Luka. Serius.

Oke.

Ini sekilas tentang luka. Berhubung setelah sekian lama saya tidak terluka, akhirnya saya luka juga hari ini.

Luka? Pasti perih rasanya. Alhamdulillah, saya termasuk orang yang tidak sering luka. Luka dalam arti sebenarnya ya. Hehe.

Terakhir luka paling perih dan parah yang saya rasakan adalah ketika saya jatuh dari sepeda kelas 4 SD. Aih, perihnya masih kebayang sampai sekarang.

Seperti kebanyakan posisi luka, yaa, saya juga dapat luka paling parah di lutut. Menyusul kemudian luka di siku. Dan yang tak kalah perih adalah di hidung.

Kebayangkah saya jatuh dalam posisi apa? Yang pasti dalam posisi tak mengenakkan. Padahal kala itu, untuk pertama kalinya saya naik sepeda ke sekolah. Lagi semangat-semangatnya. Bermodal sepeda ukuran besar milik orang tua.

Untuk luka di lutut, saya menganggapnya sebagai luka anak pintar. Anak pintar tidak menangis saat terluka. Dan saya, anak pintar itu. Hehe. Saat terjatuh, dan harus menahan perih, saya tidak menangis. Yaa, karena saat itu, memang perihnya belum kerasa. Panik memberi sampul dari rasa perih itu. Saya panik, takut dimarahin mama.😉

Bagaimana dengan luka di hidung? Ini membuat saya ngilu. Bisa kebayang, saya menjadi ledekan teman-teman di sekitar saya. Mereka punya pantun-pantun konyol, yang hanya bisa saya balas dengan tawa mendetir. Luka itu, bulat sebesar bakso di hidung saya. Awalnya gores berdarah. Lama-lama menghitam. Dan sembuhnya cukup lama. Ah, kemudian saya jadi membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana nanti kalau sudah sembuh? Apa masih bisa normal seperti sebelumnya. Hari demi hari saya tunggu. Dengan kekhawatiran hebat. Dan pasrah.

Alhamdulillah, luka itu pulih. Sepulih-pulihnya. Saya punya hidung yang normal sekarang mengikuti bentuk hidung yang dimiliki orang tua saya. Tentu saja tidak berubah jadi lebih mancung, dong. Hehe.

Termasuk beruntung, kalau semua luka-luka itu tak perlu dijahit. Kata dokter, lukanya akan sembuh dengan sendirinya. Di lutut dan siku adalah luka paling menyiksa, kata dokter sembuhnya lebih lama, karena posisi itu adalah bagian yang selalu bergerak, seberapa hebat pun kita menjaganya agar tak banyak bergerak.

Ya, terluka dan menyembuhkannya memang tak mudah untuk kita kendalikan. Siapa yang ingin terluka? Ga ada kan? Itu semua diluar dari kuasa kita. Terluka datang dari ketidaksengajaan. Anggaplah itu sebuah kecelakaan. Entah lukanya besar atau kecil, itu tetap kecelakaan.

Selalu ada proses untuk menyembuhkannya. Masing-masing kita punya kebutuhan waktu yang berbeda.

Seperti luka yang saya miliki sekarang. Tak perih awalnya. Tapi cukup menganggu ketika akan tidur dan mandi. Perihnya terasa makin hebat. Saya nyaris menitikkan air mata setiap merasakannya. Apa itu artinya saya sudah berubah jadi gadis yang tak pintar lagi? Oke, saya harus tahan air mata untuk luka ini.

Ternyata, lukanya cukup dalam sampai lapisan kulit ke tujuh. Hehe. Bentuknya jauh dari bagus. Hah. Sedih. Ini perih. Dan layaknya menyesal, terjadi belakangan. Kenapa harus seceroboh ini. Bagaimana bisa saya membiarkan bara panas itu dengan santainya menyentuh kulit saya.

Saya menyebutnya ini luka bakar. Yang lebih perih dari luka hati.

Saya tak memberi obat apa-apa. Karena saya tak tau obatnya. Dan tak mau tau. Biarlah waktu yang menyembuhkannya. Katanya, kalau makan yang bergizi bisa cepet sembuhnya. Ya, kita liat saja, walau sejujurnya saya lebih suka makanan enak daripada makanan yang bergizi. Hehe.

Dan apakah postingan ini kian penting? Ya, ini sekilas tentang luka. Yang tak pernah sengaja terjadi. Bahwa, ketika saya tak sanggup lagi menahan perihnya kemudian saya menitikkan air mata. Mengapa, dulu saya bisa begitu jagoannya untuk tak menangis? Apa kini, saya tak lagi pintar? Mungkin saya menjadi lelah untuk belajar. Cukup usia menjadi jagoan.

Saya hanya menunggu waktu, agar lukanya cepat sembuh. Tertutup rapat, tidak menyisakan bekasnya. Posisinya, lagi, seperti waktu itu, di lutut. Setiap saat bergerak. Dan ketika saya berusaha menahan gerakannya, yaa, selalu ada masa-masa yang tak dapat saya kendalikan.

Dan postingan untuk sebuah air mata ternyata tak melulu soal cinta bukan? Ini soal luka.

Saya tau, luka itu akan sembuh. Secepatnya. Mudah-mudahan tak ada lagi jenis luka bakar di tempat yang serupa. Perih yang tak tertahankan ini sudah cukup menjadi hadiah menyakitkan di awal tahun 2012.

Tak peduli apa-apa lagi. Saya mendadak benci yang namanya bakar-bakaran. Bahkan Ebi Bakar Mayones bakar yang maknyus itu, sekalipun.

Benci. Maksimal.

Dan saya berlindung. Audzubillah.

3 thoughts on “Luka. Serius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s