Harus. Sepatu Roda.

Kisah ini berawal dari keinginan aneh saya yang lain. Setelah, macam-macam pengen beli ini itu, ini itu, akhirnya saya punya satu keinginan (lagi). Tiba-tiba saya pengen punya sepatu roda.

Ingat beberapa tahun lalu, saya masih SD kala itu. Ketika teman-teman saya udah punya sepatu roda, saya ngotot minta dibeliin sepatu roda juga sama orangtua. Awalnya, orangtua saya keberatan. Kemudian, itu mendadak bikin saya dan Imim, ngambek mendep di kamar. Tapi, kejutan, karena pada sore yang sama, orang tua saya datang bawa sepatu roda. Jadilah, saya kembali semangat, menghadapi sore hari di masa anak-anak saya itu. Saya tak lagi perlu merasa iri dengan teman-teman sebaya. Karena saya, juga sudah punya sepatu roda. Meski, tetap harus gantian sama Imim pakainya. Ya, nasib punya saudara kembar. Apa-apa harus sharing. Hehe😀

Memang, masa anak-anak itu masa yang paling indah, yaa. Gak ada beban apa pun kayanya. Kebetulan, saya tidak tinggal di Ibukota yang semrawut seperti sekarang. Hampir setiap sore, dihabiskan untuk main sepatu roda keliling kompleks. Tak kenal waktu, bahkan. Janji, untuk tidak meninggalkan bikin PR atau belajar karna besok akan ujian pun pupus sudah. Bermain-main itu jauh lebih menyenangkan. Ah, seandainya menjadi anak-anak itu bisa selamanya, ya.

Rupa-rupanya, sepatu roda bukan lagi olahraga yang sedang tren di tahun 2012 ini. Ya, karena tak mudah mendapatkan sepatu roda baru. Belakangan, saya sempatkan untuk browsing-browsing soal sepatu roda. Tak banyak yang bisa saya temukan. Selain, saya memang tak begitu paham sepatu roda seperti apa yang bagus. Dulu, sepatu roda yang saya punya, bukan sepatu roda mahal tentu saja. Karena pakenya tak senyaman punya teman-teman saya. Tapi, gapapalah, yang penting punya.

Beberapa waktu lalu, saya coba titip teman, yang sedang Dinas Luar Negeri ke Dallas, USA. Karena saya ingat, sepatu roda punya teman saya, yang nyaman dan empuk itu, dia beli di Benua Amerika sana. Tapi, teman saya kontan protes dititipi barang begituan. Katanya berat bawanya. Dan, susah nyarinya. Mmhh, mungkin sepatu roda pun sudah tidak tren lagi di negara itu.

Saya kembali browsing. Niatan belanja di Ebay membuat saya lemas. Harganya bikin saya pengen pingsan. Dan belum lagi spesifikasinya yang gak pasti. Saya batal berburu di dunia maya itu. Keinginan untuk punya pun tak berkurang. Saya berniat untuk ngubek-ngubek pasar di seluruh pelosok Jakarta. Saya yakin, pasti ada.

Weekend lalu adalah waktu kabur saya. Kabur pada kepenatan hidup. Ya, saya selalu punya masa-masa itu. Masa-masa saya tak ingin terganggu. Mmh, mungkin kedengarannya aneh ya? Tapi, saya rasa, bukan cuma saya yang perlu masa-masa seperti ini. Namanya saja kabur. Temanya bisa apa saja. Kabur keluar dari Jakarta atau sekedar mendem di kamar, itu juga kabur kan? Yang penting kabur dengan segala urusan dunia.

Dan kabur saya kali ini, berbeda. Dalam misi, mengabulkan keinginan saya yang (ke)terlalu(an) itu. Weekend ini, saya harus punya sepatu roda baru. Kemana pun schedule yang sudah direncanakan, saya harus tetap sempat untuk mencari sepatu roda baru.

Dan itu tidak mudah. Saya nyaris putus asa dibuatnya. Bertandang ke sebuah toko olahraga yang ada di Mall besar, tak bisa mengakhiri pencarian saya begitu saja. Tak tertarik, dengan sepatu roda yang dipajang di sana. Harganya mahal, merknya tak terkenal. Tapi, saya tetap coba sepatu roda ituu. Ya, kalau-kalau pas dipakai tak seburuk penampilannya.

Ya, ternyata benar, memang tak separah itu. Sepatu roda yang dijual di situ boleh lahhh. Saya bandingkan dengan sepatu roda yang dulu saya punya, jauhh. Yang ini memang lebih nyaman. Tapi, bentuknya? Haduh, kurang keren gimana gitu. Hehe. Dari penjaga toko, dia menuliskan secarik kertas untuk saya. Alamat skateshop, jika ingin yang lebih lengkap. Oke, tanpa basa-basi, walaupun saya gak tau sama sekali itu di mana, saya, tetap meluncur ke sana. Tebak-tebak jalan tentu saja.

Ya, hampir putus asa. Alamat yang dituliskan seperti alamat sebuah perumahan. Saya hampir sangsi, apa ada skateshop di daerah seperti itu. Yuhuuuii, berbinar mata saya ketika melihat toko itu. Siapa sangka, ada toko begini di perumahan entah dimana ini.

Ketika masuk, mmhhh, saya mencium aroma rollerblade yang saya cari. Ah, semakin tak sabar, sebentar lagi saya punya sepatu roda baru. Dan, ternyata tidak. Ketika saya hampir membeli salah satu sepatu roda yang dipajang, penjaga tokonya bilang. Kalau mau pilihan yang lebih banyak, bisa mampir ke ___________ sambil menunjukkan alamat toko di sebuah mall besar lainnya. Saya tarik nafas sedikit. Jangan terburu-buru. Mungkin punya beberapa pilihan bisa jadi pertimbangan rollerblade mana yang lebih baik saya beli. Okelah, dengan lelah sedikit, saya tetap ke mall itu. Dan seperti saya duga. Tak ada pilihan. Kurang lebih saja.

Singkat cerita, dari penjaga toko olahraga di mall itu, saya dikasih tau untuk ke mall lainnya, ada dua toko di sana, yang juga menjual rollerblade. Dan tak jauh beda, sudah saya duga. Tak banyak pilihan. Mall-mall itu memang sedang tidak menjual banyak rupa rollerblade, dengan kualitas bagus. Kualitas yang saya inginkan. Lemas tentu saja. Ini hampir larut.

Bayangkan, ketika saya begitu ingin besok pagi bangun, main sepatu roda. Jam segitu, saya belum juga dapat sepatu rodanya. Oke, saya putuskan untuk putar kemudi kembali ke skateshop di perumahan itu. Saya berharap saya memang berjodoh dengan salah satu sepatu roda yang dijual di sana.

Dan! Dang! Ketika saya sudah begitu yakin untuk memilih satu, Si penjaga toko mulai aneh. Seolah gak mau barang yang dia jual, saya beli. Dia bilang, dia ga warranty, dan ga punya sparepart, dan seterusnya, seterusnya. Dan, membuat saya ragu. Lalu. Lalu. Lalu. Dia bilang, dia punya referensi satu toko lagi. Tapi jauh, letaknya saja gak di ibukota. Saya?? Harus berkomentar apa?? Dia gak tau betapa persoalan rollerblade ini adalah harus. Saya ngotot setengah mati. Dalam hati. Kenapa gak bilang dari tadi, si? Saya lirik jam tangan. Nyaris jam delapan malam waktu setempat. Perjalanan ke pinggiran ibukota itu butuh waktu, mmh, 45 menit, kalau ga nyasar, kalau ga macet.

Dan malam itu hening. Saya tak lagi semangat. Satu-satunya, saya ingin pulang. Melupakan perjuangan saya hari ini. Kekhilafan saya malam itu, tak lagi tertarik dengan yang mendinginkan hati saya. Bahkan sebotol minuman kaleng untuk melepas dahaga pun, tak ingin. Saya kesal. Tapi, ini berlebihan. Setelah saya pikir-pikir.

Hanya untuk sebuah rollerblade. Jujur saya haru. Karena kendaraan itu masih berusaha. Menerobos jalan bebas hambatan menuju pinggiran ibukota. Gemuruh, tak lagi yakin. Saya gak mungkin dapat sepatu rodanya malam ini. Tahukah, saya kesal. Kesal dengan entah apa. Sesuatu yang tak beralasan. Atau getaran iPhone yang bukan milik saya itu. Sejujurnya itu menambah deras air mata. Bahwa karena sebenarnya, kesalnya bukan semacam bocah 11 tahun yang ngambek di kamar karena ga dapet sepatu roda yang baru. Saya kesal, karena tidak boleh kesal. Pikiran pun isinya macam-macam. Hopeless, bukan karena sepatu roda.

Sepanjang perjalanan, ketika kesabaran dan amarah memenuhi kendaraan buatan lokal itu, saya hanya mampu memandang kosong jalanan yang saya gak tau itu di mana. Saya mau ke mana malam ini? Saya perlu satu rengkuh, yang meyakinkan. Tapi apa ada?

Dan malam itu, menjadi cerita. Satu lagi cerita. Tanpa kata-kata. Apa arti kata? Jika tidak akan menjadi nyata? Tanggal dua lima. Saya menutup malam, dengan perintah berharga. Menghargai. Katanya, saya punya teori sejuta. Dan sekedar sejuta teori itu, buat apa? Gak mau, katanya. Dan malam itu, meski belum punya rollerblade baru, saya menjadi wanita paling beruntung karena mampu tak peduli dengan yang tak visual. Andai, bahagia malam itu selamanya. Saya tidur dengan Bismillah.

Mudah-mudahan besok punya rollerblade baru. *tetep*

Hey, hey. Tanggal dua lima itu berlalu. Sudah tanggal dua enam. Dan ini Minggu pagi. Minggu pagi, yang seharusnya saya sudah meluncur bersama si sepatu roda. Saya bangun dengan semangat. Tak punya rencana apa-apa pagi ini. Hari ini. Ya, selain berbururollerblade.

Pagi itu, saya langsung menuju daerah pinggiran ibu kota. Dan jauh. Saya merasa perjalanan ini tak kan kunjung sampai. Serius, saya belum pernah ke sini. Sama sekali. Saya memasuki kota yang katanya pusat pemerintahan.Well,perjalanan ini begitu menyenangkan. Karena saya punya sejuta semangat untuk berbururollerblade.Sedikit malu, kalau ingat kejadian semalam. Oh, saya merasa seperti anak kecil. Tahukah, memasuki kota itu, jujur saya agak pesimis menemukan rollerblade itu. Bayangkan, kota itu minim pusat perbelanjaan. Hanya gedung-gedung pemerintah yang ada.

Menelusuri, saya sampai juga di tempat yang mereka sebut skatepark. Argh, ini bukan tempat jualannya. Tapi tempat muda muda ngumpul memamerkan kebolehannya. Dan Alhamdulillah, meski sempat pesimis, kemudian, kemudian, tempat ini, adalah saksi perjodohan saya dengan si rollerblade. Hehe, lebay yaa. Dan jodoh itu begitu dekat. Saya dapat rollerblade keren. Dengan harga yang, ya, sedikit tidak masuk akal. Hehe. Tapi gakpapa deh. Itung-itung ini buah perjuangan saya. Penuh cinta. Tak bisa menahan senyum. Saya resmi, punya rollerblade baru.

Tak sabar rasanya saya meninggalkan kota dengan struktur bangunan yang keren itu. Saya menunggu sore. Dengan sebuah pelukan. Meluncur mengelilingi taman. Penuh cinta. Sore itu, saya menjadi cewek paling keren menurut penilaian saya sendiri. Hehe. Saya merasa lengkap, penuh syukur. Saya punya rem hebat ketika jalur di taman itu meluncur, dan punya semangat mengagumkan ketika harus menanjak. Apalagi yang saya inginkan sore itu? Saya. Dan sepatu roda. Dan rem. Dan semangat. Dan cinta. Dan apalagi. Bukankah kita begitu serasi?

Dan hanya Bismillah. Yang sanggup saya katakan.

It’s you. The Incredible.

15 thoughts on “Harus. Sepatu Roda.

  1. wwaaaaaauuuu, crita kmu itu hmpir sma dgn sya.. sya mndpatkannya dgn memesan sminggu. memang sngat slit mndpatkan spatu roda itu. tpi sya sngat kcewa dgn spatunya. krna bru 4 hri sya pkek udah lepas spatu sma rodanya.. sya pngen tau dri kmu dmn kt psan brangnya dgn sngat bgus..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s