Sinergi Sebuah Perbedaan

Yaa, untuk hari ini rasa-rasanya saya semakin tak sabar untuk cerita. Mumpung sambungan internet lagi lancar, mumpung temen galau depan saya lagi gak bawel. Dan mumpung batere laptop masih 39 persen. Meski sebenarnya, masih ada prioritas lain yang harus saya kerjakan semacam naskah atau thesis. Tapi, tenang. Kita refresh isi kepala sejenak untuk mampir ke sini.

Well, ini bukan pertemuan saya yang pertama sebenarnya. Dengan Pak Suparman. Tapi, narasumber liputan kali ini benar benar berkesan bagi saya. Yaa, siapa sangka, Pak Parman, adalah seorang guru seni dan budaya beragama muslim di sekolah keristen. Ia bertubuh pendek. Dann, mungkin ini kejutan bagi saya. Bahwa ia tinggal di asrama biarawati. Yaa, ngerti kan maksud saya dengan biarawati. Bukan seperti kita, mungkin yang memang tinggal dalam keberagaman. Biarawati itu ekstrem, dalam agamanya. Yaa, seperti ustad saja. Mungkin sii, anyway saya ga begitu paham sebenarnya. Hanya saja, sempat ngobrol tadi dengan salah satu biarawati di sana bahwa dalam katolik itu ada dua pilihan, mengabdikan diri ke laki laki (suami) atau ke Tuhan. Dan biarawati adalah mereka yang mengabdikan dirinya ke Tuhan. Dan mereka memutuskan untuk tidak menikah.

Oke, Pak Parman. Bertemu pertama kali dengannya, satu kesimpulan awal adalah ia sosok yang sangat bersemangat. Entah, karena bertubuh kecil sehingga dia menjadi mampu bergerak ke sana ke mari, begitu aktif. Ya, dia begitu penuh semangat menjalani setiap aktifitasnya.

Lalu, apa yang diajarkan Pak Parman di sekolahnya? Ia mengajarkan segala yang berbau seni. Terutama menari dan drama teater. Bisa dibayangkan bagaimana Pak Parman mengajar tari? Bukan hanya melatih dan memberi komando. Tapi, bayangkan. Bahwa Pak Parman juga mempraktekkan nya. Ia memberi contoh bagaimana gerakan tarinya dan bagaimana menghayati ekspresi dalam drama. Mengikuti kegiatannya seharian, banyak kesimpulan lain yang di dapat. Bahwa ia sosok guru yang tegas dan berbakat. Ya, dibalik kekurangannya darah seni mengalir hebat dalam dirinya. Semua anak didiknya sayang padanya. Begitu juga di daerah tempat tinggalnya, yang tak jauh dari tempat dia mengajar. Ia menjadi sahabat, bagi semua.

Menurut pandangan saya, tak sedikit pun ia menjadikan kekurangannya sebagai halangannya. Dan, semata, ia ingin bermanfaat bagi orang lain. Itulah yang menjadi alasan, mengapa ia memilih untuk menjadi guru. Ia seorang pahlawan, tanpa tanda jasa.

Kemudian, saya berkaca pada diri saya sendiri. Seringkali kita mengeluhkan banyak hal dalam hidup. Padahal kita dilahirkan ‘normal’ bukan? Pak Parman tak sedikitpun mengeluhkan takdir yang Tuhan berikan untuknya? Bagaimana dengan saya. Kalau mau dibandingkan, oh, rasanya saya ga mau ngaca. Malu.

Hidup ditengah tengah lingkungan yang berbeda agama, pun tak terasa perbedaannya. Saya menangkap satu kesan. Ketika saya datang ke asrama itu, tak terasa ada batas. Biarawati atau sering disebut suster, begitu hangat menyambut saya. Padahal, jelas, bahwa saya berbeda dengan mereka. Saya datang dengan pakaian muslim, menutup aurat. Seperti pakaian yang biasa saya kenakan sehari-hari. Dan sambutan itu gambaran awal, bahwa perbedaan lah yang menyatukan kita. Perbedaan lantas tak membuat kita harus pecah. Setuju?

Mereka mampu hidup rukun, dengan sesamanya. Atau dengan tidak sesamanya. Bisa dinilai dalam konteks apa pun.

Ini seharusnya mengetuk hati dan isi pikiran kita. Inilah sinergi atas sebuah perbedaan. Perbedaan agama atau bentuk fisik.

Bagaimana pun kita menyamakan, tak ada manusia yang benar benar serupa. Sekalipun kembar. Yaa, seperti saya dan Imim saja. Meski terlahir kembar, banyak perbedaan saya dan Imim. Banyak sekali. Nanti dibahas di postingan lain yaa. Hehe.

Satu hal, bahwa perbedaan bisa menjadi pelajaran agar kita lebih legowo. Menerima setiap perbedaan itu.

Jadi, mengapa kita begitu takut akan perbedaan? Meski susah, ikhlas lah yang harus kita usahakan. Ini pesan moral yang bisa berlaku general yaa. Untuk sahabat saya yang ada dihadapan saya saat ini salah satunya. Yang sedang galau akan perbedaan. Mungkin itu bisa menyatukan? Ya, apa pun itu, bagaimana pun, toh di mana-mana kita akan menemukan perbedaan, kan? Mudah-mudahan yang terbaik yaa.

Mmhh, bagaimana dengan saya. Atau kamu? karena hidup ini penuh dengan pilihan, ayoo, kita sama-sama ikhlas. Perbedaan itu bisa menjadi sinergi sempurna. Yang indah. Bismillah ya, Sayang.

One thought on “Sinergi Sebuah Perbedaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s