E.TI.KA

Widiww, gaya bener yaa, ngomongin etika. Ya, suka ga suka kita emang ga bisa lepas dari yang namanya etika. Kalau mau hidup suka-suka, yaa, kayanya asik banget yaa. Tapi, hidup begitu kan ga disuka orang lain. Bagi kita mungkin menyenangkan, bagi orang lain? Bisa jadi ganggu banget. Kalau mau jadi orang baik, ya, kita harus pelan-pelan ber-etika sedikit. Ya, seperti saya ini yang punya etika cuma sedikit. Tapi setidaknya punya, kan. Hehe.

Etika Berkendara

Hampir setiap pagi, kita menghadapi jalanan Jakarta, bikin kita harus tarik nafas lebih dalam, biar sabar. Ya, kenyataannya masalah kemacetan adalah masalah yang belum ketemu titik terangnya. Tapi, ya, mau gimana lagi toh, kita tetap menghadapinya. Mau gak mau. Ada baiknya, di antrian panjang kemacetan itu, kita gak perlu berisik klakson. Gak akan ada perubahan signifikan juga. Jalanan  akan tetap padat merayap, kendaraan lain ga akan serta merta terbang, atau minggir kasih kita jalan. Karena kita semua punya kepentingan. Sama-sama penting untuk cepet sampai di tempat tujuan. Bunyi klakson cuma bikin kesel pengendara yang ada di depannya. Ya, ga sih? Ada lagi nih, di jalan, seringkali saya menemukan pengendara sepeda motor, yang bawa motor ugal-ugalan, ga pake helm, ga pake lampu, malam pula. Nyess! Ini jelas membahayakan pengendara motor itu sendiri dan pengguna jalan lain. Jadi? Beretika dikit aja yuk, selama berkendara.

Etika Buang Sampah

Buanglah sampah pada tempatnya. Ya sesederhana itu. Di beberapa tempat, saya pun mengalami kesulitan untuk menemukan tempat sampah. Tapi, buang sampah sembarangan, itu bukan pilihan. Tempat kita berpijak ini udah cukup kotor tanpa harus ditambah kotor dengan sampah. Hehe. Satu hari, saya pernah liat di jalan, sebuah mobil mewah, dengan seorang pemuda tampan yang sedang mengendarainya, buka kaca. Jenuh dengan kepadatan lalu lintas, gak ada salahnya saya liat kanan kiri, biar pemandangan segar dikit. Gak lama, dia buang kaleng minuman bersoda. Ngok! Manyun berat. Duh, cakep dan tajir, tapi kok ga beretika. Sayang banget. Mana yang dibuang kaleng pula.

Etika Ber-twitter

Siapa yang masih keranjingan dengan twitter. Ya, saya salah satunya. Dan sebagian besar dari kita. Bukan soal apa-apa yang tidak baik buat diomongin di twitter yang mau saya bicarakan di sini. Karena, selain itu udah lazim terjadi, biasanya, kalau ga suka, kita tinggal un-follow. Tapi, un-follow pun tetap ada etikanya. Ada beberapa dari kita yang haus follower. Sehingga, sedikit sekali follow orang, tapi follower kudu banyak. Ya, itu normal sih. Saya, adalah salah satu orang yang pilih-pilih kalau mau following. Jika tidak terlalu mendesak, saya gak follow, karena nantinya hanya akan memenuhi timeline dengan info-info ga penting atau yang malah membawa ke mudharat-an. Tapi, sembarang un-follow bisa jadi akan merusak hubungan baik yang terjadi di dunia nyata. Memang ada benarnya, un-follow bukan berarti gak berteman. Tapi, kalau ga mendesak banget, lebih baik ga usah un-follow. Di kehidupan nyata, sebagian bisa jadi bertanya-tanya, kenapa ya, itu orang ga follow saya lagi? Ya ini, edisi khusus bagi mereka yang sangat aware terhadap follower nya. Lalu, hubungan pun menjadi gak enak. Dalam keseharian. Bukan gak pernah ngalamin, yang namanya pengen un-follow orang, tapi mengingat saya masih berminat untuk punya hubungan baik dengan si pemilik akun, saya membatalkan niat un-follow itu. Jika ga tertarik dengan update tweet nya, saya dengan sederhana meliwatinya, turun scroll ke bawah dan ga baca. Ya, begitu saja. Gitu aja sii, etika nya. Etika ber-twitter ini sebenernya ga penting-penting banget juga kok. Wkwkwk.

Etika Cari Muka

Cari muka mungkin annoying bagi banyak orang. Bagi saya? Sebenarnya sah-sah aja. Walaupun jujur, saya paling ga bisa yang namanya cari muka, tapi saya masih maklum banget sama orang-orang yang suka banget cari muka. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menarik perhatian publik, atau pihak tertentu. Saya, memilih untuk menarik perhatian dengan cara mmmh, mungkin diam. Nah, soal etika cari muka ya, yang penting ga merugikan orang lain. Kadang, kalau kebablasan cari muka jadi keterlaluan. Yang jadinya malah menjatuhkan orang lain. Entah itu dengan fitnah, atau penciteraan berlebihan yang menjatuhkan citera orang lain. Itu, menurut saya gak keren. Dan tentu saja gak beretika.

Etika Merokok

Huh! Asap rokok memang kian menganggu. Dimana-mana asap rokok. Bikin sesek nafas bagi sebagian orang. Ya, karena itulah sekarang gencar dimana-mana larangan merokok. Dalam gedung, udah ga boleh lagi merokok. Banyak kafe atau restoran yang udah ga punya lagi smoking area. Begitu pula, mall. Udah sulit ditemukan tempat khusus untuk orang-orang merokok. Entah benar atau tidak, merokok memang lebih banyak ga bagus nya. Tapi, ya sudahlah. Merokok itu pilihan. Dan kebiasaan. Ngomong-ngomong soal etika, merokok sesederhana dengan buang sampah. Ya, merokok pada tempatnya. Bagi mereka yang secara mau gak mau atau sengaja berada di tempat merokok, mau gak mau harus menerima. Satu pagi, di sebuah coffeeshop yang semuanya smoking area, saya melihat seorang mbak-mbak, menutup hidungnya, mungkin dia merasa sesak. Kemudian, karna tidak tahan, ia menegor salah satu pengunjung yang sedang merokok di sana, untuk menjaga asapnya. Nah, lo. Ini juga soal etika. Perokok pun punya kebebasan. Kalau memang tidak suka, bisa pilih tempat lain yang bebas asap rokok bukan? Seyakin demi yakin, perokok itu gak bermaksud untuk menganggu kebebasan orang lain untuk menghirup udara segar. Si perokok sudah memilih tempat yang memang bebas untuk merokok. Jadi? Ya, mungkin gitu kali ya, etikanya.🙂

Jadi? Begimana yak? Beretika apa enggak nih. Ya gitu gitu aja siii.

Posted in Oh

2 thoughts on “E.TI.KA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s