Brrrr!

Gimana gak panik waktu denger kalau daerah liputan saya kali ini, dinginnya ampun-ampunan. Alhamdulillah, meski harus dalam kondisi Ramadan seperti ini, saya dapat kesempatan untuk liputan ke Wamena, Papua.

Jujur aja, saya gak punya persiapan matang buat liputan kali ini. Semuanya serba dadakan. Tanggal keberangkatan sudah ditentukan sedangkan kerjaan di Jakarta masih mepet deadline. Gimana cara saya mengatur waktu untuk persiapan? Terbayang terus di pikiran saya dinginnya Wamena. Saya takut hipotermia. Kapok dengan kedinginan.

Sepanjang hidup saya, saya cuma sekali punya jaket yang ‘bener-bener’ jaket untuk menghangatkan. Itu juga akhirnya ketinggalan di tempat liburan beberapa bulan lalu. Artinya, sudahlah ikhlaskan saja jaket itu. Setelah itu, saya gak berminat lagi beli jaket baru, karena ya, jujur aja saya kurang betah pake jaket. Apalagi udara Jakarta seakan gak membutuhkannya, toh?

Kurang persiapan sebenernya udah biasa, si. Karena selama hidup, saya memang tipikal orang yang bisa menyelesaikan masalah dalam masa-masa mepet. Sombong dikit, nih. Hehe. Tapi, yang ini, saya kehabisan akal deh. Saya gak punya jaket tebal, yang ada cuma cardigan-cardigan warna-warni itu, semata buat gaya kalau dipake di Jakarta.

Katanya, di Wamena semua serba susah (baca: mahal), lalu gimana caranya saya bisa dapat jaket tebal di sana? Seorang teman mengingatkan saya, bahwa ini bukan liburan ke Paris. Tapi, Wamena. Gak semuanya tersedia dengan mudah di sana. Lalu, saya pasrah. Packing pun buru-buru. Benar-benar seadanya. Karena, meski dengan penerbangan malam menuju Jayapura, paginya saya masih harus liputan yang dimulai sejak pagi. Pagi sekali. Saya cari-cari, gimana caranya saya bisa mendapatkan jaket tebal itu, dalam waktu singkat.

Really, saya masih belum sanggup membayangkan seperti apa dinginnya kota Wamena itu.

21.40. Penerbangan malam dengan pesawat ‘singa terbang’ itu dingin banget. Padahal AC yang di atas kepala sudah dimatikan. Bukan lebay, nih. Tapi, saat itu saya merasa beruntung banget. Mama membekali saya sebuah selimut kecil. Keluarga kami, menyebutnya dengan selimut Bharra. Tidak seperti rekan perjalanan saya yang lain, mereka bermodal jaket yang lumayan tebal. Tak tahan dengan dinginnya yang menusuk, akhirnya saya, dengan pede sejuta mengeluarkan selimut itu.

Voila! Saya merasa jadi orang yang paling beruntung dalam penerbangan itu. Sengaja, saya memenuhi tas ransel dengan selimut itu agar mudah diambil. Asli, itu selimut berjasa banget. Maaf sejuta maaf, jika yang lain pun jadi agak sirik, karena mereka hanya berlapis jaket. Hehe. Perjalanan dari Jakarta menuju Jayapura pun, menjadi penerbangan malam yang menyenangkan, hampir seluruh waktu perjalanan (kurang lebih enam jam) itu saya habis kan dengan tidur pules berlapis selimut Bharra.

Benar saja, Wamena dingin banget (bagi saya). Ini pasti, AC ga bakal laku di Wamena. Tidak seperti di Jakarta, AC gak jadi kebutuhan wajib. Bahkan gak butuh sama sekali. Apalagi, saya orang yang gampang banget kedinginan. Hampir tiap pagi, gak di jakarta gak dimana, saya pasti pilek akibat kedinginan. Saya? Sepertinya alergi dingin.

Dan malam pertama sampai di Wamena, selimut hotel pun tak dapat membunuh kedinginan saya. Sulit tidur kambuh. Untungnya perjalanan Jakarta – Makassar – Jayapura – Wamena cukup melelahkan. Saya ambil selimut Bharra, saya mulai mencoba tidur. Melupakan segala yang dingin. Termasuk dinginnya kamu. #eaa.

Jadi, seriusli, ini ide bagus untuk bawa selimut Bharra untuk perjalanan ke daerah yang dingin. Ada yang pengen punya selimut Bharra juga? Nanti saya bilang mama deh, untuk bikinin buat kamu juga.😉

Makasih, Mom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s