Kaya Cinta dengan Dongeng

Hari ini saya mendadak merasa kaya. Ya, tentu saja ini bukan perkara materi. Mengenal sesuatu yang baru memang hal yang menyenangkan untuk mengatasi kejenuhan.

Ya, begitulah sepanjang Selasa ini, saya mendadak merasa kaya. Untuk suatu pelajaran berharga.

Kami memanggilnya Kak Iman. Percayalah, dia sosok yang cukup langka kita temukan di jaman berteknologi canggih hari gini. Kita, punya banyak cara untuk bercerita, berbagi kisah, atau sebutlah itu curhat. Dan, sebagian di antara kita tentu lebih senang memilih untuk nongkrong di warung kopi bersama teman-teman atau yang paling hits saat ini, yaa, update status di Twitter. Ya, ada juga sii yang lebih parah, semacam update status BBM Contact.

Kak Iman, beda. Dia memilih untuk menjadi pendongeng. Mmmhh, ini langka menurut saya. Bahkan lebih langka dari menjadi dalang di sebuah pentas wayang. Kak Iman, punya boneka tangan yang dia mainkan sebagai aktornya. Dan cara itu lah yang ia pilih untuk berbagi cerita. Kepada anak-anak terutama.

Begitu welcome ia menyambut kedatangan kami. Dia punya banyak cerita dan pengalaman untuk dibagi. Saya hanya mampu menganggukkan kepala dalam setiap ceritanya. Oh, yang terlintas dalam pikiran saya bahwa ya, sosok orang begini benar-benar nyata.

Sepanjang liputan bersama Kak Iman, saya menjadi sangat dekat dengan dunia anak-anak. Memperhatikan kehidupan anak-anak. Ah, masa anak-anak adalah masa yang paling indah. Senang rasanya melihat mereka berlari ke sana ke mari tanpa beban.

Saya, memang orang yang tidak mudah akrab dengan anak-anak. Entah sejak kapan, salah didik atau salah gaul, saya menjadi orang yang kurang peka, dengan dunia anak-anak salah satunya. Berbeda dengan Kak Iman, hanya dengan sepatah dua patah kata, ia mampu menarik perhatian anak-anak, sekejap mata saja.

Hari Selasa itu, saya berkunjung ke Asrama Haji, hampir dua ribuan anak-anak sedang melaksanakan manasik haji di sana. Asli, ramai betul yaa. Dan pikiran saya pun balik ke beberapa tahun lalu. Mereka bermain tanpa beban. Apakah mereka pernah berpikir soal masa depan? Ya, mungkin sama seperti saya dulu, ya. Punya impian, dan semuanya indah. Tak ada satu beban. Kak Iman, membuka manasik itu dengan dongeng. Yaa, itu semata agar anak-anak tak sekedar bermanasik, tapi juga mengerti maknanya. Melalui dongeng, Kak Iman menyampaikan pesan sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Anak-anak hanyut dalam dongeng yang diceritakan Kak Iman. Mereka tertawa, diam dan histeris, serentak, seiring dengan alur dongeng Kak Iman.

Perjalanan kita berlanjut ke sebuah yayasan yang terletak di Cileungsi, Jawa Barat. Sejam perjalanan dari Asrama Haji Pondok Gede. Sampai di sana, saya kembali diam. Menung.

Yayasan itu tampak sangat terawat. Begitu pula anak-anak ‘special gift’ yang dirawat di sana. Kedatangan Kak Iman, begitu dinanti. Jelas, mereka terhibur dengan dongeng Kak Iman. Mereka tertawa dengan cara mereka sendiri.

Meski punya dunia sendiri, saya menyadari bahwa itulah yang mereka butuhkan. Rutinitas mereka sehari-hari yaa, layaknya kehidupan di panti atau yayasan pada umumnya. Jadwal makan dan main yang teratur, selain beberapa aktivitas pembinaan semacam terapi.

Orangtua mereka berharap, ada, satu titik kemajuan ketika mereka dirawat di sana. Kelak, harapan akan menjadi orang yang berguna, setidaknya bagi diri saya sendiri.

Ini pengamatan yang baru bagi saya, bahwa ternyata mereka tampak lebih muda dari usianya. Siapa sangka seorang perempuan bertubuh mungil yang berada di atas kursi roda itu, sudah berusia 16 tahun. Dulu, 16 tahun saya merasa udah jadi orang yang ‘sok’ dewasa banget, deh, seakan bisa mandiri, menghadapi setiap permasalahan sendiri.

Satu orang anak, dirawat 3 sampai 4 orang perawat loh. Saya, salut dengan pengabdian para pembina di sini. Meski, masih terhitung muda, mereka mau mengurus anak-anak yang membutuhkan perlakukan lebih disbanding anak-anak lain. Dan itu, semuanya. Mengurusi mereka. Dari mulai memberi mereka makan hingga membersihkan kotorannya. Saya? Saya mulai meragukan kemampuan diri saya. Malu muka sendiri, kalau ternyata saya belum melakukan apa-apa buat orang lain.

Saya, melanjutkan perjalanan ke Rumah Kak Iman, atau biasa disebut Pondok dongeng ceria. Rumah sederhana, yang terletak di Jati Asih bekasi itu tampak bersahaja. Percayakah? Kalau Kak Iman ternyata punya 13 anak! Kebayang, gimana ngurusnya yaa.

Memang tidak semuanya anak kandung. 10 di antaranya adalah anak asuh, yang diajak Kak Iman untuk tinggal di rumahnya ketika ia berkunjung ke daerah-daerah bencana. Oh, itu mulia menurut saya.

Kak Iman tidak pernah takut akan rezeki. Ini cukup menampar saya, dengan hedonism kehidupan saya sehari-hari. Saya malu kalau harus mengeluh.

Dan ini, kalimat yang paling saya ingat dari Kak Iman, bahwa berbisnis dengan Allah, adalah bisnis yang tidak pernah rugi.

Kak Iman dan istri, menyambut kami dengan hangat. Makanan yang disajikan ga pernah habis. Ya, ampun. Bermain di rumah Kak Iman pun membuat saya melupakan diet yang tak pernah berhasil ini.

Kesempatan berharga banget, bisa kenal Kak Iman, yaa. Banyak pelajaran yang bikin saya lebih peka dengan problema kehidupan. Apalagi kenal anak-anak Kak Iman, yang sebagian sepantaran dengan saya. Ups, Ya 14 tahun atau 16 tahun, masi sepantaran kann?

Kapan-kapan pengen deh, ke sana lagi. Mudah-mudahan silaturahmi ini bisa tetap terjaga.

Menunggu, dongeng kehidupan yang lain, Kak😉

4 thoughts on “Kaya Cinta dengan Dongeng

  1. orang-orang seperti Kak Iman itu sebagai penyeimbang kehidupan, mereka ada yang bisa dilihat, ada pula yang samar….kapan-kapan ganti mbak dinna yang mendongeng….hehehe

  2. asslamualaikum mba dina aku tertarik mau undang kak iman utk mengisi acara di ramadhan ini utk menghibur anak2 panti asuhan…bisa minta tlong contak personnya kak iman Ya…..trims,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s