Cerita Malas Jumat Pagi

Mengapa ribet.

Tahukah Anda, bahwa seringkali kita meributkan hal-hal kecil. Hidup di kota besar semacam Jakarta ini, membuat kita harus lebih santai menjalaninya. Setiap hal, bisa membuat kita menjadi seteress atau tertekan. Mulai lah dari mengurus diri sendiri.

Saya, mungkin adalah salah atau satu pribadi yang punya rasa malas yang sangat tinggi. Bahkan terlalu malas untuk mengurusi diri sendiri. Bayangkan, ketika saya sudah membuang jutaan rupiah untuk sebuah perawatan kulit wajah (catet, wajah doang, sedih ga sii?) saya masih malas untuk tetap rutin menggunakannya setiap malam sebelum tidur atau setelah mandi di pagi hari. Malas menggunakan tabir surya ketika akan terjun dibawah sengatan matahari. Ya, saya bahkan masih terlalu malas, untuk sesuatu yang telah saya korbankan.

Dan saya, semalas itu. Boro-boro untuk thesis, sesuatu yang terus menghantui kepala saya. Setiap hari, layar laptop ini terbuka dan menyala. Dan saya malas untuk menggeser panah dan klik ke folder Thesis yang tersimpan aman dalam komputer saya. Padahal, kalau mau sedikit bersyukur, saya punya fasilitas lengkap dan canggih, dengan teknologi nomor satu. Kalau mau marah, apa saya masih punya alasan untuk malas?

Apakah kekhawatiran semacam ini hanya saya yang merasakannya? Entah, saya berharap ada share dengan teman-teman yang ada di sekeliling saya.

Kadang, saya merasa dinamika hidup ini terlalu bergejolak. Itu membuat saya sangat malas. Dan cape. Mencuci piring setelah makan, oh, oke, kita jangan bicara soal piring. Ukurannya terlalu besar jika dibanding dengan sendok. Mencuci sendok pun, bisa membuat saya begitu malas.

Menikmati diri menjadi orang yang pemalas, itu jauh lebih menyenangkan. Mmhh, saya tidak tau apakah saya tergolong wanita (muda) yang sibuk. Tapi, rasanya tidak juga ya. Saya melihat, banyak orang yang jauh lebih sibuk dari saya. Toh, kapasitas saya hanya mengurusi diri sendiri. Saya tidak berkewajiban sebagai seorang istri atau orangtua yang harus mengurusi rumah tangga. Saya juga bukan seorang pemimpin, yang harus mengurusi tim dalam jumlah besar. Saya murni berkasta paling bawah, atau kalau mau sedikit halus, toh saya sekedar ujung tombak yang bekerja di lapangan, dalam sebuah televisi swasta saat ini. Saya, tentu jauh lah dari istilah pejabat atau presiden yang harus mengurusi negara. Dan yang paling penting, saya masih punya waktu untuk menikmati kopi blended sendirian berkutat dengan teknologi teknologi ini. Saya, tidak sesibuk itu.

Untuk itu, saya pun menjadi terlalu malas untuk komplen ini itu soal apa yang tak sanggup mereka kerjakan. Saya, hanya mencoba memahami, meski saya tak pernah berada di posisi mereka. Jika tak sanggup, saya akan menyesuaikan. Jauhlah dari apa yang disebut ‘pengertian’ dong. Simple, saya hanya malas. Ah, rasanya itu bukan urusan saya. Jika saya saja tak mampu mengurusi diri saya sendiri, mengapa saya harus protes dengan mereka yang tak mampu mengurusi apa pun yang harus menjadi urusan mereka. Mereka mungkin punya urusan sangat besar. Punya masalah sendiri yang membuat dirinya kalang kabut.

Saya, punya satu cerita. Ketika gosip menyebar bahwa seorang teman ke gep selingkuh dengan teman satu kantornya. Lalu, teman-teman lainnya menghakimi. Dipaksa mengaku. Untuk apa? Apakah kemudian setelah mengaku, keadaan jadi berubah. Toh, itu murni urusan mereka. Yang akan menjadi tanggung jawab mereka pula. Bukan berarti, saya ga peduli dengan teman si, sebenarnya. Saya hanya malas mungkin. Mengurusi sesuatu yang bukan urusan saya, apalagi. Beda hal nya, ketika dia datang pada saya. Curhat. Seakan kalut ingin dibantu. Saya siap pasang badan. Membantu dia, setidaknya mengingatkan. Really, saya cukup fair soal ini. Toh, setiap orang punya kesalahan masing-masing. Selalu salah, pun? Itu manusiawi. Manusia, tempat salah dan khilaf. Terus-terusan menghakimi dan menjelekkan orang lain, ga ada untungnya bagi kita. Menjadi teman bagi siapa saja, bahkan bagi musuh sendiri, itu menjadi kemenangan menyenangkan buat saya. Setidaknya niat baik loohh. Hehe. Well, untuk kasus yang satu ini, yang ada dalam pikiran saya, jika mau selingkuh? Kenapa harus sama dia? Haduuhh. Bukan perkara dia pria beristri dan beranak satu lohh. Tapi, aahh, saya jadi ga enak ngomongnya. Sudahlah, dia pasti punya alasan. Bermuka tak tampan dan kocek tak berisi, kini bukan alasan pria itu menjadi tak enak dijadikan selingkuhan. Pasti ada alasan lain. Entah apa, biarkan saja. :p

Sahabatku, datang. Muka berbinar tapi saya tau itu galau. Dia perempuan baik, menyenangkan, dan pintar. Sedikit egois. Sama seperti saya. Tapi, dia sahabat saya. Sejak 2009 lalu. Ya, belum terlalu lama yaa. Di usia yang sudah terbilang matang, dia ingin menikah. Tentu saja dengan pria impiannya. Bukan dengan wanita atau pria beda iman. Dia mengingkari jatuh cinta dengan orang itu. Oh, noo. Kalau dia tau saya menyelipkan kisah ini dalam cerita malas saya, mungkin dia bakal marah seharian sama saya. Tapi ahhh, sombong dikit. Saya sahabatnya sampai mati. Jadi jangan marah, kakakkk :p

Oke, dilanjut. Selancar itu dia bercerita. Hubungan yang menyenangkan itu. Persahabatan? Ya silakan saja menamakan apa. Saya tau kemudian ini semakin salah. Dia jatuh cinta? Boleh ga ya saya mengatakan, sudah pasti. Dia melakukan hal hal yang tidak dilakukan seorang sahabat (normal) lainnya. Dia tidak melakukan hal hal sebaik ini kepada saya. Tidak perlu, tentu saja, dan saya sudah cukup mengakui dia sebagai sahabat. Jika kemudian, dia melakukan banyak hal, bahkan berusaha keras melakukan hal yang tak lazim dia lakukan, mengorbankan beberapa hal, apakah hubungan dia dan orang itu bisa dianggap sebagai sahabat? Membayangkan jika dia melakukan sweet things itu pada saya, kok jatuhnya jiji yaa. Wkwkwk,,

Kalau begini, barulah naluri malas saya hilang. Sedikit. Meski tak selalu melakukan segalanya buat dia, andai saya bisa menyelamatkannya. Dari perasaannya yang kian dalam. Semata, saya tidak ingin dia masuk, terjerumus ke dalam masalah baru. Dan ini permasalahan jodoh. Yang belum juga didekatkan. Setiap kenal cowo, dengan kualitas baik, saya selalu ingat sahabat saya ini. Siapa tau bisa diprospek untuk perjodohan. Hehe. Yaah, tapi niat baik ada saja halangannya. Saya, tak terima cowo brengsek (meski hampir semua cowo brengsek) yang harus saya ‘comblang’ in dengan sahabat saya. Ya ampunnn, sahabat saya ini, orang baik bangettt. Jadi, kau, kau, kau, jangan aneh-aneh. Jangan macam-macam. Meski saya sendiri, masih sulit mencari pasangan untuk diri saya sendiri, tapi saya lebih senang menyibukkan diri mencari pasangan untuk sahabat saya. Haha, saya tidak bermaksud untuk obral di sini, yaa. Hanya sekedar berbagi. Tapi, jujur, saya mencari cowok berkualitas baik (tidak harus tinggi, tenang ajaa, jangan minder teman-teman. hehe) yang punya niatan baik untuk menyayangi dan menikahi teman saya. Ingat, saya tidak obral ya. Yang setengah-setengah, mending ga usah.😀 Saya bisa jamin, diaaa, wanita pintar yang lucu dan menyenangkan.

Nahh, segini dulu cerita malas dari saya. Nanti, kita lanjut lagi, yaa. Mari kita kembali ke jalan kita masing-masing. Stop judging, lahh. Kesalahan itu milik kita semua. Bahkan salah untuk sebuah rasa malas. Jika Anda yang salah, toh, saya ga ngilik dan ngulik. Kita hanya perlu waktu untuk menjadi dewasa. Toh, sebenarnya kita semua ini pintar. Lupakanlah ada kata bernama ‘bego’ di muka bumi ini. Itu kata-kata tak berkelas. Hehe.

Happy living, Guys. Enjoy Jakarta!

Posted in Oh

One thought on “Cerita Malas Jumat Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s