Dua Tiga Empat

Ini bukan merk rokok. Tapi kutipan, dari obrolan saya kemarin dengan salah satu narasumber liputan. Siapa narasumbernya, mungkin kita bahas di lain postingan aja deh. Hehe. *janji palsu*

Tapi, saya kepikiran dengan pikiran orang-orang soal yang ini. Ini tuh apa sih? Iya, soal punya pikiran poligami. Wuidih. Sedap banget gak tuh. Bertambah umur, pembahasan makin berat. Haduh, kayanya nulis ginian mikin saya mikir berat deh. Gak jadi aja apa? Yah, labil.

Sumbernya begini, katanya poligami itu sunnah. Tapi, ada bagusnya kalau saya kutip salah satu ayat Al-quran.

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [#], Maka (kawinilah) seorang saja [#], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An Nisa’ : 4)

Begitu kira-kira ayatnya. Kayanya udah cukup jelas ya, walaupun masih banyak yang memperdebatkan. Saya sendiri, belum mampu berdebat. Ilmu belum sampe ke sana. Cuma emang agak ngeri juga, sih, dengan pikiran orang-orang yang mau berpoligami.

Parno saya berlebihan kali, ya. Karena jadi istri pertama aja belum. Hehe, kenapa harus parno jadi yang kedua ketiga, aya di dua in di tiga in. Atau di empat in.

Intinya, poligami itu hanya bagi yang mampu. Secara nafkah, pendidikan, dan pengaturan yang baik. Adil. Sejauh mana mereka merasa mampu? Itu tergantung orangnya. Saya agak terharu juga nih, untuk laki-laki yang punya kesadaran diri gak mampu. Kalau mau menuduh, siapa sii yang mampu? Coba ngacung 4 jari kalau ada yang mampu.

Poligami mana yang membawa manfaat? Yang ada cuma sakit hati. Ujar orang-orang macam saya. Hehe.

Pembelaan mereka, justru, mengizinkan suami menikah lagi menjadi ladang pahala bagi si istri. Pendapat saya? *pasang muka ijo*

Se-bidadari apa sang istri yang sanggup dipoligami? Ikhlas dan sabar imbalannya Surga. Bener juga si, kalau kita hidup tu, tinggal sebentar lagi. Gak usah ribet ribet banget. Ujung-ujungnya, kita akan ke surga. Atau neraka? Nah, apa salah satu jalannya harus poligami-an macam begini?

Kata orang, emang gak baik terlalu mikir ribet, mumet dan sedetil ini. Bikin parno makin gak abis-abis. Ya udah, gitu aja sih. Ini hasil penelusuran saya di sini. Ada syair bagus, penyesalan beristri dua. Gak sepenuhnya benar, mungkin bisa jadi renungan.

Aku menikahi dua wanita karena kebodohanku yang sangat

Dengan apa yang justru mendatangkan sengsara

Tadinya aku berkata, ku kan menjadi seekor domba jantan di antara keduanya

Merasakan kenikmatan di antara dua biri-biri betina pilihan

Namun kenyataannya, aku laksana seekor biri-biri betina yang berputar di pagi dan sore hari diantara dua serigala

Membuat ridla istri yang satu ternyata mengobarkan amarah istri yang lain

Hingga aku tak pernah selamat dari satu diantara dua kemurkaan

Aku terperosok ke dalam kehidupan nan penuh kemudlaratan

Demikianlah mudlarat yang ditimbulkan di antara dua madu

Malam ini untuk istri yang satu, malam berikutnya untuk istri yang lain, selalu sarat dengan cercaan dalam dua malam

Maka bila engkau suka untuk tetap mulia dari kebaikan

yang memenuhi kedua tanganmu hiduplah membujang

namun bila kau tak mampu, cukup satu wanita, hingga mencukupimu dari beroleh kejelekan dua madu

Nah loh. Think thousand, kali!

Posted in Oh

One thought on “Dua Tiga Empat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s