Sorot Mata di Teluk Jakarta

Bagaimana aku bisa lupa. Sorot mata itu. Ditujukan padaku. Aku dengan segala kesederhanaan yang rapuh meski kelihatannya tangguh.

Aku melihat sorot mata itu. Ditujukan bukan untukku. Tidak seperti waktu itu. Terbatas. Aku lihat lagi. Kupastikan lagi. Mencoba meyakinkan diriku sendiri. Ah, ini sekadar aku. Yang gak tau.

Kamu, membohongi dirimu sendiri kah? Membohongi semua yang ada di sekitarmu. Sampai kapan? Sampai kamu mampir ke sini. Ke rumah ini. Tempat kamu akan tau semuanya. Duka dan duka lagi. 

Aku tidak mengerti apa-apa. Tidak satupun. Aku hanya melihat apa yang aku lihat. Mendengar apa yang aku dengar. Dan aku tidak mampu berkata. Setidaknya satu kata. Aku bukan lagi dengan seribu kalimat itu. Kata itu tercekat. Tercekat sendirinya. Apa yang kamu rasakan sekarang? Sampai aku pun tidak sanggup menduga. 

Apa aku ingin sorot mata bahagiamu? Tidak. Karena bukan untuk aku. Kalau kamu rindu, mampir saja sebentar. Jika yang seharusnya berkenan, tapi tidak. Simpanlah. Karena aku tau. Aku masih yang dulu. Melihat sorot mata itu. Bersamaku. 

Bagaimana aku bisa lupa? 

D40.

Bukan, ini hanya hasil melirik meja sebelah. Di malam minggu. Hihi. Sederhananya, saya pikir cuma saya yang sibuk dengan layar ini. Malam ini. Saya mengamati perempuan separuh baya itu. Paras nya masih cantik. Saya, gak bisa menduga berapa umurnya dan bagaimana statusnya. Ah, saya tidak mengenalnya sama sekali. Ini sekedar laporan pandangan mata seorang wartawan yang baru belajar. Di saat saya gak tau harus menulis apa.

Berulang kali dia klik gambar-gambar di tabletnya. Geser demi geser. Ntah apa itu. Satu? Saya lihat gambar pinggiran pantai yang tidak begitu indah. Mungkin itu pantai milik ibukota. Pantai mana yang tidak indah, kalau bukan di Jakarta? Haha. Saya simpulkan itu untuk menjadi judul postingan blog saya yang ini. 

Satu folder foto yang lain. Foto pernikahan. Entah pernikahan siapa? Pernikahan dirinya kah? Ah, saya sulit menduga. Siapa pun memakai topeng kebahagiaan di hari pernikahannya. Apakah dia perempuan janda? Atau perawan tua? Biarlah itu menjadi urusannya.

Toh, dia sudah meminta bill-nya. Sekalian bayarin dong tante. Hehe.

Happy life and love, guys!!

Posted in Oh

One thought on “Sorot Mata di Teluk Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s