Balasan

Saya jadi ingat, waktu kecil dulu. Kadang, sempet iri juga sii, kalau liat teman-teman sebaya jadi juara kelas, trus dapat hadiah. Ada yang dapat sepeda baru, komik, atau diajak liburan. Saya? Hampir tidak pernah. Dulu, mau juara kelas kek, enggak kek, kayanya sama-sama aja. Kadang, orang tua teman saya nanya, ‘Dapat hadiah apa dari papa?’ Saya mau bilang apa? Gak ada.

Ya, ga seburuk itu juga. Bukannya saya gak pernah dikasih hadiah atau diajak jalan-jalan sama orangtua. Tapi, yang jelas itu bukan sebagai hadiah saya juara kelas. Kalau dipikir-pikir sekarang? Mungkin ada baik nya juga. Semacam pelajaran yang gak dimengerti oleh anak-anak seumuran saya kala itu.

Tapi, kebiasaan seperti itu bikin saya ngerti sekarang. Bahwa, usaha untuk sebuah prestasi bukan didapat demi sebuah pamrih atau balasan. Hingga sekarang, saya gak pernah merasa harus melakukan sesuatu, demi sebuah hadiah. Hampir tidak pernah saya termotivasi dengan iming-iming semacam itu. Ada baiknya ada enggaknya sii. Tapi, bagusan kita belajar dari yang baiknya aja. Melakukan sesuatu, lebih karena adanya tanggung jawab. Segitu aja.

Ya, motivasi, sebenarnya perlu banget yaa. Misalnya motivasi pengen lulus kuliah atau bagus di kerjaan, biar dapet ini atau itu. Tapi, heran. Saya kok gak bisa kaya gitu. Melakukan sesuatu atas dasar itu bikin saya pusing-pusing kepala. Mmmh, terkesan saya bukan orang yang ambisius banget gak sii. Saya memilih untuk menikmati saja. Menikmati masa-masa (gak) indah kaya gini.

Agak naif, kalau menganggap semua akan indah pada waktunya. Tapi kapan? Begimana ya. Begimana ini. Saya galau segalau-galaunya. Ya, persis! Thesis!

Advertisements

E.TI.KA

Widiww, gaya bener yaa, ngomongin etika. Ya, suka ga suka kita emang ga bisa lepas dari yang namanya etika. Kalau mau hidup suka-suka, yaa, kayanya asik banget yaa. Tapi, hidup begitu kan ga disuka orang lain. Bagi kita mungkin menyenangkan, bagi orang lain? Bisa jadi ganggu banget. Kalau mau jadi orang baik, ya, kita harus pelan-pelan ber-etika sedikit. Ya, seperti saya ini yang punya etika cuma sedikit. Tapi setidaknya punya, kan. Hehe.

Etika Berkendara

Hampir setiap pagi, kita menghadapi jalanan Jakarta, bikin kita harus tarik nafas lebih dalam, biar sabar. Ya, kenyataannya masalah kemacetan adalah masalah yang belum ketemu titik terangnya. Tapi, ya, mau gimana lagi toh, kita tetap menghadapinya. Mau gak mau. Ada baiknya, di antrian panjang kemacetan itu, kita gak perlu berisik klakson. Gak akan ada perubahan signifikan juga. Jalanan  akan tetap padat merayap, kendaraan lain ga akan serta merta terbang, atau minggir kasih kita jalan. Karena kita semua punya kepentingan. Sama-sama penting untuk cepet sampai di tempat tujuan. Bunyi klakson cuma bikin kesel pengendara yang ada di depannya. Ya, ga sih? Ada lagi nih, di jalan, seringkali saya menemukan pengendara sepeda motor, yang bawa motor ugal-ugalan, ga pake helm, ga pake lampu, malam pula. Nyess! Ini jelas membahayakan pengendara motor itu sendiri dan pengguna jalan lain. Jadi? Beretika dikit aja yuk, selama berkendara.

Etika Buang Sampah

Buanglah sampah pada tempatnya. Ya sesederhana itu. Di beberapa tempat, saya pun mengalami kesulitan untuk menemukan tempat sampah. Tapi, buang sampah sembarangan, itu bukan pilihan. Tempat kita berpijak ini udah cukup kotor tanpa harus ditambah kotor dengan sampah. Hehe. Satu hari, saya pernah liat di jalan, sebuah mobil mewah, dengan seorang pemuda tampan yang sedang mengendarainya, buka kaca. Jenuh dengan kepadatan lalu lintas, gak ada salahnya saya liat kanan kiri, biar pemandangan segar dikit. Gak lama, dia buang kaleng minuman bersoda. Ngok! Manyun berat. Duh, cakep dan tajir, tapi kok ga beretika. Sayang banget. Mana yang dibuang kaleng pula.

Etika Ber-twitter

Siapa yang masih keranjingan dengan twitter. Ya, saya salah satunya. Dan sebagian besar dari kita. Bukan soal apa-apa yang tidak baik buat diomongin di twitter yang mau saya bicarakan di sini. Karena, selain itu udah lazim terjadi, biasanya, kalau ga suka, kita tinggal un-follow. Tapi, un-follow pun tetap ada etikanya. Ada beberapa dari kita yang haus follower. Sehingga, sedikit sekali follow orang, tapi follower kudu banyak. Ya, itu normal sih. Saya, adalah salah satu orang yang pilih-pilih kalau mau following. Jika tidak terlalu mendesak, saya gak follow, karena nantinya hanya akan memenuhi timeline dengan info-info ga penting atau yang malah membawa ke mudharat-an. Tapi, sembarang un-follow bisa jadi akan merusak hubungan baik yang terjadi di dunia nyata. Memang ada benarnya, un-follow bukan berarti gak berteman. Tapi, kalau ga mendesak banget, lebih baik ga usah un-follow. Di kehidupan nyata, sebagian bisa jadi bertanya-tanya, kenapa ya, itu orang ga follow saya lagi? Ya ini, edisi khusus bagi mereka yang sangat aware terhadap follower nya. Lalu, hubungan pun menjadi gak enak. Dalam keseharian. Bukan gak pernah ngalamin, yang namanya pengen un-follow orang, tapi mengingat saya masih berminat untuk punya hubungan baik dengan si pemilik akun, saya membatalkan niat un-follow itu. Jika ga tertarik dengan update tweet nya, saya dengan sederhana meliwatinya, turun scroll ke bawah dan ga baca. Ya, begitu saja. Gitu aja sii, etika nya. Etika ber-twitter ini sebenernya ga penting-penting banget juga kok. Wkwkwk.

Etika Cari Muka

Cari muka mungkin annoying bagi banyak orang. Bagi saya? Sebenarnya sah-sah aja. Walaupun jujur, saya paling ga bisa yang namanya cari muka, tapi saya masih maklum banget sama orang-orang yang suka banget cari muka. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menarik perhatian publik, atau pihak tertentu. Saya, memilih untuk menarik perhatian dengan cara mmmh, mungkin diam. Nah, soal etika cari muka ya, yang penting ga merugikan orang lain. Kadang, kalau kebablasan cari muka jadi keterlaluan. Yang jadinya malah menjatuhkan orang lain. Entah itu dengan fitnah, atau penciteraan berlebihan yang menjatuhkan citera orang lain. Itu, menurut saya gak keren. Dan tentu saja gak beretika.

Etika Merokok

Huh! Asap rokok memang kian menganggu. Dimana-mana asap rokok. Bikin sesek nafas bagi sebagian orang. Ya, karena itulah sekarang gencar dimana-mana larangan merokok. Dalam gedung, udah ga boleh lagi merokok. Banyak kafe atau restoran yang udah ga punya lagi smoking area. Begitu pula, mall. Udah sulit ditemukan tempat khusus untuk orang-orang merokok. Entah benar atau tidak, merokok memang lebih banyak ga bagus nya. Tapi, ya sudahlah. Merokok itu pilihan. Dan kebiasaan. Ngomong-ngomong soal etika, merokok sesederhana dengan buang sampah. Ya, merokok pada tempatnya. Bagi mereka yang secara mau gak mau atau sengaja berada di tempat merokok, mau gak mau harus menerima. Satu pagi, di sebuah coffeeshop yang semuanya smoking area, saya melihat seorang mbak-mbak, menutup hidungnya, mungkin dia merasa sesak. Kemudian, karna tidak tahan, ia menegor salah satu pengunjung yang sedang merokok di sana, untuk menjaga asapnya. Nah, lo. Ini juga soal etika. Perokok pun punya kebebasan. Kalau memang tidak suka, bisa pilih tempat lain yang bebas asap rokok bukan? Seyakin demi yakin, perokok itu gak bermaksud untuk menganggu kebebasan orang lain untuk menghirup udara segar. Si perokok sudah memilih tempat yang memang bebas untuk merokok. Jadi? Ya, mungkin gitu kali ya, etikanya. 🙂

Jadi? Begimana yak? Beretika apa enggak nih. Ya gitu gitu aja siii.

Posted in Oh

Pembelaan Demi Rasa Sayang

Mungkin rasa sayang yang saya punya ini berlebihan. Tapi, rasa apa lagi yang bisa saya bagi untuk belahan jiwa saya  satu-satunya itu. Saya, mulai gak tega mendengar setiap kalimat yang diucapkannya dengan air mata itu. 

Kalau saya berhak untuk marah, mungkin saya akan.

Kejadian demi kejadian mulai membuat saya berpikir. Heran. Mereka lahir dari planet mana. Karena adanya, saya tidak punya hak, dan kemarahan hanya akan menimbulkan masalah baru. Jadi, saya putuskan untuk marah di postingan saja. Ya, anggap saja postingan yang ini bernasib apes ya. 😉

Bukan tidak pernah tau. Saya bahkan pernah terjun langsung dalam dunia itu. Meski hanya sekedarnya.

Cuma saja, saya pengen banget tau. Apa mereka memang tidak punya hati, atau pikiran? Rasanya kok tidak mungkin ya. 

Tidak adakah yang memahami bagaimana rasanya menjadi ibu yang sedang hamil tua. Dengan kemampuan fisik terbatas atau hati yang luar biasa sensitif? Saya, mungkin tidak paham, karena tidak merasakannya. Oke lah, bagaimana kalau kita tidak menjadikan istilah kehamilan sebagai alasan. Ya, berlaku saja sebagai manusia yang punya adab, punya otak, dan punya hati nurani.

Berhubung, saya tidak pernah berada di posisi itu, maka demi maka, saya cuma pengen tau, bagaimana rasanya menjadi di atas? Apakah perlu kesombongan dan kesemena-menaan. Kalau memang harus, maka, saya gak akan merasa perlu untuk berada di atas. Karena saya tau gak enaknya berhadapan dengan orang sombong dan semena-mena. 

Kalau saja saya bisa dan mampu, saya akan bawa dia ke sini. Dengan kehidupan saya yang sederhana ini, berhadapan dengan orang-orang yang tak peduli dan sibuk dengan kehidupannya masing-masing mungkin jauh lebih beradab. 

Bingung dengan protokoler di sana yang entah untuk apa. Ya, rasanya kehidupan otoriter udah gak pantas lagi di terapkan di jaman yang penuh ide, kreasi, dan inovasi ini. Sini, sini, satu satu kita diskusi dengan hati yang dingin dan pikiran yang bijak.

Apakah mereka tidak ingin bahagia bersama, sebelum pada akhirnya, kita pun akan kembali ke akhir dengan posisi yang sama. Saat dimana hanya pahala lah yang mampu berbicara. Dan dosa yang meluruhkannya.

Ah, saya hanya mampu untuk bilang. Sudahlah tidur saja. Kenapa pusing, si. Dear you, My soulmate. #iWish

 

 

Posted in Uncategorized

Percaya

Kalau kamu mau sedikit saja percaya.

Bahwa, aku bukan meninggalkanmu. Aku hanya meninggalkan apa-apa yang tidak baik.

Untuk kamu. Untuk kita.

Jika, sebuah kata bohong akan meluruhkan satu kepercayaan. aku mau kamu percaya satu hal. Bahwa bukan mudah, untuk menahan rindu. Menahan sakit. Dan menjaga satu prinsip yang sedang aku rintis.

Bohong, jika aku tak mampu memaafkan segala hal yang jahat itu. Di balik semua yang tidak baik, entah waktu belum juga mampu mengobati, ini bukan mauku.

Aku. Melihat kamu. Dan yakin kamu mampu. Menahan rindu.

Dengan nama Allah.

—  satu ketakutan

Kado ke Tiga Puluh untuk Artur

Weekdays kemaren luar biasa banget. Tujuh hari kerja ga libur-libur cukup bikin kepala panas. Mmhh, sebagian?Mungkin biasa yaa. Tapi saya menutup hari ke tujuh dengan membaca sebuah buku berjudul Inspiring One ditulis oleh Muhaimin Iqbal. Kalau saya punya cita-cita untuk jadi seorang entrepreneur, saya gak boleh ngeluh. Karena? Bahkan entrepreneur ga akan pernah berhenti bekerja.

Oke. Tujuh hari kerja itu biasa. Hehe.

Saya sempet keribetan sendiri, mencari-cari tayangan yang udah sangat deadline harus tayang. Beberapa narasumber yang udah fixed diliput, cancel. Saya, harus mencari narasumber lain, secepat kilat, jangan sampe telat.

Ketar ketir setengah panik. Begitulah saya menghadapi pekan lalu. Tapi, hikmahnya luar biasa. Kalau tidak ada peng-cancel-an seperti itu mungkin saya tidak akan bertemu dengan narasumber ini.

Si narasumber penuh pesona.

Saya gak bisa menutupi rasa kagum saya. Bagi yang lain mungkin biasa, tapi, ya, sejujurnya saya kagum. Entah harus berbagi dengan siapa lagi, kawatir membuat kekasih hati cemburu setengah mati, atau sahabat saya berpikir bahwa saya jatuh cinta lagi? Baiknya, saya berbagi di sini saja ya. 😉

Saya dapat nomor kontaknya dari seorang sahabat lama. Dia kasih saya beberapa nomor memang, mungkin ada beberapa narasumber yang bisa jadi referensi liputan. Dia bilang, “Din, ada seorang bekas pengamen jalanan yang ga ngambil job kalau ada jadwal pengajian” Tanpa pikir panjang, berhubung esok hari juga harus taping, saya langsung kontak nomor itu.

Dengan suara khas ala-ala pengamen, Artur menjawab telepon saya. Alhamdulillah, Artur ramah meski ala-ala preman. Hehe. Dengan sedikit memaksa, saya ingin meliput dia untuk keesokan harinya. Sempat protes karena dadakan, tapi saya menjanjikan bahwa liputan ini sekadar untuk meliput kesehariannya. Jadi persiapannya jangan sampai merepotkan.

Jam demi jam, saat-saat saya harus persiapan naskah kasar untuk liputan besok, dia sms saya, bahwa salah satu temannya yang se kelompok musik dengannya tidak mau diliput. Saya pun bilang, ya, dia nya aja yang ga usah kalau ga mau. Hehe. Kejam memang, tapi ayolah Mas. Saya dan tim tidak punya waktu lagi. *memohon dengan sangat*

Alhamdulillah, seribu lobi, Artur mau juga diliput. Keesokan harinya, kita ke rumah Artur.

Masih menunggu teman-temannya untuk latihan musik bareng, saya ngobrol-ngobrol dengan Artur dan ibunya. Ah, kalau saya bisa cerita semua bener-bener seru. Tapi, kehidupan pribadi orang lain, mungkin bukan konsumsi publik yaa. Bisa-bisa Artur komplen ke saya kalau kehidupan pribadinya tiba-tiba muncul di postingan saya ini.

Intinya, salut dengan kehidupan Artur. Coba deh, liat sosoknya. Gak beda dengan sosok pengamen jalanan lain. Yang bikin beda, ya, bahwa ia tidak pernah meninggalkan segala kepentingan ibadah. 4 kali dalam seminggu jadwal pengajian, tidak mau dia tinggalkan. Jika ada panggilan, dia rela menolak. Baginya, rejeki tidak akan ke mana. Ibadah dan menuntut ilmu agama tetap nomor satu. Dan ini bukan gimmick yang sengaja di-setting.

Ah, taping pun dimulai. Scene pertama, Artur dan teman-temannya latihan. Membawakan satu lagu. Haha, bak penggemar bertemu idolanya, saya pun tak bisa berpaling. Asli, suaranya keren banget. Mereka membawa musik akustik bernuansa latin. Hari itu, saya memutuskan untuk jatuh cinta dengan musik latin. Seriusan keren banget.

Berdialog dengan Artur, membuat saya banyak sekali belajar. Tentang kerja keras, hidup sederhana, dan ikhlas. Juga, soal keseimbangan di dunia dan akhirat.

Ah, saya tak mau melulu membuat Artur besar kepala nihh, yang pasti liputan kali ini, sesuatu ya. Teman-temannya Mas Artur juga ga kalah pesona. Kalau mereka udah main alat musiknya masing-masing, mendadak jadi keren semua. Hihi.

Anyway, makasih atas kerja samanya Artur, Joy, Jian dan Penjol. Selamat ulang tahun Mas Artur, sukses terus ya! Jangan lupa nonton hasil tayangannya ya di acara Di Antara Kita, Senin, 18 Juni 2012 jam 15:00, di MNCTV.

Kepentingan

Hidup dengan kepentingan. Begitulah memang. Sehingga, banyak orang-orang yang menjalani hidup ini dengan kepentingannya masing-masing yang pastinya berbeda pula. Kepentingan diri kita sendiri, jelas penting. Kepentingan orang lain? Kadang ga penting bagi kita.

Tapi, kita hidup bersama orang lain, begitulah seharusnya. Kepentingan orang lain mungkin terpaksa menjadi kepentingan juga bagi kita. Dan sebaliknya. Hanya saja, sedikit kita harus memilah-milah. Bagaimana berbagi kepentingan itu.

Pagi ini, satu cerita tentang kepentingan seseorang. Panjang lebar dia curhat sama saya. Begini kira-kira, kisah pagi si empunya curhat.

“Mba, kita bareng ya berangkatnya pagi ini, aku sekalian mau ke _____ (menyebut nama salah satu mini market)”

“Oke” Kata si empunya curhatan pagi ini yang sehari-hari berangkat ke tempat kerjanya.

Beberapa saat. Si tante yang ngajak bareng, nanyain kenapa dia belum siap juga. Dan berkomentar.

“Lama banget sih!” Dengan sedikit kesal.

Kalau kita lihat, mungkin memang bikin kesal jika si empunya curhat ini, yang minta bareng, kemudian telat, atau dengan alasan entah itu apa, malah lelet. Tapi, kemudian dengan panjang lebar si empunya curhat bercerita pada saya. Bahwa pada kenyataannya dia gak minta bareng si tante, toh? Dia merasa punya kepentingan sendiri, kenapa dia terlambat. Sebisa mungkin dia tidak merepotkan orang lain, di tengah hamil tua nya itu. Dia butuh waktu, karna dia tak bisa terlalu cekatan dengan kondisinya saat ini. Toh, sehari-hari pun dia merasa tidak perlu bareng si tante hanya untuk berangkat ke tempat kerjanya.

Merasa sedikit tau diri, si empunya curhat bilang.

“Mba, supirnya ga usah jemput di rumah yaa” Berhubung rumah si empunya curhat harus masuk gang yang sempit.

Si tante dengan emosi panjang lebar menanggapi.

“Siapa juga yang pengen jemput kamu sampai depan, sopan banget kamu.” Setengah menyindir, dia suruh supirnya untuk menjemput si empunya curhat sampai depan rumah, sekalian bukain gerbangnya.

Dia kontan kaget. Saya yang biasa hidup di kota Jakarta dengan kehidupan semena-mena seperti itu rasanya pengen bilang dengan sederhana. “Ya, udah ga usah bareng”

Tapi, kenyataannya si empunya curhat hidup di tengah-tengah birokrasi militan. Sebaiknya saya tidak sebut birokrasi macam apa itu. Bahwa, secara mau gak mau, si tante adalah atasan yang tidak bisa dikatakan boleh dikatakan tidak. Ya, karena di sebagian kelompok memang masih ada yang begitu meski gak masuk akal bagi orang macam saya.

Mungkin punya mungkin, yang ada di pikiran si tante adalah “Ini anak, udah ditebengin malah telat. Ga tau diri amat sih”

Tapi, siapa yang minta ditebengin? Itulah pembelaan yang punya curhat.

Jadi, mengapa kita harus bersikap seperti si tante? Ada yang tau alasannya kenapa?

Dalam kehidupan sehari-hari, saya pun bukan tidak pernah mengalami kehidupan seperti itu. Ya, mungkin saya dan si empunya curhat punya pikiran yang setipe. Kebaikan orang lain, kadang terasa sebagai beban bukannya justru malah meringankan.

Mungkin itu satu alasan. Kenapa? Saya lebih senang menghabiskan waktu senggang, sendirian di depan layar. Ditemani kopi dan media sosial seadanya. Seperti saat ini.

Berbagi kepentingan menjadi hal yang susah-susah gampang. Bagaimana dengan berbagi hidup, keseharian, atau masalah? Oh, bahkan saya tidak berani membayangkan.

Bismillah saja untuk menghargai kepentingan orang lain. Dan menjalani kepentingan diri.

Semua Orang Patah Hati

Ngok!

Rasanya cape banget danger cerita patahati dari semua orang. Atau cerita sedih percintaan orang-orang. Entah itu mereka yang sudah menikah, sudah pernah menikah, atau akan menikah. Atau bahkan mereka yang hubungannya gak mengarah untuk menikah. Intinya, toh bukan kita yang menentukan bagaimana masa depan itu akan terjadi. Berusaha, itu satu satunya. Patahati, salah satu kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Segala yang berkaitan dengan patahati ga ada enaknya. Yang ngalamin, yang lihat, bahkan yang sekedar dengerin. Atau yang dibikin patahati, atau yang bikin patahati,

Kita-kita ini mungkin bagian dari yang pernah ngalamin semuanya. Kalau memang bagian dari pengalaman itu, yuk, mari kita menikmati dan mengambil hikmahnya.

Orang punya sejuta alasan untuk bikin pasangannya (atau mantan pasangan) patahati. Intinya, itu tetap menyakitkan. Dan bikin ‘galau’ kalau mengutip istilah yang lagi nge trend sekarang ini.

Semua orang (pernah) patahati.

“Kamu terlalu baik buat aku, kita ga bisa sama-sama lagi. Aku ga bisa bikin kamu sedih terus kaya gini” Salah satu kutipan cerita teman kapan hari. Dan, dia resmi menyandang status jomblo galau yang patahati. Menyakitkan? Tentu saja. Tapi, ya tinggal saja. Toh, cuma waktu yang bisa menjawab apa yang akan terjadi di masa depan.

“Hai, kamu apa kabar? Aku kangen” Kutipan lain, yang saya dengar untuk pasangan yang sudah berpisah. Setelah sebelumnya ngalamin yang namanya belingsatan dengan air mata karena patahati. Masa-masa begini mungkin tidak selamanya harus kita balas dengan ‘pret!’ Siapa tau, si empunya kalimat memang sungguh-sungguh dengan kalimat yang diucapkan. Karena, punya hati atau tidak, perpisahan bukan hal mudah. Manusiawi kalau masih teringat hal hal manis masa lalu. Itu kenapa, ada kata yang disebut ‘kenangan’.

“Kamu sayang aku gak, sedikit?” Ini kalimat dari satu pihak yang ngarep. Tidak berbalas, kemudian patahati deh. Maju terus, maju ke tujuan pertama, atau belok ke tujuan selanjutnya.

“_______________” patahati kadang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tau sama tau? Atau tebak menebak. Ini bisa terjadi, pada hubungan pake hati antar sahabat. Atau hubungan penuh penciteraan. Ketidak jelasan satu sama lain, atau menghargai persahabatan, bikin patahati ga bisa diungkapkan, akhirnya muncul sebagai jerawat. Atau kerutan bawah mata.

Dan semua orang patahati. Boleh tutup kuping? Mending kita jatuh cinta yuk. Tapi, jangan jadi patahati yaa. #iPray

 

Posted in Oh

Koordinasi Tarik Nafas

Waktu terjun di dunia jurnalis, hampir semua bilang, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Di Indonesia, jurnalis belum lagi mendapat upah dengan nominal luar biasa. Tapi, gimana ya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dunia ini. Meski, belum terlalu lama berkecimpung, saya bulat tekad mengatakan bahwa, tidak seratus persen benar. Jurnalis, tidak bisa kaya.

Dan tentu saja, kalimat saya menjadi sangat klise, karna pada hakikatnya, jurnalis tidak bisa kaya materi dari semata upah yang diterima. Itu, hampir pasti bisa dikatakan benar. Sehebat apa pun, tak ada rupiah luar biasa. Tapi, kemudian materi itu ditelaah lagi. Toh, menjadi kaya tidak semata dari jumlahnya. Kalau mau bener, ya, bersyukur dan pintar-pintar, salah satunya. Percaya atau enggak, sebesar apa pun gaji yang diterima setiap bulan, tidak ada kata cukup. Tetap kurang, jika tidak bersyukur. Ya, sudah terbukti nyata, dari kaum pejabat yang ada di negara kita. Tak pernah merasa cukup, perlu membelot sedikit biar dapat lebih. Bagaimana pun, mudah-mudahan saya tidak termasuk orang yang kaya dengan cara seperti itu. Saya, tidak akan melanjutkan postingan saya dengan dosa orang lain. Hehe.

Kaya, bukan dengan materi memang. Tapi, kaya dengan pengalaman. Setiap hari. Selalu ada cerita, kalau mau diceritain satu-satu, kayanya bisa-bisa naskah setengah matang untuk hari ini ga jadi-jadi.

Bertemu banyak orang, memang gak harus jadi jurnalis siih, tapi jurnalis adalah salah satunya. Dan hari ini cukup bikin ngos-ngosan juga. Untuk kordinasi segala tema dan narasumber. Dikejar-kejar deadline, khas banget siih, bikin panik segala panik deh inih.

Kalau mau kapok, kayanya gak lagi deh berurusan dengan yang namanya birokrasi. Hiks, saya gak pernah cocok dengan urusan begitu. Permasalahannya, pernak pernik birokrasi itu beda banget dengan kerjaan beginian yang semuanya harus serba cepat. Ya, kasarnya, kalau nungguin urusan birokrasi sampai minggu depan, keburu basi dong ceritanya. Sementara kebanyakan penonton, sumber informasi pertama ya dari media, salah satunya media TV. Ini tantangannya. Dan serunya.

Hari ini saya nemuin banyak sekali kesulitan. Rasa-rasanya, berharap banget semuanya berjalan lancar, dan mereka ngerti gimana kerja sama ini semata niat baik. Really, program yang saya kerjakan ini dengan berbagai telaah dan pandangan dari banyak sudut, semata untuk kebaikan bersama.

Sambil menunggu, bingung pengen bikin naskah yang mana, jadilah saya mampir sebentar ke sini untuk cerita. Baru saja, saya dapat telp dari pihak instansi rumah sakit. Ceritanya, kita lagi minta izin liputan di sana. Dan, yaa, dengan respon subjektif yang tidak bisa saya terima, mereka minta waktu untuk menelaah liputannya. Waktu selama apa lagi? 10 hari, saya dan tim bersabar, kita ikutin prosedur yang mereka minta, seperti surat izin liputan. Produksi untuk satu episode udah setengah jalan. Paham banget, kalau urusan mereka bukan cuma ngurusin kita-kita jurnalis ini, sihh. Tapi, andai mereka ngerti kalau nasib episode ini tergantung mereka. Dan deadline nya udah lebih deadline, dari thesis saya. Atau deadline usia saya untuk menikah. Wkwkwk. Pagi ini, dengan gampang, mereka bilang ditunda. Oke deh, pak Dokter, goodluck! *ga bisa nahan kesel*

Saya putar kepala untuk tema yang lain. Saya pilih narsum yang ga ada urusan sama segala macam kepentingan instansi dan birokrasi. Orang jalanan, gimana? Dan dari obrolan yang udah cukup asik, salah satu bilang, kalau diliput ga ada keuntungannya buat mereka. Oke. Saya diam sebentar. Bagaimana menjelaskan soal itung-itungan keuntungan? Saya pun mulai menghitung. Tapi, bukan itu yang dimaksud. Niatan tulus semata untuk berbagi ke pemirsa. Kalau bukan kita, siapa lagi? Yaa, apa masih ada ya, orang begini. Bukan perkara rupiahnya. Memang. Andai semua orang berpikiran seperti yang saya harapkan. *makin manyun*

Sebelum tidur semalam, ketika mimpi indah akan dimulai. Telpon, kemudian bilang ‘Mba, Kepala Dinas gak mengizinkan karena dia ga bisa ikutan untuk syuting besok’ kalau mau jujur, ya gapapa juga sii, kepala dinas ga ikut. Karena bukan profil kepala dinas dengan karir dengan program kerja luar biasanya yang mau kita angkat. Tapi sosok sosok inspiratif yang bekerja di bawahnya. Saya menghela nafas. Karena gak bisa dipaksakan.

Toh, memang kita hidup dalam lingkungan seperti ini. Mau ga mau, ya harus nurut. Jadi, begimana nasib liputan besok ya. Berusaha. Berdoa. Bismillah. Ada liputan menarik yang bermurah hati dan berhati mulia ga ya? Ketemu yuk. Kita berbagi 😉

Satu Cerita dari Muara Gembong

Dengan deadline kerjaan yang aut-autan, hari ini kami memutuskan untuk survei ke Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Bekasi? Sepintas kedengaran tidak terlalu jauh. Masih wilayah bekasi. Pasti bisa.

Kilometer, demi kilometer. Belum juga sampai. Siapa sangka, perjalanan menuju Kampung Nelayan di wilayah ini pun, terasa jauh ampun-ampunan. Kalau kata Pak Pengemudi sii, lama perjalanan begini udah bisa sampai Brebes. Wow!

Ya, bener aja. Perlu 5 jam perjalanan untuk sampai ke Muara Gembong, Kabupaten Bekasi ini. Jalanannya? Gak melulu lancar ala-ala jalanan lintas propinsi, tapi kita harus melewati itu yang namanya macet dan jalan grudukan.

Apalagi, mengarah Muara Gembong, jalanan makin ga karuan. Di sebagian sisi terlihat beberapa pekerja yang memperbaiki jalanan. Tapi, belum keliatan perbaikan hasil yang signifikan. Ya, membenahi jalanan seperti ini memang ga gampang. Belum lagi demografi kampungnya yang berada di pinggir laut. Periode waktu ketika bulan penuh, air laut naik memenuhi permukaan darat kampung ini. Jam demi Jam belum juga sampai. Tanya ke sana ke mari, akhirnya saya, ketemu juga Mas Itak. Sang informan. Ternyata, Mas Itak seorang guru Sekolah Dasar di Kampung itu. Sebelum sampai tempat tujuan, kami melewati sekolah tempat Mas Itak mengajar. Ya, memprihatinkan. Sama seperti kampung itu, sekolah pun tak bisa menghindari air laut ketika saatnya naik. Aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung sambil becek-becekan. Mas Itak, bertanggung jawab atas sekitar 70 siswa kelas tiga SD. Ya, satu guru untuk 70 anak. Luar biasa. Padahal kalau dipikir-pikir, di usia muda seperti ini Mas Itak bisa saja mengadu nasib di Ibukota, untuk mendapatkan pengalaman dan pendapatan yang lebih baik. Seperti yang kebanyakan pemuda daerah lakukan di Ibukota. Termasuk saya mungkin. Atau kamu?

Jauh-jauh ke sini, kami gak mau pulang dengan tangan kosong. Mmmh, bukan maksud hati akan borong hasil laut di kampung ini, si. Tapi, ya, kami tetap harus pulang membawa sesuatu. Perjalanan panjang ini untuk menemui seorang ustad. Apa yang beda dari Pak Ustad ini ya?

Berangkat dari Kebon Sirih, Jakarta Pusat jam setengah dua belas siang, kami sampai di Lokasi jam lima sore. Itu, udah termasuk berenti di sebuah warung nasi Padang yang rasanya lumayan, meski ayamnya kecil. hehe.

Mobil parkir di depan sekolah tempat mas Itak mengajar. Saya, Kang Rusdi (rekan kantor), dan Mas Itak berjalan menyusuri Kampung Nelayan itu. Nelayan? karena kebanyakan mata pencarian mereka adalah nelayan. Gak tanggung – tanggung kita menuju rumah Pak Ustad, di ujung Muara Gembong. Sangat ujung, sempat kewalahan juga harus jalan kaki sejauh itu, tapi ya, gak berasa karna kita melewati rumah-rumah warga.

Lahan rumah Pak Ustad Basir cukup luas. Rupanya Pak Ustad sudah menunggu kita dari tadi. Sambutan hangat dari Pak Ustad dan Istri, kami disuguhi makanan ringan seperti kacang dan keripik. Juga kopi susu hangat. Lumayann. jadi ngerepotin, deh. 😉

Sudah 15 tahun Ustad Basir mengabdikan dirinya di ujung Muara Gembong ini. Gagal dari usaha tambak ikannya, Pak Ustad memilih untuk menghabiskan waktunya berbagi ilmu agama kepada anak-anak di Kampung ini yang kebanyakan anak nelayan. Meski tinggal di tepi laut, Pak Ustad tidak lagi berlayar untuk menangkap ikan. Tapi sesekali, ia mengumpulkan ikan yang ditangkap dengan alat serok. Jika hasilnya banyak, ikan dijual ke tengkulak. Jika sedang sedikit, dikonsumsi saja untuk makanan sehari-hari. Hebatnya, Pak Ustad, mampu bertahan hidup, menafkahi kebutuhan istri dan ke lima anaknya, dengan pendapatan rata-rata tujuh ribu sebulan yang didapat dari iuran orangtua dari anak-anak yang diajarnya.

Satu pelajaran untuk perjalanan panjang hari ini. Ikhlas dan bersyukur. Keliling rumah Pak Ustad, kami pun pamit. Usai adzan magrib, kami kembali ke Jakarta. Membawa satu pelajaran berharga. Sisi kehidupan yang gak pernah saya bayangkan sebelumnya. Subhanallah.

Siapin paspor, insyAllah, ke sana lagi. Bikin satu liputan penuh. Mengupas kehidupan Ustad Basir di Ujung Muara Gembong 😉