Tempat Kembali

Toh, pada akhirnya kita semua akan kembali kepada-Nya.

Ngeri juga ya, kutipan di postingan saya kali ini. Hehe. Bukan tempat kembali ini yang pengen saya omongin di sini. Walaupun, emang sih, gak bisa dihindari, ujungnya kita akan kembali ke ‘sana’ juga. Lagi ‘eling’ atau enggak, saya kembalikan itu menjadi urusan kita masing-masing.

Belakangan, saya kehilangan sahabat saya di kantor. Sebut saja, dia pindah ke kantornya yang baru. Tempat dia menyongsong masa depannya yang lebih baik. Mudah-mudahan. 

Bukan cuma pernikahan, rupanya, yang bisa dapat ucapan semacam, ‘selamat menempuh hidup baru’. Kalimat gini, masih pas kita sampaikan ke mereka yang menghadapi fase baru dalam hidupnya. Sebut saja, kantor, baru, status baru atau pasangan baru. Hehe. Segala yang baru, artinya ada yang berubah. Bohong, kalau kita bersikeras ga akan ada yang berubah. Perubahan itu mau gak mau. Suka gak suka. Tetap ada yang berubah.

Saya sendiri pernah mengeluhkan, sejak pindah ke kantor baru, Tiara berubah. Dia mulai sibuk dengan kewajiban barunya. Dan segala-gala yang baru dalam hari-hari nya. Salah satu teman saya juga pernah bilang gitu. ‘Tiara mulai ga asik, ya din. Udah gak seru lagi buat bully-an di twitter‘ Lagi, dengan embel-embel sejak di kantor baru.

Saya mengeluh, tapi lebih ke paham. Atau berusaha memahami. Namanya aja kantor baru, udah pasti hidupnya berubah. Entah budaya, cara pikir atau sikapnya. Manusiawi banget kalo berubah. Justru aneh, kalau gak ada perubahan. Gak ada salahnya kan berubah jadi lebih baik?

Jika mereka punya hidup yang baru, kita boleh aja kalau merasa kehilangan. Tapi, baiknya kan kita gak usah komplen. Begimana, sih, kok segala di-komplen. Kalau kita komplen, artinya kita gak siap dengan perubahan. Padahal perubahan itu akan terus terjadi. Gak ada yang persis sama.

Pas Tiara pindah ke kantor nya yang baru, saya udah bersiap untuk kehilangan Tiara yang dulu. Tapi, toh saya gak kehilangan. Tiara-nya masih ada. Walaupun bukan Tiara yang dulu. Tiara sekarang, Tiara yang baru. Cuma, emang kita jadi kehilangan banyak waktu untuk bareng, ketemu dan update cerita bareng. Bayangin, kalau Tiara gak berubah? Betapa membosankannya persahabatan saya dengan Tiara. Kisahnya begitu aja, dari hari ke hari. Hihi.

Sampai kemarin, Tiara menyebutnya hari ke tiga puluh. Mungkin duka itu sedang menyelimuti, akhirnya Tiara kembali. Tiara yang dulu? Jelas tidak.

Tapi, like Tiara lagi kangen kita banget kayanya. Hehe. Mungkin, kita adalah salah satu tempat kembali-nya Tiara. Postingan ini gak bermaksud seneng dengan kembali-nya Tiara, karena saya gak lagi bicara kisah patah hati nya Tiara sekarang.

Dari awal, saya justru seneng banget, waktu Tiara pindah ke kantor baru. Artinya, satu cita-citanya kembali terwujud. Kita? Emang bakal kehilangan Tiara di mejanya. Tapi, apa artinya kehilangan dibanding melihat sahabat saya itu bernasib lebih baik?

Setiap orang punya tempat kembali. Selayaknya burung yang terbang tinggi, ketika lelah, ia akan kembali ke sarangnya. Kita semua melakukannya. Kita semua bisa ‘terbang’ jauh, kemudian satu saat kembali. Ke tempat kembali. Atau? Bisa saja, terbang sangat jauh, menemukan tempat kembali yang baru.

Lepas dari kisah Tiara, saya, bisa dibilang, orang yang gak setuju dengan kata-kata, ‘ah, tu orang, giliran lagi susah baru inget gw’ Saya lebih memilih untuk berargumen dengan kata-kata, ‘udah syukur tu orang masih inget kita’

Saya gak setuju dengan protes orang-orang kalau dirinya jadi ‘tempat kembali’. Saya kok lebih ke bersyukur ya, kalau jadi ke ‘tempat kembali’-nya orang-orang. *walaupun jarang*

Ya, karena ketika orang menghadapi sesuatu yang baru, perubahan mungkin aja membuat dia gak bisa terus sama-sama kita. Merelakan sesuatu yang baik buat orang-orang yang kita sayang?  Sama sekali gak salah. Menurut saya.

Orang bisa berubah kemana saja. Pergi kapan dan kemana. Berubah segala arah dengan derajat berapa saja.

Dulu, tu orang susahnya sama gw tuh. Sekarang giliran udah kaya, lupa.

Kata-kata ini mungkin kerap kita dengar dari ‘orang lama’ yang melihat perubahan dalam hidup kita. Atau kita sendiri yang mengucapkannya?

Kalau saya boleh kejam dikit nih, saya pengen bilang, ya udah sih. Kalau mereka pengen susahnya aja sama kita emang kenapa? Kalau mereka gak inget kita lagi, ya terus? Kita ‘ngarep’ apa emangnya? Mereka yang berubah artinya udah punya urusan baru dalam hidupnya. Kalau udah gak ada urusan lagi sama kita, ya? Ya, ya, ya? Terus? Kenapa kita harus repot-repot bermusuhan dengan perubahan hidup orang lain. Masa lalu itu tempat kita belajar. Masa depan untuk sarana untuk mengaplikasikan ilmunya. Kita kembali aja, ke urusan kita masing-masing.

Ini bukan lagi soal Tiara, tapi persoalan semua. Siapa pun. Tempat kembali itu gak selalu tempat sampah kok. Tempat kembali itu begitu berharga yang sebaik-baiknya harus kita jaga. Ada yang setuju sama, saya, puhliss?

Selamat menempuh hidup baru. Selamat menyongsong perubahan. Peluk semua! :*

Posted in Oh

One thought on “Tempat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s