Yang Keliling Datang, Yang Baca Nyerang

Sederhananya. Ternyata hari gini masih ada yang begini.

Begitulah, ketika saya berkenalan dengan Ibu Kiswanti, di Desa Lebakwangi, Parung, Jawa Barat.

Berkunjung ke rumahnya. Siapa yang menyangka bahwa tempat ini didirikannya dengan sukarela. Sebuah perpustakaan dan tempat bermain. Ketika saya ke sana, anak-anak bolak balik mampir, datang dan pergi. Jika dibandingkan dengan tempat tinggal nya yang (sangat) sederhana, tak perlu heran lah, saya cuma bisa berkata ‘masih ada yang begini’

Di tengah, egois nya dan kerasnya kehidupan, masih ada yang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri. Dia lah, Ibu Kiswanti. Sosoknya sangat ramah, ceria dan apa adanya. Jika beberapa orang ‘kebiasaan’ mengumbar kesusahannya, tidak begitu pada Ibu Kiswanti. Tidak sedikitpun ia tergurat susahnya. Hanya semangat yang ada pada dirinya. Jelas, dia punya ketulusan yang sangat besar untuk menumbuhkan minat baca pada warga Kampung di sekitar tempat tinggalnya.

Meski tak sempat mengenyam pendidikan tinggi, tekad kuat untuk menyekolahkan anak anaknya. Setinggi mungkin. Putranya yang pertama kini, tengah mengenyam pendidikan untk memperoleh gelar sarjana di Universitas Indonesia. Putrinya yang kedua, masih di bangku SMA.

Dulu, ia mengayuh sepedanya. Berkeliling kampung, sejak 15 tahun lalu. Setahun lalu, tidak lagi. Sudah ada sukarelawan tetap Pak Fatah namanya. Upah 15000 diterima Pak Fatah sehari. Bisa kah dikatakan upah? Tak sebanding dengan lelah yang dikeluarkannya.

Koleksi buku yang ada di perpustakaannya sudah lebih dari 5000 buku. Setiap hari buku dan majalah yang dibawa, diganti, sehingga tak bosan lah yang membacanya. Memang, tak semua buku buku baru dan bagus yang dibawa berkeliling. Takut rusak atau hilang. Jika ingin yang baru baru, bisa mampir langsung ke Perpustakaannya.

Sekilas, mungkin ada kesan biasa saja. Tapi, saya dibuat cukup kaget, dengan semangat anak-anak dan ibu-ibu ketika Pak Fatah datang. Biasanya, setiap sore mereka sudah berkumpul menunggu Pak Fatah datang. Buku dongeng menjadi rebutan, sedangkan buku resep memasak biasanya yang paling dicari ibu ibu.

Coba kita menilik pada pusat ibu kota di Jakarta. Apakah masih ada yang begitu? Rasanya buku buku sudah tidak dilirik lagi. Kita lebih senang browsing atau update dari Twitter aja, yaa. Kadang, belanja buku buku best seller memang masih dijadikan alah satu kegiatan seru. Tapi, membacanya? Rasanya hampir tidak punya waktu. Habis, kebanyakan menghadapi kemacetan jalanan. Well, ini pengalaman pribadi si. Pasti, ga semuanya seperti saya, dong. Ya kan?

Warabal (Warung Baca Lebakwangi), selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Kata Ibu Kiswanti biar anak-anak semangat belajar dan ngumpul di perpustakaannya. Berbagai kegiatan diadakan, belajar sambil bermain.

Yang lebih bikin haru, anak anak di sana, sopan-sopan. Hihi, ketemu saya, semuanya cium tangan. Wihihi, berasa Ibu Guru, deh. Agak malu juga pas gabung ngajarin ngaji. Rasanya kok kebalik, yaa. Harusnya saya ikut diajarin ngaji nih. Wupsss!

Ada ga ya, Ibu Kiswanti Ibu Kiswanti lain di Indonesia?

Sengaja nih, ga nyelipin gambar dulu. Jadi, nonton ya, Bagaimana kisah Ibu Kiswanti menyebarkan minat baca untuk warga di kampungnya. Senin, 14 November 2011, 10.30 WIB di MNC TV. Jangan lupaa, hehe😉 See you there Guys!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s