Bentar. Iklan Dulu.

Eits. Jangan buru-buru ganti channel. Serius, ini bukan iklan beneran.

Gak bisa tidur gini, bikin saya keabisan gaya. Ngantuk belum. Tugas nyecript, bahkan belum dimulai. Apalagi belum dapat lemparan bola hasil brainstorm dengan si bos. *manja*

Tapi, ada benernya juga gak si, waktu lagi seru nonton acara TV, eh, pas iklan kita milih untuk ganti channel. Kalau saya sih, begitu. Gak selalu, tapi hampir. Kecuali, lagi males atur-atur remote, ya gitu deh, biarin aja itu iklan liwat. Tapi, gak saya tonton juga. Itulah fungsi iklan, bisa ditangkap maksudnya, tanpa membutuhkan energi berat untuk mencernanya. Haha, malas mikir amet, yes.

Jenuh dengan blog sendiri, saya milih untuk jalan-jalan ke blog milik beberapa seleb blogger . Emang gak banyak sii, blog yang sering saya kunjungin, tapi, mendadak drop menyadari postingan mereka udah jadi postingan beriklan. Atau yaa, ituu, postingan berbayar.

Ngerti kan maksudnya?

Ya, seleb blogger yang punya banyak sekali pembaca, menuliskan postingan dengan iklan di dalamnya. Walaupun, gak pernah ngerasain langsung, tapi saya ngerti kok rasanya. Istilah kata, iseng nge-blog, eh dapat uang pula. Itu jelas menyenangkan. Tapi, bagi saya penikmat blog-blog segar, ya jelas ngerasa keganggu. Saya emang agak ekstrim, baca postingan yang jelas-jelas mengandung iklan, sering kali saya sekip.

Ya, so what? Saya yakin para blogger pun gak akan merasa terganggu dengan pikiran orang-orang macam saya. Hehe.

“Yang penting duit”

Itulah, iklan. Cara promosi melalui iklan, salah satu cara ampuh untuk promosikan usaha dan program kerja, walaupun biaya beriklannya cukup mahal. Makanya akhir-akhir ini makin ramai, iklan melalui blog, twitter, yang gak boleh keliwatan, ya, liwat facebook. Ketimbang harus bayar mahal, masukin iklan di TV atau di film layar lebar.

Pertanyaannya, beriklan yang seperti apa? Yang ga ganggu. Saya yakin para peng iklan sudah memikirkan cara beriklan yang elegan, tapi tetap kena di hati masyarakat. Banyak cara yang berhasil kok. Bikin tagline yang cihui, atau pake bintang iklan artis ternama, salah satu yang dinilai paling berhasil. Cara-cara lain yang lumayan berhasil ya itu, menyelipkan iklan-iklan itu, di, jeng-jeng. Postingan blog! Atau twit berbayar. Keduanya sama sah-nya.

Yang ber-iklan kudu keluar modal gede. Tapi, biasanya sii, mereka udah punya itung-itungan terhadap investasi iklan yang mereka keluarkan. Kenapa saya mendadak sotoy soal iklan ya? *sekip*

Nah, kalo iklan selipan diberbagai social media itu, sebenarnya juga gak semuanya dibayar dengan uang, bisa jadi dengan produk. Yang, harganya, gak bisa dibilang murah. Ya, pokoknya ada ‘bayarannya’ lah entah berupa apa.

Tapi, balik lagi, iklan selipan begitu, emang cukup menganggu pemandangan saya. Ah, saya lebay. Atau terlalu gak asik? Apa pun istilahnya. Sama kaya twit berbayar juga, yes? Ya, satu dua sih, saya masih bertahan. Tapi kalau setiap postingan isinya ‘ngiklan’, persepsinya jadi beda. Unfollow. Saya pikir, timbang timeline aja, masih harus ada iklannya? Hehe.

Begitu juga iklan-iklan ke selip di 3 film Indonesia terakhir yang saya tonton. Aslih. Ah! Saya berlebihan ya? Tapi, sebagai penikmat film, saya ngerasa agak terganggu nih. Entah karena cara penyelipannya yang ga smooth, atau apa? Soalnya, kalau mau lebih ngeh, ya, film bikinan luar sana juga banyak keselip iklan, tapi mereka melakukannya dengan rapih. Gak menganggu kekerenan film itu, terutama secara visual. Jadi minus 5, ketika iklan-iklan itu diselipkan maksa. Sembarangan gituh. Ya, emang butuh waktu dan kepiawaian, untuk mengemas iklan-iklan selipan begitu, tersampaikan sesuai kelasnya. Banyak cara.

Saya, jadi inget kejadian pas liputan, beberapa hari lalu. Masih anyar.

Waktu itu produksi tayangan sudah jalan satu setengah segmen (satu tayangan yang kita bikin itu 3 segmen untuk durasi 30 m3nit udah termasuk iklan, tentu saja). Malamnya, saya berdebat panjang lebar dengan narasumber. Dia minta, agar logo produknya disampaikan di awal acara, nama restoran disebutin, dan aturan satu lagi, saya lupa. Intinya iklan.

Segala gimmick dia lakukan, bahkan menuduh, tayangan yang bikin sama saja menghilangkan narasumber sebagai sumber berita. Hah! Pokoknya, berikut kalimat kurang konsisten lainnya, yang sebenarnya saya kurang paham atau terlalu cape untuk paham. Hehe. Maklum perdebatan dilakukan saat hujan deras, meladeni orang hamil, gak langsung ketemu pula sama si lawan bicara. What’sApp dan Telepon.

Berhubung saya dari divisi news atau pemberitaan, saya gak ikutan soal promosi komersil seperti itu. Yang ada kaitannya dengan promosi, bagian promosi lah yang mengerjakan. Bukan saya, saya murni bagian pemberitaan.

Tim, jelas menentang. Kantor tempat saya bekerja sekarang, menentang keras adanya promo di dalam pemberitaan. Dan, selalu ada kesepakatan. Kita bernegosiasi sebelum lanjut taping satu setengah segmen lagi.

Hasil negosiasi. Kita batal taping. Lupakan saja episode yang ini. Saatnya move on cari tema lain. Hehe. Kita emang sama sekali gak bisa menyelipkan merk dagang dalam tayangan berita. Tayangan kita sifatnya berita. Informatif dan inspiratif. Kalau pun pemirsa pernah liat ada, itu keceplosan atau sudah ada deal-deal an sebelumnya dengan pihak marketing. Hehe.

Cerita ini, saya lanjutkan di postingan yang lain, ya.

Intinya, dalam sebuah karya, alangkah indahnya jika kita tidak menuai komen seperti, “gubrak, iklannya begitu amat” atau “jiahh iklan banget sih”. Apalagi bagi penikmat karya seperti saya. Itu keren banget, kalau saya gak harus komen soal selipan selipan iklan begitu. Ya, walaupun, untuk karya-karya memukau saya cuma bisa kasih dua jempol, gak bisa ngasih modal kaya pengisi iklan ituh. Hehe.

Ah, ini cuma suara dari orang awam berkarya macam saya kok. Orang yang belum ngerasain susahnya nyari duit untuk menghasilkan satu karya yang berkualitas. Sekedar karya di postingan blog, pun butuh duit nampaknya. Hehe. Aduh, emang pusing sudah kalau ujung-ujungnya duit. *sekip lagi*

Ya, mana ada sih pihak yang mau kasih duit cuma-cuma, mereka pasti mengharapkan dampak yang lebih besar dari hasil bagi-bagi duit itu kan? Emangnya sedekah? Begitu katanya.

Tapi kalau ada yang cuma-cuma, boleh loh, dibagi ke saya. *kaboor*

Posted in Oh

One thought on “Bentar. Iklan Dulu.

  1. Kalau saya suka nonton sepak bola gak ada iklan giliran jeda, ganti channel males dengerin komentator (para pelatih/komentator). Bisanya cuma berkomentar tapi untuk sepak bola Indonesia, nol.
    Bicara soal iklan pernah lihat senitron itu tuh iklan window 8. Kirain lagi serius adegan ngomong via telpon nanya soal kerjaan gak taunya iklan windows 8 padahal belum iklan. sangat gak profesionall…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s