Apa Rasanya?

Bukan gak bersyukur. Tapi cuma pengen meyakini bagaimana rasanya. Gelar ‘seenaknya’ mungkin sudah melekat pada saya. Tapi, kalau mau mikir dikit, beneran deh, saya gak segitunya kok.

Pertanyaan ini terngiang dalam benak saya. Cuma pengen tau aja, apa rasanya? Apa rasanya bersenang di atas penderitaan orang lain. Atau menang di atas kekalahan yang lain.

Seperti kejadian, sore lalu. Di tengah kemacetan jalan protokol, di saat kendaran berjubel mampet merepet, gak bisa jalan. Terdengar bunyi sirine. Oh, rupanya pejabat mau liwat. Entah pejabat mana dia. Emang, si, saya gak tau kepentingan apa yang sedang dikejar si pejabat senja itu. Mungkin dunia kiamat jika ia tak segera sampai tujuan. Lalu, setelah kendaraan yang lain semakin berdesakan minggir, ia liwat. Dengan jumawa. Kehilangan wibawa. Sekilas, senangnya jadi pejabat. Tapi apa rasanya? Menari di atas derita yang lain.

Kali yang lain, saya mendengar kisah cinta. Kisah cinta perempuan selingkuhan. Ia jatuh cinta pada suami orang. Berbunga-bunga dan bahagia. Pulang kantor, mereka bertemu. Sekedar dinner cantik atau belanja tas baru terkini. Sesekali suami orang terpaksa tak pulang. Berbagi waktu antara jatuh cinta dan tanggung jawab di rumah, rumah beneran. Menerima perhatian, kasih sayang, tapi gak lebih dari pengkhianatan. Apa rasanya? Berbunga-bunga cinta di atas air mata.

Si bapak, naik pangkat. Tapi si buruh terpaksa dipecat. Menutupi satu penciteraan. Pencapaian tinggi menjadi seorang pemimpin di perusahaan multinasional. Gaji naik dua kali lipat. Gengsi melambung sampai ke langit. Bawaan jadi mentereng. Si buruh? Termangu di rumah. Mulai dari nol tetap menjunjung integritas. Peduli apa kata tetangga. Apa rasanya? Menang, sedang yang lain menang(is).

Apa rasanya?

Mungkin sama hal nya kita belajar menyukai pete. Atau durian. Beberapa orang tidak menyukainya. Karena bau yang ditimbulkannya, amit-amit. Tapi, toh, sebagian orang bahkan sangat menggemari, tak sedikit yang ngidam atau ketagihan. Apa rasanya? Apa enaknya? Pasti si penggemar punya alasan kenapa mereka begitu menyukainya.  Belajar menyukai sesuatu yang mulanya kita pandang tak sedap, tak pantas. Ya itu, menari di atas derita yang lain. Mungkin ada enaknya ya? Tapi? Apa rasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s