Koordinasi Tarik Nafas

Waktu terjun di dunia jurnalis, hampir semua bilang, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Di Indonesia, jurnalis belum lagi mendapat upah dengan nominal luar biasa. Tapi, gimana ya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dunia ini. Meski, belum terlalu lama berkecimpung, saya bulat tekad mengatakan bahwa, tidak seratus persen benar. Jurnalis, tidak bisa kaya.

Dan tentu saja, kalimat saya menjadi sangat klise, karna pada hakikatnya, jurnalis tidak bisa kaya materi dari semata upah yang diterima. Itu, hampir pasti bisa dikatakan benar. Sehebat apa pun, tak ada rupiah luar biasa. Tapi, kemudian materi itu ditelaah lagi. Toh, menjadi kaya tidak semata dari jumlahnya. Kalau mau bener, ya, bersyukur dan pintar-pintar, salah satunya. Percaya atau enggak, sebesar apa pun gaji yang diterima setiap bulan, tidak ada kata cukup. Tetap kurang, jika tidak bersyukur. Ya, sudah terbukti nyata, dari kaum pejabat yang ada di negara kita. Tak pernah merasa cukup, perlu membelot sedikit biar dapat lebih. Bagaimana pun, mudah-mudahan saya tidak termasuk orang yang kaya dengan cara seperti itu. Saya, tidak akan melanjutkan postingan saya dengan dosa orang lain. Hehe.

Kaya, bukan dengan materi memang. Tapi, kaya dengan pengalaman. Setiap hari. Selalu ada cerita, kalau mau diceritain satu-satu, kayanya bisa-bisa naskah setengah matang untuk hari ini ga jadi-jadi.

Bertemu banyak orang, memang gak harus jadi jurnalis siih, tapi jurnalis adalah salah satunya. Dan hari ini cukup bikin ngos-ngosan juga. Untuk kordinasi segala tema dan narasumber. Dikejar-kejar deadline, khas banget siih, bikin panik segala panik deh inih.

Kalau mau kapok, kayanya gak lagi deh berurusan dengan yang namanya birokrasi. Hiks, saya gak pernah cocok dengan urusan begitu. Permasalahannya, pernak pernik birokrasi itu beda banget dengan kerjaan beginian yang semuanya harus serba cepat. Ya, kasarnya, kalau nungguin urusan birokrasi sampai minggu depan, keburu basi dong ceritanya. Sementara kebanyakan penonton, sumber informasi pertama ya dari media, salah satunya media TV. Ini tantangannya. Dan serunya.

Hari ini saya nemuin banyak sekali kesulitan. Rasa-rasanya, berharap banget semuanya berjalan lancar, dan mereka ngerti gimana kerja sama ini semata niat baik. Really, program yang saya kerjakan ini dengan berbagai telaah dan pandangan dari banyak sudut, semata untuk kebaikan bersama.

Sambil menunggu, bingung pengen bikin naskah yang mana, jadilah saya mampir sebentar ke sini untuk cerita. Baru saja, saya dapat telp dari pihak instansi rumah sakit. Ceritanya, kita lagi minta izin liputan di sana. Dan, yaa, dengan respon subjektif yang tidak bisa saya terima, mereka minta waktu untuk menelaah liputannya. Waktu selama apa lagi? 10 hari, saya dan tim bersabar, kita ikutin prosedur yang mereka minta, seperti surat izin liputan. Produksi untuk satu episode udah setengah jalan. Paham banget, kalau urusan mereka bukan cuma ngurusin kita-kita jurnalis ini, sihh. Tapi, andai mereka ngerti kalau nasib episode ini tergantung mereka. Dan deadline nya udah lebih deadline, dari thesis saya. Atau deadline usia saya untuk menikah. Wkwkwk. Pagi ini, dengan gampang, mereka bilang ditunda. Oke deh, pak Dokter, goodluck! *ga bisa nahan kesel*

Saya putar kepala untuk tema yang lain. Saya pilih narsum yang ga ada urusan sama segala macam kepentingan instansi dan birokrasi. Orang jalanan, gimana? Dan dari obrolan yang udah cukup asik, salah satu bilang, kalau diliput ga ada keuntungannya buat mereka. Oke. Saya diam sebentar. Bagaimana menjelaskan soal itung-itungan keuntungan? Saya pun mulai menghitung. Tapi, bukan itu yang dimaksud. Niatan tulus semata untuk berbagi ke pemirsa. Kalau bukan kita, siapa lagi? Yaa, apa masih ada ya, orang begini. Bukan perkara rupiahnya. Memang. Andai semua orang berpikiran seperti yang saya harapkan. *makin manyun*

Sebelum tidur semalam, ketika mimpi indah akan dimulai. Telpon, kemudian bilang ‘Mba, Kepala Dinas gak mengizinkan karena dia ga bisa ikutan untuk syuting besok’ kalau mau jujur, ya gapapa juga sii, kepala dinas ga ikut. Karena bukan profil kepala dinas dengan karir dengan program kerja luar biasanya yang mau kita angkat. Tapi sosok sosok inspiratif yang bekerja di bawahnya. Saya menghela nafas. Karena gak bisa dipaksakan.

Toh, memang kita hidup dalam lingkungan seperti ini. Mau ga mau, ya harus nurut. Jadi, begimana nasib liputan besok ya. Berusaha. Berdoa. Bismillah. Ada liputan menarik yang bermurah hati dan berhati mulia ga ya? Ketemu yuk. Kita berbagi😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s