Menunggu, Kemewahan Kuala Namu.

Yuuhuuuu,

Jalan-jalan lagii. Kali untuk kesempatan yang berbeda.

Setiap kota, setiap tempat, punya cerita sendiri. Setiap perjalanan, mesti ada ‘sesuatu’. Seperti kali ini, kembali Kota Medan yang menjadi tujuan liputan. Dititipi 8 paket, tentunya lebih dari cukup untuk mengambil kesempatan bekerja sambil berlibur di Kota ini.

Jelas, ini bukan kali pertamanya saya ke Kota Medan. Sebelumnya, pernah juga jalan-jalan ke kota ini. Dalam rangka kerjaan atau liburan sama keluarga (waktu masi pitik banget si). Sebagai salah satu Kota Besar di Indonesia, tak jauh berbeda dengan Jakarta. Medan bisa dibilang kota yang tak kalah sibuk. Mobilitas penduduknya cukup gila-gilan. Macetnya jugaa, sebelas dua belas lah sama Jakarta. Walau percayalah, tak akan se gila Jakarta.

Mendarat di Bandara Polonia Medan, susut sudah pandangan saya yang menganggap Medan sebagai Kota Metropolitan lengkap dengan gaya hidup hedonisme nya. Jauh, sudah. Bandara Polonia, kalau boleh jujur, lebih mirip pasar atau terminal yang padat dengan calon penumpang saat musim mudik tiba. Ah, rasanya ini tak layak disebut Bandara Internasional. Letaknya yang di pusat kota, membuat Bandara ini jauh dari mewah karena tak mungkin dibuat luas. Bandara Polonia harus bersaing dengan bangunan-bangunan di sekitarnya, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan perumahan. Tempat penerimaan bagasi dan ruang tunggunya pun sangat kecil.

Syukurlah, sudah ada rencana bahwa Bandara Polonia akan dipindahkan ke Deli Serdang. Bandara Kuala Namu namanya, sekitar 40 km dari Kota Medan. Meski jauh dari pusat kota, saya rasa ini memang sudah saatnya mengganti bandara Polonia yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. Dan, begayaan dikit nih, bahwa sepertinya saya salah satu orang yang duluan bisa masuk Bandara Kuala Namu dong. Tentunya, ini untuk kepentingan liputan yaa. Bandara ini belum rampung betul, rencananya baru siap operasi di awal tahun 2013.

Menengok ke Bandara ini, meski pembangunannya baru mencapai 80 persen, saya sudah membayangkan Bandara ini akan menjadi Bandara paling mewah di Indonesia. Arsitekturnya mengikuti gaya Narita atau Haneda airport yang ada di Jepang. Meski, tak meninggalkan gaya khas Indonesianya. Yang paling penting, segala arsitekturnya dikerjakan oleh putra Bangsa Indonesia, well, mari kita berbangga.

Bandara ini sudah dirancang sangat nyaman bagi para penumpangnya. Kekawatiran akan jaraknya yang jauh, bandara ini akan menyediakan train dan jalan bebas hambatan menuju Bandara.

Sebagai salah satu kota, dengan tingkat lalu lintas udara yang tinggi, di sini dimungkinkan bagi para penumpang yang hanya ingin transit sebentar, bertemu dengan kolega, dan lanjut terbang lagi. Mereka dapat bertemu di coffee shop, cafe, atau restoran yang ada di sana. Bagi keluarga, atau traveller, Bandara ini juga akan menjadi semi Mall. Bayangan saya, kita bisa belanja-belanja baju atau aksesoris lainnya di sini. hehe.

Meski membawa identitas wartawan, tak mudah bisa masuk ke Bandara yang masih dalam tahap pembangunan ini. Bandara ini dijaga ketat oleh pasukan pengamanan, yang sangarnya khas Abang Abang Medan. Hehe, ampun Bang. Wajar lah, tak boleh sembarang orang masuk ke dalam kawasan ini.

Sempat perang sengit dengan satpam nya. Kewartawanan saya diuji disini. Dengan panas terik, ditambah suasana gersang penuh debu, siapa yang tak panas, jauh-jauh dari Jakarta, malah ga boleh masuk. Toh, kepentingan kita ke sini murni untuk meliput. Apa saya ada muka maling yaa, sampe dilarang masuk dengan segala ke angkuhan pasukan pengamanan itu? Buruknya sambutan selamat datang itu kemudian adem seketika saat komandannya, menyambut kami dengan sangat terbuka.

Jadilah, kita keliling Bandara siang itu. Di antar oleh salah satu kordinator Proyek Bandara Kuala Namu ini.

Wow. Wow. Rasanya tak sabar menunggu Bandara ini jadi. Mudah-mudahan gak akan kumuh yaa. Rancangannya yang dibuat mewah ini seharusnya diimbangi dengan menghilangkan kebiasaan jorok masyarakat kita. Entah buang sampah sembarangan, melangkah becek becek, dan lain lain. Demi nama baik Indonesia juga kan? 😉

 

 

Advertisements

Segenggam Marah

Kau marah.
Bertanya padaku, apa aku pernah marah.

Aku pun balas ingin marah. Apakah aku pantas marah?

Keangkuhan mu membuat ku marah. Dan jujur merana. Tak kuat aku. Dengan perasaan sakit ini.

Tentang sakit hati. Jika memang, aku diizinkan untuk marah.

Lalu apalah dayaku. Aku tak sanggup, dan tak lagi layak untuk marah.

Air mata ini bukan lagi arti kesedihan, tapi atas marah yang tak mampu ditahan.

Apalah, setiap makian yang kau ucapkan. Hanya menambah, banjir air mata.

Aku menangis marah. Hah!

Well, sekian kalimat ini, yang terlalu galau untuk muncul di timeline twitter, mari kita pindah ke postingan ini saja.

Aku memang sedang marah. Tapi tak mampu berbuat apa apa. Pasrah. Mungkin menyerah dan tak akan kemana mana. Mau berapa waktu kau pegang ucapan ku.

Aku tak mungkin kemana mana. Aku maunya, begitu juga sebaliknya. Saja.

Mas Ario dan Kakak Sheema terlalu lucu untuk pergi dariku. Aku bersama mereka saat ini. Dan akan selamanya. Inilah kata sayang yang kuungkapkan.