Segenggam Marah

Kau marah.
Bertanya padaku, apa aku pernah marah.

Aku pun balas ingin marah. Apakah aku pantas marah?

Keangkuhan mu membuat ku marah. Dan jujur merana. Tak kuat aku. Dengan perasaan sakit ini.

Tentang sakit hati. Jika memang, aku diizinkan untuk marah.

Lalu apalah dayaku. Aku tak sanggup, dan tak lagi layak untuk marah.

Air mata ini bukan lagi arti kesedihan, tapi atas marah yang tak mampu ditahan.

Apalah, setiap makian yang kau ucapkan. Hanya menambah, banjir air mata.

Aku menangis marah. Hah!

Well, sekian kalimat ini, yang terlalu galau untuk muncul di timeline twitter, mari kita pindah ke postingan ini saja.

Aku memang sedang marah. Tapi tak mampu berbuat apa apa. Pasrah. Mungkin menyerah dan tak akan kemana mana. Mau berapa waktu kau pegang ucapan ku.

Aku tak mungkin kemana mana. Aku maunya, begitu juga sebaliknya. Saja.

Mas Ario dan Kakak Sheema terlalu lucu untuk pergi dariku. Aku bersama mereka saat ini. Dan akan selamanya. Inilah kata sayang yang kuungkapkan.

One thought on “Segenggam Marah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s