Siapa elo??

“Siapa Elo?”

Pernah gak dengar kata-kata itu? Kalau di sini saya bisa menjelaskan gimana intonasinya, gini nih, kata-kata “siapa elo” disampaikan dengan nada tinggi, sinis, ditambah raut muka yang mencibir. jadi ‘Elo’ di sini sama sekali bukan nama orang.

Mudah-mudahan ngerti ya, dengan kata-kata, yang saya maksud. Hehe.

Kita, tanpa sadar, mungkin pernah mengucapkannya. Tanpa maksud atau justru dengan penuh maksud. Atau kita adalah salah satu orang yang mendapat kata-kata cibiran tersebut? Continue reading

Advertisements
Posted in Oh

Tidak Satu Pun

Tidak ada satu orang pun orang yang rela dikatakan ‘bodoh’ dan istilah lain yang setara dengan itu. Makanya, saya orang yang cukup terenyuh, eaaa, kok terenyuh, sih, ya pokoknya itulah, terenyuh mendengar orang dikatakan ‘bodoh’.

Saya yakin, tidak ada orang yang bodoh. Yang ada cuma khilaf. *pembenaran*

Saat kita menganggap orang lain bodoh, coba kita berkaca dulu ke diri kita sendiri. Bukan berkaca untuk mempertanyakan “saya bodoh, ga ya?” bukan itu. Tapi, andai kata-kata bodoh itu, ditujukan pada kita. Gimana rasanya? Ada yang gak kesel atau ngerasa biasa-biasa aja setelah dikatain bodoh? Oh, kenalan dong. Hehe.

Makanya, saya sendiri, sih, agak-agak memaafkan, kalau orang lain bertindak salah. Dia bukan bodoh. Continue reading

Posted in Oh

Memori SD

Haha. Ini bukan karena saya masih gak bisa move on dari kenangan saya waktu SD kok. Meskipun, masa SD emang cukup bikin saya girang dan gemilang. Pasalnya, masa SD adalah masa-masanya kita gak perlu pusing mikirin hidup, perkara proses dan hasil. Dan serentet teori lain, yang kita terima di umur segini. Ah, ya udah, sekip, jadi curhat.

Jadi gini, beberapa hari lalu, saya survei ke salah seorang penjual kerupuk memori SD. Katanya, si, mereka yang SD nya di sekitaran Jakarta Pusat atau Jakarta Selatan, pasti tau. Nah, permasalahannya adalah, SD saya bukan di Jakarta. Di seberang pulau sana. Jadi, waktu SD saya gak tau, yang namanya kerupuk memori SD ini. *penting berat* Continue reading

ProfesiONAR

Saya, jadi inget kejadian pas liputan, beberapa hari lalu. Masih anyar.

Waktu itu produksi tayangan sudah jalan satu setengah segmen (satu tayangan yang kita bikin itu 3 segmen untuk durasi 30 menit udah termasuk iklan, tentu saja). Malamnya, saya berdebat panjang lebar dengan narasumber. Dia minta, agar logo produknya disampaikan di awal acara, nama restoran disebutin, dan aturan satu lagi, saya lupa. Intinya iklan.

Berhubung saya dari divisi pemberitaan, saya gak terlalu paham soal barteran promo seperti itu.  Yang ada kaitannya dengan promosi, bagian promosi lah yang mengerjakan. Bukan saya, saya murni bagian pemberitaan. Continue reading

Posted in Oh