Rumah. Untuk Pulang.

Tidak semua orang seberuntung kita. Punya tempat tinggal, atau rumah, untuk pulang. Bukan tidak mungkin, sebagian kita justru tidak tau, ke mana harus pulang. Bukan selalu karena mereka tidak punya dinding dan atap tempat berteduh. Tapi, hanya karena mereka tak merasakan itu sebagai rumah. Tempat manusia mengakhiri setiap hari dan kesibukannya.

Hari ini, saya pulang. Ke rumah. Apa pun alasannya, saya tetap pulang ke rumah.

Hidup di kota besar dengan segala permasalahannya, membuat kita punya sejuta alasan untuk tidak pulang ke rumah. Entah karena jalanan yang macet, aktivitas yang padat, atau hari esok yang harus dimulai lebih awal. Apalagi, kalau lokasi rumah itu jauhnya ampun-ampunan (dan macet sepanjang hari).

Mungkin, saya termasuk salah satu yang mengalaminya. Jarang pulang ke rumah. Sejak lulus kuliah, saya terbiasa tinggal sendiri. Terpaksa, karena kuliahnya geser sedikit dari ibukota. Kemudian, setelah lulus, saya jadi ketagihan tinggal sendiri. Mengurus semua-muanya sendiri. Rumah, saya rasakan sebagai daerah pengasingan yang membuat saya terkekang. Itu, dulu. *lebay dikit* Dan seriusan, bukan cuma saya yang mengalami ini. Ada yang secara terpaksa, dipaksa, atau tak ada paksaan, memilih untuk tinggal sendiri. Tidak di rumah bersama keluarga.

Sampai akhirnya, beberapa bulan belakangan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Ya, rumah itu. Dengan segala kekurangannya. Lalu, dengan segala pertimbangan ini itu, saya bersyukur, karena masih punya kesempatan untuk pulang ke rumah.

Alasan yang paling kuat adalah, mama. Dulu, mama ada Imim dan Berel (bukan nama sebenarnya) yang menemaninya, yang siap antar-antar atau jaga-jaga ke mana mama pergi. Sekarang, Imim udah nikah dan ikut suaminya ke daerah Indonesia Timur sana. Berel? Mengemban tugas di daerah barat pulau Jawa (saya pun ga tau di mana). Saya, menjadi harapan satu-satunya. (Pede, diminta pulang).

Dan hari ini Jakarta hujan deras. Hebat. Rumah banjir. Orang rumah ngungsi. Saya? Masih terjebak di jalanan ibu kota. Mau ke mana? Saya tetap pulang. Ke rumah. Bukan untuk pertama kalinya, daerah perumahan saya ini banjir. Sejak sebelah kanan kiri rumah rumah saya membangun rumah mewah, rumah saya jadi korban paling apes kalo hujan deras tiba.

Gelap dan tergenang. Saya gulung sedikit celana panjang bekas pulang kantor itu. Walaupun saya udah tau, pasti akan basah juga. Oke, banjirnya gak begitu tinggi. Tak bisa lagi saya menghiraukan sepatu lucu yang sedang saya pakai. Sudahlah, relakan saja. Gak mau membayangkan yang aneh-aneh, kira-kira 200 langkah saja. Saya sampai ke rumah. Menyusuri genangan air di kala banjir begitu, saya jadi ingat kalau dulu pas pramuka ada kegiatan menyusur sungai. Hihi. Jalanan depan rumah persis sungai. Makin dekat rumah, genangan air makin dalam.

Alhamdulillah, saya sampai rumah. Dan kering. Air tak sampai masuk ke dalam rumah. Rumah? Sepi. Mmmhh, sepertinya dari sekian banyak anggota keluarga saya, saya satu-satunya orang yang segitu niatnya untuk pulang ke rumah.

Ya, karena rumah, untuk pulang.

Then, How Muc I Miss My #Joglo Team. 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s