Luka. Serius.

Oke.

Ini sekilas tentang luka. Berhubung setelah sekian lama saya tidak terluka, akhirnya saya luka juga hari ini.

Luka? Pasti perih rasanya. Alhamdulillah, saya termasuk orang yang tidak sering luka. Luka dalam arti sebenarnya ya. Hehe.

Terakhir luka paling perih dan parah yang saya rasakan adalah ketika saya jatuh dari sepeda kelas 4 SD. Aih, perihnya masih kebayang sampai sekarang.

Seperti kebanyakan posisi luka, yaa, saya juga dapat luka paling parah di lutut. Menyusul kemudian luka di siku. Dan yang tak kalah perih adalah di hidung.

Kebayangkah saya jatuh dalam posisi apa? Yang pasti dalam posisi tak mengenakkan. Padahal kala itu, untuk pertama kalinya saya naik sepeda ke sekolah. Lagi semangat-semangatnya. Bermodal sepeda ukuran besar milik orang tua.

Untuk luka di lutut, saya menganggapnya sebagai luka anak pintar. Anak pintar tidak menangis saat terluka. Dan saya, anak pintar itu. Hehe. Saat terjatuh, dan harus menahan perih, saya tidak menangis. Yaa, karena saat itu, memang perihnya belum kerasa. Panik memberi sampul dari rasa perih itu. Saya panik, takut dimarahin mama. 😉

Bagaimana dengan luka di hidung? Ini membuat saya ngilu. Bisa kebayang, saya menjadi ledekan teman-teman di sekitar saya. Mereka punya pantun-pantun konyol, yang hanya bisa saya balas dengan tawa mendetir. Luka itu, bulat sebesar bakso di hidung saya. Awalnya gores berdarah. Lama-lama menghitam. Dan sembuhnya cukup lama. Ah, kemudian saya jadi membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana nanti kalau sudah sembuh? Apa masih bisa normal seperti sebelumnya. Hari demi hari saya tunggu. Dengan kekhawatiran hebat. Dan pasrah.

Alhamdulillah, luka itu pulih. Sepulih-pulihnya. Saya punya hidung yang normal sekarang mengikuti bentuk hidung yang dimiliki orang tua saya. Tentu saja tidak berubah jadi lebih mancung, dong. Hehe.

Termasuk beruntung, kalau semua luka-luka itu tak perlu dijahit. Kata dokter, lukanya akan sembuh dengan sendirinya. Di lutut dan siku adalah luka paling menyiksa, kata dokter sembuhnya lebih lama, karena posisi itu adalah bagian yang selalu bergerak, seberapa hebat pun kita menjaganya agar tak banyak bergerak.

Ya, terluka dan menyembuhkannya memang tak mudah untuk kita kendalikan. Siapa yang ingin terluka? Ga ada kan? Itu semua diluar dari kuasa kita. Terluka datang dari ketidaksengajaan. Anggaplah itu sebuah kecelakaan. Entah lukanya besar atau kecil, itu tetap kecelakaan.

Selalu ada proses untuk menyembuhkannya. Masing-masing kita punya kebutuhan waktu yang berbeda.

Seperti luka yang saya miliki sekarang. Tak perih awalnya. Tapi cukup menganggu ketika akan tidur dan mandi. Perihnya terasa makin hebat. Saya nyaris menitikkan air mata setiap merasakannya. Apa itu artinya saya sudah berubah jadi gadis yang tak pintar lagi? Oke, saya harus tahan air mata untuk luka ini.

Ternyata, lukanya cukup dalam sampai lapisan kulit ke tujuh. Hehe. Bentuknya jauh dari bagus. Hah. Sedih. Ini perih. Dan layaknya menyesal, terjadi belakangan. Kenapa harus seceroboh ini. Bagaimana bisa saya membiarkan bara panas itu dengan santainya menyentuh kulit saya.

Saya menyebutnya ini luka bakar. Yang lebih perih dari luka hati.

Saya tak memberi obat apa-apa. Karena saya tak tau obatnya. Dan tak mau tau. Biarlah waktu yang menyembuhkannya. Katanya, kalau makan yang bergizi bisa cepet sembuhnya. Ya, kita liat saja, walau sejujurnya saya lebih suka makanan enak daripada makanan yang bergizi. Hehe.

Dan apakah postingan ini kian penting? Ya, ini sekilas tentang luka. Yang tak pernah sengaja terjadi. Bahwa, ketika saya tak sanggup lagi menahan perihnya kemudian saya menitikkan air mata. Mengapa, dulu saya bisa begitu jagoannya untuk tak menangis? Apa kini, saya tak lagi pintar? Mungkin saya menjadi lelah untuk belajar. Cukup usia menjadi jagoan.

Saya hanya menunggu waktu, agar lukanya cepat sembuh. Tertutup rapat, tidak menyisakan bekasnya. Posisinya, lagi, seperti waktu itu, di lutut. Setiap saat bergerak. Dan ketika saya berusaha menahan gerakannya, yaa, selalu ada masa-masa yang tak dapat saya kendalikan.

Dan postingan untuk sebuah air mata ternyata tak melulu soal cinta bukan? Ini soal luka.

Saya tau, luka itu akan sembuh. Secepatnya. Mudah-mudahan tak ada lagi jenis luka bakar di tempat yang serupa. Perih yang tak tertahankan ini sudah cukup menjadi hadiah menyakitkan di awal tahun 2012.

Tak peduli apa-apa lagi. Saya mendadak benci yang namanya bakar-bakaran. Bahkan Ebi Bakar Mayones bakar yang maknyus itu, sekalipun.

Benci. Maksimal.

Dan saya berlindung. Audzubillah.

Advertisements

Kesan Bergalau dari Mba Ovie

Ini bukan perkenalan pertama saya dengan perempuan cantik itu. Tapi, pertemuan kita selalu memberi kesan.

Jika bertemu dengan sosoknya, siapa yang percaya dia sudah berusia 40 tahun. Ah, penampilannya jauh dari itu. Kami seperti teman saja, padahal kita terpaut lebih dari 15 tahun. Hangat dan ramah. Gaya bicaranya pun santai, seperti yaa, seperti antara saya dan teman-teman sebaya.

Baiklah, saya perkenalkan dulu, siapa dia. Kita akrab menyapanya dengan Mba Ovie. Salah satu pemilik kios jilbab di Pusat Grosir terbesar di Jakarta. Dan jilbab-jilbab itu ia bikin sendiri. Di rumahnya. Ya, bersama sekitar 20 pegawainya.

Mba Ovie, senang sekali berbagi cerita. Pengalaman hidupnya. Itu kenapa banyak hal-hal berkesan yang saya dapat dalam bincang-bincang sore kita tadi. Dari mulai bagaimana dia merintis usahanya hingga cerita-cerita ‘penting’ soal wanita.

Tak mau membahas soal yang berbau ‘ibadah’ sebenarnya di sini. Tapi, saya salut karena dia punya cara sendiri dalam mengelola usahanya ini. Usahanya, membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dan tak sembarang itu, ia selalu menanamkan nilai moral pada pegawainya. Setiap kamis malam, mereka rutin mengadakan sholat berjamaah dan pengajian. Ya, karena dia tak ingin pegawai-pegawainya itu semata bekerja. Tapi juga beribadah. Bertambah ilmu untuk mencapai ridho illahi.

Tak pernah ia tidur, saat mereka lembur bekerja. Bukan karena tak percaya. Tapi, ada rasa tak tega, ketika ia terpaksa meminta pegawai-pegawainya untuk bekerja. Karena mereka bekerja untuk dia. Begitu katanya.

Well, pembicaraan kita tentu tak sampai di situ saja. Bagaimana perjuangan dia merintis usahanya. Benar-benar dari nol. Bayangkan, dulu ia menggotong sendiri kain yang ia jual ke pasar. Kini, ia sudah punya toko dan pabrik sendiri dengan pelanggan dari seluruh Indonesia.

Subhanallah.

Sebagai perempuan berdarah Padang, saya salut dengan kegigihannya. Menghadapi kehidupan. Ia termasuk wanita beruntung, punya suami setia yang menyayanginya hingga di usia pernikahannya yang ke ___ (saya gak tau berapa). Ah, Mba Ovie dan suaminya masih hangat meski sudah punya 3 anak. Hal yang mulai jarang saya temukan di kota-kota besar jaman sekarang.

Mungkin, saya harus melembutkan sedikit hati. Kepada saya perempuan single, Mba Ovie kasih advice soal kehidupan pernikahan. Kekawatiran, pasti ada. Tapi bukan sesuatu yang lalu membuat kita patah arang. Ya, karena bagi Mba Ovie menikah adalah perintah Allah yang harus disegerakan. Bagaimana dengan saya? Sampai saat ini saya masih dilanda ketakutan-ketakutan.

Bahwa sebenarnya wanita itu tak punya banyak pilihan. Karena kita punya batasan-batasan. Jangan sampai menyesal. Jika sudah ada, mengapa menunda? Pertanyaan retoris itu diberikan untuk saya.

Tapi, saya tampak masih keras hati. Karena jodoh tak bisa dipaksakan. Sama sekali tak bisa.

Mba Ovie, tetap tegas pada prinsipnya.

Mengapa begitu kawatir dengan pernikahan? Rezeki pernikahan itu udah punya paketnya sendiri.

Harus mencari yang seperti apa? Begitu lagi pertanyaannya. Saya terdiam. Mmhh, berpikir. Saya tak mencari yang seperti apa. Ah, pertanyaan seperti itu tentu tidak begitu menyenangkan bagi wanita seusia saya.

Saya kembali tak mampu melunakkan hati. Ini kegalauan akut, kalau kita pengen ikut bahasa Twitter. Saya tetap takut. Dan keras hati, apa harus?

Bertemu dengan banyak cerita pahit soal rumah tangga, membuat saya ketakutan setengah mati. Dan andai saja saya tak perlu menjadi dewasa. Ketakutan saya teramat.

Namun, saya gak mau. Karena katanya, ketakutan itu hanya untuk orang-orang yang tak punya keyakinan. Atau, sebut saja, tak beriman. Naudzubillah. Saya tak mau jadi orang-orang yang tergolong seperti itu.

Selayaknya malam-malam sebelumnya. Saya tak mampu memejamkan mata malam ini. Teramat tidak. Saya tidak tau harus kawatir tentang apa. Saya tak mengerti harus takut bagaimana. Saya hanya tak sanggup untuk memejamkan mata.

Bagaimana bisa? Hanya satu pertanyaan saya malam ini.

Baiklah, entah untuk apa saja. Saya bersyukur, Kamis telah berlalu. Saya sungguh tak menantikan Jumat ini, atau hari-hari apa saja. Apa yang saya tunggu? Impian? Harapan? Tak satu pun yang bisa kasih tau saya.

Malam ini tetap dingin dan sepi. Semua sudah tertidur. Dengan segala bahagia dan masalah mereka malam ini.

Untuk berita duka hari ini, #iPray

Untuk tidur nyenyak malam ini, #iCry

Untuk senyum hangat itu, #iWish

Another Bismillah. Nice to share with you, Dear Mba Ovie! :* Also thanks for that Sambal Sacuang with Pete nya. Awesome!

Today #iPray

Ada senyum, tawa, dan, air mata.

Itulah hari saya hari ini. Bahwa bahagia itu memang idealnya tak mungkin selalu. Ketika bangun di pagi hari, kita bisa tersenyum bahagia mendapat telpon dari orang tersayang dan bersyukur masih bisa menikmati lezatnya nasi uduk hangat dengan taburan bawang gorengnya. Apalagi yang mampu saya katakan?

Bahwa kebahagian itu tak kekal. Jika kita masih bisa menikmati sejuknya udara pagi hari, bergumul dengan selimut tebal dan malas-malasan untuk bergeser dari tempat tidur. Itu juga satu hal yang patut disyukuri.

Dan bahagia itu memang tak selalu. Bagaimana menikmati emosi yang naik turun hari ini?

Satu BBM saya dapat pagi ini. Ini penting. Soal hidup. Ingatkah, ketika bahagianya melihat rona dan semu pada wajah pengantin? Dan pagi ini, berita itu membuat saya ingin pingsan saja. Sebegitukah hidup?

Sejujurnya, saya bukan tak pernah mengalami fluktuasi semacam ini. Cobaan dan rezeki pasti ada saja. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar saya.  Saya ingat, hampir setiap detilnya. Tapi, yaa, hanya untuk yang berkesan (tentu saja) yang saya ingat.

Oke, bbm itu masih membuat saya syok. Berat. Perceraian lagi. Setelah sederet perceraian yang sering kita dengar dari berita di TV. Dan lagi, saya mendengarnya dari orang dekat saya. Begitu kalimat sederhananya. Pasangan itu, memutuskan ber’pisah’ pagi ini.

Ya, jika perceraian sedang menjadi trend, oke, ada baiknya jika kita bukan tergolong orang-orang yang mengikutinya. Toh, trend tak selalu baik untuk diikuti. Ya, saya memang bukan orang yang pernah mengalami rumitnya rumah tangga. Jadi, berteori apa pun, saya tidak pernah tau, karena saya tidak pernah mengalaminya.

Hanya, berita tak menyenangkan dari BBM teman saya itu, menyambut kesedihan saya hari ini. Pasang lampu kedap kedip ke kiri, dan saya menepi. Membaca sekali lagi, kalau-kalau saya salah baca. Sesederhana itu kah sebuah perceraian? Saya tak mampu berkata apa-apa. Segala nasehat pasti sudah didapat dari mereka yang lebih berpengalaman. Lalu saya harus bilang apa?

Semudah itu pula saya semakin parno dengan pernikahan. Semuanya menjadi naik turun. Ketika begitu banyak cerita yang saya dapat, semuanya hanya membuat isi pikiran saya, naik turun. Sederhana, kita semua pernah menjadi anak, bukan? Perceraian adalah mimpi buruk bagi setiap pasangan, dan mimpi paling buruk bagi setiap anak. Saya menjadi picik sedikit, mengapa menikah jika harus bercerai? Ya, hidup sekejam itu. Kita tak pernah tahu masa depan.

Saya, harus balas apa itu BBM pagi hari? Saya sendiri pun masih tak kuasa menahan gemuruhnya. Dengan penuh cinta, untuk usia beranjak dewasa, saya hanya berharap mereka bisa berpikir. Dua kali. Atau sampai delapan puluh kali. Really, dua hari berpikir soal perceraian, saya rasa itu jauh dari cukup. Ntah apa masalahnya. Andai saya, bisa peluk mereka berdua. Dengan bayinya yang lucu itu. Yang tak salah apa-apa.

Harus apa? Oh Plis. #iPray today.

Saya melanjutkan perjalanan saya hari ini. Toh, saya tetap harus melaju ke kantor. Meski, hati gak karuan begini. Empat meter lagi, saya sampai kantor. Saya bertemu dengan tim saya.

“Jenguk Ibu Kang Rusdi, sedang kritis”

Saya putar balik, ikut mereka. Sepanjang jalan saya berpikir. Belum usai gemuruh yang satu. Berita apa lagi ini? Kang Rusdi, putera tunggal sang Ibunda. Sudah ditinggal ayahnya. Tak sampai dua bulan, ia akan menikah. Masa yang dinantikannya, apalagi ibunya.

Ya, usia sudah menjadi takdir yang ditentukan Tuhan, bukan. Tak ada yang tahu, sampai kapan. Toh, tanpa sakit pun nyawa bisa hilang seketika jika Yang Kuasa berkehendak. Merinding saya, menceritakannya. Saya bisa merasakan masa-masa sulit untuk mengikhlaskan.

Kami sampai di Rumah Sakit. Tentu saja, tak bisa bertemu ibu Kang Rusdi. Beliau sedang dirawat di ICU. Hanya dukungan, semangat, dan doa yang mampu kami sampaikan. Tuhan pasti selalu punya cerita baik. Oh, saya buruk berkata-kata. Mudah-mudahan Kang Rusdi tetap tabah dan tegar.

Kita berkumpul di lobby Rumah Sakit. Sedikit canda, agar berkurang sedikit gurat sedih di hati Kang Rusdi. Well, #iPray for every better thing.

Dan kalimat kecewa dari seorang sahabat dalam perjalanan pulang. Bagaimana ia menghadapi percintaan menyakitkan. Sudah saya katakan, bahwa laki-laki emang kaum paling br*ngs*k. Hehe.

Dan masa-masa sakit hati soal percintaan terlalu melelahkan untuk saya bagi di sini. Yaa, yang ga worth untuk dipertahankan dibuang saja. Setuju? Kalau saya ingin memaki, saya bisa hujat sejuta makian. Ya, tapi begitu saja hidup. Sesederhana sebuah tawa dan air mata. Bagaimana setiap cerita bisa sesuai dengan impian kita. Bahkan, mimpi indah yang menjadi nyata pun, hanya terjadi sekedar kejap mata. Kemudian hilang.

Dan gemuruh, semakin jadi saja. Saya tarik nafas. Sekali. Dua kali. Saya matikan segala sambungan telpon. Tak mau lagi rasanya saya menerima segala berita.

Apa itu sampah-sampah bermoral. Saya tak mau jadi manusia yang tak berhati. Dan saya mencoba tarik nafas lagi.  Entah demi apa pun, saya tak kuat menahan gemuruh hari ini.

Jadilah saya di sini sekarang. Berhadapan dengan layar 13 inc ini. Toh kita adalah kaum yang berpikir. Punya hati sedikit atau banyak. Saya lah yang tak punya kuasa apa-apa.

Kamu, impian ku. Kita bikin cerita indah itu. Jika tak mungkin persis sama, kita rangkai pelangi yang serupa. #iPray for one sincere. About us.

Bismillah.

Anjing, ya, Anjing.

Saya sempat heboh sendiri dengan twit saya tentang anjing. Ya, seorang teman malah berpikir bahwa saya menganalogikannya dengan manusia. Oh. Itu kejam sekali. Sangat kejam. Bagi saya, seburuk apa pun, marilah kita berpikir agak naif dan positif. Manusia tetaplah manusia. Tak layak dikatakan anjing.

Anjing bisa menjadi makna yang berseberangan. Jauh. Tergantung apa yang sedang ada dalam pikiran kita. Jika mau benar, yaa, anjing adalah sosok hewan peliharaan yang lucu, sahabat manusia. Pasti banyak di antara kita yang menjadi sahabat anjing bukan? Atau ingin punya peliharaan anjing? Walau pun sayang, dalam agama (islam) anjing haram untuk dimakan. Padahal katanya, daging anjing bakar dengan bumbu blackpepper atau BBQ itu enakk banget lohh. Mmmhh, saya jadi enggan untuk membayangkannya. Yang menikmati, yaa, selamat menikmati. Hehe.

Saya, tetap pada kesimpulan yang sama. Bahwa saya, tak bisa bersahabat dengan anjing. Atau ‘anjing’? Ouch!

Yaa, kadang kita terlalu kejam. Mungkin, sudah tidak asing di telinga kita, bahwa kata ‘anjing’ kerap dijadikan makian. Dan itu bisa kita dengar dari siapa saja. Dari kalangan mana saja. Di pasar, di angkutan umum, atau bahkan di gedung-gedung mewah di ibu kota. Di mana saja. Dan bagi saya, itu terlalu kasar untuk di dengar di kuping. Jika itu sempat dari mulut saya, oh Maafkan.

Mudah-mudahan saya, dan kita semua termasuk orang-orang yang mampu menahan diri yaa.

Saya trauma dengan anjing. Mungkin, itu salah satu alasan saya tetap setia dengan Simba (kucing peliharaan saya). Waktu kecil saya, pernah merasa habis dikejar anjing. Kejadian itu, bukan sekali. Tiga kali. Asli, ga bisa lupa. Waktu pulang sekolah, saya panik setengah mati dikejar anjing. Rasanya saat itu, saya pengen pasrah saja. Merelakan diri. Saya kehabisan akal untuk menyelamatkan diri. Apakah kemudian saya harus berakhir di rumah sakit karena digigit anjing? Atau mati terkoyak! Bayangan saya sejauh itu. Asli parno berat. Dan kemudian saya lupa, bagaimana saya bisa selamat sampai di rumah. Peluk mama, dengan nafas terengah setengah menangis. Bersyukur, saya masih selamat sampai sekarang.

Well, anjing ya anjing. Intinya akan tetap sama. Saya harus merelakan diri saya, bahwa saya tidak bisa bersahabat dengan anjing. Dan tidak pernah bisa, menjadi tidak apa-apa bagi saya. Gapapa yaa?

Anyway, untuk sebuah makian. Mari kita ber ke peri ke manusia an sedikit. Bahwa tak ada wajar nya sedikit pun. Untuk menyamakan manusia dengan anjing. Untuk semua benci, dendam, kecewa dan sakit hati. Kita saling memaafkan. Susah? Pasti.

Ga ada salahnya dicoba kan? Jika sinis? Ah rasanya, apa pantas. Sombong? Haduhh, mending ga usah. Tarik nafas panjang.

Damai. Penuh sayang.

Sinergi Sebuah Perbedaan

Yaa, untuk hari ini rasa-rasanya saya semakin tak sabar untuk cerita. Mumpung sambungan internet lagi lancar, mumpung temen galau depan saya lagi gak bawel. Dan mumpung batere laptop masih 39 persen. Meski sebenarnya, masih ada prioritas lain yang harus saya kerjakan semacam naskah atau thesis. Tapi, tenang. Kita refresh isi kepala sejenak untuk mampir ke sini.

Well, ini bukan pertemuan saya yang pertama sebenarnya. Dengan Pak Suparman. Tapi, narasumber liputan kali ini benar benar berkesan bagi saya. Yaa, siapa sangka, Pak Parman, adalah seorang guru seni dan budaya beragama muslim di sekolah keristen. Ia bertubuh pendek. Dann, mungkin ini kejutan bagi saya. Bahwa ia tinggal di asrama biarawati. Yaa, ngerti kan maksud saya dengan biarawati. Bukan seperti kita, mungkin yang memang tinggal dalam keberagaman. Biarawati itu ekstrem, dalam agamanya. Yaa, seperti ustad saja. Mungkin sii, anyway saya ga begitu paham sebenarnya. Hanya saja, sempat ngobrol tadi dengan salah satu biarawati di sana bahwa dalam katolik itu ada dua pilihan, mengabdikan diri ke laki laki (suami) atau ke Tuhan. Dan biarawati adalah mereka yang mengabdikan dirinya ke Tuhan. Dan mereka memutuskan untuk tidak menikah.

Oke, Pak Parman. Bertemu pertama kali dengannya, satu kesimpulan awal adalah ia sosok yang sangat bersemangat. Entah, karena bertubuh kecil sehingga dia menjadi mampu bergerak ke sana ke mari, begitu aktif. Ya, dia begitu penuh semangat menjalani setiap aktifitasnya.

Lalu, apa yang diajarkan Pak Parman di sekolahnya? Ia mengajarkan segala yang berbau seni. Terutama menari dan drama teater. Bisa dibayangkan bagaimana Pak Parman mengajar tari? Bukan hanya melatih dan memberi komando. Tapi, bayangkan. Bahwa Pak Parman juga mempraktekkan nya. Ia memberi contoh bagaimana gerakan tarinya dan bagaimana menghayati ekspresi dalam drama. Mengikuti kegiatannya seharian, banyak kesimpulan lain yang di dapat. Bahwa ia sosok guru yang tegas dan berbakat. Ya, dibalik kekurangannya darah seni mengalir hebat dalam dirinya. Semua anak didiknya sayang padanya. Begitu juga di daerah tempat tinggalnya, yang tak jauh dari tempat dia mengajar. Ia menjadi sahabat, bagi semua.

Menurut pandangan saya, tak sedikit pun ia menjadikan kekurangannya sebagai halangannya. Dan, semata, ia ingin bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi alasan, mengapa ia memilih untuk menjadi guru. Ia seorang pahlawan, tanpa tanda jasa.

Kemudian, saya berkaca pada diri saya sendiri. Seringkali kita mengeluhkan banyak hal dalam hidup. Padahal kita dilahirkan ‘normal’ bukan? Pak Parman tak sedikitpun mengeluhkan takdir yang Tuhan berikan untuknya? Bagaimana dengan saya. Kalau mau dibandingkan, oh, rasanya saya ga mau ngaca. Malu.

Hidup ditengah tengah lingkungan yang berbeda agama, pun tak terasa perbedaannya. Saya menangkap satu kesan. Ketika saya datang ke asrama itu, tak terasa ada batas. Biarawati atau sering disebut suster, begitu hangat menyambut saya. Padahal, jelas, bahwa saya berbeda dengan mereka. Saya datang dengan pakaian muslim, menutup aurat. Seperti pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Dan sambutan itu gambaran awal, bahwa perbedaan lah yang menyatukan kita. Perbedaan lantas tak membuat kita harus pecah. Setuju?

Mereka mampu hidup rukun, dengan sesamanya. Atau dengan tidak sesamanya. Bisa dinilai dalam konteks apa pun.

Ini seharusnya mengetuk hati dan isi pikiran kita. Inilah sinergi atas sebuah perbedaan. Perbedaan agama atau bentuk fisik.

Bagaimana pun kita menyamakan, tak ada manusia yang benar benar serupa. Sekalipun kembar. Yaa, seperti saya dan Imim saja. Meski terlahir kembar, banyak perbedaan saya dan Imim. Banyak sekali. Nanti dibahas di postingan lain yaa. Hehe.

Satu hal, bahwa perbedaan bisa menjadi pelajaran agar kita lebih legowo. Menerima setiap perbedaan itu.

Jadi, mengapa kita begitu takut akan perbedaan? Meski susah, ikhlas lah yang harus kita usahakan. Ini pesan moral yang bisa berlaku general yaa. Untuk sahabat saya yang ada dihadapan saya saat ini salah satunya. Yang sedang galau akan perbedaan. Mungkin itu bisa menyatukan? Ya, apa pun itu, bagaimana pun, toh di mana-mana kita akan menemukan perbedaan, kan? Mudah-mudahan yang terbaik yaa.

Mmhh, bagaimana dengan saya. Atau kamu? karena hidup ini penuh dengan pilihan, ayoo, kita sama-sama ikhlas. Perbedaan itu bisa menjadi sinergi sempurna. Yang indah. Bismillah ya, Sayang.

Ku. Lit.

Salahkah jika saya menjadi penggemar kulit?

Belakangan, saya sedang menikmati menjadi penggemar kulit. Lah, istilahnya agak susah ditebak ke mana arahnya ga si? Tapi, sejujurnya ini bisa menjadi apa saja. Kulit apa saja.

Niat nge post tentang ini, berawal karena saya mendadak jadi penggemar berbagai aksesoris fashion kulit, ber tag ‘genuine leather’. Jika kemudian kulit kulit ini melebar kemana-mana jadi kulit lainnya, yaa, boleh lahh. Saya juga penggemar kulit lainnya.

Sebenarnya, ada perang perasaan juga, ketika menyukai fashion serba kulit ini. Rasanya ga tega, jika hewan-hewan itu dikuliti. Tapi berusaha berpikir positif bahwa sebagian memang hewan yang diternakkan. Semacam pembelaan diri yaa. Kemudian, semakin lama, sebagai wanita normal, saya menjadi tergila-gila dengan produk kulit. Asli. bukan yang imitasi tentu saja.

Ya, meski berbandrol harga yang cukup tinggi, saya dengan pikiran pendek, rela merogoh kocek lebih dalam. Oh, tidak. Plisss, maafkan yaa. Tapi, produk produk ini begitu menggoda saya. Ini, bagian dari kesenangan dunia, menurut saya. Mudah-mudahan saja, saya ga sampai harus ber status ‘kalap’ yaa.

Dan, bagaimana dengan pembahasan kulit lainnya? Ini perkara kulit ayam crispy, yang tidak sehat itu. Saya suka. Sekian. hehe. ketika makan, ayam goreng crispy ini, saya mendadak menjadikannya GONG ketika makan. Kulitnya disisakan untuk kenikmatan terakhir saat makan. Mmhhh, rasanya sedihh banget saat kunyahan terakhir tiba. Mau nambah lagi, ya, saya harus ingat berat badan. Dan kesehatan tentu saja. Semua udah tau pastinya, bahwa kulit ayam itu jauh dari gizi dan makanan sehat.

Dan saya jadi menyimpulkan, bahwa memang yang enak, tak selamanya baik. Hehe. Okee, batere nya kian menipis. Ini dipublish dulu, ya.

Your color, You are coloring my day. Thanks, dear!

 

Kopi Segelas di Sabang Enam Belas

Jenis kehilangan apa lagi yang harus saya hadapi di awal tahun 2012 ini. Setelah masalah demi masalah datangnya berbarengan. Setelah saya harus galau tingkat dewa, merasa tidak ada lagi teman yang sanggup menjadi teman saya bercerita saya (kecuali blog ini), saya harus kehilangan a place for escape, sebuah warung kopi, yang menjadi tempat mampir saya, kapan saja saya mau.

Dan kegalauan pun dimulai. Saat warung kopi andalan saya itu, mengalami error terhadap koneksi internetnya. Saya seperti kehilangan, tempat mampir. Jadi bingung mau ke mana, saat saya butuh cetak cetik laptop untuk menumpah ruahkan segala onderdil isi kepala, air di pelupuk mata, dan sampah-sampah dalam hati.

Positifnya, saya jadi lebih cepat pulang ke rumah, sabar menghadapi jalanan yang masih tersendat, dan fokus bersujud.

Dan sampailah saya sore ini, di sini. Lokasi nya juga tak jauh-jauh, dari kantor.

Sabang 16.

Image

Untuk ukuran warung kopi, tempatnya tidak terlalu mewah dan ukurannya tidak luas. Tapi nyaman. Rasanya pas lah untuk menyebutnya sebagai tempat ngopi. Kalau cuma untuk mampir dan ngopi bareng teman-teman, yaa, tempat ini bisa jadi pilihan. Untuk penggemar kopi serius, bisa menikmati aneka kopi spesial khas Indonesia, seperti Aceh Gayo, Sumatera Lintang, Sidikalang, Bali Kintamani, Toraja Kalosi, dan Papua Nabire.

Sayangnya, sebagian penikmat kopi, biasanya memasangkan kopi dengan rokok. Dan tempat ini, tidak menyediakan tempat yang nyaman untuk merokok. Smoking Area, tersedia, cuma sedikit. Sekitar 3 bangku di luar. Berjejer rapi di pinggir trotoar. Dan, yaa, warung kopi ini, pas bagi penikmat kopi saja, tanpa rokok. Hehe.

Jika kelaparan, bukan di sini tempatnya. Karena di warung kopi ini, tidak disediakan menu-menu yang ngenyangin. Hanya tersedia camilan-camilan ringan, well, rekomendasi di sini adalah roti bakar srikayanya.

Saya pesan satu kalau begitu. Yoi. Gigitan pertamanyaaa, mmmhh, okeeeyy. Gurih. Dan manis. Boleh laahh dicoba.

Variasi menu es krimnya juga lumayan. Tapi saya tidak pesan. Berhubung lagi diet dan sudah kenyang. Menu-menu disediakan dengan sederhana, dan agak mahal untuk ukuran yang sederhana. Tapi, toh pengunjung membayar kenyamanannya. Segelas kopi pasang harga IDR 16000. Mahal ga si?

Saya. Sambil ngopi.

Yaa, setidaknya saya jadi punya pilihan kedua setelah warung kopi kesayangan saya itu. Lumayan. Saya berhasil menghabiskan separuh hari saya di sini. Berarti? Saya betah. Tempat ini mampu menjadi tempat kabur sejenak, dari betapa memuakkannya lika liku hubungan sesama manusia. Saya berada di tempat yang tepat. Memilih bertahan dengan benda-benda ini, tanpa harus merasa dimusuhi, membebani diri segala prasangka tak punya hati, dan menikmati menjadi sendiri. Di sini.

Enjoy the coffee, guys!

Ah!

Harus kah kemudian saya marah?

Saya gerah.

Adakah ternyata selama ini saya salah. 

Jiwa ruang sombong, biasa menjadi jadi, namun, Kini saya menyerah.

Pasrah. 

Saya bukan lagi sapi perah. Atau keledai dengan air mata berdarah.

Anda mau apa, terserah!

Bermain-bermain, bersenang-senang lah dengan segala asumsi, Oh itu parah. 

Sayang, saya lelah.

Jika Anda lihat muka ini merah. Bukan karena terbakar marah segala arah. 

Tapi mencoba segala telaah. Agar tak perlu pikiran ini lemah.

Apakah! Terserah lah. Bah!