Menulis Hebat dari Negeri 5 Menara

Kelar liputan bersama A. Fuadi, penulis novel Best Seller ‘Negeri 5 Menara’ rasa rasanya saya sudah tak sabar untuk buka laptop, klik blog, dan posting di sini. Aselii, banyak banget yang ada di kepala, yang rasanya sayang kalau ga saya simpen di sini.

Beda. Liputan kali ini berbeda. Dan, apa pun, saya mau dibilang lebay atau enggak, yang pasti, saya beruntung bisa mengenal dan liputan bareng Bang Fuad, sapaan akrabnya.

Jika, biasanya saya yang harus mengumpulkan sekian banyak pertanyaan untuk digali dari seorang narasumber, kali ini, saya dibalas satu pertanyaan sederhana, semacam siapa idola saya. Dan sepanjang seperempat abad hidup saya, saya selalu bingung mau jawab apa, ketika dapat pertanyaan begitu.

Sejujurnya saya hanya punya jawaban standar semacam, Nabi Muhammad SAW, yang seharusnya menjadi idola semua umat muslim. Dalam pikiran saya, terlintas bahwa saya mengidolai Ayah saya. Meski tak sempurna, ayah saya adalah The Greatest Dad, menurut pandangan saya. Lagi, ini juga jawaban standar, bagi kebanyakan anak perempuan di muka bumi ini.

Namun, siang itu, saya paham bahwa yang Bang Fuad maksud bukan idola itu. Ini mengenai penulis idola. Well, saya harus diam beberapa detik kemudian memberi jawaban atas satu nama. Sebut sajalah, novel yang tetraloginya sedang saya baca saat ini. Pramoedya Ananta Toer. Lalu, sederhana saya sebut nama itu. Memang, juara rasanya pantas buat sastrawan itu. Setiap kalimat yang ditulisnya, tidak belebihan, sederhana, dan keren. Sekali lagi, per kalimat yang ditulisnya keren. Beberapa bilang, itu novel berat, tapi saya menikmatinya. Meski tak bisa dilahap abis dalam satu malam. Mengingat saya punya banyak gimmick yang harus dikerjakan. Sebut aja itu penciteraan bernama naskah, atau thesis, yang keduanya pun tak mendekati kemajuan pesat.

Apakah, untuk menjadi penulis hebat, harus punya idola? Mmhh, saya mulai pikir pikir, saya harus mengidolai siapa meski tak terobsesi jadi hebat dong, tentu saja. Tapi, jujur, saya bukan tipikal pembaca yang murahan suka sama seorang penulis. Banyak penulis penulis luar biasa, best seller pula, tapi bagi saya biasa. Dan lagi, bukan karena selera saya luar biasa yaa, tapi mungkin karna saya memang ga terlalu murahan soal ini. Atau beberapa penulis hebat itu tak sanggup dijangkau untuk isi kepala saya. Silakan artikan sendiri maksud kalimat saya ini apa, ya😉

Dan, Bang Fuad, salah satu penulis yang karya nya bisa saya nikmati. Novel nya sangat ringan, dan menyenangkan untuk dibaca. Sarat makna serta penuh semangat.

Jika, di antara kita menyukai karyanya. Mungkin, mengenalnya bisa membuat kita jatuh cinta. Jelas, Bang Fuad cerdas, cemerlang, dan pintar. Itu sepanjang perkenalan saya waktu liputan. Kepribadiannya sederhana, dengan pengalamannya yang luar biasa. Jauh dari kesan jumawa, Bang Fuad bersahaja. Lagi, itu menurut pandangan saya. Mudah-mudahan Bang Fuad bisa seperti itu seterusnya yaa. Kalau ga percaya, kenalan sendiri, ya. Nanti bisa sharing di sini.

Sebagai wartawan kemarin sore, agak grogi boleh dong, berhadapan dengan jurnalis handal. Handal asal kata yang dikutip dari anak anak kantor ya.

Cerita ceritanya, membuat saya terdiam, dan hanya bisa puji dalam hati, karena ga mau lebay. Mungkin rasa penasaran saya, berbeda dengan teman-teman lain, atau apa yang pemirsa pertanyakan. Saya menikmati rasa ingin tahu saya. Apa pun itu.

Bang Fuad begitu antusias dengan pengalaman hidupnya, namun tak berbekas kesan sombong. Dan siapa lah yang tak iri hati dengan keberuntungan yang diperolehnya sebagai penerima 8 beasiswa. Luar negeri. Saya, satu saja susah.

Seperti yang ada dalam novel pertamanya, Negeri 5 Menara, Bang Fuad selalu mengingatkan agar selalu bersungguh-sungguh. Bersungguh sungguh lah lebih dari rata-rata, walaupun lebih nya sedikit. Dari sekian kalimat motivasi yang diucapkan Bang Fuad, itulah yang saya ingat.

Dan dari obrolan saya dengan Bang Fuad, saya rangkum secara singkat trik dari Bang Fuad soal menulis.

1. Jika kebanyakan mengira, bahwa untuk menjadi penulis harus punya hobi membaca, ternyata tidak sepenuhnya berlaku kok. Bang Fuad mengaku bukan orang yang senang membaca. Dan ini kabar baik bagi kita yang tidak senang membaca, tapi punya cita-cita jadi penulis. Kabar buruknya, membaca itu sangat penting. Membaca bisa menjadi sumber inspirasi. Dengan membaca kita bisa memilih sendiri gaya menulis yang kita sukai. Berkreasi tanpa batas. Kosakata pun bertambah. Nah, jika Bang Fuad bukan lah salah satu orang yang senang membaca, bukan berarti ia tak membaca. Beruntungnya, ia punya seorang istri, akrab disapa Mba Yayi, yang sangat ‘gila’ buku. Mba Yayi, adalah wanita dibalik kesuksesan karya karya Bang Fuad. Lagi pula, jika Bang Fuad mengaku bukan orang yang senang membaca, boleh dong saya ragu sedikit, jika menemukan ruang baca dengan rak rak tinggi penuh koleksi buku di salah satu sudut rumahnya. Maaf, foto tidak diposting, liat tayangannya aja, ya. Hehe.

2. Why? Kenapa menulis? Kata Bang Fuad, untuk mulai menulis, penting bagi kita untuk punya alasan, mengapa kita merasa perlu menulis. Bang Fuad sendiri menganggap karya karya nya adalah titik balik atas apa yang sudah dicapainya selama ini. Tak pernah ia membayangkan bahwa bukunya akan menjadi Best Seller. Ia hanya merasa perlu menulis, berbagi manfaat kepada orang lain. Mungkin, orang lain juga bisa seperti dirinya, terkait dengan keberhasilannya meraih beasiswa. Lalu, bagaimana dengan saya? Secara kebetulan, saya bukan penulis memang, tapi saya punya alasan kenapa saya nulis di blog ini. Jauh dari yang orang-orang pikir penciteraan. Menulis disini jadi aktivitas menyenangkan, karena kita bisa menulis bebas, tanpa ada beban editing, jika tulisan kita ngaco. Hehe. (curcol dikit). Skip lah tentang saya. Kita balik lagi ke Bang Fuad.

3. Mulailah menulis dari yang paling mudah. Biasanya, menulis akan jadi sangat menyenangkan jika berhubungan dengan segala sesuatu yang menarik bagi kita. Bisa dari pengalaman sendiri, keadaan sekeliling kita, atau sesuatu yang membuat kita peduli. Bang Fuad, berhasil mengemas pengalaman hidupnya menjadi triogi (soon to be) yang mengagumkan. Bagaimana dengan kita?

4. Fokus dan menulislah. Menulis, butuh inspirasi. Terlalu banyak ide, juga tidak selamanya baik. Fokus juga merupakan kuncian agar kita bisa menyelesaikan tulisan. Untuk itu, kita harus tetap menulis. Bang Fuad menyelesaikan novel Negeri 5 Menara, selama 1.5 tahun. Dan ia tetap menulis. Sehari, pasti ada kalimat yang ditulis untuk novelnya. Menulis setiap hari, setiap ada kesempatan membuat kita fokus dan tidak berhenti menulis. Pasti ada jenuhnya, dan jika jenuh itu datang, biarkan pikiran kita fresh, sebelum akhirnya tetap menulis lagi. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi buku, begitu kata bang Fuad.

Jadi, ada yang mulai menulis hari ini?

Saya lanjut lagi cerita kunjungan saya ke Rumah Bang Fuad siang itu. Dan saya pun beruntung bisa mengenal Sang istri. Wanita dibalik kesuksesan Bang Fuad. Ngobrol dengan Mba Yayi, barulah saya mengerti. Memang, Mba Yayi seorang yang pintar dan penuh ide. Dukungan penuh ia persembahkan untuk suaminya. Bang Fuad menulis, Mba Yayi yang ngedit. Begitulah salah satu cara Mba Yayi mendukung Bang Fuad.

Mari kita mengengok ke sisi lain Rumah Bang Fuad, yang terletak di bilangan Jakarta Selatan ini. Okelah, Mba Yayi pencinta travelling around the world. Sangat. Tak koleksi bermewah mewahan, Mba Yayi mengoleksi magnet dari berbagai negara. Dan jumlahnya, tak hanya 8 atau 20. Mungkin sudah ratusan. Kulkas, jelas tidak cukup untuk menempel magnet magnet itu. Jadilah dua buah dinding besar yang menjadi sandaran koleksi magnet nya. Aslii. Lucu bangett. Dan travelling menjadi wishlist tiap tahun bagi pasangan ini. What a life. Sungguh unik dan seru yaa.

Rasanya, belum cukup seribu kata untuk menceritakan pertemuan saya dengan Bang Fuad, tapi toh jika postingan terlalu panjang, kawatir yang bacanya jadi bosen. Hehe.

Anyway, nice to know Bang Fuad dan Mba Yayi. May Allah swt always bless you a greatest!

Kalau mau nonton Ngobrol ngobrol saya dan Bang Fuad, Di Antara Kita di MNCTV Senin, 19 Desember 2011, jam 10.30 yaa.

2 thoughts on “Menulis Hebat dari Negeri 5 Menara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s