Bye 2011!

Akhirnya, kita harus segera mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2011 ini. Namanya saja pergantian tahun, semarak pergantian tahun begitu terasa di Ibu Kota. Entah, bagaimana saya harus membandingkan dengan tahun sebelumnya. Yang pasti, saya, mungkin salah satu yang tak terlalu suka hura-hura pesta pergantian tahun.

Rasanya, saya pun tak sabar agar 2011 segera berganti angka. Bukan karena saya suka angkanya tentu saja. Tapi, tahun baru tetap sebuah perubahan. Meski kalau kita cerna, apa bedanya dengan hari yang lain?

Mari kita berbicara lebih santai. Menyeragami apa saja yang biasa dibahas muda-mudi saat pergantian tahun. Resolusi? Ada yang bilang, masi percaya resolusi? Ya, boleh saja tidak percaya. Tapi, kenyataannya, kebanyakan kita menyusun resolusi di tahun 2012. Saya lebih senang menyebutnya dengan wishlist. Tentu saja, saya tak punya serentetan wishlist yang panjang di tahun 2012 ini. Karena, memang saya adalah tipikal orang yang lebih suka menjalani saja. Saya, jauh dari istilah obsesif apalagi ambisif.

Tapi, kita serasa tak hidup tanpa mimpi. Saya punya mimpi, impian, tapi malu malu untuk saya ungkapkan. Mungkin impian ini, pun, seragam pada kebanyakan wanita ‘muda’ seperti saya. Tapi ya, sutralaaah, kita semua bebas punya resolusi. Dan menyimpannya sebagai rahasia.

Setahun, menjadi tak lama, jika dihadapi dengan berbagai pelik masalah kehidupan. Saya, tak sendiri bukan? Bukan hanya saya yang pelik. Begitu juga, teman-teman semua. Toh, kita semua punya masalah sendiri.

2011, adalah tahun di mana pengalaman menjadi sebuah saksi dalam hidup, yang saya harap, tak akan terulang lagi di tahun 2012. Sederhana saja, karena kita semua ingin menjadi yang lebih baik, bukan? Mari kita tarik nafas panjang, dan menghelanya biar lega. Pengalaman pengalaman ini lah yang kini menjadi hadiah pergantian tahun yang begitu berkesan bagi saya.

Di awal tahun, saya jatuh cinta dengan profesi jurnalis. Untuk kesempatan ini, mungkin saya harus mengucap terima kasih pada seorang teman ( @sandysyafiek ), yang membuka jalan, hingga, alhamdulillah, di malam pergantian tahun ini saya masih harus berkutat dari bagian pengabdian saya terhadap profesi ini. Meski tak akan menyelesaikan tugas berjudul ‘time code’ malam ini, kenyataannya, saya tetap datang ke kantor, ‘nyicil’ kerjaan yang tak habis habis ini.

Sepanjang tahun, saya menikmati proses menjadi seorang jurnalis. Tidak mudah, dan saya menikmatinya. Jika kita bicara lelah, tak terbayar mungkin. Tapi saya menikmati setiap detilnya. Bagaimana saya bertemu banyak sekali karakter orang dalam pekerjaan ini. Entah itu, narasumber, rekan kerja, atau orang-orang lama yang kembali hadir. Saya menikmati masa-masa saya harus mengejar berita, mendapat berita tapi ga ditayangin, kebagian piket malam atau pulang ke kantor tanpa berita.

Menikmati setiap masa-masa ketika naskah yang saya kemas, dengan waktu yang amat terbatas tak terpakai atau dipandang tak kualitas. Ini adalah kala belajar yang begitu saya nikmati. Termasuk pula, menghadapi berbagai karakter rekan kerja atau atasan. Mengalami serunya punya teman-teman baru, menghadapi karakter orang-orang, bahkan merasakan apa yang biasa disebut orang-orang sikut-sikutan.

Di tahun ini, saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan pekerjaan yang saya impikan. Menjadi presenter tapi juga mengemas naskahnya. Berat, ga boong. Tapi saya bersyukur dengan kesempatan ini. Pembelajaran ini menjadi passion hebat dalam diri saya. Entah, soal hasil. Siapa pun bebas menilai, berselera, atau punya judge sendiri. Saya, sederhana, menikmati masa-masa saya berkarya. Bahkan menikmati masa-masa mumet, kehabisan ide, atau dicap tak bermutu.

Lalu, apa lagi yang kamu liwati di tahun 2011 ini? Menjelang akhir tahun, saya punya hidup baru. Mmmhh, mungkin bukan saya tepatnya. Tapi kembaran saya. Dan ini menjadi hidup baru pula bagi saya. Terlahir kembar, membuat saya seakan punya bayangan yang tampak nyata. Kini, ia menikah. Memulai hidup barunya. Dan saya harus merelakannya.

Dan menjalani keseharian, tanpa bayangan saya itu.

Bagaimana dengan kisah cinta? Ah, ini terlalu vulgar kalo diceritakan. Kita skip saja, ya. Mending kita mulai dengan yang baru. Sudah cukup rasanya, segala macam galau dan kacau terjadi di tahun 2011 ini. Pembelajaran adalah kalimat yang bisa kita ambil.

Saya menghadapi banyak sekali karakter lelaki sepanjang 2011 ini. Bukan karena saya laku keras tentu saja, tapi karena saya senang berteman dengan siapa saja. Mengenali sisi lain kehidupan mereka, yang mungkin tak pernah saya rasakan. Dan mendapati kesimpulan yang sama. Semua laki-laki brengsek. Yang homo pun, brengsek. Haha.

Usia kian menua. Langkah maju harus tetap ditapaki. Semangat harus tetap mengalir. Dan semuanya hanya bisa datang dari diri sendiri. Tak laku lah, dari siapa pun. Semakin kita dewasa, semakin berat beban yang harus kita emban. Sendiri.

2011, saya bersyukur punya sahabat-sahabat hebat. Yang mampu, memahami, menyayangi, dan tanpa syarat. Yang tetap ada, sehingga tak haruslah saya merasa sepi. Yang tak pernah meninggalkan. Oh, thanks Bestfriend.

Lalu, malam ini kian semarak. Terompet sudah mulai ditiupkan. Kalau melihat langit, oh dia warna warni. Ya, semangat tahun baru begitu terasa. 2011 segera meninggalkan kita. Tepat hari ini pula, segala-segala yang ribet berakhir. Saya menyambut kisah yang lebih sederhana dan manusiawi di tahun 2012 nanti. Harus lega apa, saya tak ingin mengulang 2011. Pergilah, karena sudah tiba masanya.

Untuk benci, sakit hati, dan hadiah tercantik malam ini. Harus bilang apa? Ayoo! 2011 tinggal hitungan menit. Pergilah! Selamat beresolusi, teman-teman. Selamat menjalani mimpi dan keputusan. Tegas mu, sungguh memuakkan. Dan kesempatan ga akan datang lagi. Toh, 2011 sudah ditutup. Lembaran kembali baru. Sampah-sampah busuk sudah dibuang.

Mmmhh, semprot parfum malam ini. Biar wangi dan segar terasa. Tidur, yuk!

Advertisements
Posted in Oh

Waktu dan Kopi

Menghabiskan waktu di warung kopi.

Ada yang senang menghabiskan waktu di warung kopi? Mungkin sebagian di antara kita ย setuju. Lihat saja, hampir setiap saat warung kopi ramai pengunjung. Sebagian menganggap, menghabiskan waktu di warung kopi itu semacam buang-buang waktu. Coba, kita telaah lagi. Menghabiskan waktu, artinya, waktu yang tersisa kemudian dihabiskan, dan bagi saya, lebih baik dihabiskan daripada dibuang-buang. Bener ga? Gimana? Masih ada anggapan bahwa menghabiskan waktu di warung kopi itu buang-buang waktu?

Ya, mungkin ada maksud lain dibalik, pilihan kata ‘buang-buang waktu’ itu. Banyak yang bisa dilakukan daripada menghabiskan waktu di warung kopi. Bukankah, lebih baik pulang ke rumah kemudian beristirahat? Atau berkumpul bersama keluarga? Itu sebagian komentar dari teman-teman saya.

Dan kembali lagi, itu adalah pilihan. Setiap orang punya hak untuk memilih apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu.

Saya, bukan penggemar kopi. Saya penggemar duduk santai di warung kopi. Karena gemar duduk-duduk di tempat itu, kemudian lidah saya menjadi akrab dengan kopi. Saya menjadi punya jenis-jenis kopi favorit meskipun saya tak ingin mengkategorikan diri saya sebagai penggila kopi.

Bagi saya, duduk duduk santai begini, adalah salah satu pilihan refreshing bagi saya. Tak mampu, setiap akhir pekan untuk liburan ke luar dari ibukota. Saya memilih, untuk menghabiskan waktu di warung kopi. Bersama teman (-teman) atau sendiri. Keduanya punya kenikmatan yang berbeda.

Mungkin tak banyak yang mampu menyaingi kemampuan saya untuk bertahan dan bermalas-malasan di sebuah warung kopi favorite saya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat itu. Jika ada, hai, hai, salam kenal. Senang rasanya punya teman yang senasib.

Untuk itu, kadang saya lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Jika begitu, mengapa saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu sendirian saja di kamar? Ya, karena menghabiskan waktu di warung kopi ini punya sensasi yang berbeda. Boleh lah, kemudian saya menobatkan tempat ini sebagai rumah ke dua saya. Setelah, mobil. Haha. Ya, rasanya kok hidup di Jakarta, jadi lebih sering dihabiskan di jalanan, ya. Bukan karna jaraknya yang jauh tentu saja, tapi karena volume kendaraan yang padat.

Saya punya cara sendiri menikmati waktu-waktu di warung kopi ini. Saya mampu menghabiskan waktu 24 jam yang saya punya, jika ada. Ditemani dengan berbagai teknologi terkini tentu saja. Untuk itu, kadang, saya menyangsikan apakah ada di antara teman-teman saya yang sanggup seperti saya. (*nyengir*) Itu salah satu alasan mengapa saya seringkali memilih sendiri di tempat ini. Percayalah, bukan karena tempat ini cukup bergengsi di Ibukota. Atau, karena privilege yang saya dapatkan dari para baristanya. Tapi semata saya senang menghabiskan waktu saya di sini.

Di sini, kita bisa se bodo amat an dengan apa yang orang-orang lakukan di sekitar kita. Terkadang saya mengamati pengunjung yang datang silih berganti. Mereka tak peduli. Dan tak ada kekawatiran, akan di usir. Warung kopi ini beroperasi 24 jam. Seolah memang disediakan untuk orang-orang seperti saya.

Jika sebagian berpikir, untuk apa buang buang waktu (juga uang) di sini. Mereka beranggapan ini tidak produktif. Wahh, jelass, bahwa saya punya pendapat yang berbeda. Ini jelas, lebih produktif dari pada menghabiskan waktu di jalanan padat yang membuat mesin mobil tua saya semakin ngadat. Jika mau dibandingkan dengan biaya nya? Ini sekedar ‘ngeles’ kali yaa. Daripada saya membiarkan mesin mobil bekerja lebih keras saat macet atau bahan bakar yang lebih boros ketika kopling terus ditahan, belum lagi stress kelelahan bersaing dengan kendaraan lain, ini tentu jauh lebih irit. Sekali lagi, yang protes tidak setuju, feel free lohh. Karena ini cuma nge les.

Saya tetap merasa lebih produktif di sini. Saya senang mengamati berbagai karakter pengunjung yang datang. Dari mulai orangtua yang berkumpul bersama anak-anaknya, para bikers dengan peluh setelah menyusuri ibukota, sampe beberapa wanita dengan dandanan seronok tampak sedang menunggu, entah apa. Ya, begitu beragam gaya hidup yang bisa saya amati di sini.

Di tempat ini, saya pun bisa seakan lepas dari kepenatan hidup (pasti dianggap lebay deh, nih). Saya merasa bisa menikmati dunia saya sendiri. Tersambung dengan koneksi internet membuat saya dapat terus meng-update berita terkini, yang menarik menurut pandangan saya. Saya merasa bisa begitu seru dengan diri saya sendiri.

Di sini, saya tidak peduli, ketika ingin marah atau menangis pada diri sendiri. Pekerja dan pengunjung di sini, punya urusan masing-masing. Dan mereka dapat dengan leluasa membiarkan saya. Walaupun sesekali saya dapat bocoran bahwa mereka juga suka ngomongin customer di backroom. Wkwkk, tapi ya sutralaaahh. Toh, dibelakang kan? Saya ga denger.

Sebagian inspirasi dan buah pikir, bisa muncul di tempat ini. Dari yang wajib macam #naskah dan #thesis, sampai tulisan-tulisan yang di-publish (di blog dan twitter) dan yang tidak di-publish. Browsing, web walking, dan socializing.ย 

Pada suatu masa, saya menjadi khawatir apakah ada yang mau menyesuaikan gaya hidup yang saya pilih seperti ini. Atau mungkin nanti saya lah yang harus mengalah, meninggalkan kebiasaan ini karena masih banyak prioritas yang perlu diurus daripada sekedar duduk santai dan malas-malasan di tempat ini. Menentukan calon suami mungkin salah satunya. ๐Ÿ˜‰

Jika mencari saya, seringkali saya didapati di sini. Ya, karena hampir sebagian waktu saya habiskan di sini. Bukannya, tak pernah jenuh, saya juga bisa untuk absen ga mampir dulu ke sini. Itu, sudah pernah saya lakukan. Saya lebih senang pulang ke rumah lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih lama di kantor untuk berkumpul bersama teman-teman. Tapi, jika jenuh itu sudah lampau, saya kembali lagi dengan kebiasaan menghabiskan waktu di sini.

Selain karena tempatnya yang dekat kemana-mana karena terletak di pusat di ibukota, tempat ini juga punya pelayanan menyenangkan. Barista-barista nya ramah dan tampak akrab. Meski, akhir-akhir ini mulai muncul barista-barista baru yang masih asing dalam pandangan saya. Entah, karena kebiasaan, ramuan kopinya pun menjadi berbeda dibandingkan dengan store se brand, di tempat lain.

Kalau mau tau diri sedikit, saya termasuk customer yang ‘high complaining’ loh terhadap pelayanan sebuah cafe, restoran, atau coffeeshop. Tapi di sini, mereka dengan sabar (di depan) melayani. Rasa minuman yang tidak sesuai dengan pesanan pasti diganti baru. Tak jarang, saya mendapat complimentย (walaupun sekedar air putih) dari barista-baristanya yang sudah berubah status menjadi teman-teman saya. Tapi soal gratisan ini rahasia yaa. ๐Ÿ™‚ Terlebih, saya tak perlu malu-malu minta tolong untuk mencuci tumbler saya, sampai-sampai dinobatkan sebagai tumbler purbakala. Haha, ini lucu. Sangat lucu melihat ekspresi mereka ketika harus mencuci tumbler yang sering dalam jangka waktu lama lupa dicuci itu. Thanks, guys! ๐Ÿ˜‰

Smoking dan non smoking area nya juga dipisah. Selain untuk menjaga kenyamanan pengunjung, juga untuk tetap menjaga kualitas biji kopinya. Mungkin ini juga alasan yang membuat banyak orang yang menyukai beragam kopi di sini.

Bukan, sepenuhnya saya menghabiskan waktu sendiri di sini, kok. Bersama teman-teman juga ga kalah seru. Bahkan, sebagian juga setuju kalau tempat ini bikin malas gerak. Embuerrrann, deh. Hehe. Kita bisa baca novel, wifi an, bikin #naskah atau nge gossip bareng-bareng ditempat ini.

Jadi, selamat menikmati, yaa. Menikmati tulisan ini. Menikmati waktu. Ayoo, kita lebih produktif, anak pintar ๐Ÿ˜€

 

Cerita Malas Jumat Pagi

Mengapa ribet.

Tahukah Anda, bahwa seringkali kita meributkan hal-hal kecil. Hidup di kota besar semacam Jakarta ini, membuat kita harus lebih santai menjalaninya. Setiap hal, bisa membuat kita menjadi seteress atau tertekan. Mulai lah dari mengurus diri sendiri.

Saya, mungkin adalah salah atau satu pribadi yang punya rasa malas yang sangat tinggi. Bahkan terlalu malas untuk mengurusi diri sendiri. Bayangkan, ketika saya sudah membuang jutaan rupiah untuk sebuah perawatan kulit wajah (catet, wajah doang, sedih ga sii?) saya masih malas untuk tetap rutin menggunakannya setiap malam sebelum tidur atau setelah mandi di pagi hari. Malas menggunakan tabir surya ketika akan terjun dibawah sengatan matahari. Ya, saya bahkan masih terlalu malas, untuk sesuatu yang telah saya korbankan.

Dan saya, semalas itu. Boro-boro untuk thesis, sesuatu yang terus menghantui kepala saya. Setiap hari, layar laptop ini terbuka dan menyala. Dan saya malas untuk menggeser panah dan klik ke folder Thesis yang tersimpan aman dalam komputer saya. Padahal, kalau mau sedikit bersyukur, saya punya fasilitas lengkap dan canggih, dengan teknologi nomor satu. Kalau mau marah, apa saya masih punya alasan untuk malas?

Apakah kekhawatiran semacam ini hanya saya yang merasakannya? Entah, saya berharap ada share dengan teman-teman yang ada di sekeliling saya.

Kadang, saya merasa dinamika hidup ini terlalu bergejolak. Itu membuat saya sangat malas. Dan cape. Mencuci piring setelah makan, oh, oke, kita jangan bicara soal piring. Ukurannya terlalu besar jika dibanding dengan sendok. Mencuci sendok pun, bisa membuat saya begitu malas.

Menikmati diri menjadi orang yang pemalas, itu jauh lebih menyenangkan. Mmhh, saya tidak tau apakah saya tergolong wanita (muda) yang sibuk. Tapi, rasanya tidak juga ya. Saya melihat, banyak orang yang jauh lebih sibuk dari saya. Toh, kapasitas saya hanya mengurusi diri sendiri. Saya tidak berkewajiban sebagai seorang istri atau orangtua yang harus mengurusi rumah tangga. Saya juga bukan seorang pemimpin, yang harus mengurusi tim dalam jumlah besar. Saya murni berkasta paling bawah, atau kalau mau sedikit halus, toh saya sekedar ujung tombak yang bekerja di lapangan, dalam sebuah televisi swasta saat ini. Saya, tentu jauh lah dari istilah pejabat atau presiden yang harus mengurusi negara. Dan yang paling penting, saya masih punya waktu untuk menikmati kopi blended sendirian berkutat dengan teknologi teknologi ini. Saya, tidak sesibuk itu.

Untuk itu, saya pun menjadi terlalu malas untuk komplen ini itu soal apa yang tak sanggup mereka kerjakan. Saya, hanya mencoba memahami, meski saya tak pernah berada di posisi mereka. Jika tak sanggup, saya akan menyesuaikan. Jauhlah dari apa yang disebut ‘pengertian’ dong. Simple, saya hanya malas. Ah, rasanya itu bukan urusan saya. Jika saya saja tak mampu mengurusi diri saya sendiri, mengapa saya harus protes dengan mereka yang tak mampu mengurusi apa pun yang harus menjadi urusan mereka. Mereka mungkin punya urusan sangat besar. Punya masalah sendiri yang membuat dirinya kalang kabut.

Saya, punya satu cerita. Ketika gosip menyebar bahwa seorang teman ke gep selingkuh dengan teman satu kantornya. Lalu, teman-teman lainnya menghakimi. Dipaksa mengaku. Untuk apa? Apakah kemudian setelah mengaku, keadaan jadi berubah. Toh, itu murni urusan mereka. Yang akan menjadi tanggung jawab mereka pula. Bukan berarti, saya ga peduli dengan teman si, sebenarnya. Saya hanya malas mungkin. Mengurusi sesuatu yang bukan urusan saya, apalagi. Beda hal nya, ketika dia datang pada saya. Curhat. Seakan kalut ingin dibantu. Saya siap pasang badan. Membantu dia, setidaknya mengingatkan. Really, saya cukup fair soal ini. Toh, setiap orang punya kesalahan masing-masing. Selalu salah, pun? Itu manusiawi. Manusia, tempat salah dan khilaf. Terus-terusan menghakimi dan menjelekkan orang lain, ga ada untungnya bagi kita. Menjadi teman bagi siapa saja, bahkan bagi musuh sendiri, itu menjadi kemenangan menyenangkan buat saya. Setidaknya niat baik loohh. Hehe. Well, untuk kasus yang satu ini, yang ada dalam pikiran saya, jika mau selingkuh? Kenapa harus sama dia? Haduuhh. Bukan perkara dia pria beristri dan beranak satu lohh. Tapi, aahh, saya jadi ga enak ngomongnya. Sudahlah, dia pasti punya alasan. Bermuka tak tampan dan kocek tak berisi, kini bukan alasan pria itu menjadi tak enak dijadikan selingkuhan. Pasti ada alasan lain. Entah apa, biarkan saja. :p

Sahabatku, datang. Muka berbinar tapi saya tau itu galau. Dia perempuan baik, menyenangkan, dan pintar. Sedikit egois. Sama seperti saya. Tapi, dia sahabat saya. Sejak 2009 lalu. Ya, belum terlalu lama yaa. Di usia yang sudah terbilang matang, dia ingin menikah. Tentu saja dengan pria impiannya. Bukan dengan wanita atau pria beda iman. Dia mengingkari jatuh cinta dengan orang itu. Oh, noo. Kalau dia tau saya menyelipkan kisah ini dalam cerita malas saya, mungkin dia bakal marah seharian sama saya. Tapi ahhh, sombong dikit. Saya sahabatnya sampai mati. Jadi jangan marah, kakakkk :p

Oke, dilanjut. Selancar itu dia bercerita. Hubungan yang menyenangkan itu. Persahabatan? Ya silakan saja menamakan apa. Saya tau kemudian ini semakin salah. Dia jatuh cinta? Boleh ga ya saya mengatakan, sudah pasti. Dia melakukan hal hal yang tidak dilakukan seorang sahabat (normal) lainnya. Dia tidak melakukan hal hal sebaik ini kepada saya. Tidak perlu, tentu saja, dan saya sudah cukup mengakui dia sebagai sahabat. Jika kemudian, dia melakukan banyak hal, bahkan berusaha keras melakukan hal yang tak lazim dia lakukan, mengorbankan beberapa hal, apakah hubungan dia dan orang itu bisa dianggap sebagai sahabat? Membayangkan jika dia melakukan sweet things itu pada saya, kok jatuhnya jiji yaa. Wkwkwk,,

Kalau begini, barulah naluri malas saya hilang. Sedikit. Meski tak selalu melakukan segalanya buat dia, andai saya bisa menyelamatkannya. Dari perasaannya yang kian dalam. Semata, saya tidak ingin dia masuk, terjerumus ke dalam masalah baru. Dan ini permasalahan jodoh. Yang belum juga didekatkan. Setiap kenal cowo, dengan kualitas baik, saya selalu ingat sahabat saya ini. Siapa tau bisa diprospek untuk perjodohan. Hehe. Yaah, tapi niat baik ada saja halangannya. Saya, tak terima cowo brengsek (meski hampir semua cowo brengsek) yang harus saya ‘comblang’ in dengan sahabat saya. Ya ampunnn, sahabat saya ini, orang baik bangettt. Jadi, kau, kau, kau, jangan aneh-aneh. Jangan macam-macam. Meski saya sendiri, masih sulit mencari pasangan untuk diri saya sendiri, tapi saya lebih senang menyibukkan diri mencari pasangan untuk sahabat saya. Haha, saya tidak bermaksud untuk obral di sini, yaa. Hanya sekedar berbagi. Tapi, jujur, saya mencari cowok berkualitas baik (tidak harus tinggi, tenang ajaa, jangan minder teman-teman. hehe) yang punya niatan baik untuk menyayangi dan menikahi teman saya. Ingat, saya tidak obral ya. Yang setengah-setengah, mending ga usah. ๐Ÿ˜€ Saya bisa jamin, diaaa, wanita pintar yang lucu dan menyenangkan.

Nahh, segini dulu cerita malas dari saya. Nanti, kita lanjut lagi, yaa. Mari kita kembali ke jalan kita masing-masing. Stop judging, lahh. Kesalahan itu milik kita semua. Bahkan salah untuk sebuah rasa malas. Jika Anda yang salah, toh, saya ga ngilik dan ngulik. Kita hanya perlu waktu untuk menjadi dewasa. Toh, sebenarnya kita semua ini pintar. Lupakanlah ada kata bernama ‘bego’ di muka bumi ini. Itu kata-kata tak berkelas. Hehe.

Happy living, Guys. Enjoy Jakarta!

Posted in Oh

Saat Dia Mengauuummm

Entah kenapa, satwa jenis Felidae ini selalu menarik perhatian saya. Harimau, singa bahkan kucing. Dari yang penampakannya sangar sampai yang lucu.

Bahkan, sempat terlintas dalam pikiran, saya ingin punya peliharaan semacam harimau atau singa. Tapi, realitanya, pilihan tetap jatuh pada kucing turunan persia, Simba namanya. Yaa, balik lagi, toh itulah yang paling masuk akal dipelihara. Bayangkan saja, jika saya akhirnya memelihara harimau atau singa. Bayangkan jika hewan itu ada di kamar saya? Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk merawatnya? Bagaimana memandikannya, bagaimana saya harus menyanggupi kebutuhan makannya. Selintas, saya senang mengimajinasikannya, jika hewan hewan itu menjadi peliharaan saya, pastinya dia akan menjadi bodyguard dalam keseharian saya. Siapa yang berani macam-macam dengan wanita berkawal hewan buas? Hehe.

Selain memang, harimau atau singa, adalah hewan yang dilindungi. Kalau saya beli, waduhh, saya berani bayar berapa si?

Tapi, keseharian saya ternyata tidak se ekstrim itu. Saya menjadi biasa hanya berkawalkan, kucing manja (yang jauh lebih manja dari saya), si Simba itu.

Hari ini, saya euphoria! Untuk pertama kalinya sepanjang lebih dari seperempat abad saya hidup di dunia, dan sepanjang dasawarsa saya tinggal di ibukota, saya berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan. Itu juga bukan kepentingan liburan, tentu saja. Ga jauh-jauh, yaa, rencana liputan. Apa lagi?

Mulanya, yaa, Ragunan. Image Taman Margasatwa ini masih tak bergejolak dalam benak saya. Jauh pasti dibandingkan Taman Safari di Cisarua, Bogor itu. Karena ini kunjungan pertama saya, maka tak bisa lah saya membandingkan suasana dan kondisinya dengan Ragunan yang dulu. Katanya, si, Ragunan sekarang jauh lebih bagus. Okelah, saya terima saja opini itu.

Berkeliling, sesederhana apa pun, kehidupan satwa selalu menarik. Yaa, meski dari fasilitas, sana sini, masih banyak yang perlu diperbaiki.

Harimau putih. OKE! Kita harus melipir ke sini. Woohoo! Ayu, namanya. Dia mengaumm. Ada apaaa? Kebanyakan kunjungan ke kebun binatang, hewan-hewan buas ini biasanya tampak tenang. Tak jarang, hanya tertidur. Bener kan? Hehe.

Excited! Entah apa lagi kata, saat saya mendengar aum an si Ayu, yang menggelegar seantero kebon. Jika biasanya saya benci suara yang menggelegar semacam makian manusia, tidak dengan harimau putih ini.

Terima kasih, untuk mobil logo TV kali ini. Pawang harimau, pak Sofyan membukakan pintu untuk kami. Dan saya menjadi hanya sejarak 10 cm dengan harimau-harimau ini. Besar, percayalah hewan ini sangat besar dan sangar. Deg-deg an! Saya bertemu Srikandi, harimau tertua di Ragunan. Lahir tahun 1998, sudah 13 tahun usianya, dan dia sedang mengandung anaknya yang ke, – mmmh, lupa nanya – Well, Ragunan sendiri merawat 9 ekor harimau putih, meski saat itu saya tidak sempat bertemu dengan semuanya.

Kata Pak Sofyan, aum an itu karena dia lapar. Tapi, Pak Sofyan sengaja menunda memberinya makan. Yaa, harus antri. Gantian dengan yang lain. Sabar ya, Ayu. Hehe. Setiap harinya, harimau harimau ini diberi makan 6 kg daging. Daging apa saja, sesuai selera si satwa. Ada yang suka ayam, sapi, bahkan celeng. Ya, hampir sama kaya kita bukan? Selera mereka pun beda-beda.

Meski sudah lebih dari 20 tahun bercengkerama dengan harimau, pak Sofyan tak pernah sekalipun, bersentuhan langsung dengan harimau-harimau ini. Ini buas. Benar benar buas. Salah-salah. habislah.

Dan, kita tak akan terlalu lama di sini. Tak tahan dengan bau makanan harimau-harimau ini. Meski sama-sama penyuka daging dagingan, tapi saya tidak suka yang tidak matang. Kudu, digoreng, direbus, apalagi digulai. Suka. Saya tak suka makanan harimau-harimau ini, apalagi tak berbumbu sama sekali.

Hey, hey, dear Ayu, Srikandi, and team. Be good and be awesome yaa. Nice to see you. ๐Ÿ˜‰

Menulis Hebat dari Negeri 5 Menara

Kelar liputan bersama A. Fuadi, penulis novel Best Seller ‘Negeri 5 Menara’ rasa rasanya saya sudah tak sabar untuk buka laptop, klik blog, dan posting di sini. Aselii, banyak banget yang ada di kepala, yang rasanya sayang kalau ga saya simpen di sini.

Beda. Liputan kali ini berbeda. Dan, apa pun, saya mau dibilang lebay atau enggak, yang pasti, saya beruntung bisa mengenal dan liputan bareng Bang Fuad, sapaan akrabnya.

Jika, biasanya saya yang harus mengumpulkan sekian banyak pertanyaan untuk digali dari seorang narasumber, kali ini, saya dibalas satu pertanyaan sederhana, semacam siapa idola saya. Dan sepanjang seperempat abad hidup saya, saya selalu bingung mau jawab apa, ketika dapat pertanyaan begitu.

Sejujurnya saya hanya punya jawaban standar semacam, Nabi Muhammad SAW, yang seharusnya menjadi idola semua umat muslim. Dalam pikiran saya, terlintas bahwa saya mengidolai Ayah saya. Meski tak sempurna, ayah saya adalah The Greatest Dad, menurut pandangan saya. Lagi, ini juga jawaban standar, bagi kebanyakan anak perempuan di muka bumi ini.

Namun, siang itu, saya paham bahwa yang Bang Fuad maksud bukan idola itu. Ini mengenai penulis idola. Well, saya harus diam beberapa detik kemudian memberi jawaban atas satu nama. Sebut sajalah, novel yang tetraloginya sedang saya baca saat ini. Pramoedya Ananta Toer. Lalu, sederhana saya sebut nama itu. Memang, juara rasanya pantas buat sastrawan itu. Setiap kalimat yang ditulisnya, tidak belebihan, sederhana, dan keren. Sekali lagi, per kalimat yang ditulisnya keren. Beberapa bilang, itu novel berat, tapi saya menikmatinya. Meski tak bisa dilahap abis dalam satu malam. Mengingat saya punya banyak gimmick yang harus dikerjakan. Sebut aja itu penciteraan bernama naskah, atau thesis, yang keduanya pun tak mendekati kemajuan pesat.

Apakah, untuk menjadi penulis hebat, harus punya idola? Mmhh, saya mulai pikir pikir, saya harus mengidolai siapa meski tak terobsesi jadi hebat dong, tentu saja. Tapi, jujur, saya bukan tipikal pembaca yang murahan suka sama seorang penulis. Banyak penulis penulis luar biasa, best seller pula, tapi bagi saya biasa. Dan lagi, bukan karena selera saya luar biasa yaa, tapi mungkin karna saya memang ga terlalu murahan soal ini. Atau beberapa penulis hebat itu tak sanggup dijangkau untuk isi kepala saya. Silakan artikan sendiri maksud kalimat saya ini apa, ya ๐Ÿ˜‰

Dan, Bang Fuad, salah satu penulis yang karya nya bisa saya nikmati. Novel nya sangat ringan, dan menyenangkan untuk dibaca. Sarat makna serta penuh semangat.

Jika, di antara kita menyukai karyanya. Mungkin, mengenalnya bisa membuat kita jatuh cinta. Jelas, Bang Fuad cerdas, cemerlang, dan pintar. Itu sepanjang perkenalan saya waktu liputan. Kepribadiannya sederhana, dengan pengalamannya yang luar biasa. Jauh dari kesan jumawa, Bang Fuad bersahaja. Lagi, itu menurut pandangan saya. Mudah-mudahan Bang Fuad bisa seperti itu seterusnya yaa. Kalau ga percaya, kenalan sendiri, ya. Nanti bisa sharing di sini.

Sebagai wartawan kemarin sore, agak grogi boleh dong, berhadapan dengan jurnalis handal. Handal asal kata yang dikutip dari anak anak kantor ya.

Cerita ceritanya, membuat saya terdiam, dan hanya bisa puji dalam hati, karena ga mau lebay. Mungkin rasa penasaran saya, berbeda dengan teman-teman lain, atau apa yang pemirsa pertanyakan. Saya menikmati rasa ingin tahu saya. Apa pun itu.

Bang Fuad begitu antusias dengan pengalaman hidupnya, namun tak berbekas kesan sombong. Dan siapa lah yang tak iri hati dengan keberuntungan yang diperolehnya sebagai penerima 8 beasiswa. Luar negeri. Saya, satu saja susah.

Seperti yang ada dalam novel pertamanya, Negeri 5 Menara, Bang Fuad selalu mengingatkan agar selalu bersungguh-sungguh. Bersungguh sungguh lah lebih dari rata-rata, walaupun lebih nya sedikit. Dari sekian kalimat motivasi yang diucapkan Bang Fuad, itulah yang saya ingat.

Dan dari obrolan saya dengan Bang Fuad, saya rangkum secara singkat trik dari Bang Fuad soal menulis.

1. Jika kebanyakan mengira, bahwa untuk menjadi penulis harus punya hobi membaca, ternyata tidak sepenuhnya berlaku kok. Bang Fuad mengaku bukan orang yang senang membaca. Dan ini kabar baik bagi kita yang tidak senang membaca, tapi punya cita-cita jadi penulis. Kabar buruknya, membaca itu sangat penting. Membaca bisa menjadi sumber inspirasi. Dengan membaca kita bisa memilih sendiri gaya menulis yang kita sukai. Berkreasi tanpa batas. Kosakata pun bertambah. Nah, jika Bang Fuad bukan lah salah satu orang yang senang membaca, bukan berarti ia tak membaca. Beruntungnya, ia punya seorang istri, akrab disapa Mba Yayi, yang sangat ‘gila’ buku. Mba Yayi, adalah wanita dibalik kesuksesan karya karya Bang Fuad. Lagi pula, jika Bang Fuad mengaku bukan orang yang senang membaca, boleh dong saya ragu sedikit, jika menemukan ruang baca dengan rak rak tinggi penuh koleksi buku di salah satu sudut rumahnya. Maaf, foto tidak diposting, liat tayangannya aja, ya. Hehe.

2. Why? Kenapa menulis? Kata Bang Fuad, untuk mulai menulis, penting bagi kita untuk punya alasan, mengapa kita merasa perlu menulis. Bang Fuad sendiri menganggap karya karya nya adalah titik balik atas apa yang sudah dicapainya selama ini. Tak pernah ia membayangkan bahwa bukunya akan menjadi Best Seller. Ia hanya merasa perlu menulis, berbagi manfaat kepada orang lain. Mungkin, orang lain juga bisa seperti dirinya, terkait dengan keberhasilannya meraih beasiswa. Lalu, bagaimana dengan saya? Secara kebetulan, saya bukan penulis memang, tapi saya punya alasan kenapa saya nulis di blog ini. Jauh dari yang orang-orang pikir penciteraan. Menulis disini jadi aktivitas menyenangkan, karena kita bisa menulis bebas, tanpa ada beban editing, jika tulisan kita ngaco. Hehe. (curcol dikit). Skip lah tentang saya. Kita balik lagi ke Bang Fuad.

3. Mulailah menulis dari yang paling mudah. Biasanya, menulis akan jadi sangat menyenangkan jika berhubungan dengan segala sesuatu yang menarik bagi kita. Bisa dari pengalaman sendiri, keadaan sekeliling kita, atau sesuatu yang membuat kita peduli. Bang Fuad, berhasil mengemas pengalaman hidupnya menjadi triogi (soon to be) yang mengagumkan. Bagaimana dengan kita?

4. Fokus dan menulislah. Menulis, butuh inspirasi. Terlalu banyak ide, juga tidak selamanya baik. Fokus juga merupakan kuncian agar kita bisa menyelesaikan tulisan. Untuk itu, kita harus tetap menulis. Bang Fuad menyelesaikan novel Negeri 5 Menara, selama 1.5 tahun. Dan ia tetap menulis. Sehari, pasti ada kalimat yang ditulis untuk novelnya. Menulis setiap hari, setiap ada kesempatan membuat kita fokus dan tidak berhenti menulis. Pasti ada jenuhnya, dan jika jenuh itu datang, biarkan pikiran kita fresh, sebelum akhirnya tetap menulis lagi. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi buku, begitu kata bang Fuad.

Jadi, ada yang mulai menulis hari ini?

Saya lanjut lagi cerita kunjungan saya ke Rumah Bang Fuad siang itu. Dan saya pun beruntung bisa mengenal Sang istri. Wanita dibalik kesuksesan Bang Fuad. Ngobrol dengan Mba Yayi, barulah saya mengerti. Memang, Mba Yayi seorang yang pintar dan penuh ide. Dukungan penuh ia persembahkan untuk suaminya. Bang Fuad menulis, Mba Yayi yang ngedit. Begitulah salah satu cara Mba Yayi mendukung Bang Fuad.

Mari kita mengengok ke sisi lain Rumah Bang Fuad, yang terletak di bilangan Jakarta Selatan ini. Okelah, Mba Yayi pencinta travelling around the world. Sangat. Tak koleksi bermewah mewahan, Mba Yayi mengoleksi magnet dari berbagai negara. Dan jumlahnya, tak hanya 8 atau 20. Mungkin sudah ratusan. Kulkas, jelas tidak cukup untuk menempel magnet magnet itu. Jadilah dua buah dinding besar yang menjadi sandaran koleksi magnet nya. Aslii. Lucu bangett. Dan travelling menjadi wishlist tiap tahun bagi pasangan ini. What a life. Sungguh unik dan seru yaa.

Rasanya, belum cukup seribu kata untuk menceritakan pertemuan saya dengan Bang Fuad, tapi toh jika postingan terlalu panjang, kawatir yang bacanya jadi bosen. Hehe.

Anyway, nice to know Bang Fuad dan Mba Yayi. May Allah swt always bless you a greatest!

Kalau mau nonton Ngobrol ngobrol saya dan Bang Fuad, Di Antara Kita di MNCTV Senin, 19 Desember 2011, jam 10.30 yaa.

Manis

Manis

Dialah si gadis manis

Yang selalu memberikan senyuman manis

Walau nampak sedikit sinis

Tapi tetap terlihat manis

ย 

Awal melihatnya tampak miris

bahkan nyaris mirip mimik menangis

Tapi semakin dipandang kok malah semakin manis

ย 

Raut wajahnya yang manis

Dilengkapi dengan sikapnya yang elastis

Tak pernah bergaya erotis

Namun sudah membuat pria terhipnotis

ย 

Dialah gadis manis

yang fantastis

ย 

Cikini, Rani Stones Sanjaya

Posted in Uncategorized