Berkebun, Gak Ya?

Wowowowoooww!

Kayanya udah lama banget. Saya kaya balik ke jaman kuliah dulu, nih. Hehe. Sebagai seorang Sarjana Pertanian, aduh, rasanya malu muka (dan malu title) deh.

Hari ini, saya secara (gak) sengaja, liputan soal berkebun. Akhirnya bisa liat langsung, komunitas yang cukup happening saat ini. Indonesia Berkebun, namanya. Mungkin sebagian udah pernah denger ya. Ya, ya, ya, ngaku deh, saya emang salah satu Sarjana Pertanian yang ‘kafir’ dari dunia pertanian. Ketinggalan banyak sekali informasi soal komunitas ini. Seriusli, saya pengen, kapan waktu, kalau ada kesempatan, bisa terjun di dunia pertanian sesuai dengan pendidikan formal saya. Cita-citanya ga tinggi, kok. Berkebun di rumah sendiri. Jadi kalau mau masak apa, tinggal petik aja gitu. Hehe.

Setali tiga uang, saya ketemu dengan komunitas ini. Salah satu penggiatnya, namanya Ibu Ida Amal. Salutnya, beliau concern banget sama dunia pertanian. Dan tanpa basic ilmu formal (menurut informasi yang saya dapat), concern itu berawal dari hobi. Gimana, ya, bilangnya. Emang susah si, maksain minat. Saya, kok, ya, agak susah jatuh cinta dengan dunia ini. Padahal hampir empat tahun saya berkecimpung, lengkap dengan teori-teorinya yang cukup njelimet. Satu-satunya, yang bikin saya suka dengan dunia pertanian cuma masa-masa panen. Itu pun, panen buah-buahan kesukaan saya. Mmh!

Tapi, hari ini, saya punya pandangan berbeda. Bukan masa panennya yang saya suka. Tapi, saya seneng banget ketemu teman-teman yang sangat excited dengan dunia cocok tanam. Seneng ngeliat mereka punya rasa penasaran yang tinggi soal berkebun. Bayangin, ini Minggu loh. Mereka rela melewatkan hari Minggu dengan berkebun yang seharusnya hari yang pas banget buat tidur atau sekedar manyun di kamar. Hehe.

Yang seru dari berkebun, adalah foto-fotonya. Foto-foto dengan back (fore) ground tanaman itu cool, loh. Sayangnya, berkebun kali ini, saya dalam misi kerjaan. Jadi, ga bisa puas foto-foto. Teman-teman Indonesia Berkebun yang lain? Puas bangett, pasti.

Ngobrol-ngobrol sama Bu Ida, saya jadi tau, kalau berkebun, ternyata ga senjelimet itu. Sederhana banget. Tebar-tebar bibit aja (karena saya part teori di kelas kali ya?) Dan bisa dilakukan di mana aja, tanpa perlu punya lahan atau pekarangan luas di rumah. Tanam satu dua bibit, lumayan banget loh, untuk mengurangi bajet belanja bulanan. Ibu rumah tangga banget ga si, pembahasan saya. Padahal aslinya, saya jauh dari sosok rumah tangga itu. Ya, begimana. Saya salah satu makhluk Jakarta, yang kesehariannya pergi pagi pulang malem. Kalau pun berangkat siangan dikit, paginya saya habiskan untuk tidur, makan nasi uduk, atau nyetel TV.

Bu Ida, gencar. Bahwa berkebun itu juga bisa dilakukan di perkotaan. Ga melulu, berkebun cuma jadi aktivitas di kampung-kampung. Dan berkebun ini, organik. Jelas lebih sehat. Berhubung, saya adalah salah satu orang yang bergaya hidup tidak sehat, saya seneng, untuk tau hal-hal yang berhubungan dengan hidup sehat. Karena mungkin, gaya hidup tidak sehat yang saya jalani sekarang, bisa diminimalisir, sedikit demi sedikit.

Dunia, emang sempit, ya. Ternyata punya ternyata, Ketua Indonesia Berkebun ini adalah dosen saya sendiri, Pak Achmad Marendes, bukan dosen IPB, tapi London School (pascasarjana yang sedang saya ambil saat ini). Wkwkwkwk, makin malu hati buat kasih tau, kalau saya sebenarnya sarjana pertanian, karna minim banget (udah lupa) ilmu pertanian. Hallo, Pak.😉

Pulangnya, saya oleh-olehin mama dengan hasil panen hari ini. Seiket bayam dan kangkung. Bikinin cah kangkung ya, ma. (ngarep)

Kapan-kapan. Kapan-kapan. Saya mau punya kebun sendiri di depan kamar. Mungkin bisa dimulai dari punya boot lucu, kali ya. Biar semangat. Loh, tetep ya. Haha.

Yuk, ah. Besok kita lanjut lagi berkebunnya. Mudah-mudahan tambah ilmu. Saya dapat satu lagi ilmu dari berkebun hari ini, apa yang kita tanam, itulah yang kita petik. Ga mungkin kan, nanem bayam, yang dipetik kangkung. Kecuali kangkung punya orang. Itu ga pas. Sama kaya hidup juga, kan? Jadi, bismillah. Saya, mau tanam benih yang baik-baik. Mudah-mudahan bisa petik hasil yang baik pula. Ini berlaku untuk segala urusan, ya. Bye. Bye. Benih jelek. :p

 

 

4 thoughts on “Berkebun, Gak Ya?

  1. pengen liat kebunnya Dinna deh. Hehehe😀
    btw, komunitas berkebun itu kayanya lagi hits banget ya. Di Semarang juga. Tp aku belum pernah ikutan, kayanya seru, ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s