Harus. Sepatu Roda.

Kisah ini berawal dari keinginan aneh saya yang lain. Setelah, macam-macam pengen beli ini itu, ini itu, akhirnya saya punya satu keinginan (lagi). Tiba-tiba saya pengen punya sepatu roda.

Ingat beberapa tahun lalu, saya masih SD kala itu. Ketika teman-teman saya udah punya sepatu roda, saya ngotot minta dibeliin sepatu roda juga sama orangtua. Awalnya, orangtua saya keberatan. Kemudian, itu mendadak bikin saya dan Imim, ngambek mendep di kamar. Tapi, kejutan, karena pada sore yang sama, orang tua saya datang bawa sepatu roda. Jadilah, saya kembali semangat, menghadapi sore hari di masa anak-anak saya itu. Saya tak lagi perlu merasa iri dengan teman-teman sebaya. Karena saya, juga sudah punya sepatu roda. Meski, tetap harus gantian sama Imim pakainya. Ya, nasib punya saudara kembar. Apa-apa harus sharing. Hehe 😀

Memang, masa anak-anak itu masa yang paling indah, yaa. Gak ada beban apa pun kayanya. Kebetulan, saya tidak tinggal di Ibukota yang semrawut seperti sekarang. Hampir setiap sore, dihabiskan untuk main sepatu roda keliling kompleks. Tak kenal waktu, bahkan. Janji, untuk tidak meninggalkan bikin PR atau belajar karna besok akan ujian pun pupus sudah. Bermain-main itu jauh lebih menyenangkan. Ah, seandainya menjadi anak-anak itu bisa selamanya, ya.

Rupa-rupanya, sepatu roda bukan lagi olahraga yang sedang tren di tahun 2012 ini. Ya, karena tak mudah mendapatkan sepatu roda baru. Belakangan, saya sempatkan untuk browsing-browsing soal sepatu roda. Tak banyak yang bisa saya temukan. Selain, saya memang tak begitu paham sepatu roda seperti apa yang bagus. Dulu, sepatu roda yang saya punya, bukan sepatu roda mahal tentu saja. Karena pakenya tak senyaman punya teman-teman saya. Tapi, gapapalah, yang penting punya.

Beberapa waktu lalu, saya coba titip teman, yang sedang Dinas Luar Negeri ke Dallas, USA. Karena saya ingat, sepatu roda punya teman saya, yang nyaman dan empuk itu, dia beli di Benua Amerika sana. Tapi, teman saya kontan protes dititipi barang begituan. Katanya berat bawanya. Dan, susah nyarinya. Mmhh, mungkin sepatu roda pun sudah tidak tren lagi di negara itu.

Saya kembali browsing. Niatan belanja di Ebay membuat saya lemas. Harganya bikin saya pengen pingsan. Dan belum lagi spesifikasinya yang gak pasti. Saya batal berburu di dunia maya itu. Keinginan untuk punya pun tak berkurang. Saya berniat untuk ngubek-ngubek pasar di seluruh pelosok Jakarta. Saya yakin, pasti ada.

Weekend lalu adalah waktu kabur saya. Kabur pada kepenatan hidup. Ya, saya selalu punya masa-masa itu. Masa-masa saya tak ingin terganggu. Mmh, mungkin kedengarannya aneh ya? Tapi, saya rasa, bukan cuma saya yang perlu masa-masa seperti ini. Namanya saja kabur. Temanya bisa apa saja. Kabur keluar dari Jakarta atau sekedar mendem di kamar, itu juga kabur kan? Yang penting kabur dengan segala urusan dunia.

Dan kabur saya kali ini, berbeda. Dalam misi, mengabulkan keinginan saya yang (ke)terlalu(an) itu. Weekend ini, saya harus punya sepatu roda baru. Kemana pun schedule yang sudah direncanakan, saya harus tetap sempat untuk mencari sepatu roda baru.

Dan itu tidak mudah. Saya nyaris putus asa dibuatnya. Bertandang ke sebuah toko olahraga yang ada di Mall besar, tak bisa mengakhiri pencarian saya begitu saja. Tak tertarik, dengan sepatu roda yang dipajang di sana. Harganya mahal, merknya tak terkenal. Tapi, saya tetap coba sepatu roda ituu. Ya, kalau-kalau pas dipakai tak seburuk penampilannya.

Ya, ternyata benar, memang tak separah itu. Sepatu roda yang dijual di situ boleh lahhh. Saya bandingkan dengan sepatu roda yang dulu saya punya, jauhh. Yang ini memang lebih nyaman. Tapi, bentuknya? Haduh, kurang keren gimana gitu. Hehe. Dari penjaga toko, dia menuliskan secarik kertas untuk saya. Alamat skateshop, jika ingin yang lebih lengkap. Oke, tanpa basa-basi, walaupun saya gak tau sama sekali itu di mana, saya, tetap meluncur ke sana. Tebak-tebak jalan tentu saja.

Ya, hampir putus asa. Alamat yang dituliskan seperti alamat sebuah perumahan. Saya hampir sangsi, apa ada skateshop di daerah seperti itu. Yuhuuuii, berbinar mata saya ketika melihat toko itu. Siapa sangka, ada toko begini di perumahan entah dimana ini.

Ketika masuk, mmhhh, saya mencium aroma rollerblade yang saya cari. Ah, semakin tak sabar, sebentar lagi saya punya sepatu roda baru. Dan, ternyata tidak. Ketika saya hampir membeli salah satu sepatu roda yang dipajang, penjaga tokonya bilang. Kalau mau pilihan yang lebih banyak, bisa mampir ke ___________ sambil menunjukkan alamat toko di sebuah mall besar lainnya. Saya tarik nafas sedikit. Jangan terburu-buru. Mungkin punya beberapa pilihan bisa jadi pertimbangan rollerblade mana yang lebih baik saya beli. Okelah, dengan lelah sedikit, saya tetap ke mall itu. Dan seperti saya duga. Tak ada pilihan. Kurang lebih saja.

Singkat cerita, dari penjaga toko olahraga di mall itu, saya dikasih tau untuk ke mall lainnya, ada dua toko di sana, yang juga menjual rollerblade. Dan tak jauh beda, sudah saya duga. Tak banyak pilihan. Mall-mall itu memang sedang tidak menjual banyak rupa rollerblade, dengan kualitas bagus. Kualitas yang saya inginkan. Lemas tentu saja. Ini hampir larut.

Bayangkan, ketika saya begitu ingin besok pagi bangun, main sepatu roda. Jam segitu, saya belum juga dapat sepatu rodanya. Oke, saya putuskan untuk putar kemudi kembali ke skateshop di perumahan itu. Saya berharap saya memang berjodoh dengan salah satu sepatu roda yang dijual di sana.

Dan! Dang! Ketika saya sudah begitu yakin untuk memilih satu, Si penjaga toko mulai aneh. Seolah gak mau barang yang dia jual, saya beli. Dia bilang, dia ga warranty, dan ga punya sparepart, dan seterusnya, seterusnya. Dan, membuat saya ragu. Lalu. Lalu. Lalu. Dia bilang, dia punya referensi satu toko lagi. Tapi jauh, letaknya saja gak di ibukota. Saya?? Harus berkomentar apa?? Dia gak tau betapa persoalan rollerblade ini adalah harus. Saya ngotot setengah mati. Dalam hati. Kenapa gak bilang dari tadi, si? Saya lirik jam tangan. Nyaris jam delapan malam waktu setempat. Perjalanan ke pinggiran ibukota itu butuh waktu, mmh, 45 menit, kalau ga nyasar, kalau ga macet.

Dan malam itu hening. Saya tak lagi semangat. Satu-satunya, saya ingin pulang. Melupakan perjuangan saya hari ini. Kekhilafan saya malam itu, tak lagi tertarik dengan yang mendinginkan hati saya. Bahkan sebotol minuman kaleng untuk melepas dahaga pun, tak ingin. Saya kesal. Tapi, ini berlebihan. Setelah saya pikir-pikir.

Hanya untuk sebuah rollerblade. Jujur saya haru. Karena kendaraan itu masih berusaha. Menerobos jalan bebas hambatan menuju pinggiran ibukota. Gemuruh, tak lagi yakin. Saya gak mungkin dapat sepatu rodanya malam ini. Tahukah, saya kesal. Kesal dengan entah apa. Sesuatu yang tak beralasan. Atau getaran iPhone yang bukan milik saya itu. Sejujurnya itu menambah deras air mata. Bahwa karena sebenarnya, kesalnya bukan semacam bocah 11 tahun yang ngambek di kamar karena ga dapet sepatu roda yang baru. Saya kesal, karena tidak boleh kesal. Pikiran pun isinya macam-macam. Hopeless, bukan karena sepatu roda.

Sepanjang perjalanan, ketika kesabaran dan amarah memenuhi kendaraan buatan lokal itu, saya hanya mampu memandang kosong jalanan yang saya gak tau itu di mana. Saya mau ke mana malam ini? Saya perlu satu rengkuh, yang meyakinkan. Tapi apa ada?

Dan malam itu, menjadi cerita. Satu lagi cerita. Tanpa kata-kata. Apa arti kata? Jika tidak akan menjadi nyata? Tanggal dua lima. Saya menutup malam, dengan perintah berharga. Menghargai. Katanya, saya punya teori sejuta. Dan sekedar sejuta teori itu, buat apa? Gak mau, katanya. Dan malam itu, meski belum punya rollerblade baru, saya menjadi wanita paling beruntung karena mampu tak peduli dengan yang tak visual. Andai, bahagia malam itu selamanya. Saya tidur dengan Bismillah.

Mudah-mudahan besok punya rollerblade baru. *tetep*

Hey, hey. Tanggal dua lima itu berlalu. Sudah tanggal dua enam. Dan ini Minggu pagi. Minggu pagi, yang seharusnya saya sudah meluncur bersama si sepatu roda. Saya bangun dengan semangat. Tak punya rencana apa-apa pagi ini. Hari ini. Ya, selain berbururollerblade.

Pagi itu, saya langsung menuju daerah pinggiran ibu kota. Dan jauh. Saya merasa perjalanan ini tak kan kunjung sampai. Serius, saya belum pernah ke sini. Sama sekali. Saya memasuki kota yang katanya pusat pemerintahan.Well,perjalanan ini begitu menyenangkan. Karena saya punya sejuta semangat untuk berbururollerblade.Sedikit malu, kalau ingat kejadian semalam. Oh, saya merasa seperti anak kecil. Tahukah, memasuki kota itu, jujur saya agak pesimis menemukan rollerblade itu. Bayangkan, kota itu minim pusat perbelanjaan. Hanya gedung-gedung pemerintah yang ada.

Menelusuri, saya sampai juga di tempat yang mereka sebut skatepark. Argh, ini bukan tempat jualannya. Tapi tempat muda muda ngumpul memamerkan kebolehannya. Dan Alhamdulillah, meski sempat pesimis, kemudian, kemudian, tempat ini, adalah saksi perjodohan saya dengan si rollerblade. Hehe, lebay yaa. Dan jodoh itu begitu dekat. Saya dapat rollerblade keren. Dengan harga yang, ya, sedikit tidak masuk akal. Hehe. Tapi gakpapa deh. Itung-itung ini buah perjuangan saya. Penuh cinta. Tak bisa menahan senyum. Saya resmi, punya rollerblade baru.

Tak sabar rasanya saya meninggalkan kota dengan struktur bangunan yang keren itu. Saya menunggu sore. Dengan sebuah pelukan. Meluncur mengelilingi taman. Penuh cinta. Sore itu, saya menjadi cewek paling keren menurut penilaian saya sendiri. Hehe. Saya merasa lengkap, penuh syukur. Saya punya rem hebat ketika jalur di taman itu meluncur, dan punya semangat mengagumkan ketika harus menanjak. Apalagi yang saya inginkan sore itu? Saya. Dan sepatu roda. Dan rem. Dan semangat. Dan cinta. Dan apalagi. Bukankah kita begitu serasi?

Dan hanya Bismillah. Yang sanggup saya katakan.

It’s you. The Incredible.

Kaya Cinta dengan Dongeng

Hari ini saya mendadak merasa kaya. Ya, tentu saja ini bukan perkara materi. Mengenal sesuatu yang baru memang hal yang menyenangkan untuk mengatasi kejenuhan.

Ya, begitulah sepanjang Selasa ini, saya mendadak merasa kaya. Untuk suatu pelajaran berharga.

Kami memanggilnya Kak Iman. Percayalah, dia sosok yang cukup langka kita temukan di jaman berteknologi canggih hari gini. Kita, punya banyak cara untuk bercerita, berbagi kisah, atau sebutlah itu curhat. Dan, sebagian di antara kita tentu lebih senang memilih untuk nongkrong di warung kopi bersama teman-teman atau yang paling hits saat ini, yaa, update status di Twitter. Ya, ada juga sii yang lebih parah, semacam update status BBM Contact.

Kak Iman, beda. Dia memilih untuk menjadi pendongeng. Mmmhh, ini langka menurut saya. Bahkan lebih langka dari menjadi dalang di sebuah pentas wayang. Kak Iman, punya boneka tangan yang dia mainkan sebagai aktornya. Dan cara itu lah yang ia pilih untuk berbagi cerita. Kepada anak-anak terutama.

Begitu welcome ia menyambut kedatangan kami. Dia punya banyak cerita dan pengalaman untuk dibagi. Saya hanya mampu menganggukkan kepala dalam setiap ceritanya. Oh, yang terlintas dalam pikiran saya bahwa ya, sosok orang begini benar-benar nyata.

Sepanjang liputan bersama Kak Iman, saya menjadi sangat dekat dengan dunia anak-anak. Memperhatikan kehidupan anak-anak. Ah, masa anak-anak adalah masa yang paling indah. Senang rasanya melihat mereka berlari ke sana ke mari tanpa beban.

Saya, memang orang yang tidak mudah akrab dengan anak-anak. Entah sejak kapan, salah didik atau salah gaul, saya menjadi orang yang kurang peka, dengan dunia anak-anak salah satunya. Berbeda dengan Kak Iman, hanya dengan sepatah dua patah kata, ia mampu menarik perhatian anak-anak, sekejap mata saja.

Hari Selasa itu, saya berkunjung ke Asrama Haji, hampir dua ribuan anak-anak sedang melaksanakan manasik haji di sana. Asli, ramai betul yaa. Dan pikiran saya pun balik ke beberapa tahun lalu. Mereka bermain tanpa beban. Apakah mereka pernah berpikir soal masa depan? Ya, mungkin sama seperti saya dulu, ya. Punya impian, dan semuanya indah. Tak ada satu beban. Kak Iman, membuka manasik itu dengan dongeng. Yaa, itu semata agar anak-anak tak sekedar bermanasik, tapi juga mengerti maknanya. Melalui dongeng, Kak Iman menyampaikan pesan sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Anak-anak hanyut dalam dongeng yang diceritakan Kak Iman. Mereka tertawa, diam dan histeris, serentak, seiring dengan alur dongeng Kak Iman.

Perjalanan kita berlanjut ke sebuah yayasan yang terletak di Cileungsi, Jawa Barat. Sejam perjalanan dari Asrama Haji Pondok Gede. Sampai di sana, saya kembali diam. Menung.

Yayasan itu tampak sangat terawat. Begitu pula anak-anak ‘special gift’ yang dirawat di sana. Kedatangan Kak Iman, begitu dinanti. Jelas, mereka terhibur dengan dongeng Kak Iman. Mereka tertawa dengan cara mereka sendiri.

Meski punya dunia sendiri, saya menyadari bahwa itulah yang mereka butuhkan. Rutinitas mereka sehari-hari yaa, layaknya kehidupan di panti atau yayasan pada umumnya. Jadwal makan dan main yang teratur, selain beberapa aktivitas pembinaan semacam terapi.

Orangtua mereka berharap, ada, satu titik kemajuan ketika mereka dirawat di sana. Kelak, harapan akan menjadi orang yang berguna, setidaknya bagi diri saya sendiri.

Ini pengamatan yang baru bagi saya, bahwa ternyata mereka tampak lebih muda dari usianya. Siapa sangka seorang perempuan bertubuh mungil yang berada di atas kursi roda itu, sudah berusia 16 tahun. Dulu, 16 tahun saya merasa udah jadi orang yang ‘sok’ dewasa banget, deh, seakan bisa mandiri, menghadapi setiap permasalahan sendiri.

Satu orang anak, dirawat 3 sampai 4 orang perawat loh. Saya, salut dengan pengabdian para pembina di sini. Meski, masih terhitung muda, mereka mau mengurus anak-anak yang membutuhkan perlakukan lebih disbanding anak-anak lain. Dan itu, semuanya. Mengurusi mereka. Dari mulai memberi mereka makan hingga membersihkan kotorannya. Saya? Saya mulai meragukan kemampuan diri saya. Malu muka sendiri, kalau ternyata saya belum melakukan apa-apa buat orang lain.

Saya, melanjutkan perjalanan ke Rumah Kak Iman, atau biasa disebut Pondok dongeng ceria. Rumah sederhana, yang terletak di Jati Asih bekasi itu tampak bersahaja. Percayakah? Kalau Kak Iman ternyata punya 13 anak! Kebayang, gimana ngurusnya yaa.

Memang tidak semuanya anak kandung. 10 di antaranya adalah anak asuh, yang diajak Kak Iman untuk tinggal di rumahnya ketika ia berkunjung ke daerah-daerah bencana. Oh, itu mulia menurut saya.

Kak Iman tidak pernah takut akan rezeki. Ini cukup menampar saya, dengan hedonism kehidupan saya sehari-hari. Saya malu kalau harus mengeluh.

Dan ini, kalimat yang paling saya ingat dari Kak Iman, bahwa berbisnis dengan Allah, adalah bisnis yang tidak pernah rugi.

Kak Iman dan istri, menyambut kami dengan hangat. Makanan yang disajikan ga pernah habis. Ya, ampun. Bermain di rumah Kak Iman pun membuat saya melupakan diet yang tak pernah berhasil ini.

Kesempatan berharga banget, bisa kenal Kak Iman, yaa. Banyak pelajaran yang bikin saya lebih peka dengan problema kehidupan. Apalagi kenal anak-anak Kak Iman, yang sebagian sepantaran dengan saya. Ups, Ya 14 tahun atau 16 tahun, masi sepantaran kann?

Kapan-kapan pengen deh, ke sana lagi. Mudah-mudahan silaturahmi ini bisa tetap terjaga.

Menunggu, dongeng kehidupan yang lain, Kak 😉

Menangguhkan Rahasia

Apalagi yang terjadi dalam hidup ini. Oke lah, saya menganggap saya adalah salah satu yang cukup ‘fair’ dalam menghadapi banyak cerita. Saya terima bahwa banyak orang-orang yang berusia lebih matang atau lebih mentah dari saya. Tapi, soal cerita, mungkin saya masih punya banyak stock, berhubung tiap malam saya adalah salah satu anggota geng insomnia. Artinya, saya punya banyak sekali elemen penting dalam kepala saya, yang membuat saya, mau tidak mau, suka tidak suka harus berpikir.

Hari itu, ya, sudah berbulan-bulan lamanya saya menyimpan cerita tentang dia. Seorang sahabat. Karena memang, ini sebuah janji bahwa saya harus menyimpan kisah ini rapat. Bayangkan, berbulan-bulan itu pula saya kebingungan harus berbagi dengan siapa. Cerita ini hebat. Sangat hebat. Menurut saya, tentu saja. Bagaimana saya harus menghadapi emosi dengan flutuasi yang naik turun. Sangat signifikan jika dituangkan dalam grafik.

Selama itu pula, bahkan blog yang luar biasa ini pun tak saya bagi ceritanya sedikit pun. Dan saya menyimpannya sendiri.

Inilah yang terjadi di kota-kota besar. Bahwa mungkin bukan hanya saya yang punya cerita seperti ini.

Ya, malam itu mendadak sahabat saya menitikkan air mata. Tenang. Dengan nafas tertahan. Saya tau dia menyimpan duka. Saya berusaha menebak-nebak. Namun sulit. Saya bukan ahli terawang, sayang. Dan saya hanya bisa terdiam menghadapi air mata itu. 90 menit. Dan saya hanya diam berhadap hadapan dengannya. Sesekali saya bertanya, ada apa, dia kembali tarik nafas dengan mata berkaca-kaca. Mengalihkan pandangan dengan gadget dihadapannya. Entah apa yang sedang diperhatikannya. Ia nampak tak berdaya. Saya tau itu. Meski berusaha, berkata saya kuat.

Oke, 90 puluh menit itu berlalu. Dua kata.

Gw hamil.

Mmhh, sejujurnya, saya rasa saya tak perlu kaget. Semua wanita yang hamil di luar nikah mengalaminya. Depresi luar biasa pasti. Ya, saya harus marah bagaimana, saya tau itu hanya akan menambah dukanya. Tapi begitulah, bebasnya hidup di kota besar. Dan saya tau, sahabat saya bukan satu-satunya. Terjebak? Dengan laki-laki yang dicintainya.

Apa kemudian saya harus memaki laki-laki brengsek itu. Okelah, dengan segala isi kepala yang bergemuruh, saya mulai dengan sebuah logika.

Menikah.

Dia terpaku marah menatap saya. Apakah saya salah bicara? Saya hanya berusaha membuatnya sederhana. Saya tau ini berat, tapi, ya, apalagi yang dapat dilakukan selain menikah. Menggugurkan kandungan, itu ide yang lebih gila. Toh, kejadian seperti ini bukan hanya dia yang mengalaminya. Banyak yang menyelesaikannya dengan, menikah.

Sahabat saya, lahir dari keluarga terpandang. Ya, mungkin itu yang membebani pikirannya. Dia pasti tak mampu membayangkan amarah yang akan menguasai orangtuanya. Bagaimana malu yang dibawanya. Rasa-rasanya, andai saya bisa membuat masalah yang ia alami menjadi ringan. Tapi, saya harus apa? Saya kawatir jika terlalu mencampuri.

Dengan bulat, dia mengatakan dia tak akan menikah dengan laki-laki yang menghamilinya.

Bukankah mereka saling cinta, saya berusaha untuk berpikir sederhana. Sangat sederhana. Segala prasangka muncul dalam pikiran saya. Apakah kemudian, kekasihnya tidak mau bertanggung jawab? Saya mulai marah. Oh dasar laki-laki brengsek.

Okelah, lalu mau apa? Saya menentang setengah mati jika ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Dia tak mengatakan apa-apa. Soal rencananya. Entah karena memang dia belum sanggup untuk berpikir.

Saya tau, sahabat saya, adalah wanita hebat, pintar dan tegar. Beratnya masalah yang dihadapi, akan selalu ada jalan keluar. Dia gak akan berbuat bodoh. Selain saya lah orang pertama yang akan menghalanginya.

Malam pengakuannya itu, membuat saya tak pernah tenang. Saya gak pernah tau harus apa. Saya menganggap semua orang tua, tak akan pernah benar-benar membenci anaknya. Seberapa besar pun aib yang dibawa anaknya ke dalam keluarga mereka. So, bicaralah. Apa pun, itu yang harus dilakukan.

Lalu titik terang apa lagi yang mampu saya pikirkan?

Singkat cerita, ia meminta saya untuk menyimpan rahasia ini. Kepada siapa pun. Oke. Sebagai sahabat, saya memang tak ingin menjatuhkannya. Tapi, apa kemudian saya sanggup menyimpan cerita ini sendiri? Tak kepada seorang pun.

Laki-laki itu, juga sahabat saya. Apa kemudian saya juga tidak punya hak untuk bicara?

Perempuan cantik yang sejak dua tahun lalu menjadi sahabat saya itu tak mengizinkan saya mengucap satu kata pun. Ini kah yang disebut sebuah rahasia? Oh, really, andai saya bisa berubah jadi seorang pahlawan kesiangan, ingin rasanya saya menyusun strategi dan merancang secercah jalan keluar untuknya.

Seminggu. Dia meminjam rupiah kepada saya. Tak banyak yang bisa saya beri. Karena memang yang ada tak seberapa. Saya tak ingin bertanya apa-apa. Dia nampak begitu siap. Dan saya begitu percaya dia tak akan melakukan hal bodoh.

Amplop coklat itu saya beri. Dia hanya bilang terima kasih.

Doain gw ya.

Dan apa lagi yang mampu saya lakukan buat sahabat saya. Selain rupiah yang tak seberapa itu. Dan doa. Ya, saya juga harus menyimpan rapat sebuah rahasia.

Din, jangan panik, yaa. Gw pasti ngabarin lo. Tapi no gw yang biasa, ga aktif lagi.

Saya hanya diam. Harus kah saya marah berapi-api? Penuh tanda tanya. Berkecamuk dalam kepala.

Kita berpisah hari itu. Dia naik taksi, dan saya sempatkan untuk mencatat no taksinya. Sekedar rasa penasaran saya, ingin tau dia ke mana. Sore itu. Tepat 17.05 di jam tangan saya.

Saya berusaha tak memikirkan sahabat saya itu. Yaa, bagaimana pun saya juga menghadapi banyak sekai persoalan yang harus menjadi urusan saya. Dan saya tau, pengakuan dari sahabat saya itu, bukan untuk membebani saya. Dia hanya tak punya tempat untuk menampung beban yang ditanggungnya.

Saya mengisi hari saya dengan macam kesibukan. Tapi sederet pertanyaan tetap ada di kepala saya.

Mengapa dia tak menikah saja?

Bukankah mereka saling cinta?

Dia ke mana?

Bagaimana dia menghadapi sembilan bulan ke depan?

Tanpa siapa pun?

Bagaimana dengan keluarganya?

Apakah kemudian sang anak akan lahir tanpa ayah?

Saya kemudian menangis. Sendiri. Saya tak pernah sekawatir ini. Kalimat demi kalimat saya ketik. Kemudian saya hapus lagi. Saya bingung harus merangkai kalimat macam apa?

Ini tidak mudah bagi saya. Apalagi baginya. Oh, cantik. Yang kuat, ya, pliss.

Sebulan. Saya belum mendapat kabar apa-apa. Bukannya saya gak kepikiran. Hari-hari pertama sejak dia pergi dengan taksi itu, adalah hari yang berat buat saya. Setengah mati, saya kepikiran.

Oke. Ini entah bulan keberapa, ya, mungkin satu setengah bulan. Setelah saya rasa saya mulai berhasil melupakan rahasia yang mati-matian saya simpan itu. Saya berusaha menganggap tak ada apa-apa. Tapi, lupa itu tak selamanya. Hari itu, kekasih hatinya menghubungi saya. Dan saya tahan nafas.

Tumben.

Dia basa basi, seperti gak ada apa-apa.

Diinnnn, apa kabar loo.

Lo tuh yang kemanaa. (Saya pura-pura tak tau apa-apa)

Eh, gimana-gimana.

Dia memberondongi saya pertanyaan. Tentang saya. Kehidupan saya. Ah, bukankah seharusnya saya yang bertanya tentang dia.

Bahkan mereka tidak mengumumkan apa-apa. Soal kelanjutan hubungan mereka. Padahal dulu, saya, adalah salah satu yang paling sering ikut mereka nge date. Kemana-mana. Bahkan saya yang ‘pura-pura’ jadi satpam mereka saat liburan ke Bali, supaya diizinin orang tua. Yaa, saya tau cinta mereka bukan lagi cinta monyet. Kita tak lagi remaja belasan tahun.

Mereka saling mencintai. Saya yakin. Sangat.

Yukk, kapan gw bisa ngintil lo pacaran lagi. Saya berusaha mengerucutkan percakapan ini.

Haha. Dia tertawa renyah.

Gw berantem sama temen lo tuhh. Udah lama juga kita ilang kontak.

Hah?? Maksudnya? Saya pura-pura kaget.

Gak, tau tuh, din. Ga jelas. Biarin aja. Kalo jodoh ga ke mana.

Udah berapa lama, cui? Sejujurnya saya lemas dengan tanggapannya seolah tak tau apa-apa. Atau emang ga tau apa-apa?

Trus, dia di mana sekarang? Ini pertanyaan serius dari saya. Karena saya memang tidak tau, dimana sahabat kesayangan saya itu. Saya kangen, lebih besar dari kekawatiran saya.

Yahh, din, kan gw udah bilang. Gw juga udah lama gak kabar-kabaran.

Emang lo ga pernah telpon dia? Saya mulai emosi. Bagaimana bisa. Mereka dulu saling mencintai. Dan tak sedikitpun kah, laki laki di seberang telpon ini berusaha menghubungi sahabat saya? Menghubungi perempuan yang kini tengah mengandung anaknya? Saya berkaca-kaca lagi. Ingat lagi sahabat saya itu.

Terserah lah mereka berakhir dengan berantem hebat. Tapi tak adakah silaturahmi yang bisa mereka pertahankan? Bahkan saya tidak peduli, jika kemudian tidak ada lagi cinta di hati lelaki yang ‘dulunya’ sahabat saya juga. Saya mendadak ilang feeling. Saya merasa sedang berbicara dengan orang lain, yang entah siapa.

Seketika saya ingin dia enyah. Ya, saya terhanyut emosi. Marah yang teramat. Jelas.

Empat bulan, di antara email notification yang saya terima, saya menerima email serius. Dari seseorang yang namanya tak akrab. Bahkan tak saya kenal.

Dia kirim foto!

Ini titik air mata entah yang keberapa untuk dia. Perutnya sudah tampak membesar. Dia pun keliatan sehat. Dan tetap cantik. Ibu hamil yang cantik sayang. Dari keberadaannya, saya tau dia tidak di tanah air. Ah, rupiah yang saya kasih, tentu tak cukup untuk hidupnya di negara entah dimana itu bukan?

Saya tidak tahu bagaimana dia bertahan hidup. Bukan uang, kalau sebaiknya kita tak memperkarakan materi. Tapi sendiri? Pertanyaan itu masih ada. Di kepala. Apa yang ia lakukan dalam kesehariannya? Sesuai permintaannya. Saya hanya bisa menyampaikan kegelisahan ini liwat doa.

Setelah foto pertama itu, dia mulai rutin meng update foto-fotoya. Semuanya sendiri. Email-email saya, hanya dijawab.

Diinn, gw kangen bangettt.

Dan sederet kalimat seperti itu. Saya pun, kian meyerah memberondongi dia pertanyaan. Dia menikmatinya. Saya anggap begitu.

Pagi itu. 7 bulan kehamilan sang sahabat. Bangun pagi, saya cek BBM BBM yang masuk. Ya, dari sekian Broadcast Message. Oke, saya pingsan dulu. Boleh?

Sebuah undangan pernikahan. Tak pernah saya sekacau ini. Segalau ini. Dari sekian undangan mantan pacar yang mendahului saya untuk menikah, saya tak pernah ingin sebegini menangisnya.

Saya baca sekali lagi, biar pasti. Barang kali saya salah baca. Dengan kondisi hati naik turun, tanpa pikir panjang, saya langsung menelpon lelaki itu. Mantan sahabat saya itu.

Gw kaget. Saya menahan segala jenis air mata yang mungkin tumpah.

Doain ya cui. Katanya singkat.

Gak ada angin, ga ada hujan kok ini. Kita emang udah lama ga kumpul bareng. Tapi banyak teknologi lain, BBM dan twitter. Gw selalu pantau timeline lo, kok. Gak ada soal cinta. Dan ini, gw kaget setengah mati. Gw ga tau harus ngomong apa. Ini undangan ga main-main kan? Dua minggu lagi? Gw ga ngerti, maksud lo apa, cui. Tapi gw cuma bisa bilang ‘apa-apaan si ini?’

Lo kenapa dinnn, kok malah ngomong ga ada titik nya begini si? Katanya datar sedikit kebingungan.

Gw kaget.

Dia kembali tak menjelaskan apa-apa. Rasa-rasanya saya semakin tak bisa menahan segala bentuk marah saya. Terhadap, kenyataan hidup. Hari saya, asli, dibikin mikir. Selalu. Dan sedih. Saya galau, lebih dari kegalauan saya soal basabasi patahati yang saya alami.

Dia akan menikah dengan mantan pacarnya. Saya menjadi semakin tak peduli, dengan segala teori pernikahan. Ini gak adil. Sangat tidak adil.

Saya tutup telpon. Berpikir sekali lagi. Saya sudah tak tahan. Harus mencurahkan isi kepala ini dengan siapa? Lalu haruskah saya menyesal dengan jenis persahabatan macam begini?

Saya berharap, tidak tau apa-apa, dan memilih sibuk dengan masalah saya sendiri.

Ini masalah mereka.

Oh cantik, saya tau kamu sedang berjuang. Menunggu kelahiran si buah hati. Bagaimana dengan ayah buah hati mu? Dia malah sibuk dengan gempa gempita pernikahan. Dan bukan dengan sahabat saya itu.

Bisakah dibayangkan, apa yang saya rasakan sekarang? Ini nyata? Apa sekedar mimpi. Bagaimana jika si calon istri tau? Akan kah ia tetap menikah? Saya, merasa perlu untuk menjadi pahlawan kesiangan. Sekarang. Tapi, saya siapa? Bukan kah ini aneh, jika tiba-tiba saya menghubungi si calon istri, yang notabene saya tidak kenal.

Saya yakin, si calon istri tau siapa saya. Sahabat calon suaminya. Dan, hei dia ayah dari anak sahabat saya.

Cerita apa yang sanggup saya katakan?

Ketikan huruf demi huruf di dalam kotak ini, semakin bersemangat. Saya tak sanggup, menahan segala rahasia ini sendirian.

Akhirnya, yang ditunggu lahir juga. Dia mengirimi saya banyak foto, dia dan si bayi. Senangnya bukan main. Tak ada raut wajah sedih sedikitpun. Lega penuh suka cita.

Di sisi yang lain, saya hanya bisa meratapi Display Picture di BBM contact sang ayah. Sedang berdua dengan istri, di depan Menara Eiffel.

Ini rahasia sembilan bulan yang paling mencengangkan dalam hidup saya. Siapa yang menyangka, ada yang sebegitu sanggupnya.

Sudah 3 bulan usia bayi cantik itu. Sahabat saya mengirimi saya email. Saya copy paste, dirubah sedikit yaa. Redaksionalnya harus tetap terjaga soalnya.

Dear Dinna,

How’s there, how’s life? Kangen banget gw. Pengen pulang ke Jakarta. Lo harus ketemu Oddisey. Hehe, sorry yaa, gw kasih nama Oddisey. Gw inget lo, din. Lo kan suka banget mobil itu. Abis, gw harus kasih nama siapa?

Bdw, thanks banget ya, Din. Alhamdulillah, akhirnya gw survive banget dengan kejadian itu. Si Bapak apa kabar ya din? Asli gw ga update sama sekali.

Tapi, gw kangen juga sama dia Din. Lepas dari dia Bapak anak gw atau enggak. Walaupun, sakit hatinya masih berasa sampai sekarang.

Akhirnya gw berani juga, nii, state kata-kata tentang dia. Abisan selama ini, gw benar-benar ga berani. Takut sedih, sakit hati, kenapa-napa sama anak gw.

Dia mirip banget sama Bapaknya, tauu. Ayo dong. Lo ke sini. Ga pengen ketemu apa, Din?

Kira-kira dia masih inget gw ga ya? Hehe. O iya, dia masih sama mantan pacar nya itu ga si? Terakhir gw berantem hebat sama dia, soal mantan pacarnya. Ya sutralahh, biarin aja. Mudah-mudahan mereka langgeng bisa sampe nikah. Hehe. Aminn.

Udah ya, din. Ntar sambung lagi. Oddisey nangis tuhh.

Miss you heaps!

Well, daripada cerita ini terlalu panjang, saya hanya ingin berbagi satu pengalaman saja. Bahwa, hi Guys! Please appreciate woman. They’re kindly very tough, right.

Saya hanya ga habis pikir, yaa, banyak orang yang mengagungkan logika. Bagaimana dengan hati? Kadang, terlalu logis pun, saya rasa tak selalu benar. Itulah kenapa kita diciptakan sebagai manusia. Lengkap dengan akal dan hati nya.

Saya, kawatir dengan masa depan. Ya, bagaimana dengan masa depan cerita ini? Apakah butuh satu ketangguhan lagi? Saya sebagai pendengarnya saja tak sanggup. Bagaimana dengan dia? Mereka. Ah, mari kita bismillah. Untuk saling menjaga hati. Berhenti menyakiti.

Happy Sunday, loves!