajian baru saja turun 4 hari lalu. Artinya? Jawab sendiri. ;(

Harga yang dipatok juga cukup (atau sangat?) tinggi. Kain batik berkisar antara IDR 600.000 hingga IDR 20.000.000. Tas – tas nya sudah berekor kata jutaan. Aih. Itu juga berdasarkan tanya tanya dan hasil pandangan mata loh. Entah ada yang terlewat.

Pantas lah harganya mahal. Mungkin bentuk penghargaan terhadap karya seni para pengrajin batik ini. Apalagi batiknya batik tulis. Berbeda pengrajin, berbeda pula karyanya. Mereka punya gaya masing-masing dengan keunikan tersendiri.

Well, hari jatuh cinta pada batik ini pun ditutup dengan kemenangan kebanggaan ku Muhammad Cipta Suhada sebagai Putra Batik Nusantara 2011.

20110929-011436.jpg

20110929-011654.jpgRasa haru dan seru menyemarakkan malam penobatan yang diselenggarakan pada 28 September 2011 ini, di Balai Kartini. Tak sia sialah, saya mengarungi macetnya Jalan Sudirman menuju Gatot Subroto. Meski tak membawa groupies seperti finalis lainnya, Hada atau kita biasa memanggilnya dengan Denya tampil luar biasa.

Tak jadi punya tas batik baru pun terobati dengan euphoria kemenangan Denya. *norak dikit lah ya* dan cukuplah aku menuangkannya pada tulisan ini.

Tanpa mengurangi rasa syukur. Tak punya tas batik cantik dengan harga selangit, cukuplah kini saya punya postingan tentang batik. Dan Putra Batik, si lelek.

Happy Batik, Guys!

Advertisements

Terkenal

Siapa yang terkenal? Waduh, terlalu banyak orang terkenal di muka bumi ini. Ntah itu mereka yang sudah menjadi sejarah atau masih menggaung dengan nama baik (atau buruk) yang diembannya.

Siapa yang tidak kenal SBY, presiden kita kini yang tengah menjalani jabatan presidennya di periode yang ke dua. SBY sudah dipastikan adalah orang yang terkenal. Dan itu bagi kita. Warga Negara Indonesia. Bagi bule bule sana? Apa mereka kenal atau ngeh?

Masih ingat Sri Mulyani? Dulunya menteri keuangan RI, sekarang menjabat sebagai presiden direktur World Bank. Terkenalnya luar biasa di Indonesia. Jadi inget, cerita seorang teman. Kalau di Indonesia beliau dikawal kemana mana, di negara orang ia layaknya orang biasa. Menyebrang jalan bahkan window shopping di mall tanpa menjadi pusat perhatian orang-orang disekelilingnya. Orang terkenal pun menjadi tak berlaku.

Percayakah, bahwa hari gini masi ada yang tidak kenal Nazaruddin. Politisi Indonesia dengan beberapa kasus korupsi yang menjeratnya kini. Nama Nazaruddin mungkin memang sangat sering kita dengar, tapi bukan tidak ada di antara kita, yang tidak tahu dia siapa, bagaimana rupanya atau ada kasus apa dengannya.

Lalu memangnya ada yang salah dengan tidak kenal orang-orang terkenal itu?

Satu hari, aku berdampingan jalan dengan seorang presenter sebuah stasiun TV swasta. Terlibat sedikit chit chat, aku berniat berkenalan. Selain sebenarnya aku tidak tahu siapa namanya, tapi maksud hati biar presenter itu bisa kenal juga namaku, kayanya asik juga punya kenalan orang yang keliatannya terkenal (setidaknya dari gayanya) *mulai norak*, jadilah kubulatkan niat ‘mba, kenalan duluu, aku Dinna’ dengan sedikit kaget dia membalas ucapan ku. ‘lah masa ga kenal?? Coba tanya tanya lah sama yang lain’

Hening sejenak.

Kalau aku berada tepat di hadapan orang itu, kenapa harus tanya orang lain. Lagi pula maksud hati ingin berkenalan kok, yang artinya saling kenal. Bukan cuma aku yang kenal dia, gitu,

Mungkin memang ada yang salah dengan tidak mengenal presenter TV dengan paras cantik itu. Kok bisa bisa nya aku tidak kenal dia.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak tahu siapa SBY, Sri Mulyani, atau Nazaruddin?

Lalu, apakah ada yang salah dengan tidak mengenal mereka? Bagaimana dengan bule-bule yang tidak kenal siapa SBY? Atau bangsa Jepang yang tidak ngeh keberadaan Sri Mulyani. Dan bagaimana mereka yang menanyakan pada ku siapa itu Nazaruddin?

Bagi ku tidak ada yang salah. Mereka hanya tidak concern, atau bukan bagian penting bagi mereka untuk mengenal nama nama itu. Lagi pula toh tak ada urusan.

Siapa pun lantas menjadi punya hak untuk tidak kenal siapa pun yang dianggap orang lain terkenal. Apakah itu artinya dia kurang bergaul? Atau menyimpulkan pengetahuannya yang payah? Rasa rasanya kita yang terlalu sempit jika menyimpulkan pikiran seperti itu.

Jika kita tak punya rasa ingin tahu? Apa mungkin kita akan tahu? Jawabannya adalah mungkin. Dan semua itu butuh waktu.

Pengalaman ku lalu mengatakan, hingga sekarang aku jadi ngeh siapa presenter TV itu. Padahal mungkin, tanya sana sini, juga ternyata dia tak seterkenal itu. Tapi toh, setidaknya sekarang aku tau namanya meski dia bukan presenter ternama seperti yang aku kira. Ah, aturan terkenal itu menjadi sangat relatif terhadap a, b, atau c.

Well. Sekian dulu omongan soal orang terkenal. Aku hanya ingin komentar, bahwa sebagai wartawan bocah. Aku masi perlu waktu untuk tau siapa orang orang terkenal itu, atau orang orang tidak terkenal, bahkan. Apa sajalah. Bukan karena aku tertarik, tapi karena waktu yang membuat ku tau ๐Ÿ™‚

Gado-Gado Bergelar Hidup

Langsung, ku download aplikasi nge-blog di benda gadget yang hampir jarang ku utak atik ini. Aku kehabisan ide, tentang malam minggu di pertengahan bulan September ini.

Sejak, kata malas menjadi nama tengah ku, aku tak lagi sempat atau mau menyempatkan diri ke blog andalan ku ini. Twitter, jauh lebih menarik meski tak kalah membosankan.

Jenuh sudah aku menghabiskan malam minggu dengan menjadi stalker atau berkunjung ke segala macam jejaring sosial yang tengah ramai akhir-akhir ini. Sebutlah lagi, itu twitter atau bahkan beberapa media seperti facebook, linked in, instagram atau yahoo messenger yang jarang ku update.

Mengerjakan beberapa sisa kerjaan pun rasa-rasanya terlalu berlebihan. Lalu aku memilih untuk mampir ke blog ini.

Karena tak ingin membahas apa apa, aku memilih judul gado-gado. Postingan kali ini akan campur aduk kurasa. Tak ada arah mengarah ke mana pun. Hanya sekedar gado-gado, bukan sayuran, tapi HIDUP.

Dan malam mati gaya ini rasa-rasanya begitu sempurna melengkapi kalimat sepi di tengah keramaian. Ini malam minggu. Seharusnya, aku melakukan segala aktivitas normal seperti kebanyakan anak muda lakukan jaman sekarang. Terserah, mendefinisikan apa itu muda, yang penting aku memilih kata muda di tengah usia seperempat abad ku hari ini.

Tak mau lah aku merasa tua. Meski semangat ku tak berkobar seperti anak muda kebanyakan.

Hari ini, lengkap. Aku punya banyak teman, tetapi saat ini sedang tidak bersama mereka yang banyak itu. Awalnya, masih kucoba menghubungi beberapa teman yang bisa ku ajak ‘manyun’ hari ini. Tak ada balasan penting, dan kuyakini aku menikmati malam ini. Teh berasap ini, cukup menjadi teman tanpa suara juga perasaan yang harus dijaga dengan basa-basi.

Banyak cerita baru, terlalu banyak bahkan. Hingga kurasa terlalu lelah kubagi di sini. Kita perbaharui saja secara gado-gado, gimana?

Hari ini, seharusnya menjadi weekend ku sedangkan pada akhirnya aku menghabiskan separuhnya di kantor. Nyicil PR lanjutan dinas luar kota kemarin. Well, dunia pertelevisian selalu menarik bagi ku, meski tak pernah merasa melakukan dan sudah memberikan hasil terbaik.

Menginjak 6 bulan, akhirnya aku dinas luar kota juga. Hem, sebelumnya sempat dapet tugas arus mudik ke Pelabuhan Merak sii, tapi jaraknya masi diitung deket deh. Sejam sampe, kalo ngebut dan ga macet ๐Ÿ˜‰

Medan, kemarin. Masih dapet lanjutan naskah nya yang akan tayang selama seminggu, mulai Senin besok. Dan aku baru saja menghabiskan hari ini dengan Time code. Well, biar ga terlalu roaming, Time code itu kaya nyusun waktu hasil rekaman gambar untuk dipilah pilah yang bagus dan akan ditayangkan. Kuanggap definisi yang kubuat sendiri ini cukup dipahami, yaa.

Lalu kusempat kan pula makan siang bersama keluarga tadi. Kegiatan langka yang terjadi. Mengingat, seluruh anggota keluarga ku punya banyak ‘gimmick’ bertema sibuk. Dalam rangka, keberhasilan adik tertua ku yang jadi salah satu lulusan terbaik di salah satu fakultas dan universitas terbaik di Indonesia, sederhananya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ya. Dalam gado-gado ini, kuselipkan selamat yaa buat Bang Beyel (sebutan untuk adikku). Luar biasa sii, secara dengan segala kerendahan hati nii, aku ga ngerti apa isi kepala nya. Bagi ku, pendidikan dokter begitu sulit kujangkau dengan kemampuan otak ku yang cemerlang ini. Apalagi, dari Universitas yang isinya orang-orang terpilih semua. Hey, para alumni atau mahasiswa yang di sana, ayoo berbangga ๐Ÿ˜‰ Tapi menapi, mudah-mudahan tidak membuat adikku lupa diri. Tetap rendah hati jauh lebih penting ku rasa.

Mumpung gado-gado, kuputar memoriku pada teori seorang teman. Sudah 25 tahun, bahkan hampir 26 usia ku saat ini. Katanya usia segini adalah usia paling pas bagi wanita punya keinginan untuk menikah. Lalu keinginan itu akan menyusut jadi galau saat 28 tahun tiba. Dan akan bergeser jadi tak peduli saat kepala tiga mengucapkan selamat datang. Bagaimana dengan ku sekarang?

Aku merasa tak ada apa-apa. Aku tak melewatkan setiap hari dengan luar biasa. Tak pernah aku mengalami menjadi mahasiswa terbaik seperti yang diraih adikku tadi. Bagaimana pun, aku lulus dari Universitas ‘biasa aja’ meski selalu menghargai setiap detik pengalaman di sana. Ah, akan ya aku diamuk almamater ku karena menjuluki kampus ku dengan ‘biasa aja’ tadi. You go rock for always, guys ๐Ÿ˜‰ Teman-teman kampus ku tetap luar biasaa looh.

Makin malam, bukannya makin sepi. Warung kopi kesayangan ku ini justru kaya pasar. Rupanya jadi tempat mampir mereka yang abis hangout, atau sebelum melanjutkan untuk party di club malam karena jam segini club club itu pasti belum ramai.

Gado-gado ini jangan terlalu berantakan kali, ya. Kita balik lagi ke topik awal. Eh tapi topik awalnya apa, yaa. Wkwkkk.

Oke, kemudian akhir-akhir ini seputar pergaulan ku, masi tentang pernikahan. Bagaimana tidak. Imim, jika ada yang masi ingat, dia kembaran ku, sedang begitu ribetnya menyiapkan acara itu. Dan bagaimana dengan ku, di hari hari ke depan, sudah selazimnya jika aku menerima pertanyaan ‘kapan nyusul?’
Dan aku yakin itu tak akan menjadi perkara besar bagi ku. Toh, ayah ku tak kelihatan begitu berminat melepaskan anak gadisnya ini pada pria mana pria mana. Meski sebersit sempat ku lihat, gurat gurat cemas di wajah ibu ku. Dan aku cuma bisa tepuk tepuk pundak ku sendiri.

Usia dua lima, apa aku sudah memasuki fase 28? Atau bahkan kepala tiga itu? Entah. Aku terlalu keras untuk sebuah perdebatan. Pun egois dalam setiap perbedaan. Dengan siapa pun. Uh, takut yaa.

Aku masih perang dengan persoalan sepele semacam cemburu buta. Bahkan dengan yang tak seharusnya. Dengan pacar sendiri apa lagi. Itu seru loh, buat sekedar seru seru an. Karena yang paling seru adalah, kenapa harus buta karena cemburu itu. Aku tak punya alasan apa, dan dengan siapa.

Ayo, kita gado gado lagi. Bikin inget, aku belum nyicil Thesis ku. Padahal tenggat waktunya sudah sangat dekat. Walaupun tidak tahu kapan, tapi aku yakin terlalu dekat. Apa besok ya? Waduh, pengen kabur rasanya.

Dan rasanya aku akan kabur beneran sebentar lagi. Karena suguhan menu kopi baru sudah terhidang di meja. Baiknya, aku mulai menyeruput nya sambil menyapa yang lain. Mungkin ada bbm masuk? Aku jadi tak mau melirik. Kalau kalau tak bertanda notifikasi apa pun.

Selamat malam mingguan, sebelum makin kenyang gado-gado, nih. Akhirnya blog ini update juga, setelah sekian lama.

Ah, kangennn. *ini kata kata closing, biar makin gado gado dehh yaa*