Anjing, ya, Anjing.

Saya sempat heboh sendiri dengan twit saya tentang anjing. Ya, seorang teman malah berpikir bahwa saya menganalogikannya dengan manusia. Oh. Itu kejam sekali. Sangat kejam. Bagi saya, seburuk apa pun, marilah kita berpikir agak naif dan positif. Manusia tetaplah manusia. Tak layak dikatakan anjing.

Anjing bisa menjadi makna yang berseberangan. Jauh. Tergantung apa yang sedang ada dalam pikiran kita. Jika mau benar, yaa, anjing adalah sosok hewan peliharaan yang lucu, sahabat manusia. Pasti banyak di antara kita yang menjadi sahabat anjing bukan? Atau ingin punya peliharaan anjing? Walau pun sayang, dalam agama (islam) anjing haram untuk dimakan. Padahal katanya, daging anjing bakar dengan bumbu blackpepper atau BBQ itu enakk banget lohh. Mmmhh, saya jadi enggan untuk membayangkannya. Yang menikmati, yaa, selamat menikmati. Hehe.

Saya, tetap pada kesimpulan yang sama. Bahwa saya, tak bisa bersahabat dengan anjing. Atau ‘anjing’? Ouch!

Yaa, kadang kita terlalu kejam. Mungkin, sudah tidak asing di telinga kita, bahwa kata ‘anjing’ kerap dijadikan makian. Dan itu bisa kita dengar dari siapa saja. Dari kalangan mana saja. Di pasar, di angkutan umum, atau bahkan di gedung-gedung mewah di ibu kota. Di mana saja. Dan bagi saya, itu terlalu kasar untuk di dengar di kuping. Jika itu sempat dari mulut saya, oh Maafkan.

Mudah-mudahan saya, dan kita semua termasuk orang-orang yang mampu menahan diri yaa.

Saya trauma dengan anjing. Mungkin, itu salah satu alasan saya tetap setia dengan Simba (kucing peliharaan saya). Waktu kecil saya, pernah merasa habis dikejar anjing. Kejadian itu, bukan sekali. Tiga kali. Asli, ga bisa lupa. Waktu pulang sekolah, saya panik setengah mati dikejar anjing. Rasanya saat itu, saya pengen pasrah saja. Merelakan diri. Saya kehabisan akal untuk menyelamatkan diri. Apakah kemudian saya harus berakhir di rumah sakit karena digigit anjing? Atau mati terkoyak! Bayangan saya sejauh itu. Asli parno berat. Dan kemudian saya lupa, bagaimana saya bisa selamat sampai di rumah. Peluk mama, dengan nafas terengah setengah menangis. Bersyukur, saya masih selamat sampai sekarang.

Well, anjing ya anjing. Intinya akan tetap sama. Saya harus merelakan diri saya, bahwa saya tidak bisa bersahabat dengan anjing. Dan tidak pernah bisa, menjadi tidak apa-apa bagi saya. Gapapa yaa?

Anyway, untuk sebuah makian. Mari kita ber ke peri ke manusia an sedikit. Bahwa tak ada wajar nya sedikit pun. Untuk menyamakan manusia dengan anjing. Untuk semua benci, dendam, kecewa dan sakit hati. Kita saling memaafkan. Susah? Pasti.

Ga ada salahnya dicoba kan? Jika sinis? Ah rasanya, apa pantas. Sombong? Haduhh, mending ga usah. Tarik nafas panjang.

Damai. Penuh sayang.

One thought on “Anjing, ya, Anjing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s