Berkebun, Gak Ya?

Wowowowoooww!

Kayanya udah lama banget. Saya kaya balik ke jaman kuliah dulu, nih. Hehe. Sebagai seorang Sarjana Pertanian, aduh, rasanya malu muka (dan malu title) deh.

Hari ini, saya secara (gak) sengaja, liputan soal berkebun. Akhirnya bisa liat langsung, komunitas yang cukup happening saat ini. Indonesia Berkebun, namanya. Mungkin sebagian udah pernah denger ya. Ya, ya, ya, ngaku deh, saya emang salah satu Sarjana Pertanian yang ‘kafir’ dari dunia pertanian. Ketinggalan banyak sekali informasi soal komunitas ini. Seriusli, saya pengen, kapan waktu, kalau ada kesempatan, bisa terjun di dunia pertanian sesuai dengan pendidikan formal saya. Cita-citanya ga tinggi, kok. Berkebun di rumah sendiri. Jadi kalau mau masak apa, tinggal petik aja gitu. Hehe.

Setali tiga uang, saya ketemu dengan komunitas ini. Salah satu penggiatnya, namanya Ibu Ida Amal. Salutnya, beliau concern banget sama dunia pertanian. Dan tanpa basic ilmu formal (menurut informasi yang saya dapat), concern itu berawal dari hobi. Gimana, ya, bilangnya. Emang susah si, maksain minat. Saya, kok, ya, agak susah jatuh cinta dengan dunia ini. Padahal hampir empat tahun saya berkecimpung, lengkap dengan teori-teorinya yang cukup njelimet. Satu-satunya, yang bikin saya suka dengan dunia pertanian cuma masa-masa panen. Itu pun, panen buah-buahan kesukaan saya. Mmh!

Tapi, hari ini, saya punya pandangan berbeda. Bukan masa panennya yang saya suka. Tapi, saya seneng banget ketemu teman-teman yang sangat excited dengan dunia cocok tanam. Seneng ngeliat mereka punya rasa penasaran yang tinggi soal berkebun. Bayangin, ini Minggu loh. Mereka rela melewatkan hari Minggu dengan berkebun yang seharusnya hari yang pas banget buat tidur atau sekedar manyun di kamar. Hehe.

Yang seru dari berkebun, adalah foto-fotonya. Foto-foto dengan back (fore) ground tanaman itu cool, loh. Sayangnya, berkebun kali ini, saya dalam misi kerjaan. Jadi, ga bisa puas foto-foto. Teman-teman Indonesia Berkebun yang lain? Puas bangett, pasti.

Ngobrol-ngobrol sama Bu Ida, saya jadi tau, kalau berkebun, ternyata ga senjelimet itu. Sederhana banget. Tebar-tebar bibit aja (karena saya part teori di kelas kali ya?) Dan bisa dilakukan di mana aja, tanpa perlu punya lahan atau pekarangan luas di rumah. Tanam satu dua bibit, lumayan banget loh, untuk mengurangi bajet belanja bulanan. Ibu rumah tangga banget ga si, pembahasan saya. Padahal aslinya, saya jauh dari sosok rumah tangga itu. Ya, begimana. Saya salah satu makhluk Jakarta, yang kesehariannya pergi pagi pulang malem. Kalau pun berangkat siangan dikit, paginya saya habiskan untuk tidur, makan nasi uduk, atau nyetel TV.

Bu Ida, gencar. Bahwa berkebun itu juga bisa dilakukan di perkotaan. Ga melulu, berkebun cuma jadi aktivitas di kampung-kampung. Dan berkebun ini, organik. Jelas lebih sehat. Berhubung, saya adalah salah satu orang yang bergaya hidup tidak sehat, saya seneng, untuk tau hal-hal yang berhubungan dengan hidup sehat. Karena mungkin, gaya hidup tidak sehat yang saya jalani sekarang, bisa diminimalisir, sedikit demi sedikit.

Dunia, emang sempit, ya. Ternyata punya ternyata, Ketua Indonesia Berkebun ini adalah dosen saya sendiri, Pak Achmad Marendes, bukan dosen IPB, tapi London School (pascasarjana yang sedang saya ambil saat ini). Wkwkwkwk, makin malu hati buat kasih tau, kalau saya sebenarnya sarjana pertanian, karna minim banget (udah lupa) ilmu pertanian. Hallo, Pak. 😉

Pulangnya, saya oleh-olehin mama dengan hasil panen hari ini. Seiket bayam dan kangkung. Bikinin cah kangkung ya, ma. (ngarep)

Kapan-kapan. Kapan-kapan. Saya mau punya kebun sendiri di depan kamar. Mungkin bisa dimulai dari punya boot lucu, kali ya. Biar semangat. Loh, tetep ya. Haha.

Yuk, ah. Besok kita lanjut lagi berkebunnya. Mudah-mudahan tambah ilmu. Saya dapat satu lagi ilmu dari berkebun hari ini, apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Ga mungkin kan, nanem bayam, yang dipetik kangkung. Kecuali kangkung punya orang. Itu ga pas. Sama kaya hidup juga, kan? Jadi, bismillah. Saya, mau tanam benih yang baik-baik. Mudah-mudahan bisa petik hasil yang baik pula. Ini berlaku untuk segala urusan, ya. Bye. Bye. Benih jelek. :p

 

 

Advertisements

Single or Married. Tetep Fun!

Namanya saja hidup. Ada aja ceritanya. Ini salah satu cerita malaminggu saya. Bahkan saya pun bingung harus bikin judul apa untuk malaminggu saya kali ini. Berawal dari sebuah perayaan. Mmh, perayaan bukan ya, namanya. Syukuran juga bukan.

Saya tau, tidak ada yang menyenangkan dari sebuah perpisahan. Untuk kesekian kalinya, saya mendengar cerita. Dan kali ini terjadi pada (anggap saja) teman saya sendiri. Sebagai wanita pada umumya, yang seringkali bikin #penciteraan ala-ala anak muda, punya stigma sendiri soal laki-laki. Ya, semacam istilah, ah, ‘ah, laki-laki gak ada yang bener’ (ditimpuk rame-rame, deh).

Tapi kejadian kali ini, ya, agak anomali. Teman saya, galau karena menyandang status duda. Ya, saya ga tau si, dalam hati beneran galau atau enggak. Tapi, bertahun-tahun menikah kemudian harus pisah, itu pasti bukan hal mudah. Dan, dari si lelaki ini bilang, yang menginginkan pisah bukan dia, tapi si mantan istri. Ah, rasanya kok aneh ya, biasanya istri rela survive dengan kondisi rumah tangga macam apa pun, apalagi udah punya anak. Demi anak. Tapi, beberapa temen saya bilang, saya ga boleh mengeneralisasikan semua masalah sama. Setiap orang, punya masalah sendiri-sendiri. Dan cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikannya.

Dalam seseruan malam itu, pikiran-pikiran saya pun jadi punya kesimpulan. Kita semua ‘fun’ malam itu. Mengatasi sakit hati, emang ga gampang. Pura-pura seneng, padahal ‘nyesss’. Walaupun, ada aja banyak cara yang bisa membuat kita menjalani hidup lebih ringan. Intinya, dari sekian banyak cerita, saya mengumpulkan satu kesimpulan. Bahwa, pada dasarnya kita adalah satu individu. Mau single atau married, ya yang menjalani hidup itu memang kita. Sendiri. Yang lain? Cuma status. Yang terjadi? adalah hasil atau sebut saja itu takdir.

Good friend, good life. Malam itu. Kita semua ketawa-ketawa ga abis-abis. Beruntung, teman-teman kaya gini bisa bikin hidup lebih ringan. Ditemani aneka daging bakar dan minuman-minuman kelas bangsawan, membuat sejenak lupa soal aneh-aneh nya hidup. Bahagia itu sekarang, bukan masa lalu yang harus kita kenang-kenang, atau masa depan yang baru sekadar harapan. So, enjoy! 😉

Selesai kenyang-kenyangan dengan macam-macam makanan tinggi kolesterol, kita pun lanjut karaoke bareng. Sebagian tepar, pingsan, atau jangan-jangan mabok ya? Hehe. Dan playlist lagu pun full, lagu-lagu galau. Dipersembahkan khusus buat yang punya hajat. Ya, mungkin masing-masing juga punya cerita di setiap lagu yang dinyanyiin, sii. Karaoke, emang salah satu cara paling ampuh, buang-buang penat, marah, jenuh, dan galau.

Oke, saya bikin tips ah, buat mengatasi patahati. Sebagian ampuh kok.

1. Dekat sama Allah. Serius, ini udah makin jarang dilakuin, tapi beneran, deh. Ampuh kok. Kayanya lebih optimis aja gitu ngadepin hidup. Dan lebih semangat, karena beda di jalan yang lebih baik.

2. Nyanyi. Lagu apa aja. Lagu jatuh cinta, bikin semangat ngebayangin hari depan yang indah-indah. Lagu galau, juga salah kok. Kalau saya pribadi, si, nyanyi lagu galau bukan bikin tambah mellow. Tapi jadi lebih seru aja, karena ga ngerasa kita sendiri yang ngalamin cerita kaya di lirik lagu. Hehe, ini ujungnya mellow ya?

3. Jadi lebih hebat. Semangat. Soal hasil? Belakangan lah. Kalau kita jadi lebih hebat dan lebih keren itu artinya kita menang. Orang yang bikin sakit hati, cuma bisa nyesel. Dan kita bisa senyum-senyum sok cool. 

4. Have fun. Fun sama apa aja yang kita suka. Hobi baru, teman-teman, kerjaan yang semuanya dilakukan dengan fun, bikin kita ngerasa, ga perlu, sakit hati berlama-lama. Ah, ga penting. Kemudian mati rasa dengan orang-orang yang udah bikin kita kecewa, marah, sakit hati atau ngamuk. Kalau udah masuk fase, ga peduli sama orang itu artinya kita udah masuk dalam zona aman. Satu langkah maju, bahagia itu segera datang.

Well, well, well, malam itu, seruu banget. Banyak kejadian yang bisa bikin saya ketawa ga abis-abis. Saya bisa menikmati malam, meski di sana ada yang ga penting. Ga peduli. Itu sesuatu loh. Hehe. Thanks, guys!

Cheers. 

Oh, iya, demi apa pun. Alhamdulillah, saya ga ikut minum-minuman macam begitu, kok. Tenang. Hehe.

Nge Track Orang di Dunia Maya

Hari gini, mudah banget kalau mau nge-track orang di dunia maya. Jujur nih, itu sering saya lakukan kalau kenal sama orang-orang baru. Atau denger nama-nama yang lagi jadi bahan pembicaraan, biar ga ketinggalan berita. Se ga populer nya orang, setidaknya dia punya facebook. Yang susah kalau, orang itu pakai nama aneh-aneh buat profile facebook-nya. Coba aja search satu nama. Teman, misalnya. Meski ga semua orang di muka bumi ini aktif di dunia maya, tapi setidaknya nama mereka pasti muncul kalau kita googling. Ya, seapes-apesnya yang keluar adalah namanya di facebook yang udah ga pernah aktif atau info tentang nama itu bukan orang yang kita maksud.

Yang paling cihui adalah, kalau orang itu begitu populer di dunia maya. Well, saya bukan bicara tokoh politik atau selebritis, kok. Yaa, orang-orang di sekitar kita aja. Kapan waktu, saya iseng googling nama teman saya. Katanya si, populer dengan nama Ichanx pake X di dunia maya. Dan ga usah susah-susah untuk tau siapa dia. Bla bla, info tentang dia gampang banget, itu karena dia sempat menjadi selebblogger dan selebtwitter. Ichanx bukan artis kan, ya?

Bagaimana dengan nama yang lain, semuanya begitu mudah. Apalagi kalau dia aktif di Twitter. Gak cuma info tentang dia aja, kita bahkan bisa merasa kenal banget sama dia dengan memantau timeline-nya. Misalnya, salah satu teman dekat saya, namanya Chandra. Bisa dibilang, dia salah satu banci Twitter yang memenuhi timeline saya hari ke hari. Dia, bahkan bukan dari kalangan selebblogger atau selebtwitter seperti Ichanx. Tapi, cek timeline nya, ya cukup lah, untuk kenal Chandra atau melepas kangen kalau dia abis cuti seminggu. Hehe. Waduh, untung dia bukan peminat blog saya, yaa. Bisa GR nanti. Ngok!

Ya, sekarang ini, Twitter emang media paling mudah untuk nge track orang. Itu juga dilakukan ayah saya, kalau lagi nyariin anaknya. (Iya, kan, pa, hehe). Dari Twitter, selain bisa update berita berita dengan cepat, saya juga bisa tau kalau ada yang lagi boong sama saya. So you, beware! Hehe. Yaa, kecuali kongkalikong dulu, biar aman.

Sekilas tentang Twitter yang masih happening sampai sekarang. Lihatlah begitu hebatnya Twitter merubah gaya hidup seseorang. Hehe. Sampai-sampai ada yang bilang, bahwa mereka tidak perlu lagi kasih perhatian ke pasangan dengan nanya ‘lagi apa?’ karena udah terjawab dengan memantau timeline-nya. Haha, padahal kalau dipikir, pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan yaa, tapi esensi nya lebih ke ‘perhatian’ atau ‘care’. Saya, mmh, gak tau, ya, apakah termasuk yang banci Twitter atau enggak. Tapi, saya sejauh ini bisa cukup jenuh, kalau Twitter sedang error atau smartphone lagi ga bisa connect internet. Twitter, cukuplah sebagai obat antimatigaya. Kalau gitu, saya tergolong banci atau masih taraf wajar? Sekedar info, sampai hari ini setahunan lebih deh, saya pake account @incredibledinna itu, dan tweet saya sekarang sekitar sebelas ribuan. Itu banci gak? *cari pembenaran*

Enaknya Twitter, kita bisa bebas pilih siapa yang mau kita follow. Toh, ga follow bukan berarti kita ga temenan kan? Bebas dibilang alay atau enggak, biasanya saya senang follow, twit-twit motivator. Lumayan quotes-nya, bagi saya yang senang dengan teori dan miskin praktek ini. Hehe. Baru-baru ini, saya baru melakukan pembersihan besar-besaran bagi timeline. Dan mau minta maaf sebelum dan sesudahnya. Saya baru saja unfollow, profile yang jarang update atau timeline-nya mulai berisi spam (promo-promo ga jelas juga saya kategorikan spam). Berapa profile yang isinya sumpah serapah mulu, juga saya unfollow, karena kadang, secara ga sengaja bikin mood jadi jelek. Ini, saya lakukan dalam misi, membuat image Twitter yang kadang dianggap miring bagi sebagian orang, menjadi positif, dalam dunia maya atau dunia nyata.

Dan saya jadi cukup salut dengan orang-orang yang memiliki begitu sedikit identitas di dunia maya. Bagaimana mereka bisa begitu hebatnya bersembunyi? Haha, ya mungkin mereka bukan bermaksud bersembunyi, si. Mereka hanya tidak tertarik dengan dunia macam begitu. Kehidupan nyata, sudah cukup membuat mereka sibuk. Jadi, sebenarnya nii, saya mau nanya, bagaimana si caranya bisa ga keranjingan bergaul di dunia maya? Anyone?

Posted in Oh

Makan Siangnya, Incredible!

Hampir setiap akhir pekan, mall ramai pengunjung. Mmh, bakal berkurang sedikit pengunjungnya, kalau lagi tanggal tua, ya kan. Itu pun kurangnya cuma sedikit. Karena mall memang menjadi hiburan paling sederhana, murah dan mudah (bagi yang pandai menyiasatinya, hehe).

Yaa, seperti kebanyakan, biasanya kalo ke mall, wajib, buat makan. Kalau cuma iseng untuk isi perut, biasanya saya memilih foodcourt untuk menghilangkan rasa lapar. Selain pilihannya yang banyak, harganya pun lebih masuk akal sesuai porsinya.

Siang itu, kita (sebut saja, saya dan dia, ya) kelaparan luar biasa. Yang jadi sasaran pastinya adalah makanan-makanan standar dan udah pasti rasanya sesuai selera. Biasanya makanan cepat saji semacam fried chicken itu menjadi salah satu pilihan yang udah dijamin kenyang. Kalau harus coba-coba menu baru, kawatir rasanya aneh dan akhirnya jadi makin lapar.

Oke, kebiasaan itu berbeda sedikit di Minggu siang kali ini. Kita pilih makanan yang belum pernah kita coba sebelumnya, tapiii, rame yang mesan. Mudah-mudahan si selera kebanyakan orang itu ga jauh beda dengan selera kita.

Little Wok. Namanya. Dengan penyajiannya yang pake kuali panas begitu, membuat sajiannya jadi lebih menarik. Liat penampakan menunya juga lumayan.

Pertanyaan standar ketika mencoba makanan baru adalah apa yang jadi menu favorit kios makan itu. Pramusaji menawarkan beberapa pilihan. Berhubung saya sedang diet nasi, saya pilih menu mi goreng dengan ayam krispi di atasnya. Keliatannya enak.

Dan siang itu menjadi siang yang ‘sweet’ menurut pendapat saya sendiri. Lunchdate, tidak harus makan di tempat-tempat mewah dengan dandanan all-out, kok. Ala kadarnya, lunch kali ini bisa bikin saya yang berangkat manyun karena kelaparan bisa jadi senyum-senyum sendiri.

Kesalahan pertama saya adalah lupa bilang kalau mi gorengnya jangan pake sayur. Well, saya memang bukan penggemar sayuran untuk beberapa jenis makanan tertentu. Menurut saya, mi goreng yang dicampur dengan sayur, merusak cita rasa mi itu sendiri. Hehe. Yaa, kebayang aja ind*mie yang enak banget, kalau harus dicampur sayuran sawi rasanya pasti jadi beda. Peraturan ini pun menjadi berlaku untuk jenis mi yang lain.

Selera dan rasa lapar saya seketika pupus, waktu mi goreng yang saya pesan jadi. Hiks, sayurnya, polll, banyaknya. Bingung kalau mau disisihin juga. Lupa total, order tanpa sayur. Alhamdulillah.

Pertama, tanpa harus manyun berlama-lama, saya disuruh pesan lagi. Tentu dengan catatan kaki ‘tanpa sayur’. Oh, saya haru penuh terima kasih. Dan acara makan siang itu menjadi istimewa. Dia yang sebenarnya juga ga begitu suka menu mi goreng dengan sayur, rela menyantap menu saya yang salah. Hehe, saya jahat ya? Yaa, sayang dong, daripada dibuang, ga tega banget di saat orang susah-susah cari makan.Image

Jadi, ini lah makanan yang tersaji di meja. Untuk dua orang. Hehe.

Image

Dan ini, bagaimana dia berusaha meng-combine makanan yang ia pesan dengan pesanan saya yang salah itu. Enjoy? Am lil bit guilty anyway. Ups!

Image

Saya lupa memesan telor mata sapi, salah satu lauk favorite kita. Dan dia berbagi separuhnya untuk saya. Boleh saya terharu dulu?

Image

Nah, saya begitu. Begitu menikmati menu pesanan saya ini. Sempurna. Mi goreng tanpa sayur dengan ayam crispy yang gurih, separuh telor matasapi dengan pembagian kuning dan putih telurnya yang pas, dan bumbu-bumbu cinta.

Image

Es teh tarik? Oh, segarnya!

Image

Lalu, dalam sekejap, saya mampu menghabiskan menu sempurna siang itu. Sedangkan dia? Sedang berjuang menghabiskan pesanannya (dan pesanan saya yang salah, tentu saja). Nasi putih dengan taburan blackpepper beef? Yaa, memang perlu perjuangan cukup keras untuk menikmati rasa blackpepper nya yang sangat menyengat itu, apalagi bagi yang tidak biasa. Semangat!

Dan, makan siang kita dilanjutkan dengan jalan-jalan setengah penting di mall paling happening di kota itu. Berjuang, untuk tetap menjadi smartshopper.

Makan siangnya, Incredible! Makasih, yaa. Saya tau, dia gak cukup puas dengan pesanannya siang itu. Padahal, kita sama-sama lapar. Nanti, saya masakin nasi goreng andalan saya. Janji!

Dan saya memenuhi janji saya, untuk dinner-nya. Dinner kamu.

Image

Ini diaa, nasi gorengnya. Suka? Hehe.

Es Teh. Manis

Es teh manis sering banget jadi pilihan saya kalo lagi makan di mana-mana. Dari warung kelas tegal, sampe warung kelas sosialita. Rasanya pun beda beda dari tempat makan yang satu ke tempat makan yang lain. Kalau sampe ada tempat makan yang menyediakan es teh manis yang ga enak, serius, saya bisa tiba tiba ilfil, ogah makan di restoran itu. Apalagi kalo sampe ada yang ga nyediain es teh manis. Tapi jarang banget, sii. Wong es teh manis itu menu standar banget kann.

Harganya, pun macam-macam. Saya yakin, bukan perkara daun teh yang dipetik. Daun emas atau daun layu. Tapi, karna tempatnya. Ya, saya bisa menikmati es teh manis seharga 500 rupiah sampe ada 35000 rupiah. Wow! Pernah ada yang ngerasain es teh manis yang lebih mahal? Plis share di mana. I won’t drink there. Hehe.

Bahkan, es teh manis bisa mengalahkan kecintaan saya pada minuman minuman tinggi lemak yang lain. Coffee blended atau milkshake yang maknyus itu misalnya.

Bayangin, lagi panas-panas terik, atau udara pengap ibukota, apa lagi yang nikmat selain es teh manis?

Oke, deh. ‘Bang, pesen es teh manis satu, ya.’

20120309-052429.jpg

Blackberry dan Imigrasi

Ini kejadian waktu saya bertandang ke negeri seberang.

Ngomong-ngomong soal blackberry, telepon pintar satu ini memang sudah bukan lagi barang mewah bagi banyak sekali kalangan. Kemana-mana, hampir setiap orang bawa blackberry. Bahkan, kalau kenalan sama orang baru pun, yang ditanya, ada PIN BB ga? Hampir lupa, nanya nomor kontak. Mungkin ini yang bikin kita ga bisa lepas dari blackberry. Ya, blackberry sudah menjadi  alat komunikasi wajib bagi kita.

Paham sama paham, banyak orang yang lebih senang berkutat dengan blackberry-nya, daripada bersosialisasi di dunia nyata. Hanya saja, seringkali kita (termasuk saya, dong) tidak memahami kapan saat yang tepat tidak boleh pakai blackberry.

Sejauh seinget saya, yang pasti kita ga boleh bb-an saat:

1. Nyetir 2. Ujian 3. Ngomong sama bos 4. Wawancara kerja 5. Di pesawat 6. Di pom bensin 7. Di rapat (serius) 8. Jalan kaki (boleh sii, tetep harus liat depan, kanan kiri tapi) 9. Sisanya? Saya gak tau, ada yang mau menambahkan?

Dan yang paling pasti, blackberry cukup ampuh sebagai obat antimati gaya, kapan saja di mana saja, untuk mengusir jenuh. Beberapa waktu lalu, blackberry saya sempat hilang, dan saya mencoba menjalani kesaharian saya, tanpa blackberry. Sejujurnya saya survive, loh. Tapi tetap ada yang kurang aja rasanya. Jadilah, hanya bertahan seminggu, saya tekad, harus punya blackberry lagi.

Image

Dan yang teranyar, saya baru tau, kalau ternyata ga boleh pakai blackberry di Imigrasi. Saat pengecekan paspor. Jadi, maafin, kalau itu kejadian. Pada hari itu. Saya punya alasan kuat, kenapa saya tetap bb-an saat itu, karena antri panjang untuk dapat giliran paspor di cek cukup membosankan. Beneran, deh. Belum lagi, saya pikir untuk beberapa hari ke depan, bb saya bakal ga aktif di luar negeri, jadi puas-puasin duluuu. Hehe.

Jadilah, karena sibuk sama bb sendiri, saya ditegor sama petugas imigrasi, perempuan 30 tahunan, dengan muka tanpa ekspresi.

PI (Petugas Imigrasi) : Mba, jangan main handphone di Imigrasi

S (Saya) : (ga denger, tetep main handphone)

PI: Mba, bisa tolong hargai saya ga?

S: (kaget) Kenapa, Mba?

PI: Dilarang main handphone saat imigrasi, saya ngomongnya udah pelan lo ini?

S: Ooh, maaf Mba, mungkin karena mba ngomongnya pelan saya jadi ga denger (langsung nyimpen BB)

PI: (muka keki, ngasihin paspor)

Mmmh, oke deh, mba. Saya gak tau. Lagi pula, larangan keras biasanya ada tulisannya, yaa, seperti tulisan dilarang merokok yang ditempel dimana-mana (pembelaan diri). Kalau soal dilarang main HP, saya gak tau. Seriusan deh. Dan kalau boleh nii, rasanya saya pengen tau alasan yang penting banget, kenapa kita ga boleh main HP di Imigrasi. Yaa, alasan-alasan yang bisa saya terima seperti “Larangan bb-an saat nyetir karena bisa kecelakaan atau bb-an di pesawat bisa ganggu sistem navigasi” Ada yang tau ga, kenapa. Kenapa. Kenapa.

Well, get smart with our smartphone, guys!

Posted in Oh