Gado-Gado Bergelar Hidup

Langsung, ku download aplikasi nge-blog di benda gadget yang hampir jarang ku utak atik ini. Aku kehabisan ide, tentang malam minggu di pertengahan bulan September ini.

Sejak, kata malas menjadi nama tengah ku, aku tak lagi sempat atau mau menyempatkan diri ke blog andalan ku ini. Twitter, jauh lebih menarik meski tak kalah membosankan.

Jenuh sudah aku menghabiskan malam minggu dengan menjadi stalker atau berkunjung ke segala macam jejaring sosial yang tengah ramai akhir-akhir ini. Sebutlah lagi, itu twitter atau bahkan beberapa media seperti facebook, linked in, instagram atau yahoo messenger yang jarang ku update.

Mengerjakan beberapa sisa kerjaan pun rasa-rasanya terlalu berlebihan. Lalu aku memilih untuk mampir ke blog ini.

Karena tak ingin membahas apa apa, aku memilih judul gado-gado. Postingan kali ini akan campur aduk kurasa. Tak ada arah mengarah ke mana pun. Hanya sekedar gado-gado, bukan sayuran, tapi HIDUP.

Dan malam mati gaya ini rasa-rasanya begitu sempurna melengkapi kalimat sepi di tengah keramaian. Ini malam minggu. Seharusnya, aku melakukan segala aktivitas normal seperti kebanyakan anak muda lakukan jaman sekarang. Terserah, mendefinisikan apa itu muda, yang penting aku memilih kata muda di tengah usia seperempat abad ku hari ini.

Tak mau lah aku merasa tua. Meski semangat ku tak berkobar seperti anak muda kebanyakan.

Hari ini, lengkap. Aku punya banyak teman, tetapi saat ini sedang tidak bersama mereka yang banyak itu. Awalnya, masih kucoba menghubungi beberapa teman yang bisa ku ajak ‘manyun’ hari ini. Tak ada balasan penting, dan kuyakini aku menikmati malam ini. Teh berasap ini, cukup menjadi teman tanpa suara juga perasaan yang harus dijaga dengan basa-basi.

Banyak cerita baru, terlalu banyak bahkan. Hingga kurasa terlalu lelah kubagi di sini. Kita perbaharui saja secara gado-gado, gimana?

Hari ini, seharusnya menjadi weekend ku sedangkan pada akhirnya aku menghabiskan separuhnya di kantor. Nyicil PR lanjutan dinas luar kota kemarin. Well, dunia pertelevisian selalu menarik bagi ku, meski tak pernah merasa melakukan dan sudah memberikan hasil terbaik.

Menginjak 6 bulan, akhirnya aku dinas luar kota juga. Hem, sebelumnya sempat dapet tugas arus mudik ke Pelabuhan Merak sii, tapi jaraknya masi diitung deket deh. Sejam sampe, kalo ngebut dan ga macet😉

Medan, kemarin. Masih dapet lanjutan naskah nya yang akan tayang selama seminggu, mulai Senin besok. Dan aku baru saja menghabiskan hari ini dengan Time code. Well, biar ga terlalu roaming, Time code itu kaya nyusun waktu hasil rekaman gambar untuk dipilah pilah yang bagus dan akan ditayangkan. Kuanggap definisi yang kubuat sendiri ini cukup dipahami, yaa.

Lalu kusempat kan pula makan siang bersama keluarga tadi. Kegiatan langka yang terjadi. Mengingat, seluruh anggota keluarga ku punya banyak ‘gimmick’ bertema sibuk. Dalam rangka, keberhasilan adik tertua ku yang jadi salah satu lulusan terbaik di salah satu fakultas dan universitas terbaik di Indonesia, sederhananya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ya. Dalam gado-gado ini, kuselipkan selamat yaa buat Bang Beyel (sebutan untuk adikku). Luar biasa sii, secara dengan segala kerendahan hati nii, aku ga ngerti apa isi kepala nya. Bagi ku, pendidikan dokter begitu sulit kujangkau dengan kemampuan otak ku yang cemerlang ini. Apalagi, dari Universitas yang isinya orang-orang terpilih semua. Hey, para alumni atau mahasiswa yang di sana, ayoo berbangga😉 Tapi menapi, mudah-mudahan tidak membuat adikku lupa diri. Tetap rendah hati jauh lebih penting ku rasa.

Mumpung gado-gado, kuputar memoriku pada teori seorang teman. Sudah 25 tahun, bahkan hampir 26 usia ku saat ini. Katanya usia segini adalah usia paling pas bagi wanita punya keinginan untuk menikah. Lalu keinginan itu akan menyusut jadi galau saat 28 tahun tiba. Dan akan bergeser jadi tak peduli saat kepala tiga mengucapkan selamat datang. Bagaimana dengan ku sekarang?

Aku merasa tak ada apa-apa. Aku tak melewatkan setiap hari dengan luar biasa. Tak pernah aku mengalami menjadi mahasiswa terbaik seperti yang diraih adikku tadi. Bagaimana pun, aku lulus dari Universitas ‘biasa aja’ meski selalu menghargai setiap detik pengalaman di sana. Ah, akan ya aku diamuk almamater ku karena menjuluki kampus ku dengan ‘biasa aja’ tadi. You go rock for always, guys😉 Teman-teman kampus ku tetap luar biasaa looh.

Makin malam, bukannya makin sepi. Warung kopi kesayangan ku ini justru kaya pasar. Rupanya jadi tempat mampir mereka yang abis hangout, atau sebelum melanjutkan untuk party di club malam karena jam segini club club itu pasti belum ramai.

Gado-gado ini jangan terlalu berantakan kali, ya. Kita balik lagi ke topik awal. Eh tapi topik awalnya apa, yaa. Wkwkkk.

Oke, kemudian akhir-akhir ini seputar pergaulan ku, masi tentang pernikahan. Bagaimana tidak. Imim, jika ada yang masi ingat, dia kembaran ku, sedang begitu ribetnya menyiapkan acara itu. Dan bagaimana dengan ku, di hari hari ke depan, sudah selazimnya jika aku menerima pertanyaan ‘kapan nyusul?’
Dan aku yakin itu tak akan menjadi perkara besar bagi ku. Toh, ayah ku tak kelihatan begitu berminat melepaskan anak gadisnya ini pada pria mana pria mana. Meski sebersit sempat ku lihat, gurat gurat cemas di wajah ibu ku. Dan aku cuma bisa tepuk tepuk pundak ku sendiri.

Usia dua lima, apa aku sudah memasuki fase 28? Atau bahkan kepala tiga itu? Entah. Aku terlalu keras untuk sebuah perdebatan. Pun egois dalam setiap perbedaan. Dengan siapa pun. Uh, takut yaa.

Aku masih perang dengan persoalan sepele semacam cemburu buta. Bahkan dengan yang tak seharusnya. Dengan pacar sendiri apa lagi. Itu seru loh, buat sekedar seru seru an. Karena yang paling seru adalah, kenapa harus buta karena cemburu itu. Aku tak punya alasan apa, dan dengan siapa.

Ayo, kita gado gado lagi. Bikin inget, aku belum nyicil Thesis ku. Padahal tenggat waktunya sudah sangat dekat. Walaupun tidak tahu kapan, tapi aku yakin terlalu dekat. Apa besok ya? Waduh, pengen kabur rasanya.

Dan rasanya aku akan kabur beneran sebentar lagi. Karena suguhan menu kopi baru sudah terhidang di meja. Baiknya, aku mulai menyeruput nya sambil menyapa yang lain. Mungkin ada bbm masuk? Aku jadi tak mau melirik. Kalau kalau tak bertanda notifikasi apa pun.

Selamat malam mingguan, sebelum makin kenyang gado-gado, nih. Akhirnya blog ini update juga, setelah sekian lama.

Ah, kangennn. *ini kata kata closing, biar makin gado gado dehh yaa*

One thought on “Gado-Gado Bergelar Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s