Pembelaan Demi Rasa Sayang

Mungkin rasa sayang yang saya punya ini berlebihan. Tapi, rasa apa lagi yang bisa saya bagi untuk belahan jiwa saya  satu-satunya itu. Saya, mulai gak tega mendengar setiap kalimat yang diucapkannya dengan air mata itu. 

Kalau saya berhak untuk marah, mungkin saya akan.

Kejadian demi kejadian mulai membuat saya berpikir. Heran. Mereka lahir dari planet mana. Karena adanya, saya tidak punya hak, dan kemarahan hanya akan menimbulkan masalah baru. Jadi, saya putuskan untuk marah di postingan saja. Ya, anggap saja postingan yang ini bernasib apes ya.😉

Bukan tidak pernah tau. Saya bahkan pernah terjun langsung dalam dunia itu. Meski hanya sekedarnya.

Cuma saja, saya pengen banget tau. Apa mereka memang tidak punya hati, atau pikiran? Rasanya kok tidak mungkin ya. 

Tidak adakah yang memahami bagaimana rasanya menjadi ibu yang sedang hamil tua. Dengan kemampuan fisik terbatas atau hati yang luar biasa sensitif? Saya, mungkin tidak paham, karena tidak merasakannya. Oke lah, bagaimana kalau kita tidak menjadikan istilah kehamilan sebagai alasan. Ya, berlaku saja sebagai manusia yang punya adab, punya otak, dan punya hati nurani.

Berhubung, saya tidak pernah berada di posisi itu, maka demi maka, saya cuma pengen tau, bagaimana rasanya menjadi di atas? Apakah perlu kesombongan dan kesemena-menaan. Kalau memang harus, maka, saya gak akan merasa perlu untuk berada di atas. Karena saya tau gak enaknya berhadapan dengan orang sombong dan semena-mena. 

Kalau saja saya bisa dan mampu, saya akan bawa dia ke sini. Dengan kehidupan saya yang sederhana ini, berhadapan dengan orang-orang yang tak peduli dan sibuk dengan kehidupannya masing-masing mungkin jauh lebih beradab. 

Bingung dengan protokoler di sana yang entah untuk apa. Ya, rasanya kehidupan otoriter udah gak pantas lagi di terapkan di jaman yang penuh ide, kreasi, dan inovasi ini. Sini, sini, satu satu kita diskusi dengan hati yang dingin dan pikiran yang bijak.

Apakah mereka tidak ingin bahagia bersama, sebelum pada akhirnya, kita pun akan kembali ke akhir dengan posisi yang sama. Saat dimana hanya pahala lah yang mampu berbicara. Dan dosa yang meluruhkannya.

Ah, saya hanya mampu untuk bilang. Sudahlah tidur saja. Kenapa pusing, si. Dear you, My soulmate. #iWish

 

 

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s