Kepentingan

Hidup dengan kepentingan. Begitulah memang. Sehingga, banyak orang-orang yang menjalani hidup ini dengan kepentingannya masing-masing yang pastinya berbeda pula. Kepentingan diri kita sendiri, jelas penting. Kepentingan orang lain? Kadang ga penting bagi kita.

Tapi, kita hidup bersama orang lain, begitulah seharusnya. Kepentingan orang lain mungkin terpaksa menjadi kepentingan juga bagi kita. Dan sebaliknya. Hanya saja, sedikit kita harus memilah-milah. Bagaimana berbagi kepentingan itu.

Pagi ini, satu cerita tentang kepentingan seseorang. Panjang lebar dia curhat sama saya. Begini kira-kira, kisah pagi si empunya curhat.

“Mba, kita bareng ya berangkatnya pagi ini, aku sekalian mau ke _____ (menyebut nama salah satu mini market)”

“Oke” Kata si empunya curhatan pagi ini yang sehari-hari berangkat ke tempat kerjanya.

Beberapa saat. Si tante yang ngajak bareng, nanyain kenapa dia belum siap juga. Dan berkomentar.

“Lama banget sih!” Dengan sedikit kesal.

Kalau kita lihat, mungkin memang bikin kesal jika si empunya curhat ini, yang minta bareng, kemudian telat, atau dengan alasan entah itu apa, malah lelet. Tapi, kemudian dengan panjang lebar si empunya curhat bercerita pada saya. Bahwa pada kenyataannya dia gak minta bareng si tante, toh? Dia merasa punya kepentingan sendiri, kenapa dia terlambat. Sebisa mungkin dia tidak merepotkan orang lain, di tengah hamil tua nya itu. Dia butuh waktu, karna dia tak bisa terlalu cekatan dengan kondisinya saat ini. Toh, sehari-hari pun dia merasa tidak perlu bareng si tante hanya untuk berangkat ke tempat kerjanya.

Merasa sedikit tau diri, si empunya curhat bilang.

“Mba, supirnya ga usah jemput di rumah yaa” Berhubung rumah si empunya curhat harus masuk gang yang sempit.

Si tante dengan emosi panjang lebar menanggapi.

“Siapa juga yang pengen jemput kamu sampai depan, sopan banget kamu.” Setengah menyindir, dia suruh supirnya untuk menjemput si empunya curhat sampai depan rumah, sekalian bukain gerbangnya.

Dia kontan kaget. Saya yang biasa hidup di kota Jakarta dengan kehidupan semena-mena seperti itu rasanya pengen bilang dengan sederhana. “Ya, udah ga usah bareng”

Tapi, kenyataannya si empunya curhat hidup di tengah-tengah birokrasi militan. Sebaiknya saya tidak sebut birokrasi macam apa itu. Bahwa, secara mau gak mau, si tante adalah atasan yang tidak bisa dikatakan boleh dikatakan tidak. Ya, karena di sebagian kelompok memang masih ada yang begitu meski gak masuk akal bagi orang macam saya.

Mungkin punya mungkin, yang ada di pikiran si tante adalah “Ini anak, udah ditebengin malah telat. Ga tau diri amat sih”

Tapi, siapa yang minta ditebengin? Itulah pembelaan yang punya curhat.

Jadi, mengapa kita harus bersikap seperti si tante? Ada yang tau alasannya kenapa?

Dalam kehidupan sehari-hari, saya pun bukan tidak pernah mengalami kehidupan seperti itu. Ya, mungkin saya dan si empunya curhat punya pikiran yang setipe. Kebaikan orang lain, kadang terasa sebagai beban bukannya justru malah meringankan.

Mungkin itu satu alasan. Kenapa? Saya lebih senang menghabiskan waktu senggang, sendirian di depan layar. Ditemani kopi dan media sosial seadanya. Seperti saat ini.

Berbagi kepentingan menjadi hal yang susah-susah gampang. Bagaimana dengan berbagi hidup, keseharian, atau masalah? Oh, bahkan saya tidak berani membayangkan.

Bismillah saja untuk menghargai kepentingan orang lain. Dan menjalani kepentingan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s