How?

How can I leave you?

Changing my phone number which I published?
No reply your short message?
No more subscription blackberry messenger?
Did not answer your telephone?
Or even close all the account numbers that I have?

I’m lost for words

Advertisements

Terlalu

Orang tua bilang, sesuatu yang terlalu itu gak baik. Lalu, saya memilih untuk mengungkapkannya liwat postingan di sini. Ya, tempat yang selalu bersedia menampung apa saja yang ada dalam kepala saya. Yang baca, bebas berkomentar dan berasumsi melalui pikirannya sendiri.

Karena waktu yang kita habiskan bersama itu sudah terlalu, dan tak ada titik terang. Lalu, kita memilih untuk bertahan dengan kenyamanan yang ada. Tapi, kita pun sudah tau, bahkan mungkin dari awal, kalau ini hanya bom waktu.

Hati ini mungkin bukan yang baik buat kita. Karena jika baik, mungkin saya tak akan bergeser untuk jahat. Begitu juga kamu. Ya, kita. Semuanya ini terlalu. Bahkan terlalu sulit untuk diceritakan. Saya pun memilih untuk diam dengan segala pikiran yang ada.

Terlalu ada. Dan selalu. Itu yang membuat kita sulit maju. Membuka lembaran baru. Membayangkannya, kita pun menjadi terlalu takut.

Saya, juga gak pernah tau. Apa ini benar atau salah. Tapi, ini memang buat kamu. Serius. Yang kita tau, bahwa besok akan ada cerita berbeda. Buat kamu.

Pertanyaannya apakah kita mampu? Tidak ada aturan keras yang berlaku.

Untuk semua yang telah dilewati, tak ada satu detik pun yang tak berharga. Semua tau, saya gak pernah seberani ini. Tapi, ini bukan pilihan. Tapi harus. Berapa besar hati punya nurani?

Pagi ini, senyum dan air mata. Jabat erat tanganku. Kita berdamai, dengan yang mereka mau. Selalu ada, tapi jangan terlalu.

Bismillah.

Batu, Ujian Cinta

Nyolong dari blog nya temen nih, suka banget postingannya. 😉

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna?

Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?
Pertama, Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.

Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan. Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku?

Jika kalian merencanakan sesuatu, adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain?

Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, “Mereka yang ingin bahagia sendiri, janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia. mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, janganlah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya.”

Maka batu ujian yang pertama ialah:

“Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?”

Kedua, Ujian kekuatan.

Saya pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana, bahwa berat badan seseorang akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta.

Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya, dia tidak kehilangan berat badannya dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang benar, bahwa pengalaman cinta itu juga bisa mempengaruhi keadaan jasmani.

Tapi dalam jangka panjang cinta sejati tidak akan menghilangkan kekuatan kalian; bahkan sebaliknya akan memberikan kekuatan dan tenaga baru pada kalian. Cinta akan memenuhi kalian dengan kegembiraan serta membuat kalian kreaktif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi.

Batu ujian kedua :

“Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan tenaga kreaktif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga kita?”

Ketiga, Ujian penghargaan.

Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang lain. Seorang gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?”, jawabnya sering sekali menjadi negatif.

Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak-anakku?”, gadis tadi mungkin akan berubah dalam pandangannya.

Pertanyaannya ialah: “Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan yang tinggi satu kepada yang lainnya? Apa aku bangga atas pasanganku?”

Keempat, Ujian kebiasaan.

Pada suatu hari seorang gadis Eropa yang sudah bertunangan datang pada saya. Dia sangat risau, “Aku sangat mencintai tunanganku,” katanya, “tapi aku tak tahan caranya dia makan apel.” Gelak tawa penuh pengertian memenuhi ruangan.

“Cinta menerima orang lain bersama dengan kebiasaannya. Jangan kawin berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa kebiasaan-kebiasaan itu akan berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar itu takkan terjadi. Kalian harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya beserta segala kebiasaan dan kekurangannya.

Pertanyaannya:

“Apakah kita hanya saling mencintai atau juga saling menyukai?”

Kelima, Ujian pertengkaran.

Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin kawin, saya selalu menanyakan mereka, apakah mereka pernah sesekali benar-benar bertengkar – tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil, tetapi benar-benar bagaikan berperang.

Seringkali mereka menjawab, “Ah, belum pernah, pak, kami saling mencintai.” Saya katakan kepada mereka, “Bertengkarlah dahulu – barulah akan kukawinkan kalian.” Persoalannya tentulah, bukan pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling berdamai lagi.

Kemampuan ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks, tapi batu ujian pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang “dibutuhkan” sebelum kawin.

Pertanyaannya:

“Bisakah kita saling memaafkan dan saling mengalah?”

Keenam, Ujian waktu.

Sepasang muda mudi datang kepada saya untuk dikawinkan. “Sudah berapa lama kalian saling mencintai?” Tanya saya. “Sudah tiga, hampir empat minggu,” jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya minimum satu tahun bolehlah. Dua tahun lebih baik lagi.

Ada baiknya untuk saling bertemu, bukan saja pada hari-hari libur atau hari minggu dengan berpakaian rapih, tapi juga pada saat bekerja di dalam hidup sehari-hari, waktu belum rapi, atau cukur, masih mengenakan kaos oblong, belum cuci muka, rambut masih awut-awutan, dalam suasana yang tegang atau berbahaya. Ada suatu peribahasa kuno, “Jangan kawin sebelum mengalami musim panas dan musim dingin bersama dengan pasanganmu.”

Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu, sang waktu akan memberi kepastian. Tanyakan: “Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim dingin? Sudah cukup lamakah kita saling mengenal?”

Dan izinkan saya memberikan suatu kesimpulan yang gamblang. Seks bukan batu ujian bagi cinta. “Jika sepasang muda mudi ingin punya hubungan seksual untuk mengetahui apakah mereka saling mencintai, perlu ditanyakan pada mereka, “Demikian kecilnya cinta kalian?”

Jika kedua-duanya berpikir, “Nanti malam kita mesti melakukan seks – kalau tidak pasanganku akan mengira bahwa aku tidak mencintai dia atau bahwa dia tidak mencintai aku,” maka rasa takut akan kemungkinan gagal sudah cukup menghalau keberhasilan percobaan itu.

Seks bukan suatu batu ujian bagi cinta, sebab seks akan musnah saat diuji. Cobalah adakan observasi atas diri saudara sendiri pada waktu saudara pergi tidur. Saudara mengobservasi diri sendiri, kemudian tidak bisa tidur. Atau saudara tidur, kemudian tidak lagi bisa mengobservasi diri sendiri.

Sama benar halnya dengan seks sebagai suatu batu ujian untuk cinta. Saudara menguji, sesudah itu tidak lagi mau mencintai. Atau saudara mencintai, kemudian tidak menguji. Untuk kepentingan cinta itu sendiri, cinta perlu mengekang menyatakan dirinya secara jasmaniah sampai bisa dimasukkan ke dalam dinamika segitiga perkawinan.

— SUMBER : “JODOHKU”, oleh Walter Trobisch Beberapa dari Batu Ujian

ini dikutip Trobisch dari buku “LOVE AND THE FACTS OF LIFE” oleh Evelyn Duvall.

Posted in Oh

Banyak Cara untuk Sebuah Selamat Tinggal

Ada banyak cara, untuk meninggalkan sesuatu atau seseorang yang selama ini selalu ada. Sebut saja, cara untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’

Tidak ada yang menyenangkan dari meninggalkan sesuatu yang selama ini menjadi kebiasaan. Dan, toh, membuat hari-hari menjadi menyenangkan. Tapi, kadang, ada yang harus. Mau gak mau.

Dan ini mungkin. Sedang saya, atau kamu alami. Bertahan dengan sebuah awal ‘Selamat Tinggal’. Tidak selamanya, ‘Selamat Tinggal’ itu menyisakan sedih atau sakit. Bisa jadi, itu baik. Kebersamaan selama ini, adalah pengalaman berharga yang digariskan. Tak ada yang lebih mampu menguatkan selain ikhlas.

Banyak cara. Mungkin dengan diam dan bertahan. Atau tidak mau tau. Bisa juga dengan membuang, dibuang, atau terbuang. Ya, apa saja bisa.

Sekarang, ‘Selamat Tinggal’ itu sebenarnya untuk siapa? Atau untuk apa?

Baru-baru ini, saya punya satu cara ‘Selamat Tinggal’ untuk beberapa personel isi lemari. Yang, jujur sejujurnya adalah barang-barang kesayangan. Sebagian orang, menyortir, dipaketin, kemudian disumbangin. Berhubung, saya punya sedikit semangat, saya mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ itu dengan menyelenggarakan GARAGE SALE.

Minggu pagi, saya buka garasi mobil, menempatkan semua barang-barang lucu itu, kemudian di jual. Dengan harga sangat miring. Pembelinya gak tanggung tanggung ramainya. Senang dan semangat bergemuruh pagi itu. Tawar menawar pun alot. Harganya ditawar, se tawar-tawarnya. Pun, semangat saya gak ada itung-itungan. Lupa, kalau dulu barang-barang itu dibeli dari rupiah yang tidak sedikit.

Tapi, toh niat saya dari awal, sudah bulat. Saya harus mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada isi lemari yang udah membludak itu. Rasanya puas, bisa membuat pembeli puas karena dapat baju-baju, tas, atau sepatu dengan harga yang mereka inginkan. Selintas, ketika deal tawar menawar itu terjadi, ada rasa tidak rela. Tapi, itu harus. Usai garage sale, saya menghitung rupiah. Hasilnya? Tak seberapa, padahal banyak BANGET yang terjual. Dan detik itu, saya sudah mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ untuk barang-barang kesayangan itu. Senang, karena lemari kembali lengang. Siap diisi dengan yang baru? *mikir*

Bagaimana dengan ‘Selamat Tinggal’ yang lain? Ya, ada juga cara yang lebih sederhana. Sesederhana, oke, bye! Gitu. Ya, gitu aja. Sekian.

Terus, sekarang? ‘Selamat Tinggal’ yang gimana? Yang ribetan dikit?

 

Posted in Oh

Rumah. Untuk Pulang.

Tidak semua orang seberuntung kita. Punya tempat tinggal, atau rumah, untuk pulang. Bukan tidak mungkin, sebagian kita justru tidak tau, ke mana harus pulang. Bukan selalu karena mereka tidak punya dinding dan atap tempat berteduh. Tapi, hanya karena mereka tak merasakan itu sebagai rumah. Tempat manusia mengakhiri setiap hari dan kesibukannya.

Hari ini, saya pulang. Ke rumah. Apa pun alasannya, saya tetap pulang ke rumah.

Hidup di kota besar dengan segala permasalahannya, membuat kita punya sejuta alasan untuk tidak pulang ke rumah. Entah karena jalanan yang macet, aktivitas yang padat, atau hari esok yang harus dimulai lebih awal. Apalagi, kalau lokasi rumah itu jauhnya ampun-ampunan (dan macet sepanjang hari).

Mungkin, saya termasuk salah satu yang mengalaminya. Jarang pulang ke rumah. Sejak lulus kuliah, saya terbiasa tinggal sendiri. Terpaksa, karena kuliahnya geser sedikit dari ibukota. Kemudian, setelah lulus, saya jadi ketagihan tinggal sendiri. Mengurus semua-muanya sendiri. Rumah, saya rasakan sebagai daerah pengasingan yang membuat saya terkekang. Itu, dulu. *lebay dikit* Dan seriusan, bukan cuma saya yang mengalami ini. Ada yang secara terpaksa, dipaksa, atau tak ada paksaan, memilih untuk tinggal sendiri. Tidak di rumah bersama keluarga.

Sampai akhirnya, beberapa bulan belakangan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Ya, rumah itu. Dengan segala kekurangannya. Lalu, dengan segala pertimbangan ini itu, saya bersyukur, karena masih punya kesempatan untuk pulang ke rumah.

Alasan yang paling kuat adalah, mama. Dulu, mama ada Imim dan Berel (bukan nama sebenarnya) yang menemaninya, yang siap antar-antar atau jaga-jaga ke mana mama pergi. Sekarang, Imim udah nikah dan ikut suaminya ke daerah Indonesia Timur sana. Berel? Mengemban tugas di daerah barat pulau Jawa (saya pun ga tau di mana). Saya, menjadi harapan satu-satunya. (Pede, diminta pulang).

Dan hari ini Jakarta hujan deras. Hebat. Rumah banjir. Orang rumah ngungsi. Saya? Masih terjebak di jalanan ibu kota. Mau ke mana? Saya tetap pulang. Ke rumah. Bukan untuk pertama kalinya, daerah perumahan saya ini banjir. Sejak sebelah kanan kiri rumah rumah saya membangun rumah mewah, rumah saya jadi korban paling apes kalo hujan deras tiba.

Gelap dan tergenang. Saya gulung sedikit celana panjang bekas pulang kantor itu. Walaupun saya udah tau, pasti akan basah juga. Oke, banjirnya gak begitu tinggi. Tak bisa lagi saya menghiraukan sepatu lucu yang sedang saya pakai. Sudahlah, relakan saja. Gak mau membayangkan yang aneh-aneh, kira-kira 200 langkah saja. Saya sampai ke rumah. Menyusuri genangan air di kala banjir begitu, saya jadi ingat kalau dulu pas pramuka ada kegiatan menyusur sungai. Hihi. Jalanan depan rumah persis sungai. Makin dekat rumah, genangan air makin dalam.

Alhamdulillah, saya sampai rumah. Dan kering. Air tak sampai masuk ke dalam rumah. Rumah? Sepi. Mmmhh, sepertinya dari sekian banyak anggota keluarga saya, saya satu-satunya orang yang segitu niatnya untuk pulang ke rumah.

Ya, karena rumah, untuk pulang.

Then, How Muc I Miss My #Joglo Team.