Waktu dan Kopi

Menghabiskan waktu di warung kopi.

Ada yang senang menghabiskan waktu di warung kopi? Mungkin sebagian di antara kita  setuju. Lihat saja, hampir setiap saat warung kopi ramai pengunjung. Sebagian menganggap, menghabiskan waktu di warung kopi itu semacam buang-buang waktu. Coba, kita telaah lagi. Menghabiskan waktu, artinya, waktu yang tersisa kemudian dihabiskan, dan bagi saya, lebih baik dihabiskan daripada dibuang-buang. Bener ga? Gimana? Masih ada anggapan bahwa menghabiskan waktu di warung kopi itu buang-buang waktu?

Ya, mungkin ada maksud lain dibalik, pilihan kata ‘buang-buang waktu’ itu. Banyak yang bisa dilakukan daripada menghabiskan waktu di warung kopi. Bukankah, lebih baik pulang ke rumah kemudian beristirahat? Atau berkumpul bersama keluarga? Itu sebagian komentar dari teman-teman saya.

Dan kembali lagi, itu adalah pilihan. Setiap orang punya hak untuk memilih apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu.

Saya, bukan penggemar kopi. Saya penggemar duduk santai di warung kopi. Karena gemar duduk-duduk di tempat itu, kemudian lidah saya menjadi akrab dengan kopi. Saya menjadi punya jenis-jenis kopi favorit meskipun saya tak ingin mengkategorikan diri saya sebagai penggila kopi.

Bagi saya, duduk duduk santai begini, adalah salah satu pilihan refreshing bagi saya. Tak mampu, setiap akhir pekan untuk liburan ke luar dari ibukota. Saya memilih, untuk menghabiskan waktu di warung kopi. Bersama teman (-teman) atau sendiri. Keduanya punya kenikmatan yang berbeda.

Mungkin tak banyak yang mampu menyaingi kemampuan saya untuk bertahan dan bermalas-malasan di sebuah warung kopi favorite saya di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat itu. Jika ada, hai, hai, salam kenal. Senang rasanya punya teman yang senasib.

Untuk itu, kadang saya lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Jika begitu, mengapa saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu sendirian saja di kamar? Ya, karena menghabiskan waktu di warung kopi ini punya sensasi yang berbeda. Boleh lah, kemudian saya menobatkan tempat ini sebagai rumah ke dua saya. Setelah, mobil. Haha. Ya, rasanya kok hidup di Jakarta, jadi lebih sering dihabiskan di jalanan, ya. Bukan karna jaraknya yang jauh tentu saja, tapi karena volume kendaraan yang padat.

Saya punya cara sendiri menikmati waktu-waktu di warung kopi ini. Saya mampu menghabiskan waktu 24 jam yang saya punya, jika ada. Ditemani dengan berbagai teknologi terkini tentu saja. Untuk itu, kadang, saya menyangsikan apakah ada di antara teman-teman saya yang sanggup seperti saya. (*nyengir*) Itu salah satu alasan mengapa saya seringkali memilih sendiri di tempat ini. Percayalah, bukan karena tempat ini cukup bergengsi di Ibukota. Atau, karena privilege yang saya dapatkan dari para baristanya. Tapi semata saya senang menghabiskan waktu saya di sini.

Di sini, kita bisa se bodo amat an dengan apa yang orang-orang lakukan di sekitar kita. Terkadang saya mengamati pengunjung yang datang silih berganti. Mereka tak peduli. Dan tak ada kekawatiran, akan di usir. Warung kopi ini beroperasi 24 jam. Seolah memang disediakan untuk orang-orang seperti saya.

Jika sebagian berpikir, untuk apa buang buang waktu (juga uang) di sini. Mereka beranggapan ini tidak produktif. Wahh, jelass, bahwa saya punya pendapat yang berbeda. Ini jelas, lebih produktif dari pada menghabiskan waktu di jalanan padat yang membuat mesin mobil tua saya semakin ngadat. Jika mau dibandingkan dengan biaya nya? Ini sekedar ‘ngeles’ kali yaa. Daripada saya membiarkan mesin mobil bekerja lebih keras saat macet atau bahan bakar yang lebih boros ketika kopling terus ditahan, belum lagi stress kelelahan bersaing dengan kendaraan lain, ini tentu jauh lebih irit. Sekali lagi, yang protes tidak setuju, feel free lohh. Karena ini cuma nge les.

Saya tetap merasa lebih produktif di sini. Saya senang mengamati berbagai karakter pengunjung yang datang. Dari mulai orangtua yang berkumpul bersama anak-anaknya, para bikers dengan peluh setelah menyusuri ibukota, sampe beberapa wanita dengan dandanan seronok tampak sedang menunggu, entah apa. Ya, begitu beragam gaya hidup yang bisa saya amati di sini.

Di tempat ini, saya pun bisa seakan lepas dari kepenatan hidup (pasti dianggap lebay deh, nih). Saya merasa bisa menikmati dunia saya sendiri. Tersambung dengan koneksi internet membuat saya dapat terus meng-update berita terkini, yang menarik menurut pandangan saya. Saya merasa bisa begitu seru dengan diri saya sendiri.

Di sini, saya tidak peduli, ketika ingin marah atau menangis pada diri sendiri. Pekerja dan pengunjung di sini, punya urusan masing-masing. Dan mereka dapat dengan leluasa membiarkan saya. Walaupun sesekali saya dapat bocoran bahwa mereka juga suka ngomongin customer di backroom. Wkwkk, tapi ya sutralaaahh. Toh, dibelakang kan? Saya ga denger.

Sebagian inspirasi dan buah pikir, bisa muncul di tempat ini. Dari yang wajib macam #naskah dan #thesis, sampai tulisan-tulisan yang di-publish (di blog dan twitter) dan yang tidak di-publish. Browsing, web walking, dan socializing. 

Pada suatu masa, saya menjadi khawatir apakah ada yang mau menyesuaikan gaya hidup yang saya pilih seperti ini. Atau mungkin nanti saya lah yang harus mengalah, meninggalkan kebiasaan ini karena masih banyak prioritas yang perlu diurus daripada sekedar duduk santai dan malas-malasan di tempat ini. Menentukan calon suami mungkin salah satunya.😉

Jika mencari saya, seringkali saya didapati di sini. Ya, karena hampir sebagian waktu saya habiskan di sini. Bukannya, tak pernah jenuh, saya juga bisa untuk absen ga mampir dulu ke sini. Itu, sudah pernah saya lakukan. Saya lebih senang pulang ke rumah lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih lama di kantor untuk berkumpul bersama teman-teman. Tapi, jika jenuh itu sudah lampau, saya kembali lagi dengan kebiasaan menghabiskan waktu di sini.

Selain karena tempatnya yang dekat kemana-mana karena terletak di pusat di ibukota, tempat ini juga punya pelayanan menyenangkan. Barista-barista nya ramah dan tampak akrab. Meski, akhir-akhir ini mulai muncul barista-barista baru yang masih asing dalam pandangan saya. Entah, karena kebiasaan, ramuan kopinya pun menjadi berbeda dibandingkan dengan store se brand, di tempat lain.

Kalau mau tau diri sedikit, saya termasuk customer yang ‘high complaining’ loh terhadap pelayanan sebuah cafe, restoran, atau coffeeshop. Tapi di sini, mereka dengan sabar (di depan) melayani. Rasa minuman yang tidak sesuai dengan pesanan pasti diganti baru. Tak jarang, saya mendapat compliment (walaupun sekedar air putih) dari barista-baristanya yang sudah berubah status menjadi teman-teman saya. Tapi soal gratisan ini rahasia yaa.🙂 Terlebih, saya tak perlu malu-malu minta tolong untuk mencuci tumbler saya, sampai-sampai dinobatkan sebagai tumbler purbakala. Haha, ini lucu. Sangat lucu melihat ekspresi mereka ketika harus mencuci tumbler yang sering dalam jangka waktu lama lupa dicuci itu. Thanks, guys!😉

Smoking dan non smoking area nya juga dipisah. Selain untuk menjaga kenyamanan pengunjung, juga untuk tetap menjaga kualitas biji kopinya. Mungkin ini juga alasan yang membuat banyak orang yang menyukai beragam kopi di sini.

Bukan, sepenuhnya saya menghabiskan waktu sendiri di sini, kok. Bersama teman-teman juga ga kalah seru. Bahkan, sebagian juga setuju kalau tempat ini bikin malas gerak. Embuerrrann, deh. Hehe. Kita bisa baca novel, wifi an, bikin #naskah atau nge gossip bareng-bareng ditempat ini.

Jadi, selamat menikmati, yaa. Menikmati tulisan ini. Menikmati waktu. Ayoo, kita lebih produktif, anak pintar😀

 

3 thoughts on “Waktu dan Kopi

  1. Setuju sm kamuu. Karena saya juga penikmat kopi dan hobi menghabiskan waktu diwarung kopi. berdua,beramai-ramai,atau bahkan hanya sendiri sembari menelaah novel yg tak kunjung habis dibaca. be thankful you still have a lot of time..how lucky you are dear😉

  2. Warung kopi itu punya banyak cerita. Kalau aja dia bisa ngomong, nggak cukup waktu sehari untuk dia cerita apa aja yang dia dengar dan lihat dari pengujung-pengunjungnya. Akupun dulu senang menghabiskan waktu di warung kopi, bukan buat gaya-gayan, tapi ada disana rasanya tuh nikmat banget. sayangnya sekarang harus membatasi diri untuk singgah disana, karena harus berbagi waktu dengan urusan rumah. Tapi ditengah keterbatasan waktu, sementara hati lagi pengen banget duduk di warung kopi, paling aku mampir, beli tapi take away. Seenggaknya kerinduan untuk ada disitu terbayar walau sedikit… ^_^ So enjoy your time in there

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s