Menangguhkan Rahasia

Apalagi yang terjadi dalam hidup ini. Oke lah, saya menganggap saya adalah salah satu yang cukup ‘fair’ dalam menghadapi banyak cerita. Saya terima bahwa banyak orang-orang yang berusia lebih matang atau lebih mentah dari saya. Tapi, soal cerita, mungkin saya masih punya banyak stock, berhubung tiap malam saya adalah salah satu anggota geng insomnia. Artinya, saya punya banyak sekali elemen penting dalam kepala saya, yang membuat saya, mau tidak mau, suka tidak suka harus berpikir.

Hari itu, ya, sudah berbulan-bulan lamanya saya menyimpan cerita tentang dia. Seorang sahabat. Karena memang, ini sebuah janji bahwa saya harus menyimpan kisah ini rapat. Bayangkan, berbulan-bulan itu pula saya kebingungan harus berbagi dengan siapa. Cerita ini hebat. Sangat hebat. Menurut saya, tentu saja. Bagaimana saya harus menghadapi emosi dengan flutuasi yang naik turun. Sangat signifikan jika dituangkan dalam grafik.

Selama itu pula, bahkan blog yang luar biasa ini pun tak saya bagi ceritanya sedikit pun. Dan saya menyimpannya sendiri.

Inilah yang terjadi di kota-kota besar. Bahwa mungkin bukan hanya saya yang punya cerita seperti ini.

Ya, malam itu mendadak sahabat saya menitikkan air mata. Tenang. Dengan nafas tertahan. Saya tau dia menyimpan duka. Saya berusaha menebak-nebak. Namun sulit. Saya bukan ahli terawang, sayang. Dan saya hanya bisa terdiam menghadapi air mata itu. 90 menit. Dan saya hanya diam berhadap hadapan dengannya. Sesekali saya bertanya, ada apa, dia kembali tarik nafas dengan mata berkaca-kaca. Mengalihkan pandangan dengan gadget dihadapannya. Entah apa yang sedang diperhatikannya. Ia nampak tak berdaya. Saya tau itu. Meski berusaha, berkata saya kuat.

Oke, 90 puluh menit itu berlalu. Dua kata.

Gw hamil.

Mmhh, sejujurnya, saya rasa saya tak perlu kaget. Semua wanita yang hamil di luar nikah mengalaminya. Depresi luar biasa pasti. Ya, saya harus marah bagaimana, saya tau itu hanya akan menambah dukanya. Tapi begitulah, bebasnya hidup di kota besar. Dan saya tau, sahabat saya bukan satu-satunya. Terjebak? Dengan laki-laki yang dicintainya.

Apa kemudian saya harus memaki laki-laki brengsek itu. Okelah, dengan segala isi kepala yang bergemuruh, saya mulai dengan sebuah logika.

Menikah.

Dia terpaku marah menatap saya. Apakah saya salah bicara? Saya hanya berusaha membuatnya sederhana. Saya tau ini berat, tapi, ya, apalagi yang dapat dilakukan selain menikah. Menggugurkan kandungan, itu ide yang lebih gila. Toh, kejadian seperti ini bukan hanya dia yang mengalaminya. Banyak yang menyelesaikannya dengan, menikah.

Sahabat saya, lahir dari keluarga terpandang. Ya, mungkin itu yang membebani pikirannya. Dia pasti tak mampu membayangkan amarah yang akan menguasai orangtuanya. Bagaimana malu yang dibawanya. Rasa-rasanya, andai saya bisa membuat masalah yang ia alami menjadi ringan. Tapi, saya harus apa? Saya kawatir jika terlalu mencampuri.

Dengan bulat, dia mengatakan dia tak akan menikah dengan laki-laki yang menghamilinya.

Bukankah mereka saling cinta, saya berusaha untuk berpikir sederhana. Sangat sederhana. Segala prasangka muncul dalam pikiran saya. Apakah kemudian, kekasihnya tidak mau bertanggung jawab? Saya mulai marah. Oh dasar laki-laki brengsek.

Okelah, lalu mau apa? Saya menentang setengah mati jika ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Dia tak mengatakan apa-apa. Soal rencananya. Entah karena memang dia belum sanggup untuk berpikir.

Saya tau, sahabat saya, adalah wanita hebat, pintar dan tegar. Beratnya masalah yang dihadapi, akan selalu ada jalan keluar. Dia gak akan berbuat bodoh. Selain saya lah orang pertama yang akan menghalanginya.

Malam pengakuannya itu, membuat saya tak pernah tenang. Saya gak pernah tau harus apa. Saya menganggap semua orang tua, tak akan pernah benar-benar membenci anaknya. Seberapa besar pun aib yang dibawa anaknya ke dalam keluarga mereka. So, bicaralah. Apa pun, itu yang harus dilakukan.

Lalu titik terang apa lagi yang mampu saya pikirkan?

Singkat cerita, ia meminta saya untuk menyimpan rahasia ini. Kepada siapa pun. Oke. Sebagai sahabat, saya memang tak ingin menjatuhkannya. Tapi, apa kemudian saya sanggup menyimpan cerita ini sendiri? Tak kepada seorang pun.

Laki-laki itu, juga sahabat saya. Apa kemudian saya juga tidak punya hak untuk bicara?

Perempuan cantik yang sejak dua tahun lalu menjadi sahabat saya itu tak mengizinkan saya mengucap satu kata pun. Ini kah yang disebut sebuah rahasia? Oh, really, andai saya bisa berubah jadi seorang pahlawan kesiangan, ingin rasanya saya menyusun strategi dan merancang secercah jalan keluar untuknya.

Seminggu. Dia meminjam rupiah kepada saya. Tak banyak yang bisa saya beri. Karena memang yang ada tak seberapa. Saya tak ingin bertanya apa-apa. Dia nampak begitu siap. Dan saya begitu percaya dia tak akan melakukan hal bodoh.

Amplop coklat itu saya beri. Dia hanya bilang terima kasih.

Doain gw ya.

Dan apa lagi yang mampu saya lakukan buat sahabat saya. Selain rupiah yang tak seberapa itu. Dan doa. Ya, saya juga harus menyimpan rapat sebuah rahasia.

Din, jangan panik, yaa. Gw pasti ngabarin lo. Tapi no gw yang biasa, ga aktif lagi.

Saya hanya diam. Harus kah saya marah berapi-api? Penuh tanda tanya. Berkecamuk dalam kepala.

Kita berpisah hari itu. Dia naik taksi, dan saya sempatkan untuk mencatat no taksinya. Sekedar rasa penasaran saya, ingin tau dia ke mana. Sore itu. Tepat 17.05 di jam tangan saya.

Saya berusaha tak memikirkan sahabat saya itu. Yaa, bagaimana pun saya juga menghadapi banyak sekai persoalan yang harus menjadi urusan saya. Dan saya tau, pengakuan dari sahabat saya itu, bukan untuk membebani saya. Dia hanya tak punya tempat untuk menampung beban yang ditanggungnya.

Saya mengisi hari saya dengan macam kesibukan. Tapi sederet pertanyaan tetap ada di kepala saya.

Mengapa dia tak menikah saja?

Bukankah mereka saling cinta?

Dia ke mana?

Bagaimana dia menghadapi sembilan bulan ke depan?

Tanpa siapa pun?

Bagaimana dengan keluarganya?

Apakah kemudian sang anak akan lahir tanpa ayah?

Saya kemudian menangis. Sendiri. Saya tak pernah sekawatir ini. Kalimat demi kalimat saya ketik. Kemudian saya hapus lagi. Saya bingung harus merangkai kalimat macam apa?

Ini tidak mudah bagi saya. Apalagi baginya. Oh, cantik. Yang kuat, ya, pliss.

Sebulan. Saya belum mendapat kabar apa-apa. Bukannya saya gak kepikiran. Hari-hari pertama sejak dia pergi dengan taksi itu, adalah hari yang berat buat saya. Setengah mati, saya kepikiran.

Oke. Ini entah bulan keberapa, ya, mungkin satu setengah bulan. Setelah saya rasa saya mulai berhasil melupakan rahasia yang mati-matian saya simpan itu. Saya berusaha menganggap tak ada apa-apa. Tapi, lupa itu tak selamanya. Hari itu, kekasih hatinya menghubungi saya. Dan saya tahan nafas.

Tumben.

Dia basa basi, seperti gak ada apa-apa.

Diinnnn, apa kabar loo.

Lo tuh yang kemanaa. (Saya pura-pura tak tau apa-apa)

Eh, gimana-gimana.

Dia memberondongi saya pertanyaan. Tentang saya. Kehidupan saya. Ah, bukankah seharusnya saya yang bertanya tentang dia.

Bahkan mereka tidak mengumumkan apa-apa. Soal kelanjutan hubungan mereka. Padahal dulu, saya, adalah salah satu yang paling sering ikut mereka nge date. Kemana-mana. Bahkan saya yang ‘pura-pura’ jadi satpam mereka saat liburan ke Bali, supaya diizinin orang tua. Yaa, saya tau cinta mereka bukan lagi cinta monyet. Kita tak lagi remaja belasan tahun.

Mereka saling mencintai. Saya yakin. Sangat.

Yukk, kapan gw bisa ngintil lo pacaran lagi. Saya berusaha mengerucutkan percakapan ini.

Haha. Dia tertawa renyah.

Gw berantem sama temen lo tuhh. Udah lama juga kita ilang kontak.

Hah?? Maksudnya? Saya pura-pura kaget.

Gak, tau tuh, din. Ga jelas. Biarin aja. Kalo jodoh ga ke mana.

Udah berapa lama, cui? Sejujurnya saya lemas dengan tanggapannya seolah tak tau apa-apa. Atau emang ga tau apa-apa?

Trus, dia di mana sekarang? Ini pertanyaan serius dari saya. Karena saya memang tidak tau, dimana sahabat kesayangan saya itu. Saya kangen, lebih besar dari kekawatiran saya.

Yahh, din, kan gw udah bilang. Gw juga udah lama gak kabar-kabaran.

Emang lo ga pernah telpon dia? Saya mulai emosi. Bagaimana bisa. Mereka dulu saling mencintai. Dan tak sedikitpun kah, laki laki di seberang telpon ini berusaha menghubungi sahabat saya? Menghubungi perempuan yang kini tengah mengandung anaknya? Saya berkaca-kaca lagi. Ingat lagi sahabat saya itu.

Terserah lah mereka berakhir dengan berantem hebat. Tapi tak adakah silaturahmi yang bisa mereka pertahankan? Bahkan saya tidak peduli, jika kemudian tidak ada lagi cinta di hati lelaki yang ‘dulunya’ sahabat saya juga. Saya mendadak ilang feeling. Saya merasa sedang berbicara dengan orang lain, yang entah siapa.

Seketika saya ingin dia enyah. Ya, saya terhanyut emosi. Marah yang teramat. Jelas.

Empat bulan, di antara email notification yang saya terima, saya menerima email serius. Dari seseorang yang namanya tak akrab. Bahkan tak saya kenal.

Dia kirim foto!

Ini titik air mata entah yang keberapa untuk dia. Perutnya sudah tampak membesar. Dia pun keliatan sehat. Dan tetap cantik. Ibu hamil yang cantik sayang. Dari keberadaannya, saya tau dia tidak di tanah air. Ah, rupiah yang saya kasih, tentu tak cukup untuk hidupnya di negara entah dimana itu bukan?

Saya tidak tahu bagaimana dia bertahan hidup. Bukan uang, kalau sebaiknya kita tak memperkarakan materi. Tapi sendiri? Pertanyaan itu masih ada. Di kepala. Apa yang ia lakukan dalam kesehariannya? Sesuai permintaannya. Saya hanya bisa menyampaikan kegelisahan ini liwat doa.

Setelah foto pertama itu, dia mulai rutin meng update foto-fotoya. Semuanya sendiri. Email-email saya, hanya dijawab.

Diinn, gw kangen bangettt.

Dan sederet kalimat seperti itu. Saya pun, kian meyerah memberondongi dia pertanyaan. Dia menikmatinya. Saya anggap begitu.

Pagi itu. 7 bulan kehamilan sang sahabat. Bangun pagi, saya cek BBM BBM yang masuk. Ya, dari sekian Broadcast Message. Oke, saya pingsan dulu. Boleh?

Sebuah undangan pernikahan. Tak pernah saya sekacau ini. Segalau ini. Dari sekian undangan mantan pacar yang mendahului saya untuk menikah, saya tak pernah ingin sebegini menangisnya.

Saya baca sekali lagi, biar pasti. Barang kali saya salah baca. Dengan kondisi hati naik turun, tanpa pikir panjang, saya langsung menelpon lelaki itu. Mantan sahabat saya itu.

Gw kaget. Saya menahan segala jenis air mata yang mungkin tumpah.

Doain ya cui. Katanya singkat.

Gak ada angin, ga ada hujan kok ini. Kita emang udah lama ga kumpul bareng. Tapi banyak teknologi lain, BBM dan twitter. Gw selalu pantau timeline lo, kok. Gak ada soal cinta. Dan ini, gw kaget setengah mati. Gw ga tau harus ngomong apa. Ini undangan ga main-main kan? Dua minggu lagi? Gw ga ngerti, maksud lo apa, cui. Tapi gw cuma bisa bilang ‘apa-apaan si ini?’

Lo kenapa dinnn, kok malah ngomong ga ada titik nya begini si? Katanya datar sedikit kebingungan.

Gw kaget.

Dia kembali tak menjelaskan apa-apa. Rasa-rasanya saya semakin tak bisa menahan segala bentuk marah saya. Terhadap, kenyataan hidup. Hari saya, asli, dibikin mikir. Selalu. Dan sedih. Saya galau, lebih dari kegalauan saya soal basabasi patahati yang saya alami.

Dia akan menikah dengan mantan pacarnya. Saya menjadi semakin tak peduli, dengan segala teori pernikahan. Ini gak adil. Sangat tidak adil.

Saya tutup telpon. Berpikir sekali lagi. Saya sudah tak tahan. Harus mencurahkan isi kepala ini dengan siapa? Lalu haruskah saya menyesal dengan jenis persahabatan macam begini?

Saya berharap, tidak tau apa-apa, dan memilih sibuk dengan masalah saya sendiri.

Ini masalah mereka.

Oh cantik, saya tau kamu sedang berjuang. Menunggu kelahiran si buah hati. Bagaimana dengan ayah buah hati mu? Dia malah sibuk dengan gempa gempita pernikahan. Dan bukan dengan sahabat saya itu.

Bisakah dibayangkan, apa yang saya rasakan sekarang? Ini nyata? Apa sekedar mimpi. Bagaimana jika si calon istri tau? Akan kah ia tetap menikah? Saya, merasa perlu untuk menjadi pahlawan kesiangan. Sekarang. Tapi, saya siapa? Bukan kah ini aneh, jika tiba-tiba saya menghubungi si calon istri, yang notabene saya tidak kenal.

Saya yakin, si calon istri tau siapa saya. Sahabat calon suaminya. Dan, hei dia ayah dari anak sahabat saya.

Cerita apa yang sanggup saya katakan?

Ketikan huruf demi huruf di dalam kotak ini, semakin bersemangat. Saya tak sanggup, menahan segala rahasia ini sendirian.

Akhirnya, yang ditunggu lahir juga. Dia mengirimi saya banyak foto, dia dan si bayi. Senangnya bukan main. Tak ada raut wajah sedih sedikitpun. Lega penuh suka cita.

Di sisi yang lain, saya hanya bisa meratapi Display Picture di BBM contact sang ayah. Sedang berdua dengan istri, di depan Menara Eiffel.

Ini rahasia sembilan bulan yang paling mencengangkan dalam hidup saya. Siapa yang menyangka, ada yang sebegitu sanggupnya.

Sudah 3 bulan usia bayi cantik itu. Sahabat saya mengirimi saya email. Saya copy paste, dirubah sedikit yaa. Redaksionalnya harus tetap terjaga soalnya.

Dear Dinna,

How’s there, how’s life? Kangen banget gw. Pengen pulang ke Jakarta. Lo harus ketemu Oddisey. Hehe, sorry yaa, gw kasih nama Oddisey. Gw inget lo, din. Lo kan suka banget mobil itu. Abis, gw harus kasih nama siapa?

Bdw, thanks banget ya, Din. Alhamdulillah, akhirnya gw survive banget dengan kejadian itu. Si Bapak apa kabar ya din? Asli gw ga update sama sekali.

Tapi, gw kangen juga sama dia Din. Lepas dari dia Bapak anak gw atau enggak. Walaupun, sakit hatinya masih berasa sampai sekarang.

Akhirnya gw berani juga, nii, state kata-kata tentang dia. Abisan selama ini, gw benar-benar ga berani. Takut sedih, sakit hati, kenapa-napa sama anak gw.

Dia mirip banget sama Bapaknya, tauu. Ayo dong. Lo ke sini. Ga pengen ketemu apa, Din?

Kira-kira dia masih inget gw ga ya? Hehe. O iya, dia masih sama mantan pacar nya itu ga si? Terakhir gw berantem hebat sama dia, soal mantan pacarnya. Ya sutralahh, biarin aja. Mudah-mudahan mereka langgeng bisa sampe nikah. Hehe. Aminn.

Udah ya, din. Ntar sambung lagi. Oddisey nangis tuhh.

Miss you heaps!

Well, daripada cerita ini terlalu panjang, saya hanya ingin berbagi satu pengalaman saja. Bahwa, hi Guys! Please appreciate woman. They’re kindly very tough, right.

Saya hanya ga habis pikir, yaa, banyak orang yang mengagungkan logika. Bagaimana dengan hati? Kadang, terlalu logis pun, saya rasa tak selalu benar. Itulah kenapa kita diciptakan sebagai manusia. Lengkap dengan akal dan hati nya.

Saya, kawatir dengan masa depan. Ya, bagaimana dengan masa depan cerita ini? Apakah butuh satu ketangguhan lagi? Saya sebagai pendengarnya saja tak sanggup. Bagaimana dengan dia? Mereka. Ah, mari kita bismillah. Untuk saling menjaga hati. Berhenti menyakiti.

Happy Sunday, loves!

6 thoughts on “Menangguhkan Rahasia

  1. Ini ceritanya sama kaya tmn aku. Single fighter mother tapi beda kasus. This blog is really touch n remember me bout her. Oh, why men is created with all the stubborn around his brain. Hai sahabat teh dinna dan sahabatku, kalian emang ibu paling hebat yang pernah ada. *asli nangis* T_T

  2. Duh mbak Dina,nangis bombay aku baca tulisan ini…salut banget dengan ketegaran si Cantik itu…aku penasaran aja…pengen tahu gimana reaksi si Bapak kalo tahu ini semua….oopss kok jadi kayak cerbung ya??? tulisan ini sangat inspiratif mjd pembelajaran hidup buat kita semuanya…..Salut mbak…wassalam..

  3. Ternyata ada masalah yg lebih berat. Ketimbang hanya sebatas sedang hangat-hangatnya berpacaran lalu diselingkuhi, atau sedang asik-asiknya PDKT sudah baper dan lalu ditinggal tanpa kejelasan… Izin re-share tulisannya ya mba dinn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s