Rumitnya Kesederhanaan

Wamena, perjalanan yang bikin kangen. Malam itu, malam terakhir di Wamena. Selesai sudah target liputan kami.

Tujuh hari yang sangat berkesan bagi saya. Melihat kehidupan masyarakat sana, jauh dari apa yang orang-orang kira. Alhamdulillah, liputan berjalan lancar. Gak ada masalah berarti (mudah-mudahan, si)  yang kami timbulkan selama bikin dua episode Pahlawan Indonesia – MNCTV, tugas liputan kami.

Malam terakhir di Wamena, kami habiskan waktu untuk silaturahim, makan bakso, dan ngobrol ngalur ngidul. Bang Ipul (produser) memilih untuk menghabiskan malam itu dengan taraweh di salah satu masjid yang gak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Barulah saya tau, banyak cerita tentang Wamena. Sebelum berangkat, saya sempet googling tentang Wamena. Memang ada berita soal kerusuhan Wamena. Tapi denger cerita langsung, jauh lebih, lebih, yaa, lebih gimana yaa.

Hari pertama sampai di sana, sempat merasa asing dengan suasananya, tapi ternyata tidak mencekam seperti yang dibayangkan. Ketika turun dari pesawat kecil penerbangan Jayapura – Wamena, ramai kurir lokal mendekat hendak membantu. Sliweran tentang Wamena membuat saya agak siaga sore itu. Tapi, dalam beberapa jam saja saya mulai bisa menikmati sejuknya alam Wamena.

7 hari di Wamena saya bertemu banyak orang yang ramah dan toh, baik-baik saja.

Obrolan malam itu cukup membuat saya bergidik. Karena, walaupun mereka bilang selamat menikmati Wamena tapi harus tetap waspada. Ya, orang sini memang tak segan-segan berbuat kejam. Main tusuk itu sudah biasa di Wamena. Mmmh, untung cerita itu baru saya dengar di hari terakhir kami di sana yaa.

Rasa kesukuan mereka masih sangat besar ternyata. Yang pedalaman, tak begitu ramah dengan pendatang. Kecuali, memang ada distrik tertentu yang memang sudah biasa kedatangan turis.

Bahkan dulu, mereka tak segan dengan aparat. Mereka jauh lebih tunduk dengan aturan adat. Jadi, percuma saja sebenarnya kalau berbeking aparat di sana. Lebih baik lakukan pendekatan personal, pesan salah satu aparat pada saya malam itu. Mereka jauh lebih menghargai. Intinya, ya pintar-pintar.

Tapi, yang bikin kangen Wamena itu sebenarnya adalah kesederhanaan masyarakatnya. Di Jakarta, hampir sulit ditemukan kehidupan seperti itu. Mereka biasa, berjalan tanpa sandal, kaki berlumur lumpur kering, dan baju yang sudah bernoda sana sini.

Saya pun, tak perlu merasa dekil ketika harus berlumur lumpur di sana. Toh, warga sana semua begittu. Dekil-dekilan di Jakarta? Mmmh, mungkin bisa dilirik dari atas sampa bawah. Bagaimana mereka pun punya harta yang sederhana. Tak ada itu koleksi sepatu keren, atau baju-baju bermerek. Seadanya saja. Seriusli, kalau kita liat di bandara Soekarno-Hatta orang-orang dengan gaya mentereng mau naik pesawat, jauh dengan yang kita liat di bandara Wamena. Mereka naik pesawat kaya mau naik angkot aja. Malah ada yang bawa-bawa sayuran. Hehe.

Sebagian, bekerja, menerima uang bertahan untuk dapat makan. Begitu saja. Ya, walaupun, jika dilihat lagi masih banyak dari mereka yang lebih senang minta atau merampas untuk mendapatkan sesuatu.

Pikiran mereka sederhana saja. Tidak ada pikiran-pikiran kompleks seperti yang banyak terjadi di kota-kota besar lainnya. Tak harus ada bagi mereka pertimbangan ini itu ini itu. Gak ada yang rumit. Jalani saja.

Beberapa pendatang pun, mengatakan betah tinggal di Wamena. Disuruh balik ke Jawa mereka enggan. Begitu pula saya hari ini. Meski sudah punya sederet rencana yang harus dilakukan di Jakarta, rasanya, berat sekali untuk meninggalkan Wamena. Like I wanna stay a little longer.

Kembali ke rutinitas dengan segala proses rumitnya. Menghadapi kemacetan jalanan ibu kota. Menghadapi segala macam bentuk sikap orang sekitar yang penuh dengan teori ini itu. Oh. Bagaimana kesederhanaan pun akan menjadi rumit di ibukota.

Di Jakarta, saya hampir gak pernah melewatkan hari saya dengan pergaulan liwat twitter. Tidak di Wamena, rasanya social media hanya menambah rumit saja. Hidup dalam dunia nyata yang penuh kesederhanaan, jauh lebih menyenangkan. Tidak ada sesuatu yang perlu dipaksakan. Terpaksa harus ini, terpaksa harus begitu. Tidak perlu begitu di Wamena.

Well, Terima kasih Wamena. Untuk hari-hari yang sederhana.

Lion Air, dari Jayapura ke Jakarta. 

Jika Malam Ini

Jika malam ini aku menangis,

bukan karena aku tidak percaya dengan kekuatan yang Ia berikan.

Jika malam ini aku tampak lemah,

bukan karena aku menyesal Ia pernah membuat cerita ini untukku.

Jika malam ini tak juga kering pelupuk mata,

bukan karena aku marah pada-Nya.

Jika malam ini tak sanggup lagi menahan sakitnya cekat di tenggorokan,

bukan karena ikhlas itu menjadi mati di sanubari.

Tuhan, aku hanya tak berdaya. Aku rindu.

Wamena, 5 Agustus 2012

Wah! Wah! Yali Mabel

Image

Kurulu. Desa itu yang menjadi tujuan perjalanan saya hari ini. Gak jauh dari Kota Wamena, sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil saja. Ya, tentu dengan kecepatan yang santai-santai saja. Karena memang, selain ada target liputan, sebenarnya saya dan teman-teman seperjalanan begitu menikmati perjalanan di desa ini. Bagaimana tidak? Ini kunjungan pertama kami ke sini.

Yali Mabel, Kepala Suku Dani inilah yang akan saya temui di sini. Menuju ke Osilimo Mabel (sebutan untuk kampung), kami harus berjalan kaki, yaa, sekitar 20 menit. Tidak jauh, tapi jalanan setapaknya yang sedikit berbatu dan lapisan tanah liatnya yang lengket, membuat saya harus sedikit berhati-hati melangkah. Bisa sampai tujuan dengan kaki bersih, jangan harap. Karena warga sana pun, bahkan berjalan tanpa alas kaki.

Sampai di tempat tinggal Pak Yali, kami disambut hangat oleh Pak Yali dan keluarganya. Karena Pak Yali Mabel memang sudah menerima kunjungan dari para turis. Kedatangan kami pun tidak lagi asing bagi mereka. Beberapa media pun sudah ada yang meliput tempat ini.

Awalnya, yang saya tau, rumah adat orang Papua adalah Honai. Tapi ternyata, Honai pun macam-macam. Pilamo, adalah rumah khusus laki-laki. Uma, rumah khusus perempuan, Hunila merupakan dapurnya, dan Wamdabu adalah kandang babi. Jika dalam satu kawasan itu ada ke empat jenis ‘rumah’ tersebut, maka lengkaplah itu disebut osilimo bagi suku Dani. Perempuan tidak boleh masuk ke dalam Pilamo. Jika ada ‘kepentingan’ laki-laki lah yang berkunjung ke Uma. Honai ini sebenarnya bukan tanpa alasan dibuat dengan bentuk seperti ini. Karena sebenarnya, honai yang terbuat dari kulit-kulit kayu ini memberikan kehangatan di dalamnya. Ini pas jika dibangun di wilayah Wamena yang umumnya bersuhu sejuk. Kelihatannya mungkin tidak telalu besar, tapi percaya atau tidak Pilamo itu bisa memmuat sekitar 50 – 70 laki-laki. Mmmh, sulit dipercaya, ya?

Oh, budaya Suku Dani adalah budaya ter-unik yang pernah saya liat sepanjang perjalanan saya. Berbagai aktivitas dilakukan di sana. Ketika datang, biasanya turis disambut dengan tari-tarian dan acara bakar batu. Bakar batu, adalah cara mereka memasak jika ada perayaan tertentu. Biasanya yang dibakar adalah babi. Tapi, kadang mereka juga membakar ubi dengan cara bakar batu ini.

Suku Dani, bertahan hidup dengan kebiasaan yang mereka punya. Mereka jauh dari pengaruh teknologi luar. Ya, karena Pak Yali Mabel, adalah seorang pelestari budaya Wamena. Meski sudah kemana-mana bahkan sampai luar negeri, Pak Yali tetap cinta budayanya. Kemana-mana ia selalu menggunakan pakaian khas Papua, Koteka. Bahkan ia bilang kepada kami, sampai kapan pun ia akan seperti ini, karena budaya ini berasal dari nenek moyangnya. Harus dipertahankan.

Keluarga Mabel punya berbagai kerajinan tangan yang unik. Sederhana, tapi ini adalah budaya yang membanggakan. Mereka punya harmonika khas mereka sendiri, pikon. Pikon dibuat dari bambu, dibentuk memanjang, kemudian ketika digesek-gesekkan ke bibir, mengeluarkan bunyinya yang khas. Biasanya laki-laki bagian membuat pikon. 

Beda lagi yang dikerjakan perempuan. Mereka membuat Su. Semacam tas anyaman dari kulit kayu. Saya sempat belajar membuatnya, yaa, lumayan njlimet. Mungkin karena saya bukan tipe perempuan yang betah dengan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran tinggi seperti itu. Jadi mending, pengerjaan Su dilanjutkan oleh Helena, perempuan yang mengajarkan saya waktu itu. Ngobrol-ngobrol dengan Helena, ia sudah menikah dan masih menggunakan Sali. Padahal sali itu adalah pakaian khusus perempuan yang belum menikah. Rupanya, perempuan yang sudah menikah pun tetap menggunakan sali kalau perayaan pernikahannya tidak pakai potong babi. Ooh! Beruntung Helena ramah sekali bercerita dengan saya. Bahasa Indonesia nya cukup dimengerti. Su yang saya bikin pun tidak rapi, ia bilang, tidak apa-apa namanya saja belajar. 😉

Salut, setelah kenal dengan Yali Mabel. Meski mempertahankan ke asli an sukunya, ternyata ia punya selera humor dan ramah sekali. Sejak meresmikan kampungnya menjadi pusat wisata tahun 1986 lalu, Yali Mabel selalu menjaga keaslian budaya sana. Anak-anak yang sudah memakai baju, tidak boleh masuk. Koteka adalah syarat masuk osilimo.

Benar kata orang. Kalau ke sana, mending persiapan yang matang dulu lah. Misalnya, punya guide yang sudah paham betul budaya orang sana. Karena mereka paham betul uang. Asal jepret saja, mereka bisa minta uang. Sebelum masuk kampung Mabel, seorang ibu dengan akrab menyapa saya. Oh, ternyata, dia minta duit. Untungnya, saya atas nama undangan tamu Pak Yali. Jadi, tinggal geleng kepala saja, meski si ibu sedikit kesal, saya tak perlu mengeluarkan rupiah. Sekilas mereka ramah, tapi memang kita harus hati-hati. Jangan menyamakan budaya kita dengan mereka. Karena kita di kampung orang, kita lah yang harus menyesesuaikan. Hari sebelum liputan, saya sudah ke sana untuk survei lokasi terlebih dahulu. Karena jalanan sedikit becek dan berbatu, ditampah saya tidak pakai sepatu yang nyaman buat dipakai becek-becekan, seorang perempuan membantu saya, sepanjang perjalanan. Baik sekali. Saya cukup terbantu melangkah menuju osilimo Pak Yali. Ups, ternyata sampai sana saya dimintai uang. Ya, kita gak boleh polos-polos amat lah. Hehe.

Well, seharian bersama Pak Mabel, membuat saya belajar banyak sekali. Belajar budaya suku Dani yang sama sekali berbeda itu sudah pasti. Tapi, dibalik itu, saya pun belajar kehidupan mereka yang sangat alami. Bagaimana memahami apa yang ada di pikiran mereka. Salut dengan Pak Mabel, punya keinginan untuk tetap mempertahankan budayanya. Sambil menunjukkan fotonya, Pak Yali pun dengan bangga menceritakan bahwa kini dua putranya sedang mengenyam pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang. Wuih, hebat! Mudah-mudahan nantinya bisa mengabdi pada negara ya.

Pak Yali pun begitu yakin berseru, bahwa dia adalah warga negara Indonesia. Jadi? 🙂

 

 

Selamat Datang di Papua

Yaiy! Selamat Datang di Papua.

Alhamdulillah, akhirnya saya dan teman-teman menginjakkan kaki juga di Papua. Setelah melalui perjalanan panjang. Jakarta – Makkasar, dua setengah jam. Transit 15 menit, lanjut. Makassar – Jayapura tiga jam.

Selalu ada yang menarik di tempat baru. Sentani, Bandar Udara di Jayapura ini terletak di tepi pegunungan. Dari pintu utama Sentani, kita bisa liat deretan bukit milik pegunungan Cyclops.

Suasana ramai pagi itu, ketika sampai di sana. Seperti kebanyakan bandara di Nusantara, Sentani tak seluas Bandara Soekarno – Hatta tentu saja. Tak sedikit pun terasa suasana Ramadan di sana. Semua orang bebas makan, minum dan merokok. Jika di mana-mana kita lazim melihat tulisan ‘Dilarang Merokok’ di Sentani, pun diramaikan dengan tulisan ‘Dilarang Makan Pinang’.

Cuma Papua yang punya larangan begini, karena cuma Papua yang masyarakatnya punya kebiasaan makan pinang. Pun, di sana sudah disediakan tempat sampah khusus untuk membuang sisa pinang yang dikunyah. Ya, kebayang saja kalau di tempat ini bebas makan pinang. Wuih, petugas cleaning service pasti kewalahan membersihkan pinang yang dibuang sembarang. Dan, jorok tentu saja.

Jangan kaget dengan tarif jajanan yang mahal di sini. Nasi putih, telor mata sapi, dan sayur singkong, dilengkapi dengan air mineral, harganya idr 60.000. Widiww, di Jakarta? Segitu paling cuma idr 8000.

Glesotan hampir tujuh jam di Sentani, bikin mati gaya. Karena kita harus melanjutkan penerbangan menuju Wamena. Walaupun penerbangan Jayapura – Wamena cukup banyak, tak mudah peroleh tiket di sana. Sebagian besar tiket sudah dikuasai calo. Mmh, bukan gak mau menggunakan jasa calo, tapi tiket bukan atas nama sendiri ga akan dapat re-imburse-an dari kantor. Jadilah, kita menunggu selama itu.

Tapi, penantian selama itu, gak sia-sia. Akhirnya saya ngerasain juga naik pesawat kecil. Sebelum naik, bukan cuma barang bagasi yang ditimbang. Tapi berat badan penumpang juga ditimbang termasuk hand luggage – nya. Ini nih, yang bikin bete. Jadi ketauan deh, berat badan belum juga turun di bulan puasa ini.

Wuih, menuju Wamena kita tebang rendah. Bisa ngeliat langsung gimana pilot mengendalikan kemudi, menunetukan arah pun masih menggunakan ‘teknologi’ peta. Yoih, biar jetlag perjalanan panjang, saya dan teman-teman excited banget naik pesawat berpenumpang 15 orang itu.

Jayapura – Wamena kira-kira satu setengah jam saja. Dan, sampailah di Wamena. Papua sebenarnya.

Brrrr!

Gimana gak panik waktu denger kalau daerah liputan saya kali ini, dinginnya ampun-ampunan. Alhamdulillah, meski harus dalam kondisi Ramadan seperti ini, saya dapat kesempatan untuk liputan ke Wamena, Papua.

Jujur aja, saya gak punya persiapan matang buat liputan kali ini. Semuanya serba dadakan. Tanggal keberangkatan sudah ditentukan sedangkan kerjaan di Jakarta masih mepet deadline. Gimana cara saya mengatur waktu untuk persiapan? Terbayang terus di pikiran saya dinginnya Wamena. Saya takut hipotermia. Kapok dengan kedinginan.

Sepanjang hidup saya, saya cuma sekali punya jaket yang ‘bener-bener’ jaket untuk menghangatkan. Itu juga akhirnya ketinggalan di tempat liburan beberapa bulan lalu. Artinya, sudahlah ikhlaskan saja jaket itu. Setelah itu, saya gak berminat lagi beli jaket baru, karena ya, jujur aja saya kurang betah pake jaket. Apalagi udara Jakarta seakan gak membutuhkannya, toh?

Kurang persiapan sebenernya udah biasa, si. Karena selama hidup, saya memang tipikal orang yang bisa menyelesaikan masalah dalam masa-masa mepet. Sombong dikit, nih. Hehe. Tapi, yang ini, saya kehabisan akal deh. Saya gak punya jaket tebal, yang ada cuma cardigan-cardigan warna-warni itu, semata buat gaya kalau dipake di Jakarta.

Katanya, di Wamena semua serba susah (baca: mahal), lalu gimana caranya saya bisa dapat jaket tebal di sana? Seorang teman mengingatkan saya, bahwa ini bukan liburan ke Paris. Tapi, Wamena. Gak semuanya tersedia dengan mudah di sana. Lalu, saya pasrah. Packing pun buru-buru. Benar-benar seadanya. Karena, meski dengan penerbangan malam menuju Jayapura, paginya saya masih harus liputan yang dimulai sejak pagi. Pagi sekali. Saya cari-cari, gimana caranya saya bisa mendapatkan jaket tebal itu, dalam waktu singkat.

Really, saya masih belum sanggup membayangkan seperti apa dinginnya kota Wamena itu.

21.40. Penerbangan malam dengan pesawat ‘singa terbang’ itu dingin banget. Padahal AC yang di atas kepala sudah dimatikan. Bukan lebay, nih. Tapi, saat itu saya merasa beruntung banget. Mama membekali saya sebuah selimut kecil. Keluarga kami, menyebutnya dengan selimut Bharra. Tidak seperti rekan perjalanan saya yang lain, mereka bermodal jaket yang lumayan tebal. Tak tahan dengan dinginnya yang menusuk, akhirnya saya, dengan pede sejuta mengeluarkan selimut itu.

Voila! Saya merasa jadi orang yang paling beruntung dalam penerbangan itu. Sengaja, saya memenuhi tas ransel dengan selimut itu agar mudah diambil. Asli, itu selimut berjasa banget. Maaf sejuta maaf, jika yang lain pun jadi agak sirik, karena mereka hanya berlapis jaket. Hehe. Perjalanan dari Jakarta menuju Jayapura pun, menjadi penerbangan malam yang menyenangkan, hampir seluruh waktu perjalanan (kurang lebih enam jam) itu saya habis kan dengan tidur pules berlapis selimut Bharra.

Benar saja, Wamena dingin banget (bagi saya). Ini pasti, AC ga bakal laku di Wamena. Tidak seperti di Jakarta, AC gak jadi kebutuhan wajib. Bahkan gak butuh sama sekali. Apalagi, saya orang yang gampang banget kedinginan. Hampir tiap pagi, gak di jakarta gak dimana, saya pasti pilek akibat kedinginan. Saya? Sepertinya alergi dingin.

Dan malam pertama sampai di Wamena, selimut hotel pun tak dapat membunuh kedinginan saya. Sulit tidur kambuh. Untungnya perjalanan Jakarta – Makassar – Jayapura – Wamena cukup melelahkan. Saya ambil selimut Bharra, saya mulai mencoba tidur. Melupakan segala yang dingin. Termasuk dinginnya kamu. #eaa.

Jadi, seriusli, ini ide bagus untuk bawa selimut Bharra untuk perjalanan ke daerah yang dingin. Ada yang pengen punya selimut Bharra juga? Nanti saya bilang mama deh, untuk bikinin buat kamu juga. 😉

Makasih, Mom.

Satu Keset Saja untuk Kaki Kita

Judul postingan ini bukan bermaksud promosi kok, saya hanya berbicara soal keset kaki pada umumnya yang ada di rumah-rumah. Tak peduli rumah orang berada atau orang biasa.

Mungkin sebagian orang merasa barang kaya gitu gak penting banget. Tapi, jelas itu manfaat. Keset kaki. Ya, selembar kain dengan macam-macam bahan yang biasanya diletakkan di depan pintu kamar mandi atau pintu rumah.

Sekilas kadang keset kaki terlupakan dalam list belanja rumah tangga.

Tapi, ini soal kejadian pagi itu. Selesai mandi, saya langsung menyadari ada yang kurang dari kamar mandi penginapan ini. Keset kakinya mana ya? Saya, rupanya butuh keset untuk menjejakkan kaki saya, yang masih basah-basah abis mandi. Apalagi, kondisi lantai kamar tidak bersih saat itu, dengan kondisi kaki yang basah, kaki saya malah kotor, yang gak kalah parah, lantai kamar jadi becek-becek kotor. Kaki lengket-lengket dengan pasir dan debu dari lantai, kamar makin berantakan dengan lantainya yang becek, itu ganggu banget (bagi saya)

Saya jadi ingat keset kaki di rumah saya. Mama punya macam-macam bentuknya. Bahkan, saya inget banget mama pernah dengan sengaja beli keset kaki di sebuah perbelanjaan mewah di Jakarta. Saat itu, saya pikir? Buat apa? Toh, cuma buat kaki yang kotor-kotor. Memang sii, waktu itu sedang diskon, tapi menurut saya harganya kemahalan untuk sebuah keset kaki. Rupanya, harga mahal untuk bahan yang berkualitas. Tapi, tetap, saya merasa buat apa? Hanya buat kaki, yang kotor pula. Di pasar, mungkin mama bisa dapat keset kaki dengan harga sepuluh ribu tiga.

Ya, meski bahan berkualitas, yang seharusnya bisa lebih layak untuk dijadikan cover album, jok sofa, bahkan kombinasi aksesoris pakaian kenapa harus jadi keset.

Kelar kejadian mandi itu, saya gak mau sepele lagi. Keset kaki itu penting, meski cuma jadi yang diinjek-injek. Meski nantinya cuma akan kotor, bahkan sebagian ada yang rusak. Alhamdulillah juga waktu itu mama beli keset kaki yang bagusan, ya, kotor sii, pasti. Tapi ga gampang rusak, awet.

Dari keset kaki pun, saya bisa belajar. Bahwa, saya gak boleh sepele. Seandainya, saya jadi keset kaki, saya juga akan diinjek-injek, akan kotor pula. Tapi, saya yakin saya tidak akan rusak, karena mama sudah membekali saya dengan modal dahsyat, untuk kuat.

Tidak selamanya menjadi keset kaki, itu sesuatu yang hina, atau rendah. Dalam ketinggian hati, harus ada satu kerendahan hati. Keset kaki punya satu manfaat.

Liat bagaimana kesombongan manusia menginjakkan kakinya di sebuah keset kaki depan rumah, kemudian dengan tengadah, dengan kerasnya raut wajah, atau dengan hati sedikit marah, dia, si manusia melangkah. Tanpa sadar, bahwa agar ia bisa tetap melangkah dengan nyaman dan menjaga agar lantai rumah tetap bersih, dia perlu si keset kaki itu.

Dan keset kaki ini, sekarang, untuk kamu. Agar semuanya tetap bersih, sesuai dengan doa dan impian. Mumpung keset kakinya masih bisa dipake, ayo, keset kaki dulu. Sapu – in lantai yang terlanjur kotor dengan kelembutan hati.

InshaAllah Rumah nya masih bisa bersih kok, kan kita keset kaki dulu sebelum masuk.

Ya, kita keset kaki bareng, dengan kasih sayang. Bismillah. Melangkah dengan indah.

Happy Ramadan teman-teman.