Kesan Bergalau dari Mba Ovie

Ini bukan perkenalan pertama saya dengan perempuan cantik itu. Tapi, pertemuan kita selalu memberi kesan.

Jika bertemu dengan sosoknya, siapa yang percaya dia sudah berusia 40 tahun. Ah, penampilannya jauh dari itu. Kami seperti teman saja, padahal kita terpaut lebih dari 15 tahun. Hangat dan ramah. Gaya bicaranya pun santai, seperti yaa, seperti antara saya dan teman-teman sebaya.

Baiklah, saya perkenalkan dulu, siapa dia. Kita akrab menyapanya dengan Mba Ovie. Salah satu pemilik kios jilbab di Pusat Grosir terbesar di Jakarta. Dan jilbab-jilbab itu ia bikin sendiri. Di rumahnya. Ya, bersama sekitar 20 pegawainya.

Mba Ovie, senang sekali berbagi cerita. Pengalaman hidupnya. Itu kenapa banyak hal-hal berkesan yang saya dapat dalam bincang-bincang sore kita tadi. Dari mulai bagaimana dia merintis usahanya hingga cerita-cerita ‘penting’ soal wanita.

Tak mau membahas soal yang berbau ‘ibadah’ sebenarnya di sini. Tapi, saya salut karena dia punya cara sendiri dalam mengelola usahanya ini. Usahanya, membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Dan tak sembarang itu, ia selalu menanamkan nilai moral pada pegawainya. Setiap kamis malam, mereka rutin mengadakan sholat berjamaah dan pengajian. Ya, karena dia tak ingin pegawai-pegawainya itu semata bekerja. Tapi juga beribadah. Bertambah ilmu untuk mencapai ridho illahi.

Tak pernah ia tidur, saat mereka lembur bekerja. Bukan karena tak percaya. Tapi, ada rasa tak tega, ketika ia terpaksa meminta pegawai-pegawainya untuk bekerja. Karena mereka bekerja untuk dia. Begitu katanya.

Well, pembicaraan kita tentu tak sampai di situ saja. Bagaimana perjuangan dia merintis usahanya. Benar-benar dari nol. Bayangkan, dulu ia menggotong sendiri kain yang ia jual ke pasar. Kini, ia sudah punya toko dan pabrik sendiri dengan pelanggan dari seluruh Indonesia.

Subhanallah.

Sebagai perempuan berdarah Padang, saya salut dengan kegigihannya. Menghadapi kehidupan. Ia termasuk wanita beruntung, punya suami setia yang menyayanginya hingga di usia pernikahannya yang ke ___ (saya gak tau berapa). Ah, Mba Ovie dan suaminya masih hangat meski sudah punya 3 anak. Hal yang mulai jarang saya temukan di kota-kota besar jaman sekarang.

Mungkin, saya harus melembutkan sedikit hati. Kepada saya perempuan single, Mba Ovie kasih advice soal kehidupan pernikahan. Kekawatiran, pasti ada. Tapi bukan sesuatu yang lalu membuat kita patah arang. Ya, karena bagi Mba Ovie menikah adalah perintah Allah yang harus disegerakan. Bagaimana dengan saya? Sampai saat ini saya masih dilanda ketakutan-ketakutan.

Bahwa sebenarnya wanita itu tak punya banyak pilihan. Karena kita punya batasan-batasan. Jangan sampai menyesal. Jika sudah ada, mengapa menunda? Pertanyaan retoris itu diberikan untuk saya.

Tapi, saya tampak masih keras hati. Karena jodoh tak bisa dipaksakan. Sama sekali tak bisa.

Mba Ovie, tetap tegas pada prinsipnya.

Mengapa begitu kawatir dengan pernikahan? Rezeki pernikahan itu udah punya paketnya sendiri.

Harus mencari yang seperti apa? Begitu lagi pertanyaannya. Saya terdiam. Mmhh, berpikir. Saya tak mencari yang seperti apa. Ah, pertanyaan seperti itu tentu tidak begitu menyenangkan bagi wanita seusia saya.

Saya kembali tak mampu melunakkan hati. Ini kegalauan akut, kalau kita pengen ikut bahasa Twitter. Saya tetap takut. Dan keras hati, apa harus?

Bertemu dengan banyak cerita pahit soal rumah tangga, membuat saya ketakutan setengah mati. Dan andai saja saya tak perlu menjadi dewasa. Ketakutan saya teramat.

Namun, saya gak mau. Karena katanya, ketakutan itu hanya untuk orang-orang yang tak punya keyakinan. Atau, sebut saja, tak beriman. Naudzubillah. Saya tak mau jadi orang-orang yang tergolong seperti itu.

Selayaknya malam-malam sebelumnya. Saya tak mampu memejamkan mata malam ini. Teramat tidak. Saya tidak tau harus kawatir tentang apa. Saya tak mengerti harus takut bagaimana. Saya hanya tak sanggup untuk memejamkan mata.

Bagaimana bisa? Hanya satu pertanyaan saya malam ini.

Baiklah, entah untuk apa saja. Saya bersyukur, Kamis telah berlalu. Saya sungguh tak menantikan Jumat ini, atau hari-hari apa saja. Apa yang saya tunggu? Impian? Harapan? Tak satu pun yang bisa kasih tau saya.

Malam ini tetap dingin dan sepi. Semua sudah tertidur. Dengan segala bahagia dan masalah mereka malam ini.

Untuk berita duka hari ini, #iPray

Untuk tidur nyenyak malam ini, #iCry

Untuk senyum hangat itu, #iWish

Another Bismillah. Nice to share with you, Dear Mba Ovie! :* Also thanks for that Sambal Sacuang with Pete nya. Awesome!

One thought on “Kesan Bergalau dari Mba Ovie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s