Berkorban

Hai. Hai. Happy Ied Adha semuaa!😉

Tidak semua, bisa merasakan semaraknya Hari Raya dengan sumringah. Bertepatan jatuh pada hari Minggu, membuat orang-orang tak dapat merasakan suasana libur nya. Tapi, hari raya tetaplah hari raya. Hari apa pun, ibadah itu sudah menjadi kewajiban umat muslim.

Seperti idealnya, malamnya tetap ada takbir dan esok paginya, berbondong-bondong orang berangkat Sholat Ied. Sebagian mungkin tidak merasakan nya. Ada yang mulai malas berangkat, sampai memang berhalangan untuk berangkat. Meski hukumnya sunnah, seharusnya kita semua masih excited untuk menyambut hari raya ini.

Idul Adha, dikenal juga dengan Hari Raya Kurban. Di mana sebagian umat muslim yang mampu, dihimbau untuk mengorbankan sebagian hartanya untuk membeli sapi, kambing, atau hewan ternak lainnya yang setara. Jika tak mampu, ya, tidak dipaksakan. Hewan ternak itu kemudian disembelih, kemudian daging beserta jeroannya bisa dibagi-bagi. Mungkin, kulitnya juga bisa dibagikan untuk dberdayakan bikin sepatu atau tas kulit yaa.

Hari ini, saya menyaksikan, sedihnya muka sapi yang akan disembelih. Menangis kesakitan. Jiwa kebinatangan saya muncul. Saya bisa merasakan sakitnya dipotong urat nadi di leher si sapi. Bagaimana dia berusaha lepas dari nasib untuk disembelih siang itu. Bagaimana dia masih bertahan dengan nyawa dan helaan nafas yang tersisa, meski leher sudah terbelah, tanah sudah berlumur darah. Saya berkorban melihat kepedihan itu. Kepedihan untuk kemaslahatan bersama. Semoga pengorbanan si sapi mendatangkan menfaat bagi kita semua, khususnya buat si sapi itu pula. 

Sejak kecil, hampir tak pernah saya ikut kebagian daging kurban itu. Karena biasanya orang tua saya hanya menitipkan ‘hewan kurban’ nya di kampung halaman di seberang pulau.

Well, kemarin saya sempat membaca, twitter seorang teman. “kalau mau kurban, ya, kurban saja. Tidak usah sombong atau dipamer.” Ya, kurban ini memang merupakan sebuah amalan yang tak sejati jika diumbar. Layaknya pepatah yang mengatakan Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Tak Perlu Tahu.

Postingan ini tentu bukan untuk umbar, tentang apa yang saya kurban (atau saya ikut kurban) atau mengumbar siapa berkurban berapa ekor sapi atau kambing.

Toh, blog ini murni seperti buku harian saja loh. Tak ada maksud lebih dari itu. #penciteraan yang orang orang pikir, tidak selama nya benar.

Hari ini, saya hanya ingin menuangkan sebagian cerita tentang berkorban. Toh, berkorban juga tak melulu hewan ternak kan. Bisa juga tenaga, pikiran, bahkan hati. Hehe.

Hari Raya, biasanya menjadi ajang kumpul kumpul bagi keluarga saya, yang kebanyakan sudah tinggal masing-masing. Tapi, tetap, tidak terjadi lagi Full Team kali ini. Imim, kembaran saya, sudah bersama keluarganya, merayakannya di bagian Timur Indonesia sana. Begitu juga adik saya yang kecil. Dengar-dengar dia lagi liburan di Bali, entah dalam rangka apa.

Tapi ya sudah lah. Memang hidup begitu, bukan? Semuanya berubah. Disyukuri dan dinikmati. Jika tidak, kita bisa apa lagi. Yang jelas, saya selalu merindukan serunya berkumpul bersama kakak-kakak dan adik-adik saya itu. Tak lupa, bersama Mama dan Papa tentu saja. Ini, bisa menjadi berkorban bagi saya. Saya berkorban, demi pilihan hidup kakak atau adik saya.

Fiuhh, diujung hari ini, saya berkorban menjadi supir seharian, untuk menuruti keinginan Mama yang mau silaturahmi ke sana ke mari. Pegal. Itu pengorbanan loh. Hehe.

Banyak hal yang bisa dikorbankan, atau bahkan mau tidak mau harus berkorban. Kita, memang bukan pahlawan revolusi dengan semangatnya yang Rela Berkorban. Tapi, berkorban memang harus dipasangkan dengan rela. Jika tidak rela, percuma lah adanya.

Ternyata, tak hanya saya yang tak seutuhnya merayakan hari raya kurban ini. Beberapa update an status Twitter teman saya juga, bersiaga dengan tidur, tarik selimut dan sejenisnya. Beberapa, juga tetap ada ajakan teman-teman untuk kumpul atau ketemuan. Artinya, mereka available juga bukan? Apa mereka tidak berlebaran juga? Makan opor ayam atau bakar sate kambing?

Jika saya menarik ingatan saya, sekitar setahun lalu. Atau tahun tahun sebelumnya. Hari raya kurban memang lebih berwarna. Haruskah saya kembali galau dengan kalimat, saya merindukannya.

Saya rindu semuanya. Rindu Imim, yang pasti. Asli. Sejak Imim nikah, banyak yang beda rasanya. Mungkin tidak banyak yang mengerti bagaimana rasanya pasangan kembar ditinggal nikah. Jika saya ditinggal nikah oleh mantan (-mantan) saya, ah, saya mulai terbiasa. Tapi Imim? Tidak akan ada mantan Imim bukan? Imim tetap Imim. Jiwa saya sampai kapan pun.

Ini, saya sebut juga dengan berkorban. Berkorban, jiwa saya dibagi dengan Suami Imim, Mas Andika. Terlebih, hari ini saya korban menggantikan tugas Imim menjadi supir mama. Hehe, setelah sekian lama keegoisan saya, akhirnya ngerasain juga pengorbanan Imim selama ini.

Menjelang hari raya korban, saya terlibat obrolan seorang teman. Tentang pilihan hidupnya. Saya, mengaku tak peduli. Tapi sebenarnya saya bohong tentang itu. Setelah bohong, saya menjadi kepikiran. Andai saya bisa balik lagi ke pernyataan bohong saya, saya ingin klarifikasi satu hal, bahwa saya bohong tentang ‘ Tidak Peduli’ itu. Dan ini menjadi pengorbanan yang kesekian. Lagi-lagi saya berkorban.

Rasanya, pengorbanan saya menjadi cukup hari ini. Tak perlu detil kan tentang saya berkorban bayar parkir kemahalan karena tidak ada uang kecil. Wkkwk.

Berkorban membuat saya kelelahan. Apa saya masih perlu korban hewan ternak hari ini? hehe. Lah, itu menjadi urusan saya dengan Tuhan saya toh😉

Setelah ini, saya stop dulu berkorban, ya. Berkorban apa pun. Pengen istirahat dulu kek. Ya, boleh, ya. Saya mau tarik nafas dulu. Meski belum tarik selimut. Plis, saya belum mau berkorban. Terutama. Tentang cerita teman saya tentang pilihan hidupnya itu. Cukup, soal berkorban menerima undangan pernikahan mantan pacar. Saya tidak mau menerima undangan pernikahan dari Anda. Haha.

Sekali lagiii, selamat berkorban teman-teman. Ikhlas. Ikhlas.🙂

Posted in Oh

3 thoughts on “Berkorban

  1. Entah kenapa kalau Idul Adha susah sekali yah kumpul Full team, beda kalo Idul Fitri.. sibuk ngga sibuk pasti di sempet sempetin buat kumpul Full Team…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s