Indonesia-ku

Boleh dong, menyambut pergantian tahun ngomongin Indonesia, dikit aja. Bukan karena saya orang yang sangat nasionalis. Sama sekali enggak lah. Dari muka aja, orang-orang tau kalau saya separuh bule. Haha. *kaboorr*

Bukan itu intinya.

Beberapa kali, saya dapat komentar begini.

“Duh, din, nonton film Indonesia nunggu DVD nya aja deh” Itu di saat saya begitu semangatnya menunggu, kapan film A muncul di bioskop atau penyesalan karena saya ga bisa nonton beberapa film Indonesia yang udah lenyap dari bioskop.

Atau.

“Ah karaoke sama lo, mah lagunya Indonesia semua” begitu, ketika saya memilih list lagu-lagu Indonesia kesukaan saya di acara karaoke bersama teman-teman kantor.

Mungkin agak berlebihan kalau saya di cap sebagai orang yang Indonesia banget. Tulen? Iya, sih. Tapi kata-kata Indonesia banget kok kayanya lebih cocok diberikan kepada seorang perempuan muda berkebaya, bersanggul dengan polesan make up sederhana ya? Hehe.

Kalau saya jadi suka banget sama film Indonesia atau lagu Indonesia, sebagai orang awam, jelas saya gak bicara soal kualitas. Ngerti apa sih? Hehe.

Karena sebenarnya ini, cuma soal rasa. Ya, gimana dong, emang suka. Bukan berarti saya anti sama film dan lagu luar, jelas sama sekali enggak. Toh, saya gak pernah tergila-gila sama sesuatu dengan terlalu dan berlebihan. Makanya, kalau ditanya, apa yang paling disuka dan pertanyaannya turunannya, sering kali saya bingung menjawabnya, atau tetap berusaha menjawab tapi gak konsisten. Dan, kemudian, lupa dengan jawabannya.

Begitu juga, hari ini, ketika saya menyelesaikan satu lagi novel menye-menye salah satu penulis Indonesia. Suka. Itu lagi komentar saya. Frik-nya saya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan orang Indonesia jauh berbeda dengan hore-hore mereka yang keranjingan Korea, atau? Apa ya? Ya itulah.

Suka film, lagu, atau novel Indonesia karena berasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Ya, lumayankan, biar hidup saya yang ambang garis khayalnya ini rada gak jelas di mana, bisa terekspresikan melalui film, lagu, atau novel yang saya nikmati.

Beberapa karya mereka memang ada sih, yang menuai kecewa. Tapi itu jelas lebih baik daripada tidak berkarya sama sekali. *ambil kaca* Saya pribadi lebih memilih untuk menghargai, mengkritisi sedikit saja. Sisanya? Ya menikmati.

Meski menggemari, kadang gak bisa menafikkan juga, kalau kekesalan terhadap sebuah kualitas karya anak bangsa tetap ada. Tapi, toh itu cara mereka. Cara mereka berkarya. Ada yang merasakan hal serupa seperti saya, gak ya?

Ya, mungkin yang saya omongin di sini ada kaitannya dengan beberapa merk dagang yang nyelip di beberapa scene film layar lebar itu. Mmh, bukan nyelip lagi kali, ya. Bahkan punya scene sendiri. Mood drop deh, liat begitu. Udah, ah, kita ngomong di lain postingan soal iklan. Ini kan soal karya anak Indonesia, bro.

Ya, uda, gitu sih. Mari berkarya!

Posted in Oh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s