Bukan Soal yang Ideal

Lama tak singgah ke sini, Ramadan sudah menginjak hari ke-8 saja, ya. Saya secara pribadi, gak pernah merasa ibadah tiap Ramadan sempurna. Dari taun ke taun, kok ya, susah banget buat maksimal ibadah di bulan penuh berkah dan ampunan ini. Padahal sebelum memasuki bulan Ramadan ini, saya udah dengan tekad yang mantap untuk serius menghadapinya. Tapi, tekad aja gak cukup. Cobaan pasti ada aja. Ibadah demi ibadah yang dilakukan cukuplah menjadi introspeksi diri sendiri. Dan perkara ibadah itu urusan manusia dengan Tuhan-Nya.

Kapan hari, saya cukup tersentak kaget, dengan satu kejadian persis depan mata saya. Mengingat dosa saya udah cukup banyak, kayanya cukup banget deh, jujur aja saya merasa orang lain gak perlu ikut campur dengan urusan dosa saya. Begitu pula saya, memilih untuk tidak ikut campur urusan dosa orang lain.

Merasa ilmu masih minim banget soal agama, saya pun belum berani untuk menegaskan mana yang dosa mana yang tidak. Belajar aja pelan-pelan. Saling mengingatkan, itu ada baiknya. Tapi tak perlu mencampuri.

Sebagian mungkin melihat hidup saya baik-baik saja. Tapi, toh kesulitan bukan untuk dipamerkan. Malah saya ingat kata seorang ‘kakak’ pada saya kapan hari, apa orang lain peduli saat kita susah? Apa mereka senang melihat kita susah? Intinya, kebanyakan orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jika di akhir bulan, banyak orang mengeluhkan ke-kere-annya? Saya mungkin termasuk jarang. Kalaupun pernah, pasti dianggap angin lalu. Apa ada yang percaya? Pun, saya rasa tidak. Bukan karena saya orang yang tidak pernah ‘kere’ atau orang yang tidak pernah ‘ngeluh’ Jelas, saya jauh dari itu. Gak lebih lah, saya hanya seorang hamba yang harus menerima berputarnya hidup. Sama aja.

Jika saya tetap dengan jalan saya untuk bersantai dengan penghasilan yang halal, bukan karena saya tidak pernah terdesak dengan kebutuhan. Bukan karena saya dilahirkan dari orang tua yang mampu. Atau bukan karena saya wanita single yang tidak punya tanggungan. Hanya saya ingat, sejak kecil Ayah saya selalu mengajarkan untuk mencari uang di jalan yang halal.

Apa pun profesi kita saat ini, banyak sekali kesempatan untuk berbelok sedikit. Kita pun, tidak bisa menilai pekerjaan ini itu atau apa, adalah pekerjaan yang duitnya gak bersih. Saya, gak berani menghakimi itu. Bahkan, saya pun tak pernah pusing kepala melihatnya kotornya dunia politik atau birokrasi kita saat ini. Hidup itu pilihan. Termasuk memilih untuk tetap bersih atau tidak.

Saya, bukan pula orang yang akan berdiri tegak dengan idealisme itu. Uang yang diperoleh dengan cara apa pun itu, adalah murni urusan orang yang memperolehnya. Hanya saja, menurut saya, ada baiknya kita menghargai orang-orang yang punya cara sendiri untuk memperoleh uang. Uang yang dinilai tidak bersih bagi seseorang, tapi bagi kita baik-baik saja, itu murni urusan pribadi masing-masing.

Misalnya, ada orang yang menganggap bunga bank itu halal, atau menganggap bahkan perbankan syariah pun tidak halal. Ada juga yang sama sekali anti bank karena menganggap bank jenis apa pun mudharat. Itu pun menjadi pilihan dan urusan mereka. Bukan soal mana yang ideal.

Tapi, bukan hak kita untuk memaksa mereka untuk mengikuti pilihan kita. Jadi, jika hari itu saya tersentak kaget, bukan karena saya ingin dunia tau, hanya karena, saya butuh kebebasan untuk memilih. Ini bukan soal yang ideal. Tapi, orang punya cara masing-masing.

Saya, gak pernah masalah, dengan bagaimana mereka mencari (atau memperoleh) uang. Jika sebagian ada yang begitu anti nya dengan bisnis MLM, saya? Ah, gak masalah. Atau si tante ini dapet uang dari hasil ‘jualan’ saya pun, gak ambil pusing. Pun, yang dekat dengan dunia saya, bahwa ada jurnalis dengan amplop, itu pun bukan menjadi urusan saya. Mereka yang jadi maling atau rampok, ya itu urusan dan tanggung jawab mereka dengan Tuhan. Bahkan, dengan pikiran terbuka saya tidak pernah menghakimi jenis profesi apa pun.

Hanya saja, saya tidak pernah habis pikir dengan sesuatu yang berjudul pemaksaan. Bagi saya, itu jauh lebih menyedihkan dari cara apa pun untuk mencari uang. Misal, ada ibu yang memaksa suaminya untuk merampok demi mendapat kan uang. Atau ada Bapak yang menyuruh anaknya untuk menjual diri, untuk bertahan hidup. Atau bagi jurnalis seperti saya, adalah dipaksa mengambil amplop padahal (sebagian jurnalis) jelas-jelas menolak. Jika si ibu, si bapak atau si jurnalis lebih realistis menghalalkan cara mencari uang seperti itu, mungkin ada baiknya mereka pun tidak perlu memaksa si suami, si anak atau rekan jurmalis untuk melakukan hal yang sama. Karena, adalah itu urusan pribadi mereka masing-masing. Bukan soal yang ideal, memang.

Posted in Oh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s