Jangan Nge-twit di Metromini

Ini emang bukan pengalaman pertama saya naik metromini, tentu saja. Tapi, saya rasa pilihan untuk berangkat naik metromini sore ini adalah pilihan yang tepat.

Jalanan padat merayap sore ini. Kebayang berapa energi dan konsentrasi yang harus saya buang untuk menekan rem dan pedal gas bergantian malam mini. Dan yang gak kalah penting, berapa pertam*x yang harus terbuang, mengingat sekarang tanggal? Ya, masih 4 hari lagi menuju gajian.

Berjubel dengan penumpang yang lain gak selamanya jadi hal yang menyebalkan. Percayalah, ini baru namanya hidup. Hidup di Jakarta yang sesungguhnya. Melihat rupa-rupa orang pulang kantor, segala macam profesi.

Satu-satu nya yang saya keluhkan, bahwa saya gak bisa nge-twit seenaknya saat metromini harus antri, tak bergerak, atau bergerak sedikit, bersama ribuan kendaraan lainnya. Ya, karena gak terlalu aman mengeluarkan gadget, di tempat umum seperti ini. Meski, saya liat, penumpang lain begitu santainya bbm-an atau sekedar dengerin musik dari gadgetnya. Saya, memilih untuk tetap berjaga-jaga.

Kejenuhan saya alihkan dengan melihat sekitar. Ntah itu yang ada di dalam kendaraan berwarna orens kusem atau kendaraan lain yang berdampingan dengan metromini yang saya naiki.

Pemandangan pertama, adalah mbak-mbak yang duduk di sebelah saya. Sibuk memainkan ponsel pintar nya, maaf seribu maaf, tak sengaja saya membaca pesannya. Rupanya, meski setiap hari harus ber – peluhpengap naik metromini untuk pulang pergi ke tempat kerjanya, hidupnya cukup indah.

“Udah dimana, sayang?” Begitu pesan yang diterimanya.

Saya tergerak untuk melirik blackberry yang sudah saya selipkan di pelosok backpack. Kosong. Tidak ada pesan satu pun. Apalagi, pesan dengan kata-kata, sayang. Haha. Well, cukup beruntung sii, mending kosong daripada pesan masuk berisi tagihan kerjaan, tagihan utang, atau sekedar pesan dari orang-orang yang tidak kita harapkan.

Saya melirik ke jendela. Ah, di metromini, kita berada lebih tinggi dari kendaraan pribadi lainnya. Mengamati rekan senasib (terjebak macet) di dalam mobilnya masing-masing. Ya, sedikit beda, karena nasibnya ada di city car mewah, sementara saya di metromini, sesak, bau, dan hangat. Kata lain dari pengap dan gerah. Senasib, bagaimana mereka jenuh dengan tempat tujuan yang tak kunjung sampai. Beberapa yang di’supir’i memilih untuk tidur, ngupil, atau liat-liat gadget. Di antara mereka, mungkin ada yang senasib dengan saya. Liat-liat, buka aplikasi ini itu, tapi tetap gak ada pesan yang masuk. Ada juga pasangan yang terlibat perdebatan hebat, mungkin mereka suami istri. Saya hanya bisa melihat semangat membara dari obrolan mereka, sekadar ekspresi, tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan? Apakah terlalu penting untuk saya tau apa yang mereka bicarakan?

Jarak yang di tempuh dari titik keberangkatan menuju tempat tujuan sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi, sejam sudah, dan belum juga sampai. Jakarta lagi macet edan, itu aja jawabannya. Rupanya rintik hujan menambah sesaknya lalu lintas sore ini. Jalanan semakin padat. Kendaraan mulai membunyikan klakson meski gak akan ada pengaruhnya.

Huah! Tinggal beberapa langkah lagi. Saya hanya perlu nyebrang perempatan jalan untuk sampai. Perang di kepala. Turun sekarang, atau ntar aja. Hujan soalnya. Sayang, kalau jeans yang baru sekali pake ini harus kotor karena becek. Haha, apa penumpang regular metromini lainnya punya pikiran yang sama seperti saya. Ah, mampet, si metromini tak kebagian space sedikitpun untuk bergerak.

Saya turun. Melangkah cepat tapi tetap hati-hati, hati-hati agar genangan air tidak menyiprat ke celana jeans saya. Dan nyebrang.

“Woi!!” Seorang pengendara city car berwarna merah meneriaki saya. Rupanya, macet ini membuat sumbu emosinya habis sudah. Saya menyeberang pada saat dan tempat yang salah kah?

Maaf pak. Saut saya dalam hati. Saya melanjutkan langkah saya, menuju tempat tujuan. Sampe! Saya hanya kebagian rintik hujan sedikit saja, karena strategi saya sebagai pejalan kaki cukup tepat. Saya menghabiskan jalan melalu pinggiran toko. Aman dari hujan. Ya, sekedar tetesan karena atapnya yang bocor masih bisa saya hindari.

Buru-buru saya cek blackberry saya. Masih kosong, tanpa pesan. Saya buka applikasi twitter. Bukankah saya sudah cukup bebas untuk ngoceh di twitter? Saya membatalkan niatan saya. Gak jadi nge twit.

Buru-buru saya buka laptop, dan menulislah saya di layar ini.

Sore yang indah, dengan pilihan yang tepat. Ditemani kopi hangat. Metromini menjadi sarana transportasi nyaman bagi saya sore ini. Nyaman untuk kantong, karena setiap pergerakannya kendaraan ini, kita tak perlu memikirkan berapa pertam*x yang terbuang atau argo yang terus berjalan. Dua ribu rupiah saja. Jauh dekat, selamat sampai tujuan.

Posted in Oh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s