Punya ‘Power’ untuk Nekan

Saya kutip saja kalimat salah satu teman di BBM pagi ini. Tanpa edit – an sama sekali. Belum lagi sepenuhnya melek menghadapi Senin, saya berkerut ngomongin kekuasaan. Kekuasaan bagi ntah siapa saja yang berkuasa. Ya, itulah, mungkin yang disebut kekuasaan, punya power untuk nekan. Atau power to push kali ya?

Ngomong-ngomong soal kekuasaan, mari kita balik lagi ke diri sendiri. Mungkin masing-masing kita merasa punya kekuasaan terhadap sesuatu. Jadilah kita merasa sebagai sang penguasa. Terhadap apa? Bisa apa saja.

Sejak SD saya belajar, cuma Allah lah yang punya kuasa. Semacam motivation quote like ‘Manusia boleh berkehendak, Allah lah yang punya kuasa’. Jadi, kalau kita mau gak egois sebentar aja, mungkin kita bisa ngerasain kalau kuasa itu bukan punya kita. Sama sekali bukan. 

Gimana juga, kita gak bisa menafikkan semua orang punya bagian untuk menguasai. Menjadi penguasa. Cuma ya, porsinya beda-beda. Tergantung siapa dan bagaimana orangnya. Sah-sah aja, jika orangtua merasa menjadi penguasa atas anak-anaknya. Atau atasan menjadi penguasa atas para pegawainya. Presiden menguasai rakyatnya. Bahkan, suami berkuasa atas istrinya. Mungkin sebaliknya. 

Menurut saya, kita cuma perlu paham sedikit bagaimana cara menguasai. Power untuk nekan itu udah gak pas lagi diterapkan oleh para penguasa. Pasalnya, jaman udah berubah. Manusia sudah semakin pintar. Mereka yang ‘dikuasai’ udah pintar untuk berpendapat. Gak senang, mereka bisa pindah untuk dikuasai yang lain. 

Lihat anak-anak jaman sekarang, tradisi manggut-manggut ke orang tua udah jarang kita temukan. Atau ‘anak buah’? Kebanyakan komplen ini itu ke atasan nya. Yang gak suka, mereka ‘merasa’ punya hak untuk ngomong. Apalagi rakyat? Kebijakan mana yang ga menimbulkan unjuk rasa di Bundaran HI? Lihat kelakuan istri jaman sekarang, udah gak ada lagi yang merunduk di rumah menunggu suami pulang. Perempuan masa kini lebih bicara. 

Berubahnya jaman, pun harus berubah pula cara menguasai. Bukan berarti mereka yang berkuasa tidak bisa lagi jadi penguasa. Caranya aja, yang sedikit berbeda. Perasaan menguasai pun harus bisa mengubah pola pikir dan pola sikap kita.

Sekali lagi, ya itu. Kebiasaan ‘nekan’ gak bisa lagi diterapin. Ada banyak cara yang lebih pas buat diterapkan. Lebih persuasif. Cara berkuasa seperti ini emang bikin kita agak mikir dikit. Tapi hasilnya? Mujarab loh. Gak cuma puas dengan keberhasilan menjadi penguasa aja, kok. Tapi kepuasan sebagai seorang manusia yang bernurani bisah lebih terasa.

Toh, balik-baliknya, kita ini cuma sekadar kita. Mereka pun cuma sekadar mereka. Arogan untuk menguasai hanya bikin kita terperangkap dengan kerakusan kita sendiri.

Belajar, kakak!

 

Posted in Oh

One thought on “Punya ‘Power’ untuk Nekan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s