Berbuka Puasa di Rumah Umar Kei

Kalau boleh sombong dikit, ini lah keuntungan jadi jurnalis. Pengalaman kaya gini, mungkin ga bisa di dapat di luar dari profesi begini. Dengar namanya, bikin bergidik juga sii, mau tak mau kita mengaitkan nama ini dengan kisah John Kei beberapa waktu lalu. Hari itu, saya bertemu Umar Kei, rencananya beliaulah yang akan menjadi narasumber liputan episode bulan puasa program TV yang saya kerjakan sekarang.

Dikawal dengan rekan-rekan berperawakan Indonesia Timur, saya dan teman-teman pun membuka obrolan dengan Bang Umar.

Sebagai ketua Pemuda Muslim Maluku, ternyata anggapan saya salah bahwa organisasi ini hanyalah untuk orang Maluku dan muslim saja. Tapi, Bang umur menjadikan wadah ‘bersatu’ di organisasi ini. Jika selama ini Maluku, masih lekat dengan kerusuhan, Bang Umar lah yang  punya mimpi untuk membuat mereka bersatu. Bersama Bang Umar, mereka rukun dalam satu.

Dalam rangka liputan pun, saya mampir ke rumah Bang Umar di daerah Jatiwaringin, Bekasi. Jika batang rokok dan kopi adalah santapan mantap siang-siang begitu, tidak berlaku di rumah Bang Umar. Entah semuanya memang sedang berpuasa, tapi semuanya menghargai kesucian Bulan Ramadan siang itu. Tak satu pun, saya melihat ada yang membakar rokoknya kala itu. Shalat berjamaah gak ketinggalan.

Menjelang berbuka, Bang Umar mengundang puluhan anak yatim binaanya untuk berbuka puasa bersama di rumahnya. Dilakukan pula tadarus bersama. Ah, jangan salah menilai laki-laki 34 tahun dengan perawakannya yang bikin ‘takut’ ini, ya. Bacaan al-quran Bang Umar fasih. Saya? Jelas kalah jauh, perlu belajar lebih serius lagi.

Yang seru, saat itu, Bang Umar mengundang grup marawis dan penari dana-dana khas maluku. Saya, coba ikut menari bersama. Yaa, ternyata gerakan tarinya butuh konsentrasi tinggi. Karena gerakan tari ini cukup bervariasi dan harus serentak dengan pasangannya. 20 menit saya berlatih? Gak cukup membuat gerakan tari saya lancar.

Inti dari liputan saya kali ini adalah, banyak hal yang menarik mengenal sosok Umar Kei dan teman-temannya. Yang jelas, beruntung karena kita disambut begitu hangat di rumah nya. Liputan pun berlangsung lancar. Mudah-mudahan durasi nya gak under yaa.

Kalau pengen nonton lebih lengkap gimana ngabuburit bersama Umar Kei, nonton deh Di Antara Kita di MNCTV Senin, 13 Agustus 2012. Ini fenomena menarik.

 

 

Bukan Soal yang Ideal

Lama tak singgah ke sini, Ramadan sudah menginjak hari ke-8 saja, ya. Saya secara pribadi, gak pernah merasa ibadah tiap Ramadan sempurna. Dari taun ke taun, kok ya, susah banget buat maksimal ibadah di bulan penuh berkah dan ampunan ini. Padahal sebelum memasuki bulan Ramadan ini, saya udah dengan tekad yang mantap untuk serius menghadapinya. Tapi, tekad aja gak cukup. Cobaan pasti ada aja. Ibadah demi ibadah yang dilakukan cukuplah menjadi introspeksi diri sendiri. Dan perkara ibadah itu urusan manusia dengan Tuhan-Nya.

Kapan hari, saya cukup tersentak kaget, dengan satu kejadian persis depan mata saya. Mengingat dosa saya udah cukup banyak, kayanya cukup banget deh, jujur aja saya merasa orang lain gak perlu ikut campur dengan urusan dosa saya. Begitu pula saya, memilih untuk tidak ikut campur urusan dosa orang lain.

Merasa ilmu masih minim banget soal agama, saya pun belum berani untuk menegaskan mana yang dosa mana yang tidak. Belajar aja pelan-pelan. Saling mengingatkan, itu ada baiknya. Tapi tak perlu mencampuri.

Sebagian mungkin melihat hidup saya baik-baik saja. Tapi, toh kesulitan bukan untuk dipamerkan. Malah saya ingat kata seorang ‘kakak’ pada saya kapan hari, apa orang lain peduli saat kita susah? Apa mereka senang melihat kita susah? Intinya, kebanyakan orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jika di akhir bulan, banyak orang mengeluhkan ke-kere-annya? Saya mungkin termasuk jarang. Kalaupun pernah, pasti dianggap angin lalu. Apa ada yang percaya? Pun, saya rasa tidak. Bukan karena saya orang yang tidak pernah ‘kere’ atau orang yang tidak pernah ‘ngeluh’ Jelas, saya jauh dari itu. Gak lebih lah, saya hanya seorang hamba yang harus menerima berputarnya hidup. Sama aja.

Jika saya tetap dengan jalan saya untuk bersantai dengan penghasilan yang halal, bukan karena saya tidak pernah terdesak dengan kebutuhan. Bukan karena saya dilahirkan dari orang tua yang mampu. Atau bukan karena saya wanita single yang tidak punya tanggungan. Hanya saya ingat, sejak kecil Ayah saya selalu mengajarkan untuk mencari uang di jalan yang halal.

Apa pun profesi kita saat ini, banyak sekali kesempatan untuk berbelok sedikit. Kita pun, tidak bisa menilai pekerjaan ini itu atau apa, adalah pekerjaan yang duitnya gak bersih. Saya, gak berani menghakimi itu. Bahkan, saya pun tak pernah pusing kepala melihatnya kotornya dunia politik atau birokrasi kita saat ini. Hidup itu pilihan. Termasuk memilih untuk tetap bersih atau tidak.

Saya, bukan pula orang yang akan berdiri tegak dengan idealisme itu. Uang yang diperoleh dengan cara apa pun itu, adalah murni urusan orang yang memperolehnya. Hanya saja, menurut saya, ada baiknya kita menghargai orang-orang yang punya cara sendiri untuk memperoleh uang. Uang yang dinilai tidak bersih bagi seseorang, tapi bagi kita baik-baik saja, itu murni urusan pribadi masing-masing.

Misalnya, ada orang yang menganggap bunga bank itu halal, atau menganggap bahkan perbankan syariah pun tidak halal. Ada juga yang sama sekali anti bank karena menganggap bank jenis apa pun mudharat. Itu pun menjadi pilihan dan urusan mereka. Bukan soal mana yang ideal.

Tapi, bukan hak kita untuk memaksa mereka untuk mengikuti pilihan kita. Jadi, jika hari itu saya tersentak kaget, bukan karena saya ingin dunia tau, hanya karena, saya butuh kebebasan untuk memilih. Ini bukan soal yang ideal. Tapi, orang punya cara masing-masing.

Saya, gak pernah masalah, dengan bagaimana mereka mencari (atau memperoleh) uang. Jika sebagian ada yang begitu anti nya dengan bisnis MLM, saya? Ah, gak masalah. Atau si tante ini dapet uang dari hasil ‘jualan’ saya pun, gak ambil pusing. Pun, yang dekat dengan dunia saya, bahwa ada jurnalis dengan amplop, itu pun bukan menjadi urusan saya. Mereka yang jadi maling atau rampok, ya itu urusan dan tanggung jawab mereka dengan Tuhan. Bahkan, dengan pikiran terbuka saya tidak pernah menghakimi jenis profesi apa pun.

Hanya saja, saya tidak pernah habis pikir dengan sesuatu yang berjudul pemaksaan. Bagi saya, itu jauh lebih menyedihkan dari cara apa pun untuk mencari uang. Misal, ada ibu yang memaksa suaminya untuk merampok demi mendapat kan uang. Atau ada Bapak yang menyuruh anaknya untuk menjual diri, untuk bertahan hidup. Atau bagi jurnalis seperti saya, adalah dipaksa mengambil amplop padahal (sebagian jurnalis) jelas-jelas menolak. Jika si ibu, si bapak atau si jurnalis lebih realistis menghalalkan cara mencari uang seperti itu, mungkin ada baiknya mereka pun tidak perlu memaksa si suami, si anak atau rekan jurmalis untuk melakukan hal yang sama. Karena, adalah itu urusan pribadi mereka masing-masing. Bukan soal yang ideal, memang.

Posted in Oh

Siapa Saja?

Dang!

Saat ini yang ada di depan saya, adalah perempuan galau yang insyAllah menginjak dua puluh lima tahun sebentar lagi. Sudah menagih kado saja, oh, andai saya orang sangat berada, rasanya ingin saya mewujudkan kepengenannya untuk punya jam tangan mewah. Bukan rol*x si memang, tapi yaa, mewah menurut ukuran kita. Mmmh, bukan itu sebenarnya yang mau saya ceritakan. Tapi, kalimatnya terakhir Dang! Dang! Dang! Cukup bikin mikir.

Katanya, mau mudah jodoh, minta maaf satu-satu sama mantan. Dia sudah melakukannya sii, tapi sampai detik ini belum ada tanda-tanda, tuh. *bentar, ngikik dulu*

Oke, ngikik nya udah, sekarang lanjut lagi. Lalu, kalau mau dipikir-pikir siapa saja yang jadi mantan? Ah, saya gak bisa inget satu-satu. Yang beneran mantan atau mantan-mantanan. Saya nyaris lupa. Ramadhan juga udah semakin dekat, selayaknya kita saling memaafkan. Tanpa meminta dan tanpa diminta. Gak harus jadi mantan dulu juga kan baru minta maaf. Bikin kesalahan juga cuma sama mantan

Nah, kembali ke tema soal siapa saja? Saya lagi-lagi gak bisa inget. Jadi, Ramadhan sudah di depan mata. Kita siap-siap yuk. Mudah-mudahan umur masih sampai, ya. Amin. Dengan segala kerendahan hati. Tanpa daya, tak ada apa-apa. Mohon maaf lahir batin ya. Buat kamu juga, ya, sayang.

Matre?

Pertama kali denger kata matre sebenarnya udah cukup lama. Waktu itu, sebuah kelompok musik mempopulerkan lagu berjudul Cewek Matre. Dan yang saya tangkap adalah setiap cewek yang matre di buang ke laut aja. Ada yang inget juga lagu itu? Makin ke sini, saya merubah sedikit pandangan saya tentang matre. Matre, berasal dari materealistis, atau ke-harta-an. Ya, mereka yang memandang segala sesuatu dari segi harta. Atau, kalau cewek matre adalah cewek yang tergila-gila dengan harta, kemudian saking gilanya, memilih pasangan pun liat dulu hartanya.

Kalau lagu itu bener-bener dilakuin dalam kehidupan nyata, mungkin udah banyak banget cewek yang dibuang ke laut. Matre, kian lazim dalam keseharian. Apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta ini. Kalau kita bergeser sedikit ke pelosok pun, sikap matre juga sudah kita temukan di berbagai perkampungan di penjuru negeri. Itulah mengapa matre saya katakan lazim. Sekarang pun, matre ga lagi lekat dengan cewek aja. Cowok pun, banyak yang begitu. Alasannya? Buktinya? Kalau disebutin satu-satu kayanya gak bakal abis.

Seliweran sana sini, sebagian masih menganggap matre adalah sikap yang negatif. Seperti sesekali saya mendengar kumpulan laki-laki bilang “ih dia kan cewe matre” Saya melirik atas sampai bawah cewek yang dikatakan matre itu. Ya, melihat kerasnya hidup, matre kadang menjadi terpaksa atau sudah keharusan. Bahkan laki-laki pun melakukannya. Sebagian laki-laki berpikiran, hidupnya akan lebih ringan, kalau dapat perempuan kaya. Ya, liat aja berita berita televisi, pernikahan artis dengan perempuan-perempuan kaya. Lalu, ada yang salah dengan matre?

Sekarang, posisi perempuan dan laki-laki sudah setara dalam banyak hal. Mungkin juga dalam karir. Gak menutup kemungkinan, bahwa perempuan bisa jadi atasan bahkan menduduki posisi posisi penting, menjadi direksi misalnya. Gender, tidak lagi menjadi halangan. Banyak sekali wanita-wanita hebat dengan reputasi dan prestasi cemerlang. Yang bikin sebagian laki-laki melirik. Atau yang alami, ya minder.

Adalagi, tipikal laki-laki yang ketakutan setengah mati di-matre-in. Padahal seberapa ada si lelaki ketakutan itu? Denger temen laki yang curhat karena cewenya matre, saya cuma bisa bilang, ga usah ke geer an. Kalau ga mampu ya, mundur. Karena emang begitulah adanya.

Sekadar beropini aja, mau matre mau enggak, ya bebas. Laki, perempuan, ya semua itu adanya #sikap. Saya pribadi ga begitu peduli dengan cewe matre atau laki-laki matre. Kalau ketemu cowo yang matre-in saya? Saya sendiri gak keberatan. Selain gak ada yang bisa dimatrein, ya, bebas-bebas aja. Karena, walau saya perempuan berdarah Padang, yang identik dengan itung-itungan soal materi, kenyataannya saya keras betul bahwa materi itu cuma singgah sementara. Agak klise memang. Tapi, soal ini pikiran saya masih sangat konvensional. Gak melulu materi itu membawa kebahagiaan. Gitu aja sih.

Posted in Oh