Mana Kadonya?

Sahabat saya, teman seperjuangan saya, partner senang dan derita saya, beberapa hari lagi, akan melangsungkan pernikahannya. Hari yang ditunggu sebagian besar (atau seluruh) perempuan seusia kita.

Mungkin, dia salah satu sahabat yang bisa dibilang beruntung. Well, semua orang yang akan menikah, boleh menyandang gelar beruntung kan? Kisah cinta nya sedikit rumit pada awalnya. Tapi, rupanya Allah memudahkan jalannya. Mendapatkan pasangan dengan beda warga negara memang bukan hal asing lagi jaman gini. Yang jelas berbeda usia. Berbeda kepercayaan. Atau tidak ada kepercayaan.

Saya sendiri, adalah sahabat yang bisa dibilang cukup open, menerima apa pun sikapnya. Keputusannya. Toh, tugas saya, hanya advice (itu pun) kalau diminta, dan doa tentu saja.

Bukan, bagaimana mereka bertemu dan bagaimana mereka akhirnya memutuskan untuk menikah yang sebentar lagi, inshAllah akan berlangsung yang ingin saya ceritakan di sini.

Kebingungan saya soal kado pernikahannya untuk sahabat saya itu. Kalau boleh protes, seharusnya saya yang dapat pelangkah. Meski kita satu angkatan, tapi usia kita terpaut hampir satu tahun. Dia harusnya kasih pelangkah ke kakak. Hehe. Suaminya yang, alhamdulillah ber-predikat tajir melintir, bikin saya jiper setengah mati mau kasih hadiah apa. Takut, kalau hadiah berupa materi yang saya beri, yang saya beli dengan keringat sendiri, hanya jadi hiasan yang terlupakan. Makin, saya kebingungan. Mau kasih mobil mewah? Mereka mampu beli yang lebih megah. Hehe.

Gak banyak pesan yang bisa saya berikan juga, toh saya yakin dia sudah terima banyak cerita dari mereka lain yang sudah berpengalaman. Saya ini? Mengerti apa. Menikah sudah pasti hidup baru baginya.

Ntah saya harus senang atau sedih dengan rencana pernikahannya. Pasalnya, saya kehilangan satu lagi teman single. Teman nongkrong, yang bebas tanpa ada ikatan dari si suami. Setelah Imim menikah, dia bisa dibilang cukup untuk menggantikan beberapa peran Imim. Meski, ya jujur aja, tidak selalu. Toh, saya tetap menjadi nomor dua jika kekasih hatinya, yang sudah berubah status jadi calon suami, yang sebentar lagi menjadi suami nya itu memanggil. Acara nongkrong, bubar. “Gw balik duluan, ya, cui” Kata itu kerap mengakhiri acara kongkow-kongkow kita.

Balik lagi soal kebingungan saya yang satu itu. Karena pernikahannya akan dilangsungkan di seberang pulau, sulit saya untuk hadir. Deadline kerjaan gak bisa bertoleransi. Atau bertenggang rasa sedikit. Dan deadline-deadline lain yang enggan saya ungkap di sini. Ini menjadi duka untuk saya. Andai saya, bisa hadir, memberi dukungan di hari bahagianya itu. Mungkin lain cerita. Tapi tidak begitu, saya pun harus ikhlas untuk tak hadir. Seandainya dia tau, gak ada harapan yang lebih-lebih agar kebahagiaan akan menyelimuti hari-hari nya, bersama laki-laki berdarah Cina yang dipilihnya sebagai partner hidupnya. Selamanya. Amin.

Keikhlasan saya untuk yang lain. Mengikhlaskan dirinya untuk dimiliki Si Bapak. Saya, tak lagi bisa berharap agar dia memenuhi hangout-hangout kita jika Waktu Indonesia Bagian Galau tiba. Menikah, itu hidup baru. Semuanya baru. Satu langkah baru juga untuk pendewasaan diri.

Secara klise, ini kado pernikahan berjenis postingan kedua yang saya bikin. Pertama untuk ‘partner’ saya waktu itu. Yang kedua, untuk sahabat saya yang ini.

Selamat menempuh petualangan baru, Dear Amazing Melani. Gonna miss our old times!

One thought on “Mana Kadonya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s