Today #iPray

Ada senyum, tawa, dan, air mata.

Itulah hari saya hari ini. Bahwa bahagia itu memang idealnya tak mungkin selalu. Ketika bangun di pagi hari, kita bisa tersenyum bahagia mendapat telpon dari orang tersayang dan bersyukur masih bisa menikmati lezatnya nasi uduk hangat dengan taburan bawang gorengnya. Apalagi yang mampu saya katakan?

Bahwa kebahagian itu tak kekal. Jika kita masih bisa menikmati sejuknya udara pagi hari, bergumul dengan selimut tebal dan malas-malasan untuk bergeser dari tempat tidur. Itu juga satu hal yang patut disyukuri.

Dan bahagia itu memang tak selalu. Bagaimana menikmati emosi yang naik turun hari ini?

Satu BBM saya dapat pagi ini. Ini penting. Soal hidup. Ingatkah, ketika bahagianya melihat rona dan semu pada wajah pengantin? Dan pagi ini, berita itu membuat saya ingin pingsan saja. Sebegitukah hidup?

Sejujurnya, saya bukan tak pernah mengalami fluktuasi semacam ini. Cobaan dan rezeki pasti ada saja. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar saya.  Saya ingat, hampir setiap detilnya. Tapi, yaa, hanya untuk yang berkesan (tentu saja) yang saya ingat.

Oke, bbm itu masih membuat saya syok. Berat. Perceraian lagi. Setelah sederet perceraian yang sering kita dengar dari berita di TV. Dan lagi, saya mendengarnya dari orang dekat saya. Begitu kalimat sederhananya. Pasangan itu, memutuskan ber’pisah’ pagi ini.

Ya, jika perceraian sedang menjadi trend, oke, ada baiknya jika kita bukan tergolong orang-orang yang mengikutinya. Toh, trend tak selalu baik untuk diikuti. Ya, saya memang bukan orang yang pernah mengalami rumitnya rumah tangga. Jadi, berteori apa pun, saya tidak pernah tau, karena saya tidak pernah mengalaminya.

Hanya, berita tak menyenangkan dari BBM teman saya itu, menyambut kesedihan saya hari ini. Pasang lampu kedap kedip ke kiri, dan saya menepi. Membaca sekali lagi, kalau-kalau saya salah baca. Sesederhana itu kah sebuah perceraian? Saya tak mampu berkata apa-apa. Segala nasehat pasti sudah didapat dari mereka yang lebih berpengalaman. Lalu saya harus bilang apa?

Semudah itu pula saya semakin parno dengan pernikahan. Semuanya menjadi naik turun. Ketika begitu banyak cerita yang saya dapat, semuanya hanya membuat isi pikiran saya, naik turun. Sederhana, kita semua pernah menjadi anak, bukan? Perceraian adalah mimpi buruk bagi setiap pasangan, dan mimpi paling buruk bagi setiap anak. Saya menjadi picik sedikit, mengapa menikah jika harus bercerai? Ya, hidup sekejam itu. Kita tak pernah tahu masa depan.

Saya, harus balas apa itu BBM pagi hari? Saya sendiri pun masih tak kuasa menahan gemuruhnya. Dengan penuh cinta, untuk usia beranjak dewasa, saya hanya berharap mereka bisa berpikir. Dua kali. Atau sampai delapan puluh kali. Really, dua hari berpikir soal perceraian, saya rasa itu jauh dari cukup. Ntah apa masalahnya. Andai saya, bisa peluk mereka berdua. Dengan bayinya yang lucu itu. Yang tak salah apa-apa.

Harus apa? Oh Plis. #iPray today.

Saya melanjutkan perjalanan saya hari ini. Toh, saya tetap harus melaju ke kantor. Meski, hati gak karuan begini. Empat meter lagi, saya sampai kantor. Saya bertemu dengan tim saya.

“Jenguk Ibu Kang Rusdi, sedang kritis”

Saya putar balik, ikut mereka. Sepanjang jalan saya berpikir. Belum usai gemuruh yang satu. Berita apa lagi ini? Kang Rusdi, putera tunggal sang Ibunda. Sudah ditinggal ayahnya. Tak sampai dua bulan, ia akan menikah. Masa yang dinantikannya, apalagi ibunya.

Ya, usia sudah menjadi takdir yang ditentukan Tuhan, bukan. Tak ada yang tahu, sampai kapan. Toh, tanpa sakit pun nyawa bisa hilang seketika jika Yang Kuasa berkehendak. Merinding saya, menceritakannya. Saya bisa merasakan masa-masa sulit untuk mengikhlaskan.

Kami sampai di Rumah Sakit. Tentu saja, tak bisa bertemu ibu Kang Rusdi. Beliau sedang dirawat di ICU. Hanya dukungan, semangat, dan doa yang mampu kami sampaikan. Tuhan pasti selalu punya cerita baik. Oh, saya buruk berkata-kata. Mudah-mudahan Kang Rusdi tetap tabah dan tegar.

Kita berkumpul di lobby Rumah Sakit. Sedikit canda, agar berkurang sedikit gurat sedih di hati Kang Rusdi. Well, #iPray for every better thing.

Dan kalimat kecewa dari seorang sahabat dalam perjalanan pulang. Bagaimana ia menghadapi percintaan menyakitkan. Sudah saya katakan, bahwa laki-laki emang kaum paling br*ngs*k. Hehe.

Dan masa-masa sakit hati soal percintaan terlalu melelahkan untuk saya bagi di sini. Yaa, yang ga worth untuk dipertahankan dibuang saja. Setuju? Kalau saya ingin memaki, saya bisa hujat sejuta makian. Ya, tapi begitu saja hidup. Sesederhana sebuah tawa dan air mata. Bagaimana setiap cerita bisa sesuai dengan impian kita. Bahkan, mimpi indah yang menjadi nyata pun, hanya terjadi sekedar kejap mata. Kemudian hilang.

Dan gemuruh, semakin jadi saja. Saya tarik nafas. Sekali. Dua kali. Saya matikan segala sambungan telpon. Tak mau lagi rasanya saya menerima segala berita.

Apa itu sampah-sampah bermoral. Saya tak mau jadi manusia yang tak berhati. Dan saya mencoba tarik nafas lagi.  Entah demi apa pun, saya tak kuat menahan gemuruh hari ini.

Jadilah saya di sini sekarang. Berhadapan dengan layar 13 inc ini. Toh kita adalah kaum yang berpikir. Punya hati sedikit atau banyak. Saya lah yang tak punya kuasa apa-apa.

Kamu, impian ku. Kita bikin cerita indah itu. Jika tak mungkin persis sama, kita rangkai pelangi yang serupa. #iPray for one sincere. About us.

Bismillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s