Selamat Datang di Papua

Yaiy! Selamat Datang di Papua.

Alhamdulillah, akhirnya saya dan teman-teman menginjakkan kaki juga di Papua. Setelah melalui perjalanan panjang. Jakarta – Makkasar, dua setengah jam. Transit 15 menit, lanjut. Makassar – Jayapura tiga jam.

Selalu ada yang menarik di tempat baru. Sentani, Bandar Udara di Jayapura ini terletak di tepi pegunungan. Dari pintu utama Sentani, kita bisa liat deretan bukit milik pegunungan Cyclops.

Suasana ramai pagi itu, ketika sampai di sana. Seperti kebanyakan bandara di Nusantara, Sentani tak seluas Bandara Soekarno – Hatta tentu saja. Tak sedikit pun terasa suasana Ramadan di sana. Semua orang bebas makan, minum dan merokok. Jika di mana-mana kita lazim melihat tulisan ‘Dilarang Merokok’ di Sentani, pun diramaikan dengan tulisan ‘Dilarang Makan Pinang’.

Cuma Papua yang punya larangan begini, karena cuma Papua yang masyarakatnya punya kebiasaan makan pinang. Pun, di sana sudah disediakan tempat sampah khusus untuk membuang sisa pinang yang dikunyah. Ya, kebayang saja kalau di tempat ini bebas makan pinang. Wuih, petugas cleaning service pasti kewalahan membersihkan pinang yang dibuang sembarang. Dan, jorok tentu saja.

Jangan kaget dengan tarif jajanan yang mahal di sini. Nasi putih, telor mata sapi, dan sayur singkong, dilengkapi dengan air mineral, harganya idr 60.000. Widiww, di Jakarta? Segitu paling cuma idr 8000.

Glesotan hampir tujuh jam di Sentani, bikin mati gaya. Karena kita harus melanjutkan penerbangan menuju Wamena. Walaupun penerbangan Jayapura – Wamena cukup banyak, tak mudah peroleh tiket di sana. Sebagian besar tiket sudah dikuasai calo. Mmh, bukan gak mau menggunakan jasa calo, tapi tiket bukan atas nama sendiri ga akan dapat re-imburse-an dari kantor. Jadilah, kita menunggu selama itu.

Tapi, penantian selama itu, gak sia-sia. Akhirnya saya ngerasain juga naik pesawat kecil. Sebelum naik, bukan cuma barang bagasi yang ditimbang. Tapi berat badan penumpang juga ditimbang termasuk hand luggage – nya. Ini nih, yang bikin bete. Jadi ketauan deh, berat badan belum juga turun di bulan puasa ini.

Wuih, menuju Wamena kita tebang rendah. Bisa ngeliat langsung gimana pilot mengendalikan kemudi, menunetukan arah pun masih menggunakan ‘teknologi’ peta. Yoih, biar jetlag perjalanan panjang, saya dan teman-teman excited banget naik pesawat berpenumpang 15 orang itu.

Jayapura – Wamena kira-kira satu setengah jam saja. Dan, sampailah di Wamena. Papua sebenarnya.

2 thoughts on “Selamat Datang di Papua

  1. Aaaaaakk… Jadi pengen ke Papua lg.😄 tp dulu itu aku cuma nyampe Sorong, Din. Tp sampe ke Raja Ampat. Hahaha… Iya, makan di sana tuh mahal2. Masa makan roti bakar di pinggir jalan aja 30.000? -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s