Wah! Wah! Yali Mabel

Image

Kurulu. Desa itu yang menjadi tujuan perjalanan saya hari ini. Gak jauh dari Kota Wamena, sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil saja. Ya, tentu dengan kecepatan yang santai-santai saja. Karena memang, selain ada target liputan, sebenarnya saya dan teman-teman seperjalanan begitu menikmati perjalanan di desa ini. Bagaimana tidak? Ini kunjungan pertama kami ke sini.

Yali Mabel, Kepala Suku Dani inilah yang akan saya temui di sini. Menuju ke Osilimo Mabel (sebutan untuk kampung), kami harus berjalan kaki, yaa, sekitar 20 menit. Tidak jauh, tapi jalanan setapaknya yang sedikit berbatu dan lapisan tanah liatnya yang lengket, membuat saya harus sedikit berhati-hati melangkah. Bisa sampai tujuan dengan kaki bersih, jangan harap. Karena warga sana pun, bahkan berjalan tanpa alas kaki.

Sampai di tempat tinggal Pak Yali, kami disambut hangat oleh Pak Yali dan keluarganya. Karena Pak Yali Mabel memang sudah menerima kunjungan dari para turis. Kedatangan kami pun tidak lagi asing bagi mereka. Beberapa media pun sudah ada yang meliput tempat ini.

Awalnya, yang saya tau, rumah adat orang Papua adalah Honai. Tapi ternyata, Honai pun macam-macam. Pilamo, adalah rumah khusus laki-laki. Uma, rumah khusus perempuan, Hunila merupakan dapurnya, dan Wamdabu adalah kandang babi. Jika dalam satu kawasan itu ada ke empat jenis ‘rumah’ tersebut, maka lengkaplah itu disebut osilimo bagi suku Dani. Perempuan tidak boleh masuk ke dalam Pilamo. Jika ada ‘kepentingan’ laki-laki lah yang berkunjung ke Uma. Honai ini sebenarnya bukan tanpa alasan dibuat dengan bentuk seperti ini. Karena sebenarnya, honai yang terbuat dari kulit-kulit kayu ini memberikan kehangatan di dalamnya. Ini pas jika dibangun di wilayah Wamena yang umumnya bersuhu sejuk. Kelihatannya mungkin tidak telalu besar, tapi percaya atau tidak Pilamo itu bisa memmuat sekitar 50 – 70 laki-laki. Mmmh, sulit dipercaya, ya?

Oh, budaya Suku Dani adalah budaya ter-unik yang pernah saya liat sepanjang perjalanan saya. Berbagai aktivitas dilakukan di sana. Ketika datang, biasanya turis disambut dengan tari-tarian dan acara bakar batu. Bakar batu, adalah cara mereka memasak jika ada perayaan tertentu. Biasanya yang dibakar adalah babi. Tapi, kadang mereka juga membakar ubi dengan cara bakar batu ini.

Suku Dani, bertahan hidup dengan kebiasaan yang mereka punya. Mereka jauh dari pengaruh teknologi luar. Ya, karena Pak Yali Mabel, adalah seorang pelestari budaya Wamena. Meski sudah kemana-mana bahkan sampai luar negeri, Pak Yali tetap cinta budayanya. Kemana-mana ia selalu menggunakan pakaian khas Papua, Koteka. Bahkan ia bilang kepada kami, sampai kapan pun ia akan seperti ini, karena budaya ini berasal dari nenek moyangnya. Harus dipertahankan.

Keluarga Mabel punya berbagai kerajinan tangan yang unik. Sederhana, tapi ini adalah budaya yang membanggakan. Mereka punya harmonika khas mereka sendiri, pikon. Pikon dibuat dari bambu, dibentuk memanjang, kemudian ketika digesek-gesekkan ke bibir, mengeluarkan bunyinya yang khas. Biasanya laki-laki bagian membuat pikon. 

Beda lagi yang dikerjakan perempuan. Mereka membuat Su. Semacam tas anyaman dari kulit kayu. Saya sempat belajar membuatnya, yaa, lumayan njlimet. Mungkin karena saya bukan tipe perempuan yang betah dengan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran tinggi seperti itu. Jadi mending, pengerjaan Su dilanjutkan oleh Helena, perempuan yang mengajarkan saya waktu itu. Ngobrol-ngobrol dengan Helena, ia sudah menikah dan masih menggunakan Sali. Padahal sali itu adalah pakaian khusus perempuan yang belum menikah. Rupanya, perempuan yang sudah menikah pun tetap menggunakan sali kalau perayaan pernikahannya tidak pakai potong babi. Ooh! Beruntung Helena ramah sekali bercerita dengan saya. Bahasa Indonesia nya cukup dimengerti. Su yang saya bikin pun tidak rapi, ia bilang, tidak apa-apa namanya saja belajar.😉

Salut, setelah kenal dengan Yali Mabel. Meski mempertahankan ke asli an sukunya, ternyata ia punya selera humor dan ramah sekali. Sejak meresmikan kampungnya menjadi pusat wisata tahun 1986 lalu, Yali Mabel selalu menjaga keaslian budaya sana. Anak-anak yang sudah memakai baju, tidak boleh masuk. Koteka adalah syarat masuk osilimo.

Benar kata orang. Kalau ke sana, mending persiapan yang matang dulu lah. Misalnya, punya guide yang sudah paham betul budaya orang sana. Karena mereka paham betul uang. Asal jepret saja, mereka bisa minta uang. Sebelum masuk kampung Mabel, seorang ibu dengan akrab menyapa saya. Oh, ternyata, dia minta duit. Untungnya, saya atas nama undangan tamu Pak Yali. Jadi, tinggal geleng kepala saja, meski si ibu sedikit kesal, saya tak perlu mengeluarkan rupiah. Sekilas mereka ramah, tapi memang kita harus hati-hati. Jangan menyamakan budaya kita dengan mereka. Karena kita di kampung orang, kita lah yang harus menyesesuaikan. Hari sebelum liputan, saya sudah ke sana untuk survei lokasi terlebih dahulu. Karena jalanan sedikit becek dan berbatu, ditampah saya tidak pakai sepatu yang nyaman buat dipakai becek-becekan, seorang perempuan membantu saya, sepanjang perjalanan. Baik sekali. Saya cukup terbantu melangkah menuju osilimo Pak Yali. Ups, ternyata sampai sana saya dimintai uang. Ya, kita gak boleh polos-polos amat lah. Hehe.

Well, seharian bersama Pak Mabel, membuat saya belajar banyak sekali. Belajar budaya suku Dani yang sama sekali berbeda itu sudah pasti. Tapi, dibalik itu, saya pun belajar kehidupan mereka yang sangat alami. Bagaimana memahami apa yang ada di pikiran mereka. Salut dengan Pak Mabel, punya keinginan untuk tetap mempertahankan budayanya. Sambil menunjukkan fotonya, Pak Yali pun dengan bangga menceritakan bahwa kini dua putranya sedang mengenyam pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang. Wuih, hebat! Mudah-mudahan nantinya bisa mengabdi pada negara ya.

Pak Yali pun begitu yakin berseru, bahwa dia adalah warga negara Indonesia. Jadi?🙂

 

 

3 thoughts on “Wah! Wah! Yali Mabel

  1. mabel anak yang baik,best friend saya di akpol…
    semoga lulus menjadi perwira yang tangguh,dan bisa memimpin di wamena nanti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s