Satu Keset Saja untuk Kaki Kita

Judul postingan ini bukan bermaksud promosi kok, saya hanya berbicara soal keset kaki pada umumnya yang ada di rumah-rumah. Tak peduli rumah orang berada atau orang biasa.

Mungkin sebagian orang merasa barang kaya gitu gak penting banget. Tapi, jelas itu manfaat. Keset kaki. Ya, selembar kain dengan macam-macam bahan yang biasanya diletakkan di depan pintu kamar mandi atau pintu rumah.

Sekilas kadang keset kaki terlupakan dalam list belanja rumah tangga.

Tapi, ini soal kejadian pagi itu. Selesai mandi, saya langsung menyadari ada yang kurang dari kamar mandi penginapan ini. Keset kakinya mana ya? Saya, rupanya butuh keset untuk menjejakkan kaki saya, yang masih basah-basah abis mandi. Apalagi, kondisi lantai kamar tidak bersih saat itu, dengan kondisi kaki yang basah, kaki saya malah kotor, yang gak kalah parah, lantai kamar jadi becek-becek kotor. Kaki lengket-lengket dengan pasir dan debu dari lantai, kamar makin berantakan dengan lantainya yang becek, itu ganggu banget (bagi saya)

Saya jadi ingat keset kaki di rumah saya. Mama punya macam-macam bentuknya. Bahkan, saya inget banget mama pernah dengan sengaja beli keset kaki di sebuah perbelanjaan mewah di Jakarta. Saat itu, saya pikir? Buat apa? Toh, cuma buat kaki yang kotor-kotor. Memang sii, waktu itu sedang diskon, tapi menurut saya harganya kemahalan untuk sebuah keset kaki. Rupanya, harga mahal untuk bahan yang berkualitas. Tapi, tetap, saya merasa buat apa? Hanya buat kaki, yang kotor pula. Di pasar, mungkin mama bisa dapat keset kaki dengan harga sepuluh ribu tiga.

Ya, meski bahan berkualitas, yang seharusnya bisa lebih layak untuk dijadikan cover album, jok sofa, bahkan kombinasi aksesoris pakaian kenapa harus jadi keset.

Kelar kejadian mandi itu, saya gak mau sepele lagi. Keset kaki itu penting, meski cuma jadi yang diinjek-injek. Meski nantinya cuma akan kotor, bahkan sebagian ada yang rusak. Alhamdulillah juga waktu itu mama beli keset kaki yang bagusan, ya, kotor sii, pasti. Tapi ga gampang rusak, awet.

Dari keset kaki pun, saya bisa belajar. Bahwa, saya gak boleh sepele. Seandainya, saya jadi keset kaki, saya juga akan diinjek-injek, akan kotor pula. Tapi, saya yakin saya tidak akan rusak, karena mama sudah membekali saya dengan modal dahsyat, untuk kuat.

Tidak selamanya menjadi keset kaki, itu sesuatu yang hina, atau rendah. Dalam ketinggian hati, harus ada satu kerendahan hati. Keset kaki punya satu manfaat.

Liat bagaimana kesombongan manusia menginjakkan kakinya di sebuah keset kaki depan rumah, kemudian dengan tengadah, dengan kerasnya raut wajah, atau dengan hati sedikit marah, dia, si manusia melangkah. Tanpa sadar, bahwa agar ia bisa tetap melangkah dengan nyaman dan menjaga agar lantai rumah tetap bersih, dia perlu si keset kaki itu.

Dan keset kaki ini, sekarang, untuk kamu. Agar semuanya tetap bersih, sesuai dengan doa dan impian. Mumpung keset kakinya masih bisa dipake, ayo, keset kaki dulu. Sapu – in lantai yang terlanjur kotor dengan kelembutan hati.

InshaAllah Rumah nya masih bisa bersih kok, kan kita keset kaki dulu sebelum masuk.

Ya, kita keset kaki bareng, dengan kasih sayang. Bismillah. Melangkah dengan indah.

Happy Ramadan teman-teman.

2 thoughts on “Satu Keset Saja untuk Kaki Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s